Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Alessandra berhalusinasi


__ADS_3

Dilan sudah selesai Kuliah kini ia duduk di kantin sambil meminum segelas jus buah dingin, lalu Alessandra menghampirinya dan duduk di sampingnya sambil menepuk pundak Dilan dengan perlahan.


"Oh, ternyata hanya kau."ucap Dilan dengan sangat pelan.


"Hey, dimana semangat hidup mu itu kau seperti tidak ada semangat hidup." ucap Alessandra yang meminum jus milik Dilan.


"Tante, itu minuman ku dan sudah aku campur obat ..."ucap Dilan yang tidak bisa meneruskan ucapannya.


"Obat apa?"tanya Alessandra dengan sangat cemas sambil memegang gelas tersebut.


"Itu, aduh. Bagaimana aku menjelaskannya padamu ..."ucap Dilan sambil memegang kepalanya.


"Apa! Katakan apa?"teriak Alessandra sontak membuat semua orang menatap kearahnya, Dilan menutup mulut Alessandra menggunakan tangannya.


"Jangan berteriak, aku hanya mencampur kan obat penenang pikiran saja dan setelah ini kau akan merasa halusinasi saja. Jadi, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum kau berbuat yang tidak-tidak."bisik Dilan di telinga Alessandra.


Alessandra menempis tangan Dilan dari mulutnya."Untuk apa kau minun obat itu?"tanya Alessandra dengan sangat pelan.


"Sebab aku meras sangat pusing dengan apa yang aku hadapi saat ini, ayo kita pergi ke tempat yang aman dari sini."Dilan menarik tangan Alessandra yang sudah mulai berhalusinasi.


Dilan naik ke atas motor sport miliknya lalu ia menyuruh Alessandra naik akan tetapi Alessandra sudah berhalusinasi, ia melihat kuda yang di naiki oleh Dilan membuatnya takut.


"Aku tidak mau naik kuda itu, aku takut terjatuh."ucap Alessandra sambil tersenyum-senyum.


"Ya ampun, kau sudah berhalusinasi rupanya."


Dilan turun dari motornya lalu ia menaikan Alessandra didepan dan ia langsung naik, walaupun ia merasa sangat kesulitan akan posisi Alessandra yang berada didepan.


"Dilan, jangan cepat-cepat menaiki kuda ini aku takut terjatuh!"teriak Alessandra membuat Dilan sangat malu.


Sebab banyak orang di jalan yang melihat kearahnya dan juga Alessandra.


"Diamlah."ucap Dilan sambil terus mengemudikan motornya menuju apartemen miliknya yang tidak jauh dari Kampus berada.


Setelah sampai Dilan memarkirkan motornya di parkiran lalu ia menggendong tubuh Alessandra masuk kedalam apartemen miliknya.


"Kau ini makan apa sih, badan kecil tubuh mu ini berat sekali."ucap Dilan yang menggendong tubuh Alessandra masuk dengan perlahan.


"Hehehe, aku habis makan satu ekor kuda tadi makanya tubuhku ini berat, hehehe ..."Alessandra tertawa-tawa tanpa sadar.


Dilan melemparkan tubuh Alessandra ke atas ranjang sebab ia merasa sangat keberatan akan tubuh Alessandra.


"Hey, brengsek! Aku tidak mau menerima benih-benih menjijikan mu didalam ramin ku ini!"teriak Alessandra membuat Dilan terkejut.

__ADS_1


"Ternyata benar, dia sudah tidur dengan laki-laki akan tetapi siapa laki-laki itu?"ucap Dilan yang mulai mendekati Alessandra.


"Siapa si brengsek itu?"tanya Dilan sambil mendekati Alessandra.


Alessandra menatap wajah Dilan lalu ia membayangkan kalau itu adalah Bastian membuatnya sangat kesal.


Plak!


Alessandra menampar keras pipi Dilan membuat Dilan kesakitan.


"Hey, kau menampar pipi ku ini?"ucap Dilan sambil mengelus-elus wajahnya.


"Kau adalah brengsek itu!"tarik Alessandra sambil memejamkan matanya.


"Percuma aku bicara pada orang yang sudah tidak waras lagi, aku harus segera mencari tahu siapa laki-laki itu yang sudah membuat wanita yang aku sangat seperti ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita-wanita yang aku sangat sayang."ucap Dilan sambil menyelimuti seluruh tubuh Alessandra.


Ponsel Alessandra berdering dan Dilan langsung cepat-cepat menerima Panggilan dari Azi.


📱Ayah.


"Ale, kami sudah pulang apa kamu sudah pulang?"tanya Azi dengan sangat lembut.


"Kakek, ini Dilan. Kami sudah pulang dan kami ada tugas penting mungkin malam hari kami baru kembali, tenang saja kalau Dilan ada pasti Tante Alessandra akan baik-baik saja."ucap Dilan.


"Oh, baiklah. Dimana Ale?"tanya Azi membuat Dilan bingung akan menjawab apa pada Kakeknya.


"Ada di toilet."jawab Dilan dengan sangat cepat.


"Oh, lanjutkan tugas kalian."ucap Azi yang memutuskan sambungan teleponnya.


Dilan bernafas lega lalu ia meletakan ponsel Alessandra ke tempat asalnya, lalu ia duduk di sofa sambil terus menatap wajah Alessandra.


...


Azi langsung bergegas pergi menuju rumah sakit setelah ia mengantarkan Riska, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai. Setelah sampai ia langsung menghampiri Kinan yang ruangan Dokter.


Azi masuk kedalam dan duduk di samping Kinan.


"Dok, ini rambut dari Doni."jelas Kinan sambil memberikan rambut Doni.


"Pak, kita akan melakukan tes DNA dan hasilnya akan keluar kurang dari satu Minggu lah."jelas Dokter tersebut.


"Baik, Dok."ucap Azi.

__ADS_1


...


Ameena masih memikirkan tentang apa yang di ucapkan oleh Caira tadi membuatnya sangat sedih.


Apa yang akan terjadi pada pernikahan ku nantinya, apa semua yang di ucapkan oleh Caira benar adanya apa laki-laki itu brengsek. Batin Ameena.


...


Bagas menghampiri Dilara dengan keadaan yang sangat pusing ia duduk di samping Dilara.


"Apa yang di ucapkan oleh kakek Azi?"ucap Bagas sontak saja membuat Dilara langsung menatap kearahnya.


Apa tidak mengatakan apapun, kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Batin Dilara.


"Apa kakek Azi meminta untuk kita berpisah?"tambah Bagas membuat Dilara terkejut, sebab ia tidak mengatakan apapun kepada Bagas dan tebakan Bagas benar.


"Gas, aku memang berfikir sama dengan kakek Azi, bukankah kalian saling mencintai lalu untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini?"jawab Dilara.


Bagas mengelus perut Dilara dengan sangat lembut."Ada benih yang aku tanamkan disini."


"Aku bisa membesarkan bayi ku sendiri, kalau aku benar-benar hamil."sambung Dilara.


Bagas tersenyum sambil menahan sakit di bagian kepalanya. "Aku tidak ingin apa yang aku rasakan, juga dirasakan oleh anakku nantinya,"


"Gas!"teriak Dilara memiliki Bagas terjatuh ke lantai.


"Kepalaku sakit sekali."ucap Bagas dengan sangat lemas. "Aku akan membantu mu berjalan." Dilara membantu Bagas bangun dan naik ke atas tempat tidur.


Dilara langsung memijat kepala Bagas sampai Bagas tertidur pulas sebab pijatan tangan Dilara.


Maafkan aku, Gas. Ini semua adalah salahku sebab itu kau sampai seperti ini dan aku akan segera mengakhiri hubungan kita agar kau bisa bahagia bersama dengan tante Alessandra, batin Dilara.


Dilara meneteskan air matanya sebab ia merasa tidak rela kalau harus menyerahkan suaminya untuk wanita lain, yang jelas-jelas ia tahu kalau wanita itu sangat di cintai oleh suaminya sendiri.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2