
Dilara berhasil menangkap tangan Bagas dan Bagas kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh, bersaman dangan Dilara mereka saling menatap satu sama lainnya dalam waktu yang cukup lama.
Ya ampun, mereka sangat lucu seperti kucing dan tikus. Batin Alice.
"Kau menimpa tubuhku, bisakah kau turun?"ucap Bagas sambil menahan beratnya badan Dilara.
"Maaf!"Dilara langsung bangun dan ia juga membantu Bagas untuk bangun setelah mereka merapikan penampilan mereka, mereka langsung tertawa-tawa sambil menatap wajah satu sama lainnya.
"Hahaha, kau lucu sekali, Ra."
"Hahaha, kau juga bahkan kau sangat-sangat lucu ... "Dilara tertawa lepas dan Alice menghampiri mereka sebab ia merasa sangat gemas.
"Anak-anak Mama, kalian benar-benar sangat lucu." Alice menatap kedua anaknya yang masih senyum-senyum menatapnya.
"Ma, kami sarapan dulu ya, soalnya kami ada kelas pagi ini, "sambung Dilara yang menarik tangan Bagas untuk duduk di bangku.
"Cepat sarapanlah, jangan menunggu kakak mu Dilan dia masih mandi dan dia pergi sendiri mengunakan motor sport miliknya, "jelas Alice yang duduk di bangkunya.
Bagas menatap wajah Alice lalu ia berkata, "Ma, bolehkah Bagas mengunakan motor Matic berwarna merah muda itu?"
Sontak saja membuat Dilara tertawa lepas.
"Kau laki-laki apa wanita?"ucap Dilara dalam tawanya.
"Dilara, tidak boleh seperti itu. Bagas biar kakak mu nanti yang merubah warna motor itu ya, sebenarnya itu motor Mama sewaktu kalian semua belum ada ... "ucap Alice yang mencoba mengingat-ingat kembali motor kesayangan miliknya.
"Tidak apa Ma, Bagas akan menggunakannya walaupun warnanya merah muda."ucap Bagas dengan sangat antusias sebab ia sudah tidak sabar lagi untuk mengendarai motor Matic berwarna merah muda tersebut.
"Bagas, aku ikut dengan mu. Ya, "Dilara memohon kepada Bagas sambil memasang wajah imutnya.
"Baiklah, tapi. Jangan sibuk meminta pulang sebab aku akan merubah warna dan tampilan motor Matic milik Mama, " Bagas kembali memakan sarapannya dengan sangat cepat.
"Kalian harus hati-hati ya, sebab motor itu sudah lama sekali tidak di gunakan, "ungkap Alice.
"Sebenarnya, semalam Bagas memakainya Ma untuk mengantarkan tante Riska ... "belum sempat Bagas menyelesaikan ucapannya datanglah Dilan dan ia langsung bertingkah.
"Gas, jangan mau kau membawa mafia itu. Hati-hati ya ... "Dilan langsung memakan roti yang ada di depan Dilara dan roti itu milik Dilara.
"Kau memakan roti ku, dan aku bukan mafia asal kau tahu saja!" Dilara menatap kesal kearah Dilan.
"Sudah, kalian selalu bertengkar bukan kalian sudah berjanji pada papa?"ucap Alice yang menatap kearah Dilan dan Dilara.
"Ma, kami berangkat dulu ya ... "Bagas mencium tangan Alice lalu ia menatap kearah Dilara dan menarik tangan Dilara.
"Ma, pergi dulu!"teriak Dilara sambil mengikuti langkah Bagas sebab tangannya di tarik oleh Bagas.
__ADS_1
"Iya, hati-hati jangan ngebut-ngebut!"
"Ma, sepertinya mereka saling menyukai tidak sih?"ucap Dilan sambil meminum susu miliknya.
"Tidak mungkin, bukankah adikmu itu seperti seorang preman pasar. Mana mungkin dia menyukai laki-laki. "jelas Alice dan Dilan langsung mengingat-ingat kembali sifat adiknya yang sangat bar-bar itu.
"Benar, sepertinya aku salah. Apa Mama mengenal Kisya?"tanya Dilan sontak saja membuat Alice terdiam.
Kisya, aku masih tidak bisa melupakan penghianatan dia bersama dengan Bastian, dua puluh tahun yang lalu. Aku benar-benar tidak bisa melupakan semua itu, batin Alice.
"Ma, apa Mama kenal?"ucap Dilan sekali lagi sebab Alice tidak menjawabnya.
"Ha, iya dia itu keponakan Mama sebab ibunya adalah adik sepupu kakek Azi, "jelas Alice dengan sangat malas dan cuek.
Sepertinya mama, memiliki masalah dengan istri siriku ... Batin Dilan.
"Kenapa kita tidak pernah bertemu dengannya, sebelumnya Ma?"tanya Dilan sambil menatap wajah Mamanya.
"Sebab kami sudah tidak pernah mendapatkan kabarnya, sudah sangat lama semenjak dia melahirkan anaknya dua puluh tahun silam, "ungkap Alice.
"Dan dia itu, mantan istri kak Bastian bukan?"tanya Dilan yang membuat Alice menatap tajam kearah putranya.
"Darimana kamu mengetahui semuanya?"tanya Alice dengan sangat penasaran.
"Teman Dilan adalah anaknya tante Kisya, Ma." ucap Dilan yang membuat Alice membulatkan matanya.
"Baiklah Ma, sebaiknya Mama beritahu dulu kepada kak Bastian setelah itu kita akan menemuinya. "ucap Dilan sambil beranjak bangun dan ia mencium tangan Mamanya.
"Baiklah sayang, hati-hati jangan ngebut-ngebut."ucap Alice sambil menatap kepergian putranya.
Setelah kepergian Dilan dan Alice bergegas pergi menuju kamar tamu sebab ia ingin melihat keadaan Riska.
Tok. Tok.
Alice mengetuk-ngetuk pintu kamar Riska sebelum ia masuk kedalam tak berselang lama Riska membuka pintu.
"Ce, masuk." Alice masuk kedalam bersama dengan Riska dan mereka duduk di bibir ranjang.
"Ris, kamu yakin mau pisah dari ayah?"tanya Alice sambil menatap wajah temannya tersebut.
"Yakin Ce, gue udah dua puluh tahun ini selalu merasakan sakit dan cemburu di hati gue, sebab ayah elo terus-menerus selingkuh tau,"ungkap Riska.
"Iya, aku tahu Ris ... Kalau ini yang terbaik aku akan dukung kamu. " Alice tersenyum dan Riska juga tersenyum lalu mereka berpelukan.
....
__ADS_1
Saat Dilan berada di jalan ponselnya berdering dan ia langsung menghentikan laju motornya, dan ia melihat ternyata Kisya yang menelfonnya dan ia langsung bergegas menjawabnya.
📱 Tante Kisya.
"Halo, Tan. Ada apa?"
"Sayang, kamu dimana kenapa semalam tidak pulang?"ucap Kisya dengan sangat manja dan Dilan langsung bernafas panjang.
"Bukankah saya punya rumah sendiri Tan, kalau papa sampai tahu bagaimana dengan saya dan kita semua?"ucap Dilan dengan sangat tegas.
"Tapi ... " belum sempat Kisya menjelaskan ucapannya Dilan langsung menutup ponselnya dan ia melajukan kembali motornya.
Setelah sampai di Kampus Dilan langsung memarkirkan motornya dan ia terdiam saat melihat pujaan hatinya.
"Ciptaan Allah yang sangat sempurna dan sangat indah ... "ucap Dilan sambil berjalan menuju tempat dimana adanya Nona.
Dilan tersenyum saat berada di belakang tubuh Nona lalu ia berjalan dan dia berhenti di hadapan Nona.
"Assalamualaikum Nona ..." salam Dilan kepada Nona.
"Wa'alaikumsalam salam Dilan. "jawab Nona sambil tersenyum manis.
"Kamu ada acara tidak nanti malam?"tanya Dilan dengan sangat tidak sabar.
"Tidak ada, kenapa emangnya?"ucap Nona dengan sangat lembut.
"Apa aku boleh datang kerumah mu? Hanya untuk bersilaturahmi saja, " Dilan tersenyum dan ia juga merapikan rambutnya sebab ia sangat gugup.
"Boleh, sebaiknya datang saja sebab abah dan ummi ada di rumah kalau malam hari ... "jelas Nona.
"Baiklah aku akan datang."ucap Dilan dengan sangat bahagia.
Dilan dan Nona bergegas pergi menuju kelas mereka sebab Dosen sudah sampai dan masuk kedalam, bersama dengan mereka berdua setelah sampai didalam mereka langsung mengerjakan tugas mereka.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘