
Dilara hanya diam saja didalam pikirannya ia memikirkan kalau Bagas hanya berpura-pura baik padanya, ia bersikap dingin kepada Bagas dan Bagas hanya diam saja menerimanya tanpa bertanya kepada Dilara.
Dilara menidurkan tubuhnya dengan perlahan tanpa melirik Bagas yang berada di sampingnya sama sekali, ia mulai memejamkan matanya akan tetapi dirinya tidak bisa tidur.
Aku sangat kecewa padanya, aku merasa kalau dia mau menikahi ku karena akan membuat ku sakit. Aku tahu ini semua untuk balas dendam dirinya pada kak Bastian dan aku juga dapat imbasnya, batin Dilara.
Bagas hanya diam saja melihat sikap Dilara yang sangat dingin padanya sebab ia tidak mau ribut, ia memilih untuk diam saja agar Dilara bisa tenang terlebih dahulu barulah ia membujuk Dilara.
Aku yakin pasti dia sudah tahu rencana awal ku, akan tetapi saat aku sudah menikahinya aku merasa harus bertanggung jawab terhadapnya. Dan aku tidak mempermainkan perasaan dirinya atau menyakiti perasaannya. Batin Bagas.
...
Bastian sedang duduk di Bar sambil meminum segelas Bir ia menghisap rokok dengan pandangan kosong, ia mengingat-ingat kembali kejadian tadi saat dirinya di peluk oleh Dilara membuatnya sangat sakit.
"Ra, sekarang aku mertua mu. Aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini, aku merasa sangat tidak berguna akan apa yang terjadi padaku ... Aku tidak bisa menerima ini semuanya akan tetapi ini semua bukan mimpi ..."ucap Bastian dengan sangat kacau.
"Hay, Bastian."sapa seorang laki-laki tampan yang seumuran dengan dirinya.
Bastian hanya diam saja sambil meminum segelas Bir.
"Kau ini sangat sombong, apa kau sudah tidak ingat padaku?"tanya seorang laki-laki tampan tersebut.
"Masih, akan tetapi aku saat ini sangat kacau,"ungkap Bastian.
"Kacau?"
"Em iya, calon istri ku menikah dengan anakku. Apa kau tahu perasaanku saat ini?"ungkap Bastian membuat laki-laki tersebut terkejut.
"Bas, jangan memacari wanita yang seumuran dengan anakmu jika kau tidak ingin seperti ini terjadi."ucap Zixa sambil tertawa-tawa.
"Diam!"
"Kau ini sangat ketus, aku hanya memberikan mu saran saja, ngomong-ngomong siapa wanita itu?"tanya Zixa dengan sangat penasaran.
"Tidak perlu kau ketahui, karena kau juga akan segera mengetahuinya. Aku mau pulang saja muak aku melihat wajah mu itu!"
Bastian bergegas pergi dari sana saat di perjalanan ia melihat Alessandra sedang di ganggu oleh preman, ia menghentikan mobilnya di depan Alessandra yang sedang mencoba menyelamatkan dirinya.
"Itu, Alessandra."
__ADS_1
Bastian langsung bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri beberapa preman.
"Hentikan!"teriak Bastian membuat Alessandra langsung menoleh.
Bajingan itu, kalau saja aku tidak seperti ini aku tidak akan mau meminta bantuannya, batin Alessandra.
"Jangan ikut campur!"
Dua preman tersebut langsung menyerang Bastian akan tetapi Bastian dapat mengalahkan mereka semua, ia memukuli dua preman tersebut dengan cara bergantian setelah selesai ia langsung menghampiri Alessandra.
"Masuk, kedalam mobil!"teriak Bastian melihat dua orang yang ia hajar tadi bangun lagi. Alessandra langsung masuk kedalam mobil Bastian dengan rasa takut yang mendalam.
Dua orang tadi berhasil memukuli wajah Bastian hinga lebam lalu mereka langsung pergi, Bastian berjalan menuju mobilnya lalu ia masuk sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berkelahi tadi.
"Wajahmu luka-luka, sebaiknya aku saja yang bawa mobil ini ke rumah sakit."ucap Alessandra sambil bergegas turun dan Bastian langsung berpindah posisi.
Setelah Alessandra masuk ia hendak menjalankan mobil akan tetapi tangannya di tarik oleh Bastian.
"Antarkan saja ke rumahku,"pinta Bastian kepada Alessandra..
"Aku tidak tahu dimana rumahmu."ucap Alessandra sambil melepaskan tangannya.
Alessandra mulai melajukan mobil Bastian menuju rumah Bastian, setelah sampai Alessandra langsung turun ia membantu Bastian berjalan masuk kedalam rumah.
Kalau saja dia tidak menolongku, tidak mau aku membatu bajingan ini. Batin Alessandra.
"Antarkan aku kedalam kamar."pinta Bastian dengan sangat lemas membuat Alessandra tidak taga menolaknya.
Semoga saja dia tidak menyadari bahwa aku hanya berbohong saja, batin Bastian.
"Baik, setelah itu aku akan pergi."ucap Alessandra dengan sangat cuek sambil membantu Bastian berjalan menuju kamar.
Sesampainya didalam kamar Bastian langsung berlari menuju pintu kamarnya lalu ia langsung menguncinya, membuat Alessandra membulatkan matanya lebar-lebar.
"Bajingan!"teriak Alessandra sambil berlari untuk mencoba membuka pintu kamar Bastian.
"Hahaha, kau itu hanyalah boneka saja kapan aku ingin bermain maka kau akan bermain bersama ku ..."Bastian tertawa-tawa sambil menatap wajah Alessandra.
"Kau sudah merenggut mahkota berharga milikku, lalu kau ingin menghancurkan kehidupan ku sekali lagi!"teriak Alessandra sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Ale, aku bisa menikahi mu. Karena kau tidak akan bisa menjadi menantuku ..."ucap Bastian dengan sangat lembut sambil mendekati Alessandra.
"Menantu?"
Bastian mencium tengkuk leher Alessandra.
"Bagas adalah anakku, dan kau harus tau kalau Dilara saat ini adalah menantuku dan itu membuat aku tidak waras lagi,"bisik Bastian di telinga Alessandra.
Alessandra langsung menjauh dari Bastian sebab ia sangat takut akan tatapan mata dari Bastian.
"Aku sangat hancur!"teriak Bastian sambil meneteskan air matanya membuat Alessandra terkejut.
"Bastian, eh maksudnya Om. Sebaiknya lupakan saja Dilara dan kalau aku masih bisa menikahi Bagas lain halnya dengan Om,"jelas Alessandra membuat Bastian langsung mendekatinya.
"Aku tidak akan membuat diriku sendiri yang sakit, aku akan membuatmu merasakan sakit juga. Bukankah kita sudah bermalam bersama lalu apa kau kira kau bisa menikah dengan Bagas? Tidak!"
Alessandra langsung tersadar kalau apa yang di ucapkan oleh Bastian benar sehingga ia langsung terjatuh lemas dan pingsan.
"Alessandra, kau itu seperti mainan ku saja. Masa bodoh kalau aku harus menikahi mu kedepannya, sebaiknya kita bersenang-senang saja dulu."ucap Bastian yang menggendong tubuh Alessandra naik ke atas tempat tidurnya.
(Sekip)
Pagi hari tiba pada pagi ini Dilara sudah menyiapkan sarapan untuk Bagas lalu ia bersiap-siap untuk ke Kampus, senarnya ia masih lama akan pergi akan tetapi karena ia masih kelas pada Bagas membuatnya pergi lebih awal.
Bagas bangun tidur lalu ia segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja, saat ia sudah bersiap-siap ia mencari keberadaan Dilara dan ia tidak menemukan Dilara.
"Kemana perginya Dilara, apa dia masih marah padaku sebab masalah semalam. Sebaiknya aku ceritakan saja padanya saat malam hari nantinya," Bagas mulai memakan sarapannya lalu ia bergegas pergi menuju Kantor Azi.
.
.
.
...Bersambung...
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.