Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
POV Author kesalahan Bastian


__ADS_3

Setelah pagi hari tiba Dilara terbangun dan ia meraba bibirnya yang terasa sangat kering.


"Kayaknya semalam aku mimpi deh, berciuman dan sepertinya sangat nyata sampai seperti ini,"ucap Dilara dengan sangat bingung.


Dilara pun bergegas pergi menuju kamar mandi dan ia langsung memulai ritual mandinya, setelah selesai ia langsung memakai handuk kimono dan ia berjalan menuju sofa lalu ia menidurkan kembali tubuhnya.


.


.


Kenan sedang menunggu anak tertuanya pulang sebab dari semalam Bastian belum juga pulang.


"Anak itu, kalau bukan karena Amira aku tidak akan merawatnya dan melihat tingkahnya seperti ini. Dari dahulu dia tidak pernah mau berubah aku lelah!"


Kenan sangat kesal akan sikap anak sambungnya tersebut, dan Alice dengan sangat lembut memeluk Kenan agar bisa tenang.


"Mas, jangan lupa kamu sudah tua tidak muda lagi. Jadi, jangan terlalu larut dalam emosi biarkan saja dia menentukan jalan hidupnya sendiri, bukankah sudah memenuhi amanah dari almarhumah kak Amira?"ucap Alice dengan sangat lembut sambil memeluk suaminya.


"Huuu ... Baiklah Mas akan tenang dan membiarkannya, terimakasih sudah membuat Mas tenang seperti ini. Kamu dari dulu selalu mampu membuat Mas tenang dan tidak kalut dalam emosi Mas," Kenan tersenyum dan ia mencium puncak kepala Alice dengan sangat lembut dan mesra.


"Bukankah kita sudah berjanji, akan saling melengkapi dan menerima segala kekurangan kita?"tanya Alice sambil menatap wajah Kenan.


"Mas sangat bersyukur, kita di grebek warga waktu itu. Kalau tidak begitu kita tidak akan menikah bukan?"ucap Kenan sambil menciumi seluruh wajah Alice.


"Mas, kita masih bisa mengingat masa-masa itu dua puluh tahun silam. Dan sekarang kita sudah bahagia bersama anak-anak kita dan kita akan segera memiliki menantu, "Alice tersenyum dan tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri.


"Walaupun kamu sudah tua seperti saat ini, Mas tetap menganggap mu sebagai Alice kecil yang selalu menangis seperti dulu."ucap Kenan yang si susul gelak tawanya.


Sontak saja membuat Alice kesal dan langsung mencubit perut sixpack Kenan.


"Sakit, sayang." Kenan mengelus perutnya dan ia menatap wajah Alice.


"Sudahlah, Alice masuk kedalam dulu."ucap Alice yang hendak melangkah namun Kenan menarik tangannya.


"Mas, jangan disini kalau anak-anak lihat bagaimana?"ucap Alice yang sedikit panik sebab Kenan memeluknya.


"Baiklah, ayo kita ke kamar sayang."Kenan mengedipkan sebelah matanya dan Alice langsung berlari menuju kamarnya, Kenan mengejar Alice masuk kedalam kamarnya mereka terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


.


Bastian berada di kamar yang berada di Bar sebab ia mabuk dan sangat kelelahan semalam, ia mabuk dan tidur dengan dua wanita sekaligus membuatnya sangat kelelahan.


Perlahan ia membuka matanya dan ia memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Aku semalam tidur dengan wanita itu, dan aku menghayal kan Dilara yang tidur bersama dengan ku. Ini benar-benar pikiran yang gila dan tidak waras lagi, aku tidak boleh mencintai adikku sendiri walaupun kami bukan siapa-siapa tapi, aku sudah menganggapnya sebagai adik dan anakku sendiri ... "ucap Bastian dengan sara bersalah yang masuk kedalam tubuhnya dan pikirannya.


Bastian bergegas memakai baju-bajunya dan ia segera keluar dari Bar milik temannya, setelah ia masuk kedalam mobil ia duduk termenung.


"Bodohnya aku, kenapa aku mencium Dilara semalam aku benar-benar merasa bersalah dan menyesali perbuatan ku ... Sebaiknya aku melihat keadaan Dilara saja apa dia baik-baik saja?" Bastian bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Azi Prananda. Sebab ia akan menemui Dilara disana.


Setelah sampai di rumah Azi ia turun dan langsung masuk kedalam, ia di sambut oleh pembantu rumah Azi. Ia menunggu pembantu memanggilkan Dilara sebab Azi dan Riska sudah pergi.


Pembantu Azi menghampiri Bastian dan ia menyampaikan bahwa Dilara masih tertidur pulas.


"Den, Non Dilara, masih tertidur di kamarnya saya tidak berani membangunkannya ... " Pembantu Azi berlalu pergi.


Aku saja yang masuk kedalam kamar Dilara, mumpung om Azi tidak ada di rumah dan Alessandra juga tidak ada, batin Bastian.


Bastian bergegas pergi menuju kamar Dilara setelah sampai ia langsung masuk dan mengunci pintu kamar Dilara, perlahan ia menghampiri Dilara yang tertidur pulas di sofa ia duduk dan mengelus rambut Dilara.


Dilara langsung terbangun dan ia langsung duduk sambil menatap wajah Bastian yang tampak kusut.


"Siapa kerbau?"


"Kamu ... "Bastian mencubit hidung mancung Dilara dan sontak saja Dilara memukul tubuh Bastian.


"Sakit sayang!" Bastian berlari dan Dilara mengejarnya dengan hanya mengenakan handuk kimono.


"Berhenti!" teriak Dilara sambil mengejar Bastian.


Bastian terus berlari hingga ia menendang kaki kursi sehingga ia terjatuh, dan Dilara juga ikut terjatuh sebab ia menabrak tubuh Bastia.


Tanpa di sadari oleh Dilara handuk kimono yang ia kenakan sedikit terangkat sehingga, Bastian dapat melihat nona miliknya yang belum sempat ia pakaian kan pengamannya.


Astaga, apa-apa ini aku sangat bergairah melihat nona miliknya, apa ini pikiran kotor pergilah dari kepalaku, batin Bastian.

__ADS_1


"Pakailah ****** ***** mu,"ucap Bastian pelan sontak saja Dilara langsung bangun dan merapikan penampilannya.


"Maaf Kak, tadi Dilara lupa memakainya dan anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa dan Kakak tidak melihatnya, "pinta Dilara pada Kakaknya tersebut.


Bastian mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sudah sangat jauh, lalu ia mendekati Dilara dan ia membawa Dilara duduk di bibir ranjang.


"Kakak ini laki-laki normal, jika Kakak melihatnya maka Kakak akan terus-menerus memikirkannya. Jadi, kamu harus bertanggung jawab, "Bastian mengedipkan sebelah matanya dan Dilara langsung mundur ia sedikit menjauh dari Bastian.


Pasti kak Bastian akan melahap ku, bagaimana ini dia kan kakakku dan apa yang dia katakan tadi, dia laki-laki normal. Ya ampun, bagaimana ini. Batin Dilara.


"Jangan menjauh, datanglah ... Kita akan bersenang-senang ... " Bastian mendekati Dilara dan Dilara langsung menampar pipi Bastian dengan sangat kuat.


Plak,


"Kakak jangan kurang ajar, apa Kakak tidak berfikir sebelum mengatakan hal menjijikan seperti itu. Jangan pernah berfikir Dilara akan bersikap murahan ya, Kak. Dilara tidak suka pada sifat Kakak yang terlalu murahan itu!" Dilara mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat terlalu emosi.


Bastian hanya diam dan bergegas pergi dari kamar Dilara.


.


.


Dilan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus ia sudah bersiap dan kini ia sudah menaiki motor miliknya, selama di perjalanan ia terus-menerus memikirkan tentang Mamanya Doni, yang masih mengusik pikirannya.


Aku akan mendapatkan jawabannya hari ini juga, sebab aku tidak bisa terus-menerus penasaran seperti ini. Aku juga harus memastikan bahwa papa tidak perselingkuhan dari mama, batin Dilan.


Setelah Dilan sampai ia langsung bergegas pergi menuju kelasnya sebab ia sudah terlambat, setelah ia masuk ternyata pelajaran sudah di mulai sehingga ia melewatkannya.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya, Like, Vote Favorit, komen.

__ADS_1


Author semangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.😘


__ADS_2