
"Aku tanya padamu, kau mencintaiku atau Dilara?" Bagas terdiam akan pertanyaan dari Alessandra.
"Aku sudah tidak bisa mencintai wanita lain, sebab kalau aku mencintaimu aku akan melukai hati Dilara seperti hati mama ku yang selalu di sakiti oleh ayah ..."ucap Bagas sambil meneteskan air matanya sontak membuat Alessandra terkejut.
Ya ampun, dia sampai menangis seperti itu, sebaiknya aku diam saja saat ini aku harus menerima kepuasannya kali ini. Setelah beberapa bulan aku akan memperjuangkan cintaku lagi, batin Alessandra.
"Gas, aku minta maaf sudah membuat mu seperti ini. Aku berjanji tidak akan mengungkit masalah ini lagi ... Aku akan bersahabat saja padamu tidak lebih."jelas Alessandra.
"Ale, aku kalau di suruh memili aku lebih memilih untuk menikahi wanita yang aku cintai, akan tetapi takdir tidak berpihak padaku."ucap Bagas yang mulai tenang.
"Aku mengerti, sekarang aku hanya ingin bersahabat baik saja padamu dan aku akan melupakan perasaanku ini. Kau tenang saja aku tidak akan mengungkitnya lagi,"janji Alessandra pada Bagas.
Apa, Ale benar dengan ucapannya atau dia memiliki rencana lain agar dia bisa kembali mendapatkan aku, batin Bagas.
"Baiklah, kau bisa menemui kami kapanpun di villa. Sekarang aku pulang dulu sebab hari sudah semakin siang."ucap Bagas yang mulai berlalu pergi.
Alessandra tersenyum menatap kepergian Bagas.
"Gas, aku tidak bisa melupakan mu dengan sangat mudah. Aku akan memperjuangkan cintaku padamu lagi, aku tidak akan terburu-buru untuk hal ini sebab aku akan membuat mu benar-benar tidak bisa hidup tampa cintaku,"
..
Bagas berjalan dengan perlahan menuju villa setelah sampai ia langsung bergegas masuk kedalam, ia berjalan menuju kamar dan ia melihat kalau Dilara sudah tidak ada lagi ia langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.
"Kemana perginya dia, mungkin saja dia ada di sekitar sini dan aku tidak melihatnya ..."ucap Bagas yang mulai membuka bajunya satu persatu.
"Bagas!"teriak Dilara yang baru saja keluar dari toilet membuat Bagas panik ia hendak keluar akan tetapi ia terjauh.
"Aaahhhkkk!"pekik Bagas.
Dilara langsung membantu Bagas bangun sambil menutup kedua matanya menggunakan tangannya.
"Kau, baik-baik saja. Gas?"tanya Dilara yang masih menutup matanya.
"Iya, sebaiknya aku masuk kedalam dulu."ucap Bagas yang langsung masuk kedalam.
Dilara membuka matanya lalu ia berjalan menuju tempat tidur lalu ia menidurkan tubuhnya.
Ya ampun, aku benar-benar melihatnya tadi. Untung saja dia belum sempat membuka pengaman Kris miliknya, batin Dilara sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
Dilara menutup wajahnya menggunakan bantal.
__ADS_1
..
Bagas memegang kepalanya yang sedikit benjol sebab ia terbentur di lantai tadi.
"Malu sekali aku, bukannya mengunci pintu terlebih dahulu, bisa-bisanya dia melihat aku tidak mengunakan baju dan untungnya aku belum membuka pengaman milikku ini,"
Bagas mulai mandi dan setelah selesai ia langsung bergegas memakai handuk lalu ia mulai keluar, ia melihat Dilara yang melihatnya dengan wajah yang sedang menahan tawa.
"Tertawa saja ..."ucap Bagas yang sangat kesal sebab ia di tertawakan.
"Hahaha ... "Dilara mulai tertawa-tawa sontak membuat Bagas menatap tajam kearahnya.
"Tertawa yang puas, setelah ini aku benar-benar akan memperlihatkan milikku padamu," sontak saja Dilara langsung diam dan membuang pandangannya kearah jendela kamarnya.
"Diam?"tambah Bagas sambil mengambil bajunya dari koper miliknya akan tetapi karena ia melirik kearah Dilara, ia salah membuka koper ia malah membuka koper milik Dilara.
Ia mengambil asal saja lalu ia melihatnya ternyata yang ia ambil adalah bra milik Dilara.
"Aahhkk!"pekik Bagas sambil meletakan kembali milik Dilara.
Dilara langsung bangun dan menghampiri Bagas.
"Apa yang kau lakukan, dengan benda-benda itu?"tanya Dilara sambil menatap Bagas.
Ternyata dia masih takut juga denganku, batin Dilara sambil tertawa kecil.
...
Ameena sangat bahagia sebab ia bisa mengenal Dilan dan ia juga sudah bersahabat dengan Dilan, siang ini mereka berjalan-jalan di taman berdua saja sambil menikmati hembusan angin kencang.
Dilan membawa Ameena duduk di bangku taman.
"Meena, apa sebaiknya kita pulang saja sepertinya akan turun hujan,"ujar Dilan sambil menatap kearah langit yang mulai gelap.
"Tidak apa-apa, kalau akan hujan kita akan mandi hujan bersama ..."ucap Ameena dengan sangat gembira.
"Kalau kau sakit, dan papa mu marah padaku bagaimana?"tanya Dilan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dilan, kau ini genit sekali."ucap Ameena sambil memukul lengan Dilan dengan perlahan.
"Tidak, kok. Aku tadi hanya kelilipan saja,"dusta Dilan sebenarnya memang ia ingin menggoda Ameena.
__ADS_1
"Aku ingin tanya sesuatu padamu, apa aku dan kau seperti ini tidak akan ada yang marah, maksudnya seperti pacar mu mungkin ..."ucap Ameena sambil menatap wajah Dilan.
"Tidak, sebab aku sudah tidak memiliki pacar sebab dia sudah di jodohkan dengan orang tuanya ... "ucap Dilan lirih.
"Maaf, aku sudah mengingatkan mu lagi."ucap Ameena sambil menatap wajah sedih Dilan.
"Tidak apa-apa, sebab itu aku tidak ingin memiliki pacar lagi sebab aku takut kalau pacarku akan meninggalkan aku lagi,"ungkap Dilan.
"Tidak bisa seperti itu, sebab jaman sekarang tidak banyak orang yang menikah karena di jodohkan."tambah Ameena.
"Tidak mungkin bagaimana, buktinya saja adikku sudah menikah dan di jodohkan dan pacarku juga sudah di jodohkan, tidak ada kata tidak mungkin Ameena ... "ucap Bagas sambil tersenyum manis kepada Ameena.
Dilan senyuman mu itu, membuat aku merasa melayang ke udara. Entahlah aku sudah menyukainya dari pertama kami bertemu semoga saja aku dan dia bisa bersama, batin Ameena.
Hujan deras turun dan membasahi seluruh tubuh Ameena dan Dilan, Dilan menarik tangan Ameena agar mereka segera berteduh. Akan tetapi Ameena semakin menarik tangan Dilan agar menari bersamanya di bawah derasnya hujan turun.
"Ameena! Ayo kita berteduh, aku takut kau akan sakit!"teriak Dilan Ameena tidak mendengar ucapan Dilan, ia semakin asik bermain hujan membuat Dilan kesal.
Dilan menarik tangan Ameena menuju pos ronda, mereka duduk di sana sambil berdiam diri sebab Dilan marah kepada Ameena.
"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi ..."ucap Ameena dengan sangat lembut.
Hening.
Dilan hanya diam saja ia tidak menjawab ucapan Ameena lalu ia mulai menghembuskan nafasnya.
"Jangan di ulangi lagi, sebab aku tidak ingin sampai kau sakit. Hanya itu saja tidak lebih."ucap Dilan dengan sangat lembut.
Hanya itu saja, dia benar-benar tidak mau memasukan aku kedalam hatinya, batin Ameena.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.