Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
POV Dilara


__ADS_3

Saat aku sedang melihat orang beriman sepak bola dari ponselku dan saudara kembarku datang mengambil ponsel milikku, aku langsung menatapnya dan aku mengejarnya dan aku berhasil menangkapnya aku langsung mengambil kembali ponsel milikku.


"Dilara kau adalah gadis bar-bar. "ucapnya aku langsung menatap tajam kearahnya dia berlari dan aku mengejarnya, sampai di ruang tamu dan dia berteriak-teriak sehingga Mama datang dan melihatku mengejarnya namun. Aku tidak berhenti begitu saja aku terus-menerus mengejarnya.


"Dilara, ada apa ini Nak? Ayo berhenti sekarang juga. Mama mohon. " pinta Mama kepadaku.


"Tidak akan Ma, lihat saja kalau Dilara dapat menangkapnya maka Dilara akan menghabisinya!" teriakku yang masih mengejar saudara kembarku .


"Tolong! Tolong! Tolong!" Dilan semakin kencang berlarinya sehingga dia tersandung kaki sofa dan jatuh di lantai.


Bruk.


Aku tersenyum dan langsung berlari menuju dirinya terjatuh sebelum aku sampai ku lihat Kak Bastian datang dan membantunya bangun.


"Kak, biarkan saja dia terjatuh tidak usah Kakak membantunya, apa Kakak tahu apa yang sudah Dilan buat kepada Dilara?"ucapku sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari mengejar saudara kembarku tadi.


Kak Bastian menarik tanganku dan membawaku untuk duduk di sofa sedangkan, Dilan di bantu oleh Maman untuk duduk di sofa sebab kaki Dilan terluka.


"Sayang, coba tenang terlebih dahulu sebelum kamu bertindak, lihat Dilan dia terluka bukan?" Kak Bastian menegang tanganku dengan sangat lembut.


Aku menghembuskan nafasnya sangat panjang dengan sangat perlahan lalu aku menatap wajah saudara kembarku. "Maafkan aku Dilan ... "


"Tidak usah kau meminta maaf kalau sebentar lagi akan kau ulangi hal yang sama." ucapnya ketus.


"Lihat Kak Bastian, dia saja seperti itu dan Dilara tidak bisa bersikap manis kepadanya. " Aku membuang pandanganku kearah pintu dengan tatapan kekesalanku.


"Dilara, kamu tidak boleh seperti ini lagi ya, kalau kamu terus seperti ini maka Mama akan menghukum mu." Mama menatap wajah ku dengan sangat dalam.


Aku melirik kearah Mama dan juga melirik kearah saudara kembarku lalu aku bergegas pergi menuju kamarku.


Setelah masuk kedalam kamar aku duduk di sofa sambil menatap kearah jendela kamarku dan aku mendengar suara orang masuk kedalam kamarku, dengan sangat kesal aku tidak memperdulikan siapa yang masuk dan ku rasakan dia duduk di sampingku.


"Sayang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Kak Bastian dengan sangat lembut.


Aku menoleh kini kami saling bertatapan.


"Dilan mengatakan kalau Dilara adalah gadis bar-bar Kak, " ungkap ku.


Kak Bastian langsung tersenyum dan dia mencubit hidung mancung ku.


"Hanya itu saja bisa membuat mu seperti seekor macan sayang." Kak Bastian tertawa kecil mendengar ucapan ku.


"Kak." Kak menatap tajam kearah Bastian dan Kak Bastian langsung menghentikan tawanya dengan sangat cepat.


"Baiklah tapi, apa kamu tahu kita tiga bersaudara tidak boleh terus-menerus bertengkar, apa lagi kamu dan Dilan kalian kembar apa kalian tidak memiliki rasa sayang?" tanya Kak Bastian yang menatap wajahku.


"Kalau sayang pasti ada Kak, kalau kami selalu bertengkar itu pasti ulah Dilan sebab dia selalu saja membuat Dilara kesal Kak." ucapku pelan.


"Tapi, kamu harus lebih sabar lagi sebab kamu wanita sayang jika wanita kasar dan kejam mana ada laki-laki yang menyukai mu nantinya. " Kak Bastian langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dariku.


"Sudah?"


"Maaf sayang itu adalah hal yang sering terjadi bukan, dan Kakak tidak berbohong sebab ada salah satu teman Kakak yang seperti itu. "Kak Bastian tersenyum.


"Baiklah Kak, Dilara masih berusia 20 tahun Kak."ucapku sambil menatap wajahnya.


"Lalu? Apa kamu tidak ingin menikah, mommy saja dulu menikah dengan papa usianya baru berusia 20 tahun sayang. " ucap Kak Bastian dengan lembut dan mengelus rambut ku.


"Benarkah Kak, kalau begitu bukankah Kakak dan mama seumuran?" tanya ku kepadanya akan tetapi dia tidak menjawabnya melainkan dia hanya diam saja.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin meminta maaf kepada mommy dan Dilan?"tanyakan kepada ku, entah apa yang di sembunyikan oleh Kak Bastian sehingga dia mengalikan pembicaraan kami.


"Tapi Kak, apa Dilan tidak marah kepada Dilara dan mama pasti tadi sangat marah kepada Dilara Kak ... " ucap ku lirih.


Kak Bastian tersenyum. "Ayo kita menemu mereka."


Aku tersenyum dan ikut bersama dengannya kami berjalan menuju bawah dengan menuruni anak tangga, setelah kami sampai bawah aku menghentikan langkahku saat melihat Papa sudah pulang dan duduk bersama dengan saudara kembar dan Mama.


"Ayo, tenang saja Kakak ada untukmu tidak usah takut dengan Papa. " Kak Bastian menggandeng tangan ku dan aku hanya diam dan mengikuti langkahnya.


Setelah kami sampai kami duduk bersebelahan dengan Papa.


"Katakan?"ucap Papa dengan sangat dingin.


"Ma-maaf Kak Dilan ... " ucap ku terbata-bata saat Ia melirik kearah Papa.


"Dilara ... " Papa menatap wajah ku dengan sangat dalam.


"Maaf Pa, memang Dilara yang bersalah kepada Kak Dilan dan Dilara minta maaf juga kepada Mama ... " aku menangis didalam pelukan Kak Bastian.


"Papa sudah sering kali bukan mengatakan kalau kamu tidak boleh bersikap seperti preman pasar bukan, sekarang lihat Kakak mu terluka bukan hanya kali ini saja sebelumnya kamu juga bersikap seperti ini, dan Papa akan menghukum mu." ucap Papa dengan sangat tegas.


Aku masih menangis didalam pelukan Kakak ku tersebut.


"Papa, sudahlah kasihan Dilara dia menangis seperti itu. "ucap Mama dengan sangat lembut .


"Ma, biarkan dia tahu dia adalah wanita tidak seharusnya dia bersikap seperti seorang laki-laki. Papa akan menghukumnya dia akan tinggal bersama dengan kakeknya selama satu bulan. "ucap Papa kepadaku.


"Tapi Pa, disana tidak enak Pa." protes ku kepada Papa.


"Ini sudah menjadi keputusan Papa. "ucap Papa yang berlalu pergi menuju kamar.


Aku sangat sedih saat Papa menghukum ku dengan aku harus tinggal bersama dengan Kakekku ya, memang rumah Kakek tidak jauh dari rumah kami berada tapi, Kakek terlalu banyak menasehati ku seperti aku tidak boleh terlalu malam tidur dan tidak boleh terlalu lama mandi dan banyak lagi.


Aku menangis tersedu-sedu didalam pelukan Mama dan Mama mengelus rambutku dengan sangat lembut, aku merasa ada yang memegang tanganku dan aku menoleh ternyata saudara kembar ku yang memegang tanganku.


"Maaf, ini semua salah Kakak ... " kata Kak Dilan dengan lirih dan aku langsung memeluknya.


"Maafkan Dilara juga Kak, ini semua memang kesalahan Dilara biarkan saja Dilara di hukum Papa. " ucap ku dalam isak tangis ku.


Aku pun melepaskan pelukanku dan aku menatap wajah Kak Bastian, dia adalah Kakak yang paling aku sayang entah mengapa aku selalu bahagia. Jika aku bersamanya dan juga aku selalu menuruti perintahnya aku juga selalu mendengarkan ucapannya.


"Kak, bisakah Kakak saja yang membawa Dilara ke rumah kakek?"tanya ku kepada Kak Bastian.


"Bisa sayang, besok kita akan pergi kesan dan sekarang kamu mandi sana sudah bauk asem tau ... " ucapnya dengan menutup lubang hidungnya yang sangat mancung.


Aku mencium tubuhku dan benar saja aku mencium aroma tak sedap dari bagian ketiak ku, aku tersenyum dan beranjak bangun sebelum aku pergi aku menatap wajah Kak Bastian lalu aku berkata, "Besok pagi jangan telat bangun ya, kalau Kakak telat bangun Dilara akan buka kartu Kakak."


"Kartu apa?" ucapnya dengan sangat bingung.


"Kartu rahasia Kakak ... "ucapku sambil berlari naik ke atas tangga, dan aku terus berlari aku masih bisa mendengar ucapannya dari bawah dan aku menghentikan langkahku.


"Kakak tidak akan telat bangun!"


"Kita lihat saja kak, aku akan membongkar rahasia kakak kalau kakak sering sekali pergi ke Bar dan pulang larut malam sebab akulah yang membantu kakak ... "ucapku sambil membuka pintu kamarku.


Aku masuk kedalam dan aku berjalan menuju kamar mandi setelah aku masuk kan sabun kesukaanku kedalam Bathtub, setelah itu aku masuk kedalam dan aku menyalakan lilin setelah itu aku menutup mataku dan tak tersadar aku tertidur pulas sambil berendam.


Perlahan aku membuka mataku dan ternya aku tertidur selama tiga puluh menit, aku bangun dan menggosok setiap inci dari tubuhku setelah selesai aku juga menggosok gigi kemudian aku memakai handuk kimono dan aku bergegas keluar.

__ADS_1


Setelah aku berada di kamar aku menidurkan tubuhnya di kasur milikku, aku menatap langit-langit kamarku. Dan aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang perlahan aku bangun.


"Sebentar ... " ucapku sambil berjalan menuju pintu kamarku dan aku membukanya.


Ceklek.


"Kak, ada apa?" ucapku yang melihat Kak Bastian berdiri didepan pintu kamarku terlihat dia tersenyum manis.


"Tuan putri mari kita makan malam papa sudah menunggu mu. "ucap Kak Bastian yang tertawa kecil, dan akupun tertawa kecil juga.


"Iya Kak, tunggu saja di bawa Dilara mau pakai baju dulu. "ucap ku sambil menatap wajahnya.


"Siap Tuan putri ... " ucapnya sambil bergegas pergi setelah kepergian Kak Bastian akupun masuk kedalam kamarku dan aku menutup pintu kamarku.


Aku berjalan menuju lemari bajuku dan aku mengambil kaos dan celana panjang lalu aku segera mengenakannya, setelah itu akupun menyisir rambut dan aku mengikatkan seperti ekor kuda setelah selesai akupun bergegas pergi menuju meja makan.


Setelah sampai aku melihat disana sudah ada Kakak-kakak ku dan, ada Mama Papa disana aku langsung menghampiri mereka dan aku memilih duduk di samping Kak Bastian.


"Dilara, kamu besok pagi pergi kerumah kakek bersama dengan Kak Bastian dan kamu kuliah dari sana, ingat bahwa kamu harus tinggal disana selama satu bulan." ucap Papa dengan sangat tegas.


"Baiklah Pa ... "ucapku lirih sebenarnya disana ada Bibiku dan dia seumuran denganku entah mengapa aku sangat malas menemuinya.


"Pa, bolehkah aku juga ikut?" ucap Kak Dilan yang menatap wajah Papa.


"Alasan Papa mengirim Dilara ke rumah kakek adalah untuk memisahkan kalian untuk sementara waktu, agar kalian mengerti bahwa tali persaudaraan itu sangat penting dan kuat agar kalian tidak bertengkar lagi, mengerti?" ucap Papa yang melirik ku dan melirik kearah Kak Dilan.


"Mengerti Papa ... " ucapku dan Kak Dilan bersamaan.


"Mama, kita akan terpisah pasti Dilara akan merindukan Mama ... " ucapku lirih sambil menatap wajah Mama.


"Jangan bersedih sayang, disana juga ada oma Riska dia itu adalah teman Mama pasti ada Mama didalam dirinya,"


Aku sangat tidak paham akan dengan semuanya yang aku dengar pertama aku sangat bingung, Kak Bastian seumuran dengan Mama lalu Oma juga sama umurnya dengan Mama dan Papa ku lihat terlalu tua itu hal yang membuat aku pusing.


"Bas, setelah kalian sampai rumah kakek katakan pada bibi kecil mu kalau dia harus membimbing Dilara, agar Dilara menjadi seperti seorang wanita pada umumnya, " ucap Papa kepada Kak Bastian.


Aku langsung melihat penampilan ku terlihat memang benar adanya aku terlihat seperti seorang preman pasar.


"Baik Pa ... " jawab Kak Bastian cepat.


Semuanya mulai makan dan tidak ada yang berbicara satupun hingga selesai, setelah aku menghabiskan makanan ku akupun kembali kedalam kamarku untuk mengemasi barang-barang ku.


Setelah aku sampai didalam kamar aku duduk di sofa sambil memikirkan tentang Kak Bastian yang sudah tua tapi, belum juga menikah entah mengapa dia tidak menikah dan aku juga tidak tahu.


"Apa kak Bastian sudah menikah di masa lalunya, mungkin saja tapi, kenapa istrinya tidak ada dan tidak menemui dia apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencari tahu semua itu sendiri ... "


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, Vote, Favorit, komen.


Kalau saran ada kritikan komen saja.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian dari Author.😘


__ADS_2