
Bagas masuk kedalam kamar dan ia menghampiri Dilara yang masih berada di tempat tidur.
"Gas ..."panggil Dilara dengan sangat lemas.
Bagas langsung memeriksa tubuh Dilara.
"Kau baik-baik saja, apa kita pulang sekarang saja?"tanya Bagas dengan sangat cemas.
"Tidak, besok saja aku hanya lemas sebab aku belum memakan apapun."jelas Dilara membuat Bagas langsung menepuk keningnya.
"Ya Allah, maaf Dilara aku sampai lupa kau belum memakan apapun. Aku akan membelikan makanan dulu untukmu ..."ucap Bagas sambil bergegas pergi dari kamar.
Bagas kau sangat perhatian padaku, walaupun aku tidak mencintaimu tetapi kau tetap baik padaku. Bahkan kau bersikap seperti seorang suami yang sesungguhnya. Apa aku harus memberikan mu mahkota berharga milik ku, sebab aku merasa tidak melayani mu dengan baik dan aku merasa ini semua tidak adil untukmu ... Kau sudah berbuat baik sebagai seorang suami sedangkan aku, apa yang aku sudah lakukan untuk mu tidak ada sama sekali. Batin Dilara.
Dilara akan memberikan hak untuk Bagas malam ini sebelum mereka pulang ke Kota A, dan ia sudah sangat mempertimbangkan keputusannya yang sudah ia ambil.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Bagas pulang dan menyiapkan makanan untuk Dilara, Bagas membawakan makanan kedalam kamar dan ia meletakan makanannya di meja lalu ia menghampiri Dilara.
"Ra, ayo makan."ucap Bagas dengan sangat lembut.
Dilara langsung bangun dan ia langsung memeluk Bagas dengan sangat erat sambil menangis.
"Ra, ada apa?"tanya Bagas sambil mengelus-elus rambut Dilara dengan sangat lembut.
Dilara melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Bagas.
"Gas, aku ..."Dilara tidak bisa meneruskan ucapannya sebab ia sangat gugup.
"Aku apa?"tanya Bagas sambil menatap wajah Dilara.
"Aku, aku, aku ..."Dilara sangat sulit untuk mengucapkan keinginannya untuk melayani Bagas.
"Aku?"tanya Bagas sekali lagi.
Hening.
Dilara menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku ingin menjadi istri yang baik, aku akan melayani mu dengan baik."ucap Dilara dengan sangat cepat.
Bagas mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?"
Dilara memegang tangan Bagas lalu ia menatap wajah Bagas.
__ADS_1
"Aku ingin melayani mu,"ungkap Dilara.
Bagas sangat terkejut akan apa yang ia dengar.
"Ra, aku harus menjawab apa."ucap Bagas dengan sangat bingung.
"Jangan salah paham tentang ini, aku ingin menjadi istri yang baik untuk mu seperti kau menjadi suami yang baik untukku. Bukankah seorang suami istri harus melakukannya?"
Bagas langsung membuang pandangannya kearah jendela kamarnya.
Permintaan seperti ini, sebenarnya apa yang di ucapkan oleh Dilara benar adanya, akan tetapi aku juga tidak bisa menyentuhnya. Aku harus bagaimana, batin Bagas.
"Gas, aku mohon biarkan aku menjadi istri yang baik untukmu ..."ucap Dilara sambil memegang tangan Bagas.
Bagas langsung menatap wajah Dilara lalu ia mengelus rambut Dilara dengan sangat lembut.
"Ra, kenapa kau memintaku untuk menyentuh mu? Bukankah kau mencintai kak Bastian?"tanya Bagas dengan sangat lembut.
"Tapi, aku adalah istri mu. Kau berhak atas diriku ..."ucap Dilara sambil memegang tangan Bagas.
"Aku, tidak tahu harus bagaimana dan memulainya seperti apa,"ungkap Bagas.
Bagaimana cara agar kami melakukannya, apa dia tidak pandai bukankah dia laki-laki, batin Dilara.
"Siapkan saja dirimu malam ini, aku akan mencoba untuk menerima permintaan mu itu. Dan makana makanan mu dulu ..."ucap Bagas yang berlalu pergi.
Setelah selesai mandi Dilara memakai handuk kimono lalu ia keluar dan ia melihat Bagas masuk kamar, ia mulai mendekati Bagas dan ia menarik tangan Bagas duduk di bibir ranjang.
"Gas, aku sudah siap."ucap Dilara dengan sangat lembut.
Bagas menatap bola mata Dilara lalu ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Aku, akan mandi terlebih dahulu ..."ucap Bagas yang bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Dilara langsung bergegas memakai baju tidur yang sedikit pendek lalu ia mulai menyisir rambutnya, tak lupa ia juga memakai handbody dan parfum untuk menjalankan tugasnya.
Setelah selesai ia juga menyiapkan baju untuk Bagas lalu ia menidurkan tubuhnya di atas kasur.
Bagas sudah selesai mandi dan ia berwudhu lalu ia berdiam diri di depan pintu kamar mandi.
"Apa yang aku lakukan ini benar, memang seorang suami harus memberikan nafkah batin untuk istrinya. Huuu ... Aku harus menuruti keinginan Dilara sebab dia adalah istriku,"ujar Bagas.
Perlahan Bagas membuka pintu lalu ia keluar ia melihat Dilara tersenyum manis kepadanya, ia juga tersenyum lalu ia bejalan menuju meja yang berada di hadapannya dan ia bergegas memakai baju.
Setelah selesai ia langsung menghampiri Dilara ia duduk di samping Dilara.
__ADS_1
"Gas,"panggil Dilara dan Bagas langsung menatap wajah manis Dilara.
Aku tidak mencintainya, apa aku bisa menyentuhnya, batin Bagas.
"Gas,"panggil Dilara lagi sebab Bagas tidak menjawab panggilannya tadi.
"Ah, iya?"jawab Bagas dengan sangat gugup.
Apa dia tidak mau menerima ku, sebaiknya aku pertanyakan saja padanya, batin Dilara.
"Gas, aku akan menyerahkan mahkota berharga yang selama hidupku ini sudah aku jaga, dan kali ini aku akan melepaskannya untukmu sebab aku ingin memberikannya padamu ..."ucap Dilara dengan sangat lembut sambil memegang tangan Bagas.
Dia benar-benar akan menjadi istri yang baik, sebab dia masih perawan dan aku harus melakukannya, batin Bagas.
"Ayo, kita baca doa terlebih dahulu."ucap Bagas. dam mereka memulai membaca doa yang di pimpin oleh Bagas.
Bagas memegang kepala Dilara lalu ia mendekatkan kepalanya dan ia langsung menyambar bibir ranum Dilara.
Dilara sangat terkejut akan serangan dari Bagas sebab Bagas tidak memberinya aba-aba, Dilara menutup kedua matanya lalu ia melingkarkan tangannya di leher Bagas dengan sangat lembut.
Bagas semakin terbuai akan sentuhannya ia mulai menelusuri ronga-ronga mulut Dilara, dan Dilara hanya diam menerima setiap sentuhan dari Bagas.
Ini hal yang baru aku rasakan untuk yang pertama kalinya, batin Dilara.
Jantung Dilara berdetak kencang sampai Bagas mendengar jelas lalu ia menghentikan aktivitasnya, lalu ia mengelap bibir Dilara yang basah akibat dari ulahnya dan ia membaringkan tubuh Dilara.
"Ra, mungkin aku akan menyakiti mu ... Aku minta maaf ini akan sedikit sakit nantinya,"ungkap Bagas.
"Aku akan menahannya, jangan meminta maaf seperti itu ini semuanya adalah hak mu."jelas Dilara.
Bagas mulai membuka baju Dilara dengan perlahan setelah selesai ia meletakkan kain di tubuh Dilara, barulah ia mulai menyatukan gagang tegak miliknya kedalam gua milik Dilara dengan sangat sulit.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1
Jangan lupa untuk mampir ke Novel Author yang berjudul 👉 Cinta Tulus Isyah.
yang akan liris perdana hari ini jam 7 pagi.