
Alessandra sudah selesai berbelanja kini ia tengah menunggu kedatangan Dilan di cafe depan Mall, ia meminum segelas kopi susu kesukaannya sambil memainkan ponselnya ia melirik kearah sampingnya.
"Datang juga anak ini."ucap Alessandra dengan sangat ketus membuat Dilan menoyor kepalanya. "Hey, kau ini sangat tidak sopan padaku! Aku ini Mama mu juga!"teriak Alessandra membuat Dilan tertawa-tawa.
"Mama, baiklah aku akan mengantarmu pulang. Ayo, Mama ..."ucap Dilan yang di susul gelak tawanya.
Alessandra mencubit perut sixpack Dilan lalu ia berjalan menuju motor sport milik Dilan, ia langsung naik ke atas dan motor sport milik Dilan jatuh membuat Alessandra tertimpah.
"Dilan tolong!"teriak Alessandra membuat Dilan tertawa-tawa ia menghampiri Alessandra. Ia tidak menolong Alessandra melainkan hanya tertawa-tawa sambil memegang perutnya.
"Dilan perutku sakit!"teriak Alessandra membuat Dilan langsung berhenti tertawa.
Mungkin dia hamil, sebaiknya aku cepat menolongnya agar dia dan anaknya baik-baik saja. Batin Dilan.
Dilan langsung membantu Alessandra ia mengangkat motornya lalu ia membantu Alessandra berdiri, Alessandra langsung memukuli lengan Dilan dengan sangat kuat membuat Dilan kesakitan.
"Hentikan!"teriak Dilan.
Alessandra semakin memukul lengan Dilan.
"Kau kurang ajar, bisa-bisanya Mama mu ini tidak kau bantu sama sekali!"
Dilan menahan tangan Alessandra dengan sangat kuat."Hentikan, atau aku akan membuat mu menyesal."
Alessandra terdiam melihat tatapan tajam dari Dilan.
Sangat mengerikan tatapan ini, apakah Dilan seorang psikopat. Batin Alessandra.
Dilan mengantarkan Alessandra pulang lalu ia juga langsung pulang ke rumahnya.
...
Dilara sedang memakan makan siangnya dan ia terikat pada Bagas yang tidak ada di apartemen dari pagi, ia memikirkan apa Bagas sudah makan atau belum sehingga ia tidak berselera makan.
"Kalau hanya melihat tokoh saja tidak mungkin selama ini, apa ada yang dia sembunyikan dariku. Aku harus mencari tahu semuanya sebab aku tidak ingin ada rahasia."ucap Dilara yang menyudahi memakan makanan siangnya.
Satu Minggu kemudian...
Pada pagi ini Azi akan mengambil hasil tes DNA antara dirinya dan anaknya kini ia dan Kinan sudah ada di rumah sakit, Azi duduk di hadapan Dokter bersama dengan Kinan dan Dokter memberikan hasil tes DNA miliknya.
Azi membulatkan matanya sebab ia melihat hasilnya positif dirinya dan Doni adalah anak dan Ayah, Azi meneteskan air matanya lalu ia menatap wajah Kinan sambil mengusap air matanya.
"Dimana Agam?"tanya Azi.
"Transfer dulu, barulah aku akan membawa mu menemui dia."ucap Kinan dengan sangat lembut. Azi menarik tangan Kinan menuju mobilnya setelah mereka masuk kedalam barulah Azi mengirimkan uang.
__ADS_1
"Apa itu kurang?"tanya Azi yang memperlihatkan uang lima ratus juta yang ia kirim ke pada Kinan.
"Cukup."jawab Kinan sambil tersenyum manis. "Lalu dimana Agam?"
"Aku akan mengantarmu, ikuti saja jalan yang aku tunjukkan padamu."ucap Kinan dan Azi langsung melajukan mobilnya menuju rumah yang di tunjukkan oleh Kinan.
Setelah mereka sampai Azi langsung cepat-cepat turun bersama dengan Kinan mereka mengetuk-ngetuk pintu rumah Kisya.
Ceklek!
Azi meneteskan air matanya saat melihat remaja yang mirip sekali dengan wajahnya, ia langsung memeluk Doni dengan sangat erat sambil mengisi anaknya yang selama ini hilang.
Siapa laki-laki ini, kenapa dia memelukku seperti ini, apa dia adalah ayahku dan pelukan ini sangat hangat, batin Doni.
Doni melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Azi yang sembab akibat menangis.
"Tan, siapa dia?"tanya Doni sambil menatap kearah Kinan.
"Sebaiknya kita bicara didalam saja."ucap Kinan yang masuk kedalam bersama dengan Azi.
Doni masuk kedalam dan duduk di sofa bersama dengan Kinan dan Azi.
"Doni, dia adalah Ayah mu,"ungkap Kinan membuat Doni langsung meneteskan air matanya.
"Tidak mungkin, selama ini Doni tidak memiliki siapa-siapa selain mama."ucap Doni sambil menangis tersedu-sedu.
"Mama!"teriak Doni.
Kisya yang sedang melakukan senam panas bersama dengan benda merah mudah langsung menghentikan aktivitasnya, Kisya memakai handuk kimono lalu ia berjalan dengan terburu-buru menghampiri anaknya.
Kisya terdiam sambil menatap kearah Azi pamannya yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.
"Kisya."
"Paman ..."ucap Kisya sambil mendekati Doni dan memeluk Doni.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis dan berteriak?"tanya Kisya dengan sangat lembut.
"Mama, kata Om itu aku anaknya,"ungkap Doni didalam pelukan Kisya.
Kisya membulatkan matanya sebab ia tidak tahu kalau Doni adalah anak dari Pamannya, Azi benar-benar tidak percaya kalau anaknya selama ini tinggal bersama dengan Keponakannya.
"Kisya, dia adalah Agam."ucap Azi yang memberikan hasil tes DNA dirinya dan Doni.
Kisya membuka lalu ia melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah Doni.
__ADS_1
"Nak, dia memang Ayah mu sebab kita memang bukan ibu dan anak,"ungkap Kisya dengan sangat lirih.
Doni terdiam lemas sambil menangis tersedu-sedu lalu ia bersujud di kaki Azi.
"Maafkan saya, sebab saya sudah tidak sopan pada Om."ucap Doni membuat Azi merasa sangat sakit sebab anaknya memangil dirinya dengan sebutan Om.
Azi langsung membangunkan Doni lalu ia memeluk Doni dengan sangat lembut.
Ini pasti perbuatan sialan ini, kalau Doni ikut dengan Paman Azi. Habislah aku pasti Bastian akan menghajar ku habis sebab aku sudah menipunya, batin Kisya.
"Panggil Ayah, jangan Om lagi,"pinta Azi pada Agam.
"Baik, Ayah."jawab Agam.
"Kisya, Agam akan tinggal bersama dengan Paman dan kamu juga ikut dengan Paman saja ya?"ucap Azi sambil menghapus air matanya.
Kalau aku tinggal bersama dengan Paman Azi maka aku tidak akan susah paya mencari uang lagi, batin Kisya.
"Baik, Paman. Sebelumnya Kisya tidak tahu Doni ini em, Maksudnya Agam ini anak siapa sebab Kinan yang memberikan anak bayi waktu itu,"ungkap Kisya sambil melirik kearah Kinan.
"Kalau Doni ini Agam, lalu dimana anak mu?"tanya Azi sambil mengingat kalau anaknya seumuran dengan anak Kisya.
Gawat ini, aku harus menjawab apa. Tidak mungkin aku menjawab kalau anakku ikut dengan ayahnya, batin Kisya.
"Apa anak mu ada disini juga?"tambah Azi sebab Kisya hanya diam saja.
Habislah kau Kisya, kau mau main-main dengan ku. Batin Kinan.
"Fatir sudah meninggal,"ungkap Kisya dengan sangat cepat.
Pandai sekali ular ini menyembunyikan rahasianya, batin Kinan.
"Sudahlah tidak apa-apa, sebaiknya kalian berkemas-kemas kita akan segera menemui Alessandra dan Riska."ucap Azi dan Kisya langsung bergegas pergi bersama dengan Agam.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.