
Setelah selesai Kuliah Dilara bersama dengan Bagas sedang berjalan-jalan mengelilingi Kota A, Kota kelahiran mereka berdua dan saat di tengah perjalanan Dilara mengatakan kalau ia ingin membeli sesuatu di Swalayan.
"Gas, aku ingin membeli roti bantal di Swalayan. Tolong berhenti sejak ya,"
"Baiklah, tuan putriku ... "sambung Bagas dan Dilara tertawa-tawa.
Bagas menghentikan motornya di Swalayan dan mereka masuk kedalam berdua.
Bagas menatap aneh saat Dilara memasukan beberapa pembalut berwarna ungu kedalam kantung belanjaan.
"Ra, tadi kata mu akan membeli roti bantal, kenapa sekarang kau membeli Pampers itu?"tanya Bagas sambil memegang pembalut wanita.
"Gas, ini yang aku maksudkan dan aku malu kalau mengatakan padamu ... "jawab Dilara mereka berjalan-jalan mengelilingi Swalayan Bagas menghentikan langkahnya di rak deterjen lalu ia mengambil satu deterjen.
"Dilara! Ada boom! "teriak Bagas sontak saja membuat Dilara panik.
"Apa, boom? Aaahhhkkk !"
"Ada boom!"teriak Dilara yang berlari sontak membuat semua yang berada didalam Swalayan berlari keluar dengan sangat panik.
"Ada boom!"teriak semua orang setelah mereka semua keluar Dilan menghampiri Dilara dan ia menarik tangan Dilara.
Aduh, bagaimana ini semua orang malah salah faham, batin Bagas.
"Dimana boom itu Gas, apa masih ada didalam?"ucap Dilara dengan sangat panik dan membuat semua orang menatap kearahnya.
"Hey, dengarkan aku dulu."ucap Bagas yang memegang tangan Dilara.
"Aku sangat takut, apa boom itu di letakan didalam dan apa boom itu akan meledak!"teriak Dilara membuat semua orang menghampirinya, membuat Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dimana boom itu Nak?"tanya salah satu pengunjung Swalayan.
"Katakan Gas, dimana kau melihatnya tadi?"ucap Dilara yang memeluk Bagas.
"Sebenarnya, boom yang aku maksudkan adalah ini"Bagas memperlihatkan deterjen yang bertuliskan Boom.
Sontak membuat semua orang langsung berlalu pergi sedangkan Dilara langsung memukul Bagas, menggunakan kantung belanjaan miliknya yang berisi banyaknya pembalut wanita.
"Kau benar-benar, sudah keterlaluan. Kau lihat semua orang berlari keluar hanya gara-gara deterjen ini?"ucap Dilara sambil berjalan masuk kedalam dan Bagas mengikuti langkahnya.
"Maaf, aku hanya berniat akan mengerjai mu saja. Mana aku tahu semua orang mengira aku benar-benar melihat boom, "jelas Bagas dan Dilara membayar semua pembalutnya setelah itu ia dan Bagas langsung bergegas naik ke atas motor.
"Aku benar-benar sangat jantungan, hampir saja jantungku ini copot. Kau sangat jahil untung saja orang-orang tadi tidak marah."ucap Dilara sambil memegang pinggang Bagas yang mengendarai motor Matic milik Alice.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku minta maaf besok-besok tidak akan aku ulangi lagi. Kau selalu menggunakan Pampers itu?"tanya Bagas sontak saja membuat Dilara tersenyum.
"Untuk apa kau bertanya, apa kau akan membelikan bedan ini untuk pasangan mu nantinya?"tanya balik Dilara pada Bagas.
"Terserah padamu saja, apa kau ingin melihat rumah kardus milikku dan mama?"tanya Bagas sambil menatap kearah jalanan.
"Rumah kardus?"
"Iya, aku dan mama sebelum pernah tinggal di rumah mewah tapi. Setelah mama sakit kami harus pindah sebab rumah itu sudah kami jual, "ungkap Bagas.
Dilara sangat tersentuh mendengar ucapan Bagas.
"Tidak usah, aku tidak ingin kau mengingatkan kembali mamamu, sekarang kami semua adalah keluarga mu."ucap Dilara yang semakin memeluk Bagas dan ia menatap wajah Bagas dari samping.
"Terimakasih, setelah aku lulus kuliah aku akan membahagiakan mama dan papa."ucap Bagas sambil memegang tangan Dilara.
"Em, kalau aku apa kau tidak akan membahagiakan aku juga?"tanya Dilara.
"Kau sudah menikah dan suamimu yang akan membahagiakan mu sayang,"Bagas melepaskan tangannya lalu ia fokus pada jalanan.
"Aku tidak ingin cepat-cepat menikah, aku ingin menjadi sukses dulu seperti papa baru aku menikah."jawab Dilara dengan sangat lembut.
"Kita lihat saja nanti, aku membaca garis tangan mu kau akan menikah dalam waktu dekat ini sebab kau akan mendapatkan perhatian khusus dari laki-laki, yang sudah lama kau kenal dan kalian sama-sama jatuh cinta."ucap Bagas.
"Tidak mungkin, "bantah Dilara.
Ia langsung mengambil Junga masuk kedalam kamarnya saat didalam kamar Bastian menghampirinya.
"Junga, kasihan Mommy baru saja pulang lo,"Bastian menghampiri Dilara dan ia mengambil Junga.
"Kenapa Kakak cepat sekali pulang?"tanya Dilara.
"Kakak sangat merindukan Junga, sebab itulah Kakak pulang awal."jelas Bastian.
"Ooh, "Dilara hendak melangkah namun tangannya di tarik oleh Bastian sehingga ia terjatuh di atas tubuh Bastian.
Perasaan ini, apa yang sebenarnya terjadi aku menyukai kak Bastian ... Dan ini perasaan yang salah, batin Dilara.
"Jangan menyimpan perasaan itu, katakan saja."ucap Bastian sambil menatap wajah Dilara dengan sangat dekat.
Dilara tersadar dan ia langsung bangun dan duduk di bibir ranjangnya.
"Sebenarnya, Kakak mencintai mu,"ungkap Bastian.
__ADS_1
Sontak saja membuat Dilara membuka mulutnya lebar-lebar, lalu ia langsung membuang pandangannya.
"Apa maksudmu Kak, kita adik dan Kakak tidak seharusnya kita membicarakan tentang hal itu."ucap Dilara pelan.
Bastian menghampiri Dilara dan ia duduk di samping Dilara sambil memegang tangannya.
"Sebenarnya Kakak hanya anak sambung papa, kita tidak memiliki hubungan darah,"ungkap Bastian.
Lagi-lagi Dilara sangat terkejut akan apa yang di ucapkan oleh Bastian, ia benar-benar tidak menyangka kalau ia dan Bastian hanyalah orang asing.
"Maksudnya?"ucap Dilara dengan sangat gugup.
"Katakan kamu memiliki perasaan atau tidak, kalau iya kita akan berpacaran."ucap Bastian sambil menatap wajah Dilara yang sangat terkejut.
"Sebenarnya, Dilara juga menyukai Kakak apa kita akan berpacaran?"tanya Dilara dengan malu-malu.
Bastian langsung tersenyum dan ia memeluk Dilara dengan sangat erat.
"Terimakasih sayang, kita akan berpacaran dan segera menikah sebab Kakak sangat mencintai mu ... "ucap Bastian dengan sangat antusias.
"Kak, bagaimana kita menjelaskan semuanya kepada papa dan mama?"tanya Dilara dan Bastian langsung melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Dilara.
"Itu semua adalah tugas Kakak, yang terpenting kamu dan Kakak saling mencintai,"sambung Bastian.
Dilara tersenyum dan mereka saling berpelukan dan Bagas mengintip mereka dari pintu, kamar Dilara yang sedikit terbuka lalu ia tersenyum penuh kemenangan.
Tahap kedua sudah kita mulai, aku akan segera memuat ayah dan Dilara terpisah dengan sangat mudah ... Aku kira ini akan menjadi tugasku yang sangat sulit tapi, aku salah mala ini sangat mudah dan ternyata Dilara mencintai ayah, batin Bagas.
Bagas segera pergi dari sana menuju kamarnya dan ia menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Jangan lupa untuk Follow Ig Author: cinta-terindah217
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘