
Setelah sampai di Cafe terdekat Bagas memarkirkan motornya di parkiran, setelah itu ia dan Dilara bergegas masuk kedalam dan mereka duduk di ruangan VIP.
Sepertinya dia banyak uang, dia sampai meminta ruangan VIP, batin Bagas.
"Ra, kamu itu wanita cantik, manis, dan yang paling aku sayang ... "Bagas tersenyum kepada Dilara membuat Dilara tersenyum malu-malu.
"Biasa saja, pesan apapun yang kau mau."ucap Dilara dengan sangat percaya diri.
Bagas langsung memanggil pelayan setelah itu mereka mulai memesan makanan, selang beberapa menit pelayan kembali membawakan banyaknya makanan yang mereka pesan.
Bagas hendak memakan makanannya namun, Dilara menghentikannya.
"Jangan dulu, aku ingin mengambil foto dulu,"Dilara langsung memotret makanan yang berada di meja.
Sudah lapar, bisa-bisanya dia memotretnya dulu dasar mafia lemot, batin Bagas.
"Aku, sudah boleh makan?"tanya Bagas sambil menatap kearah Dilara dan Dilara tersenyum sambil melihat hasil lengkap gambarnya tadi.
"Silakan, Kakak ku ... "
Bagas langsung bergegas memakannya begitu juga dengan Dilara, setelah beberapa jam kemudian akhirnya mereka sudah selesai makan.
"Ayo, kita pulang ... Aku sudah sangat kenyang ... "Bagas mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Dilara tersenyum dan ia meraba-raba bajunya lalu ia membulatkan matanya.
"Gas, aku. Tidak membawa uang, "ungkap Dilara.
Sontak saja membuat Bagas membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kau, bercanda bukan?"tanya Bagas sambil menatap wajah panik Dilara.
"Aku benar-benar, tidak membawa uang ..."ucap Dilara sambil memegang wajahnya.
"Ya, ampun. Kau ini bagaimana siapa yang akan membayar semua ini, mana semuanya mahal-mahal lagi, mana cukup uang receh ku ini."Bagas memperlihatkan dua seribu dan dua ribu.
Tidak mungkin aku meminta bantuan kepada kak Bastian, sebab aku masih sangat kesal padanya dan marah. Batin Dilara.
"Terpaksa, kita harus kabur."bisik Dilara di telinga Bagas.
"Kau gila! Aku tidak mau!"Bagas langsung memanggil pelayan dan Dilara menggigit kuku dengan sikap Bagas.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya pelayan yang baru sampai.
"Begini Mbak, saya dan Adik saya tidak membawa uang jadi. Kami akan pulang dulu untuk mengambil uang,"ungkap Bagas sontak saja membuat pelayan tersebut marah.
__ADS_1
"Alasan saja, kalian memang tidak mau bayar! Sekarang ikut saya!"pelayan tersebut sangat marah lalu menyeret tangan Bagas dan Dilara masuk kedalam dapur.
Setelah mereka sampai didalam dapur pelayan tersebut mengantarkan mereka menuju, tempat cuci piring terlihat sangat banyak sekali piring kotor.
"Selesaikan semuanya, kalau tidak kalian tidak akan pergi dari sini!"pelayan tersebut berlalu pergi dengan keadaan marah.
"Bagas, selama hidupku ini aku tidak pernah mencuci piring sebanyak itu,"Dilara mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu ia menatap wajah Bagas.
"Tidak apa-apa, kau susun saja piring-piring dan aku yang akan mencucinya sebab semua ini adalah kesalahan ku ..."Bagas mengelus rambut Dilara dengan sangat lembut lalu ia hendak melangkah namun, tangannya di tarik oleh Dilara dan mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Bagas, ini semua adalah salahku ... Kalau saja aku tidak lupa membawa uang tidak mungkin kita mencuci piring ..."ucap Dilara lirih.
Bagas tersenyum dan ia langsung melepaskan tangannya.
"Kau adalah Adikku, jangan bersedih aku akan cepat menyelesaikan pekerjaan ini agar kau bisa segera bobok, "Bagas langsung mencuci piring-piring yang sangat banyak tersebut.
Setelah mencuci piring selama empat jam akhirnya Bagas sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia bernafas lega ia duduk untuk menghilangkan penatnya ia menatap wajah Dilara yang terlihat sudah sangat mengantuk.
"Kita pulang, ini sudah larut malam?"Bagas bangun dan ia menggandeng tangan Dilara.
Pelayan tadi datang dan menghampiri mereka.
"Besok-besok kalau tidak ada uang, jangan sok makan dan duduk di bangku VIP!"
"Anda tidak tahu aku adalah seorang Alfaro, tidak mungkin kau tidak pernah mendengar nama itu!"Dilara naik pitam melihat pelayanan Cafe tersebut.
Dilara hendak menghampiri pelayan tersebut namun, tangannya di tahan oleh Bagas lalu Bagas mengisyaratkan agar Dilara ikut bersamanya.
Mereka berjalan menuju luar dan mereka langsung naik ke atas motor, Dilara berpegangan pada pinggang Bagas dengan sangat erat. Sebab angin malam menebus kulitnya meskipun ia menggunakan jaket.
Setelah sampai rumah mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing.
Pagi hari tiba.
Alice sudah selesai membuat sarapan lalu ia duduk sambil meminum segelas teh hangat, dan ia melirik kearah kamar Dilara yang berada di atas.
"Tidak seperti bisa, kenapa Dilara belum bangun?"ucap Alice sambil menatap kearah kamar Dilara.
Kenan datang dan memeluk Alice dari belakang lalu ia mencium seluruh wajah Alice.
"Mas, kalau ada anak-anak bagaimana?"Alice menarik tangan Kenan untuk duduk disampingnya.
"Anak-anak masih tidur, apa tadi malam Dilara pulang larut malam?"tanya Kenan yang mengetahui anaknya pergi makan malam bersama seorang laki-laki.
"Tidak, dia cepat sekali pulang setelah itu baru dia pergi bersama dengan Bagas entah kemana. "ucap Alice sambil menuangkan teh hangat untuk Suaminya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, aku titip uang jajan Dilan, Dilara, Bagas. "Kenan memberikan uang tiga juta rupiah untuk ketiga anaknya, yang masing-masing mendapatkan uang jajan satu juta rupiah.
"Iya, apa Mas akan berangkat sekarang?"tanya Alice sambil menyimpan uang dari Kenan.
"Iya, sehabis sarapan ini dan kalau Bastian bertanya katakan saja aku sudah pergi."ucap Kenan yang mulai memakan makanannya.
"Baiklah, "jawab Alice.
Kenan tidak bersuara sebab ia mulai memakan makanannya, setelah selesai makan ia bangun dan mencium puncak kepala Alice dengan sangat lembut. Lalu ia mulai berjalan menuju luar setelah kepergian suaminya Alice bergegas untuk memanggil Dilara.
Alice tidak mengetuk pintu terlebih dahulu ia langsung masuk kedalam, ia melihat Dilara tertidur dengan menggunakan mukenah.
"Sepertinya dia tertidur, saat Sholat Subuh tadi."ucap Alice yang menghampiri anak gadisnya.
Alice menepuk pundak Dilara dengan sangat lembut dan Dilara langsung bangun.
"Mama, "Dilara langsung bangun dan melepaskan mukenah yang ia pakai.
"Cepatlah, sarapan setelah itu kamu ke Kampus."Alice membantu Dilara mengemas mukenah dan sajadah.
"Dilara, hari ini hanya ada satu mata Kuliah Ma,"ungkap Dilara sambil mengambil Junga dari dalam kandangnya.
"Dia sudah di temukan?"ucap Alice yang menghampiri Junga lalu ia mengambil Junga dari pelukan Dilara.
"Sebenarnya semalam, kak Bastian yang membawanya,"ungkap Dilara.
Alice langsung mengelus-elus bulu Junga dengan sangat gemas.
"Cepatlah bersiap, Junga akan Mama jaga selama kamu Kuliah ..."ucap Alice yang bergegas pergi membawa Junga.
Dilara langsung bergegas berganti baju ia mengambil baju seperti biasanya, ia menggunakan celana dan kaos saja sebab itulah pakaiannya sehari-hari.
"Apa aku berganti baju saja ya, sebab aku mulai menyukai dress saat aku berniat akan mengerjai Kenta?" Dilara menatap kearah lemari pakaiannya.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘