
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Kakek ku, aku memasukkan beberapa baju ku saja dan aku mengambil beberapa alat olahraga ku dan memasukkannya kedalam koper ku.
Aku langsung bergegas pergi menuju kamar kakak ku namun sebelum aku menemuinya aku membawa koper ku turun, terlebih dahulu baru aku menghampirinya saat aku membuka pintu kamarnya aku melihat dia tertidur pulas di sofa.
Dengan perlahan aku mendekatinya dan menatap wajahnya.
"Benar yang aku katakan, dia masih tidur, dasar kerbau ... Tapi, kenapa dia sudah rapi ya, aku tahu ... " ucapku dan aku menimpah tubuhnya.
"Aaahhhkkk ... " pekik nya saat aku menimpah badannya ku lihat dia terasa sangat tersakiti.
"Turun sekarang juga Dilara, sakit sekali ... " ucapnya sambil menahan sakit dan aku tersenyum dan tertawa kecil.
"Dasar pembohong ... " ucapku yang beranjak bangun dari tubuhnya dan aku duduk di sampingnya.
Ku lihat dia terdiam seperti ada yang di pikirkan olehnya aku menendang kakinya dan benar saja dia terkejut.
"Kakak melamun?Ada apa katakan apa ada masalah?" ucapku sambil menatap wajahnya dengan sangat serius.
"Tidak ada hanya saja masalah Kantor, apa kita berangkat sekarang?"elaknya cepat agar aku tidak mencurigainya, dan aku pura-pura tidak curiga sama sekali agar dia tenang.
"Ooh, ayo kita pergi Dilara ingin segera sampai rumah kakek Azi sebelum kakek ke Kantor Kak ... " ucapku dengan sangat lembut dan imut.
"Ayo ... " Kak Bastian bangun dan berjalan bersama denganku menuju luar sesampainya kami di luar ku lihat Papa dan Mama sudah menunggu di ruang tamu.
"Mama, jangan lupa untuk video call ya, kalau tidak Dilara akan marah kepada Mama ... " ucapku dengan sangat manja kepada Mama.
"Iya, sayang kamu ingat pesan Papa kalau kamu harus menjadi wanita pada umumnya ya, jangan seperti preman pasar lagi ya?"ucap Mama dengan sangat lembut.
"Siap Ma ... " ucapku sambil memeluk Mama, ku lihat Papa hanya diam saja dengan wajah dinginnya dan aku memahaminya, ku lihat Kak Bastian menghampiri Papa.
"Pa, mungkin Bastian akan sedikit terlambat untuk meeting pagi ini apa tidak masalah, sebab Bastian akan ke Kantor Bastian dulu."ucap Kak Bastian sambil menatap wajah Papa yang terlihat sangat dingin.
"Iya, tidak apa-apa jangan lupa bisnis mu juga butuh kamu Bas jangan pernah lupa bahwa kamu adalah seorang CEO juga ... " ucap Papa yang menepuk pundak Kak Bastian dengan perlahan.
Kak Bastian tersenyum."Siap Pa ... "
"Ayo Kak, Papa Mama pergi dulu Dilara janji akan berubah agar tidak mendapatkan hukuman lagi ... " janji ku pada Papa dan Mama.
"Iya Nak, pergilah sayang ... " ucap Mama sedangkan Papa terlihat jelas di wajahnya masih kesal akan sikap dan perilaku ku.
Aku bergegas pergi menuju mobil Kak Bastian berada sebelum aku masuk kedalam ku lihat Kak Bastian, sangat kesulitan untuk membawakan koper milikku namun aku masih bodoh aku langsung masuk kedalam mobil.
Selama di perjalanan menuju ke rumah Kakek aku dan Kak Bastian hanya diam dalam pikiran kami masing-masing, setelah sampai aku dan Kak Bastian langsung masuk dan lagi-lagi aku melihatnya sangat kesulitan untuk membawakan koper milikku.
__ADS_1
Aku sangat kasihan kepadanya dan aku berniat untuk menunggunya dan aku berjalan bersama dengannya, sebab aku sangat kasihan kepadanya setelah kami sampai aku langsung berlari memeluk Kakek.
"Cucu Kakek ini, kamu akan tinggal bersama dengan Kakek dan Oma disini. "ucap Kakek yang melepaskan pelukannya dan menatap wajah ku.
"Benar tapi, apa Kakek sudah tahu hukuman dari papa?"tanya ku dan aku mengira Kakek belum mengetahuinya.
Aku menatap wajah Kakek yang tersenyum.
"Sudah mana mungkin menantu tersayang Kakek tidak bercerita. "ucap Kakek.
"Dilara ... "
Ku lihat Tante ku berlari menghampiri ku dan dia memelukku dengan sangat erat.
"Lepaskan Tante, kita selalu bertemu di kampus bukan? "ucapku dengan menarik nafas dalam-dalam sebab aku kesulitan untuk bernafas.
Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum manis kepada ku.
"Maaf aku terbawa suasana sebab kau akan tinggal bersama dengan kami disini, kau tahu bukan aku tidak memiliki adik."ucapnya dengan sangat gembira.
"Ale, bawa Dilara masuk kedalam kamarnya," pinta Oma Riska pada Tante Alessandra.
"Baik, Ibu, ayo kita masuk kedalam kamar mu. "ucapnya sambil menatap wajah ku.
"Baik. Kak ayo bawakan koper Dilara." ucapku yang berlalu pergi menuju atas.
"Kak Bastian, kenapa Kakak berkeringat?"ucapku yang menatap wajah Kak Bastian yang sudah basah oleh keringat.
"Sebenarnya Kakak ingin jujur tapi, kamu jangan marah ya?"ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Katakan saja Kak Bastian, pasti Dilara tidak akan marah bukan Dilara. "Tante Alessandra menepuk pundak ku dengan perlahan.
"Sebenarnya kamu membawa apa didalam koper ini kenapa berat sekali ... "ucap Kak Bastian yang menatap wajah ku.
Tante Alessandra menatap wajah ku dan juga menatap kearah koper milik ku.
"Oh, didalam ada alat olahraga milik Dilara Kak ... "ucapku sambil tersenyum manis sedangkan Kak Bastian langsung lemas.
"Elo ya Ra, ada-ada aja kasian tu Kakak elo, kan?" Tante Alessandra menepuk pundak dengan perlahan.
Ini kenapa aku tidak menyukainya, batin ku.
"Kalau begitu Kakak pergi dulu ya, kamu jangan lupa siang ini ada jam kuliah bukan?" Kak Bastian beranjak dari duduknya dan dia menatap wajah ku.
__ADS_1
"Baik Kak, terimakasih sudah mengantarkan Dilara, jangan lupa ya, nanti malam datang." pesan pesan ku kepada Kakak.
"Nanti malam?"ucap Kak Bastian dengan sangat bingung.
"Masa Kakak lupa, bukankah kita akan pergi ke ... "Aku menghentikan ucapku dan mengedipkan sebelah mataku.
"Katakan saja Kakak lupa."
"Cepat Ra, ada apa gue penasaran?"tanya Tante Alessandra.
"Em, sebenarnya setiap malam Minggu Dilara akan pergi ke Cafe untuk nyanyi maksudnya ngamen." ucapku sontak saja Tante Alessandra terkejut.
"Elo ngamen, yang benar aja, bukannya papa mama elo orang kayak terus buat apa lagi elo uang?"tanya Tante Alessandra yang sangat penasaran.
"Bukan untuk uang Tante, tapi, Dilara hanya ingin membantu anak-anak yang kurang mampu itu saja."jelas ku.
"Baiklah nanti malam bersiaplah ..."ucap Kak Bastian yang berlalu pergi.
Setelah kepergian Kak Bastian, Tante Alessandra menghampiri ku dan dia menatap wajah ku dengan sangat dalam.
"Elo, emang keponakan gue yang terbaik dan mulia. Kenapa elo enggak pinta uang aja sama kak Alice?"tanya.Tante Alessandra dengan sangat penasaran.
"Benar sih tapi, aku juga mau menghasilkan uang sendiri tau. Aku sangat bangga pada diri aku sendiri Tan, "ungkap ku.
"Ya udah, gue akan lihat elo deh entar malam ngomong-ngomong elo walaupun enggak memiliki sifat wanita tapi, elo memiliki jiwa wanita juga ya."
"Tante, aku juga wanita sebel deh,"
"Iya, enggak-enggak becanda doang."
"Ya ampun, gimana ya nanti malam bukan malam Minggu tapi, malam Sabtu."ucapku sambil menepuk keningku.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘