Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
POV Bastian


__ADS_3

Aku baru saja pulang dari Kantor sore ini dan saat aku berada di depan rumah aku mendengar suara jeritan, dan sepertinya itu adalah suara Adik laki-laki ku dengan cepat aku masuk kedalam dan aku melihat Dilan sudah terjatuh di lantai dan Dilara sudah berlari menuju kearah Dilan.


Aku membantu Dilan bangun dan kulihat Dilara menghampiri ku dengan tatapan kekesalannya.


"Kak, biarkan saja dia terjatuh tidak usah Kakak membantunya, apa Kakak tahu apa yang sudah Dilan buat kepada Dilara?" ucap Dilara yang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari mengejar saudara kembarnya tadi.


Dengan sangat cepat aku menarik tangan Dilara dan aku membawanya duduk di sofa, sedangkan Dilan di bantu oleh Mommy Alice duduk di samping kami.


"Sayang, coba tenang terlebih dahulu sebelum kamu bertindak, lihat Dilan dia terluka bukan?" ucapku sambil menatap wajah Dilara.


Dilara menghembuskan nafasnya dengan sangat perlahan lalu dia menatap wajah saudara kembarnya. "Maafkan aku Dilan ... "


"Tidak usah kau meminta maaf kalau sebentar lagi akan kau ulangi hal yang sama." ucap Dilan dengan sangat ketus.


"Lihat Kak Bastian, dia saja seperti itu dan Dilara tidak bisa bersikap manis kepadanya. " Dilara membuang pandangannya kearah pintu dengan tatapan kekesalannya.


"Dilara, kamu tidak boleh seperti ini lagi ya, kalau kamu terus seperti ini maka Mama akan menghukum mu." Mommy Alice menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.


Dilara melirik kearah Mamanya dan dia juga melirik kearah saudara kembarnya lalu dia bergegas pergi menuju kamarnya.


"Bastian tolong bujuk Dilara, dia hanya akan mendengarkan ucapan mu saja bukan?"Mommy Alice memohon kepadaku agar membujuk Dilara yang sedang merajuk.


"Baiklah Mommy, aku akan mencoba dan aku juga tidak bisa berjanji tapi, aku akan berusaha agar dia bisa mengerti. " janji ku kepada Mommy Alice.


"Terimakasih Bastian. " ucap Mommy Alice dengan sangat lembut.


Aku bergegas pergi menuju ke kamar Dilara dan aku membuka pintu kamar Dilara dengan perlahan setelah aku masuk aku melihat Dilara sedang duduk di sofa sambil menatap kearah jendela kamarnya, dengan sangat perlahan aku menghampirinya dan duduk di samping Dilara.


"Sayang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" ucapku dengan sangat lembut.


Dilara menoleh kini kami saling bertatapan.


"Dilan mengatakan kalau Dilara adalah gadis bar-bar Kak, " ungkapnya.


Aku langsung tersenyum dan mencubit hidung mancungnya.


"Hanya itu saja bisa membuat mu seperti seekor macan sayang." akupun tertawa kecil mendengar ucapan Dilara barusan.


"Kak." Dilara menatap tajam kearah ku dan aku langsung menghentikan tawaku dengan sangat cepat.


"Baiklah tapi, apa kamu tahu kita tiga bersaudara tidak boleh terus-menerus bertengkar, apa lagi kamu dan Dilan kalian kembar apa kalian tidak memiliki rasa sayang?" tanyaku sambil menatap wajah Dilara.


"Kalau sayang pasti ada Kak, kalau kami selalu bertengkar itu pasti ulah Dilan sebab dia selalu saja membuat Dilara kesal Kak." ucap Dilara pelan.


"Tapi, kamu harus lebih sabar lagi sebab kamu wanita sayang jika wanita kasar dan kejam mana ada laki-laki yang menyukai mu nantinya. "aku langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dari Dilara.


"Sudah?"


"Maaf sayang itu adalah hal yang sering terjadi bukan, dan Kakak tidak berbohong sebab ada salah satu teman Kakak yang seperti itu. "aku tersenyum yang menutupi ketakutan akan kemarahan dari Dilara.


Jangan sampai Dilara marah dan menghajar aku dengan sangat kasar dan ganas, batin ku.


"Baiklah Kak, bukankah Dilara masih berusia 20 tahun Kak?"ucap Dilara pelan.


Akupun bernafas lega sebab Dilara tidak marah kepadaku dan aku tersenyum menatap bola mata Dilara.


"Lalu? Apa kamu tidak ingin menikah, mommy saja dulu menikah dengan papa usianya baru berusia 20 tahun sayang. " ucapku dengan lembut dan aku mengelus rambut Adikku tersebut.


"Benarkah Kak, kalau begitu bukankah Kakak dan mama seumuran?" tanya Dilara yang menatap wajahku dengan tatapan serius.


Aku terdiam dan teringat masa laluku besama dengan Alice sewaktu kami berpacaran dulu.


Sepertinya aku harus mengalikan pembicaraan kami agar Dilara tidak tahu masa lalu ku, aku tidak mau sampai Dilara membenciku sebab aku sangat menyayangi dia seperti anakku sendiri, batin ku.


"Apa kamu tidak ingin meminta maaf kepada mommy dan Dilan?"tanya ku kepadanya.


"Tapi Kak, apa Dilan tidak marah kepada Dilara dan mama pasti tadi sangat marah kepada Dilara Kak ... " ucapnya lirih.


Aku tersenyum. "Ayo kita menemu mereka."


Dilara tersenyum dan dia ikut bersama dengan ku kami berjalan menuju bawah dengan menuruni anak tangga, setelah kami sampai bawah Dilara menghentikan langkahnya saat dia melihat Papanya sudah pulang dan duduk bersama dengan saudara kembarnya dan Mommy Alice.


"Ayo, tenang saja Kakak ada untukmu tidak usah takut dengan Papa. " aku menggandeng tangan Dilara dan Dilara hanya diam dan mengikuti langkahku.


Setelah kami sampai kami duduk bersebelahan dengan Papa.

__ADS_1


"Katakan?"ucap Papa dengan sangat dingin.


"Ma-maaf Kak Dilan ... " ucap Dilara terbata-bata saat dia melirik kearah Papa.


"Dilara ... " Papa menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.


"Maaf Pa, memang Dilara yang bersalah kepada Kak Dilan dan Dilara minta maaf juga kepada Mama ... " Dilara menangis didalam pelukanku dan aku mengelus rambutnya dengan perlahan.


"Papa sudah sering kali bukan mengatakan kalau kamu tidak boleh bersikap seperti preman pasar bukan, sekarang lihat Kakak mu terluka bukan hanya kali ini saja sebelumnya kamu juga bersikap seperti ini, dan Papa akan menghukum mu." ucap Papa dengan sangat tegas.


Dilara masih menangis didalam pelukan ku, sedangkan aku hanya bisa diam saja mendengar ucapan Papa.


"Papa, sudahlah kasihan Dilara dia menangis seperti itu. "ucap Mommy Alice dengan sangat lembut .


"Ma, biarkan dia tahu dia adalah wanita tidak seharusnya dia bersikap seperti seorang laki-laki. Papa akan menghukumnya dia akan tinggal bersama dengan kakeknya selama satu bulan. "ucap Papa dengan sangat tegas.


"Tapi Pa, disana tidak enak Pa." ucap Dilara yang menatap wajah Papa.


"Ini sudah menjadi keputusan Papa. "ucap Papa yang berlalu pergi menuju kamarnya.


Setelah kepergian Papa, Dilara berlari memeluk Mommy Alice dan menangis tersedu-sedu didalam pelukan Mommy.


Setelah berpelukan Dilara bangun dan sebelum dia pergi dia menatap kearah ku.


"Kak, bisakah Kakak saja yang membawa Dilara ke rumah kakek?"tanyanya kepadaku.


"Bisa sayang, besok kita akan pergi kesan dan sekarang kamu mandi sana sudah bauk asem tau ... " ucapku sambil menutup lubang hidungku yang sangat mancung ini.


Dilara mencium tubuhnya dan benar saja dia mencium aroma tak sedap dari bagian ketiaknya. "Besok pagi jangan telat bangun ya, kalau Kakak telat bangun Dilara akan buka kartu Kakak." Dilara berlari menaiki anak tangga dan aku berteriak.


"Kartu apa!" ucapku dengan sangat bingung.


"Kartu rahasia Kakak ... "


"Kakak tidak akan terlambat bangun!"teriak ku setelah aku tidak melihatnya lagi akupun bergegas pergi menuju kamarku.


..


Setelah malam hari aku sudah menunggu Dilara untuk makan malam bersama dengan Papa, Mommy Alice dan juga Dilan, namun Dilara tak kunjung datang sehingga Papa mengutus aku untuk memanggilnya.


Aku berjalan menaiki anak tangga sesampainya aku didepan pintu kamar Dilara aku mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tak berselang lama akhirnya dia keluar juga namun Ia hanya mengenakan handuk kimono saja.


"Tunggu Dilara di bawa saja Kak Dilara pakai baju dulu."ucapnya dan aku langsung bergegas pergi menuju bawah.


Setelah aku sampai di meja makan aku langsung duduk dan tak berselang lama akhirnya Dilara turun juga, dan dia duduk di samping ku lalu Papa menatap wajahnya.


"Dilara, kamu besok pagi pergi kerumah kakek bersama dengan Kak Bastian dan kamu kuliah dari sana, ingat bahwa kamu harus tinggal disana selama satu bulan." ucap Papa dengan sangat tegas.


"Baiklah Pa ... "ucapnya lirih.


"Pa, bolehkah aku juga ikut?"ucap Dilan yang menatap wajah Papa.


"Alasan Papa mengirim Dilara ke rumah kakek adalah untuk memisahkan kalian untuk sementara waktu, agar kalian mengerti bahwa tali persaudaraan itu sangat penting dan kuat agar kalian tidak bertengkar lagi, mengerti?" ucap Papa yang melirik kearah Dilara dan juga melirik kearah Kak Dilan.


"Mengerti Papa ... " ucap Dilara dan Dilan bersamaan.


"Mama, kita akan terpisah pasti Dilara akan merindukan Mama ... " ucap Dilara lirih sambil menatap wajah Mommy Alice.


"Jangan bersedih sayang, disana juga ada oma Riska dia itu adalah teman Mama pasti ada Mama didalam dirinya,"


Aku hanya diam saja dan Papa berbicara padaku.


"Bas, setelah kalian sampai rumah kakek katakan pada bibi kecil mu kalau dia harus membimbing Dilara, agar Dilara menjadi seperti seorang wanita pada umumnya, " ucap Papa kepadaku.


Aku langsung menjawab ucapan Papa."Baiklah Pa ... "


Setelah selesai makan aku langsung bergegas pergi menuju kamarku.


....


Pagi hari ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Kantor sebelum aku berangkat aku akan mengantarkan adikku terlebih dahulu, menuju ke rumah Om Azi yang sekarang sudah aku anggap sebagai Kakek dan dia juga sudah menganggap aku sebagi cucunya.


Terasa lucu tapi, itu yang aku jalani sekarang, aku duduk sambil memegang ponselku lalu aku membuka galery dan melihat foto Saras dan juga anakku yang sekarang mereka entah pergi kemana, dan aku sama sekali tidak mengetahui mereka pergi kemana.


Sudah berulangkali aku mencoba mencari merek namun tak kunjung bisa, hingga aku menjadi seperti ini sekarang aku sering mabuk dan bermain dengan banyaknya wanita malam.

__ADS_1


"Dimana kamu sayang, aku rindu kamu semoga kita bisa bertemu lagi aku ingin sekali memeluk anak kita sayang."ucap ku lirih.


Aku mendengar seperti suara langkah kaki yang akan masuk kedalam kamarku akupun menidurkan tubuhku, lalu aku menutup mataku dan aku mendengar langkah kaki itu mendekati aku namun aku masih pura-pura tidur.


"Benar yang aku katakan, dia masih tidur, dasar kerbau ... Tapi, kenapa dia sudah rapi ya, aku tahu ... " ucapnya dan aku sangat terkejut saat dia menimpah badanku.


"Aaahhhkkk ... " pekik ku saat dia menimpah badanku terasa sangat sakit dan berat.


"Turun sekarang juga Dilara, sakit sekali ... " ucapku sambil menahan sakit dan kulihat dia tersenyum dan tertawa kecil.


"Dasar pembohong ... " ucapnya yang beranjak bangun dari tubuhku aku mengingat ucapnya seperti ucapan Saras dua puluh tahun yang lalu.


Flashback.


Aku sedang mencoba menahan Saras agar dia tidak membawa bayi kami yang masih kecil sebab pertengkaran hebat kami.


"Kau pembohong! kau mengatakan sudah tidak bermain api lagi tapi apa buktinya ha, kau tidur dengan wanita lain, dasar brengsek! "ucap Saras dengan amarah yang merasuki tubuhnya.


Aku langsung memeluknya dan aku mencium puncak kepalanya, "Maafkan aku Saras, ini semua adalah salahku tapi, jangan pergi demi anak kita ... "


Ku lihat dia mulai menenangkan dirinya dan dia menatap wajah ku dengan sangat dalam.


"Dulu aku juga wanita malam tapi, aku sudah berubah dan apa ini semua adalah balasan mu untuk ku, kalau benar adanya maka aku akan pergi ... "ucapnya yang sudah mulai tenang.


Aku terdiam aku sangat bingung akan menjawab apa sebab apa yang di katakan olehnya benar adanya.


"Diam, aku menganggapnya benar dan aku akan pergi bersama dengan anak kita, kau tidak boleh mengambilnya dan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, dasar pembohong!"


Aku terdiam saat dia pergi bersama dengan anak kami yang masih bayi namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, seakan aku teringat ucapannya tadi.


"Diam, aku menganggapnya benar dan aku akan pergi bersama dengan anak kita, kau tidak boleh mengambilnya dan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, dasar pembohong!"


Flashback off.


Aku di kejutkan oleh lamunan ku oleh Dilara yang menendang kakiku.


"Kakak melamun?Ada apa katakan apa ada masalah?" ucapnya sambil menatap wajahku dengan sangat serius.


"Tidak ada hanya saja masalah Kantor, apa kita berangkat sekarang?"elak ku cepat agar dia tidak mencurigai aku.


"Ooh, ayo kita pergi Dilara ingin segera sampai rumah kakek Azi sebelum kakek ke Kantor Kak ... " ucapnya dengan sangat lembut dan imut di mataku.


"Ayo ... " Aku bangun dan berjalan bersama dengannya menuju luar sesampainya kami di luar ku lihat Papa dan Mommy tiri ku sudah menunggu di ruang tamu.


"Mama, jangan lupa untuk video call ya, kalau tidak Dilara akan marah kepada Mama ... " ucap Dilara dengan sangat manja kepada Mommy Alice.


"Iya, sayang kamu ingat pesan Papa kalau kamu harus menjadi wanita pada umumnya ya, jangan seperti preman pasar lagi ya?"ucap Mommy Alice dengan sangat lembut.


"Siap Ma ... " ucap Dilara sambil memeluk Mommy Alice, ku lihat Papa hanya diam saja dengan wajah dinginnya dan aku menghampirinya.


"Pa, mungkin Bastian akan sedikit terlambat untuk meeting pagi ini apa tidak masalah, sebab Bastian akan ke Kantor Bastian dulu."ucapku sambil menatap wajah Papa yang terlihat sangat dingin.


"Iya, tidak apa-apa jangan lupa bisnis mu juga butuh kamu Bas jangan pernah lupa bahwa kamu adalah seorang CEO juga ... " ucap Papa yang menepuk pundak ku dengan perlahan.


Akupun tersenyum."Siap Pa ... "ucapku dengan tegas.


"Ayo Kak, Papa Mama pergi dulu Dilara janji akan berubah agar tidak mendapatkan hukuman lagi ... " janji Dilara pada Papa dan Mommy Alice.


"Iya Nak, pergilah sayang ... " ucap Mommy Alice sedangkan Papa terlihat jelas di wajahnya masih kesal akan sikap dan perilaku Dilara.


Aku dan Dilara bergegas pergi menuju mobilku yang berada di luar aku membantu Dilara membawakan koper miliknya, entah mengapa aku merasa sangat kesulitan untuk membawanya entah apa yang ada didalam mungkinkah Dilara membawa batu pikirku.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Jika kalian punya saran dan kritikan komen saja ya.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua ya.😘


__ADS_2