
Bagas menghentikan aktivitasnya sebab ia merasa tidak bisa menahan hasratnya kalau terlalu lama, bertukar saliva dangan Dilara ia langsung menjauh dari Dilara dan mencoba untuk mencari kesibukan. Sebab ia tidak ingin membuat Dilara semakin banyak menahan sakit akibat ulahnya.
"Gas, eh. Mas, maksudnya tadi."ucap Dilara sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya. Bagas hanya melirik sekedar saja lalu ia mulai keluar dari kamar untuk memenangkan pikirannya.
"Aku merasa dia tadi, ah. Biarkan saja bukankah dia yang menahan rasa keinginannya bukan aku jadi, aku tidak berdosa karena aku tidak melayaninya yang baik,"ungkap Dilara.
Bagas duduk di sofa ruang tamu sambil meminum segelas air putih lalu ia mengusap bibirnya, yang terasa masih manis karena ia melahap bibir ranum milik Dilara tadi dan ia tersenyum tanpa ia sadari.
Ada apa dengan diriku, apa aku sebenarnya memenang menyukainya, tidak mungkin ini pasti hanya karena aku dan dia sudah bermalam bersama saja. Batin Bagas.
...
Azi bergegas peluang ke rumahnya pada sore ini ia tidak memikirkan apa yang ucapakan oleh Kinan tadi, ia mengendarai mobilnya dengan perlahan sampai di rumahnya setelah ia sampai ia langsung turun.
Perlahan ia masuk kedalam dan ia melihat Riska tenga duduk di sofa sambil menonton film Drakor, ia menghampirinya dan mencium kening Riska membuat Riska terkejut dan langsung menoleh.
"Ayah sudah pulang."ucap Riska dengan sangat lembut.
Azi tidak menjawab ucapan Riska ia duduk di samping Riska dan langsung menyambar bibir Riska, mereka sama-sama bertukar saliva dengan sangat lembut dan bergairah pada saat itu juga Alessandra baru keluar dari kamarnya.
Oh, tidak. Ale jangan lewat sebaiknya kau masuk kedalam kamar lagi sebab jangan sampai mengganggu ibu dan ayah, batin Alessandra.
..
Dilara mencoba untuk berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi sebab Bagas tak tahu pergi kemana, sehingga Dilara harus berusaha sendiri agar ia bisa segera mandi sebab hari sudah semakin sore.
"Gas! dimana kau, kenapa aku memanggil mu kau tidak menjawab,"ucap Dilara sambil berjalan dengan perlahan.
"Aku benar-benar sangat kesal padamu!"teriak Dilara sambil menangis entah mengapa setelah ia menikah dengan Bagas, ia menjadi wanita yang sesungguhnya tidak seperti sebelumnya ia terlihat dan bersikap seperti seorang preman pasar.
Bagas tidak muncul-muncul sampai ia sampai didalam kamar mandi, ia membuka bajunya satu persatu lalu ia mulai mandi dengan perlahan. Setelah selesai mandi ia tidak melihat adanya handuk sehingga ia keluar tanpa menggunakan handuk.
Saat ia keluar ternyata Bagas sudah ada didalam kamar dan Bagas membuka mulutnya lebar-lebar, saat melihat Dilara tidak mengenakan apapun ia cepat-cepat berlari mengambil handuk lalu ia langsung memakainya kepada Dilara.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memakai handuk?"tanya Bagas sambil menatap wajah Dilara.
Dilara tidak menjawab ucapan Bagas ia berjalan dengan perlahan menuju lemari pakaian, Bagas hendak membantunya berjalan akan tetapi Dilara menolaknya sehingga Bagas sangat heran.
"Ra, ada apa? Katakan padaku?"tanya Bagas sambil mencoba terus membantu Dilara berjalan.
"Lepaskan aku! Dimana dirimu saat aku terus-menerus berteriak?"Dilara menempis tangan Bagas.
"Aku tadi keluar sebentar, maafkan aku. Jangan seperti ini lagi aku benar-benar minta maaf."ucap Bagas dengan sangat lembut lalu ia memeluk Dilara dari belakang.
"Lepaskan aku!"teriak Dilara.
Bagas langsung membalikkan badan Dilara dan ia langsung melahap bibir ranum milik Dilara, benar saja Dilara langsung terdiam saat pawangnya beraksi. Agar Dilara bisa memaafkan dirinya ia menyudahinya lalu ia mengangkat tubuh Dilara ke atas tempat tidur. Bagas berada di atas tubuh Dilara dan ia menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.
"Apa ini yang kau inginkan? Sampai membuat mu sangat marah padaku, katakanlah."ucap Bagas dengan sangat lembut.
"Bukan seperti itu, aku benar-benar sangat kesal kepada mu sebab aku sudah berteriak-teriak dan kau tidak datang,"ungkap Dilara sambil menatap wajah Bagas dari bawah.
"Maafkan aku, aku tadi keluar sebentar jadi aku tidak bisa mendengar suara mu memanggil diriku."jelas Bagas sambil memegang rambut Dilara.
Bagas langsung bangun lalu ia membantu Dilara bangun dan ia cepat-cepat mengambil baju Dilara, ia mengambil piyama berwarna merah muda pendek dan juga ****** ***** milik Dilara lalu ia memberikannya kepada Dilara.
"Dimana bra milik ku?"tanya Dilara Bagas langsung menepuk keningnya.
"Aku lupa, biasanya aku hanya memakai ****** ***** saja dan aku tidak mengambilkan pengaman gunung kembar milik mu itu."ucap Bagas sambil berjalan menuju lemari lalu ia mengambil bra milik Dilara dan ia membawanya sambil memutar-mutar bra tersebut.
"Apa kau ingin aku yang memakainya?"tanya Bagas sambil memberikan bra kepada Dilara.
"Tunggu-tunggu, kenapa kau harus memakai ini?"tamba Bagas yang mengambil kembali bra milik Dilara.
"Kau ini banyak sekali bicara, seperti ini kalau aku tidak memakai itu maka gunung kembar ini berlari-lari dari tempatnya,"sambung Dilara sambil mengambil bra miliknya.
"Oh, seperti burung ku kalau tidak aku pasangkan pengaman maka dia akan terbang dan membuat mu masuk rumah sakit lagi."celetuk Bagas membuat Dilara sangat kesal.
__ADS_1
Dilara langsung memakai baju di hadapan Bagas sebab ia sudah tidak malu lagi sedangkan Bagas, ia hanya bisa diam saja sebab ia berfikir memang mereka adalah suami istri bahkan mereka juga sudah menghabiskan malam bersama.
Setelah Dilara selesai memakai baju Bagas duduk di samping Dilara."Ra ..."panggil Bagas.
"Em."sahut Dilara.
"Kau tidak menyesali sudah tidur dengan ku?"tanya Bagas sontak saja membuat Dilara langsung memukuli wajah Bagas.
"Sakit, Ra. Aku hanya bertanya saja."ucap Bagas yang menahan tangan Dilara.
"Sudahlah jangan banyak bicara,"sambung Dilara.
Sebenarnya aku sudah menyukai mu, sebab perlakuan mu padaku sangat manis membuat ku memberikan semuanya padamu. Lagi pula kau adalah suami ku bukan jadi aku memang seharusnya berbuat sesuatu itu, batin Dilara.
"Lalu kau yang menyesalinya."tambah Dilara lagi sambil menatap wajah Bagas.
"Tidak, bukan seperti itu aku hanya berfikir saja bukankah kau mencintai kak Bastian. Dan aku ini hanya suami terpaksa untuk mu saja."jelas Bagas membuat Dilara tersenyum.
"Lupakan saja, kalaupun aku mencintainya tetap kami tidak akan bisa bersama lagi pula aku juga sudah tidak berharap padanya lagi,"sambung Dilara sambil tersenyum manis kepada Bagas.
"Kau adalah wanita yang baik."ucap Bagas sambil mengelus-elus rambut Dilara dan Dilara tersenyum bahagia.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.