
Bagas langsung bangun dan menatap wajah Dilara lalu ia membangunkan Dilara, setelah itu ia memegang kaki Dilara yang berada didalam selimut.
"Ada apa?"tanya Dilara sambil menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Tidak ada, hanya saja tidak sakit lagi. Bagaimana bisa bukankah waktu itu sakit?"ucap Bagas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Entahlah, aku membaca di internet kalau sudah sering maka tidak akan sakit lagi."jelas Dilara membuat Bagas merasa sangat lega.
"Syukurlah, aku kira akan sakit lagi. Cepat kita mandi dan bersiap bukankah sebentar lagi kita akan pergi."ucap Bagas yang mengambil handuk kimono dan bergegas memakainya lalu masuk kedalam kamar mandi.
Apa Bagas sudah menyukai aku, apa hanya aku saja yang sudah mencintainya ... Kalau sampai itu terjadi aku akan menerimanya, sebab memang Bagas mencintai tante Alessandra. Batin Dilara.
Dilara memakai selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya lalu ia masuk kedalam kamar mandi, terlihat Bagas sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dan Dilara mulai mandi.
Bagas menggunakan kemeja dan celana panjang lalu ia memakai sedikit parfum dan ia merapikan penampilannya, tak berselang lama Dilara keluar dengan keadaan rambut yang masih basah.
"Ra, cepat pakai bajumu. Ini ada baju dari Mama dan jangan lupa pakai hijab."jelas Bagas sambil memberikan baju dari Alice semalam.
"Mana mungkin aku memakai hijab, kalau rambut ku basah seperti ini."jelas Dilara sambil memakai bajunya.
Bagas menarik tangan Dilara duduk di depan Hermin hias lalu ia mulai mengambil hair dryer, lalu ia mulai mengeringkan rambut Dilara setelah kering ia menunggu Dilara memakai makeup.
"Sudah selesai?"tanya Bagas sambil memegang hijab dan juga syal.
"Sudah."sahut Dilara.
Bagas mulai mengingat rambut Dilara dengan sangat rapi lalu ia mulai memakaikan hijab pashmina kepada Dilara, ia sangat pandai memakaikan hijab pashmina tersebut dan Dilara hanya diam saja.
Setelah selesai Dilara memakai sepatu kaca lalu ia mulai berjalan dengan perlahan bersama dengan Bagas, setelah mereka sampai di ruang tamu di sana sudah ramai orang bahkan Riska dan Azi sudah sampai.
"Wah, cucu Oma pakai hijab."ucap Riska sambil menatap kearah Dilara yang terlihat sangat cantik menggunakan hijab.
Dilara dan Bagas sama-sama mencium tangan Riska dan Azi secara bergantian, lalu mereka duduk di sofa saling berhadapan dengan Kenan dan Alice.
"Apa semalam ada yang sangat kuat ..."ucap Kenan sambil tertawa kecil menatap wajah Alice.
"Kuat, apa?"tanya Azi sambil menatap kearah menantunya.
Ini karena kecerobohan Bagas, aku benar-benar sangat malu. Batin Dilara.
"Tidak ada, hanya saja ada bungkus obat kuat di dapur dan bukan aku yang meminumnya,"ungkap Kenan membuat Bagas langsung menundukkan wajahnya.
Kalau bukan Kenan sudah pasti Bagas, apa mereka sudah benar-benar melakukan itu. Kalau benar adanya pasti Bagas sudah mengkhianati cinta Alessandra dari lama bersama dengan Dilara, batin Azi.
__ADS_1
"Wah, apa ada kemajuan di antara hubungan kalian?"tanya Riska dengan sangat lembut.
"Apa kita bisa pergi sekarang?"tanya Azi membuat Riska heran akan sikap suaminya tersebut.
Sepertinya dia juga merasakan apa yang di rasakan Alessandra, batin Riksa.
"Ayo."ucap Kenan dan Alice bersamaan.
Alice dan Kenan bersama dengan Dilara dan Bagas mereka naik satu mobil sedangkan Riska dan Azi mereka naik mobil sendiri.
Setelah Dilara masuk kedalam mobil ia duduk di belakang bersama dengan Bagas sedangkan Kenan dan Alice duduk di depan.
Sepertinya aku sudah menyakiti hati kakek, seperti aku harus menjauh dari Bagas agar dia bisa bersama dengan tante Alessandra lagi. Aku harus melupakannya dan membiarkannya pergi untuk tante Alessandra. Batin Dilara.
"Ra, apa kau ingin aku ..."Bagas menghentikan ucapannya sebab ia melihat Dilara sedang diam termenung.
"Ra."tambah Bagas lagi membuat Dilara langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya, aku mendengar ucapan mu."jawab Dilara dengan sangat gugup sambil membuang pandangannya.
Sepertinya ada yang di sembunyikan olehnya, aku akan mencari tahu semuanya. Apa ini ada hubungannya dengan kakek Azi tadi. Batin Bagas.
"Dilara, sehabis ini Mama dan Papa akan ke luar Kota untuk beberapa hari. Kalian pulang saja ke rumah ya. Setelah itu baru kalian pulang ke apartemen. Dan mulai besok kalian harus masuk Kuliah."ucap Alice sambil menoleh kearah anak-anaknya.
Azi hanya diam saja selama di perjalanan membuat Riska heran.
"Apa ada masalah?"tanya Riska sambil memegang tangan Azi.
"Iya, apa sebenarnya mereka sudah mengkhianati Alessandra dari dulu. Aku akan berbicara dengan Dilara akan hal ini."ucap Azi yang fokus pada jalanan.
"Jangan seperti itu, sebab Alessandra dan Bagas memang tidak berjodoh."jelas Riska.
"Aku tidak peduli, sebab aku tidak bisa melihat anak ku di sakiti seperti itu."ucap Azi dengan sangat kesal.
Bagaimana ini, sebaiknya aku bicara baik-baik kepda Alessandra agar dia bisa bicarakan hal ini kepada Ayahnya, batin Riska.
Setelah rombongan Kenan sampai di rumah Pak Ardan mereka di sambut hangat oleh keluarga Pak Ardan.
Pak Ardan memeluk Kenan dengan sangat lembut dan juga Pak Ardan memeluk Azi, mereka masuk kedalam dan duduk di tempat acara pertunangan.
"Dimana, Ameena. Pak?"tanya Alice sambil menatap keseluruhan ruangan.
"Sebentar lagi akan turun."jawab Pak Ardan dengan sangat lembut.
__ADS_1
Pak Ardan dan Kenan bersaman dangan Azi mengobrol bersama sedangkan Alice dan Riska mereka hanya diam saja.
Dilara menatap keseluruhan ruangan ia melihat cantiknya dekorasi ruang lalu ia memotret dirinya, dan Bagas menyadarinya kalau Dilara hanya memotret dirinya saja tanpa mengajaknya juga.
"Aku tidak ikut?"tanya Bagas membuat Dilara langsung menyimpan ponselnya.
Aneh sekali dengannya, aku yakin ini semua sebab kakek Azi tadi. Sebab pagi tadi dia masih ramah dan banyak bicara tidak seperti saat ini dia sangat dingin. Batin Bagas.
Azi tersenyum melihat Dilara yang mulai menjauh dari Bagas lalu ia melanjutkan kembali obrolannya.
Ameena datang bersama seorang anak perempuan kecil yang masih berusia tiga tahun, Ameena mencium tangan semua orang bersama juga dengan gadis kecil tersebut.
Gadis kecil tersebut mencium tangan Bagas dan Dilara.
"Om, dan Tante ini akan segera memiliki adik laki-laki."celetuk gadis tersebut membuat semua orang langsung menatap kearah mereka.
"Maksudnya?"tanya Dilara sambil memegang tangan gadis kecil tersebut.
"Iya, Caira bilang kalau Om sama Tante ini akan memiliki adik laki-laki dari Mamanya Tante ini."jelas gadis kecil tersebut membuat Alice tersedak-sedak.
"Uhuk, uhuk."
Kenan langsung memberikan air putih kepada Alice dan Alice langsung meminumnya.
"Adik tahu dari mana?"tanya Dilara sambil memangku gadis kecil tersebut.
"Iya, sebab Caira dapat melihatnya bahkan Caira juga melihat kalau Tante akan memiliki anak juga perempuan kayak Caira."jawab Caira membuat semua orang menatap kearah mereka.
"Caira, ayo sini sama Tante."ucap Ameena dengan sangat lembut.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1