
Setelah sampai didalam mobil Dilara duduk di depan sebab ia ingin menakut-nakuti Supirnya tersebut, menggunakan senjata api mainan miliknya yang ia beli di pasar malam bersama dengan Bastian.
Flashback on.
Dilara bersama dengan Bastian di pasar malam sebab Dilara yang memintanya untuk ke pasar malam, kini mereka berjalan-jalan di kerumunan ramainya pengunjung dan Dilara menghentikan langkahnya.
"Kak, Dilara mau itu ya,"Dilara memasang wajah imutnya saat ia meminta Bastian membelikannya senjata api mainan.
"Kamu wanita sayang, tidak-tidak. Yang lain saja ya?"Bastian mengelus rambut Dilara dengan perlahan dan Dilara memasang wajah masam.
"Ayo, kita pulang saja ... "ucap Dilara dengan sangat lemas dan tidak bersemangat, Bastian menghembuskan nafasnya lalu ia menatap kearah Dilara yang sudah berjalan.
"Baiklah ... " Dilara langsung menoleh dan ia berjalan menuju tempat orang yang menjual senjata api mainan untuk anak-anak.
"Pak, saya mau yang seperti aslinya ada tidak?"tanya Dilara kepada sang penjualan mainan.
"Ada Dek, saya ambilkan dulu ya, tapi. Ini hanya mainan saja ya, bukan sungguhan ..."jelas penjual mainan pada Dilara.
"Tentu saja Pak, saya hanya ingin yang mainan saja, "sahut Dilara.
Bastian hanya bisa bernafas panjang saat melihat tingkah Dilara yang seperti seorang laki-laki.
"Ini Dek, "penjual mainan tersebut memberikan Dilara senjata api mainan yang di memintanya tadi.
Dilara mengambilnya dan ia tersenyum.
Ini benar-benar sangat mirip dengan yang asli, aku dengan sangat muda menakut-nakuti orang nantinya, batin Dilara.
Flashback off.
Dilara tersenyum saat mengingat kembali kejadian itu dan Yudha hanya terdiam saat melihat Dilara tersenyum. Ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah majikannya yaitu Kenan selama di perjalanan Yudha hanya diam saja.
Setelah sampai dirumahnya Dilara langsung turun dan masuk kedalam kamarnya, ia lupa kalau ada Alessandra di rumahnya sehingga ia langsung tidur di sofa. Bahkan ia tidak berganti baju terlebih dahulu dan ia langsung tidur saja.
πΊπΊπΊ
Alessandra menemani Ibunya di tempat tidur sambil memijat kepala Ibunya dengan sangat lembut, ia juga memberikan obat herbal untuk mengurangi panas di tubuh Ibunya akibat demam.
"Bu, Ale ikut Ibu saja ya, ke Apartment miliknya Dilan?"Alessandra menatap wajah Ibunya dengan sangat dalam.
"Sayang, siapa yang akan menjaga ayah? Kalau kamu ikut Ibu?"sahut Riska dengan sangat lemas dan pelan.
__ADS_1
"Ibu, biarkan saja ayah bersama dengan selingkuhannya itu. Kita tidak usah memikirkan tentang ayah lagi, dia sangat jahat pada Ibu, kak Alice, kak Aliya, dan Ale Bu ..."ucap Alessandra yang menahan amarahnya yang mulai merasuki tubuhnya.
"Ale, dia itu ayah mu. Tidak boleh kamu bicara seperti itu, coba kamu bayangkan jika ayah sakit siapa yang merawatnya dan jika dia terluka siapa yang akan mengobatinya?"tanya Riska sambil menatap wajah putrinya dengan sangat dalam.
"Baiklah, tapi. Ale akan sering-sering tidur bersama dengan Ibu ya, sebab Ale sangat merindukan Ibu. Ini semua gara-gara ayah dan selingkuhannya itu!" Alessandra mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Sayang, sebaiknya kamu pulang saja hari sudah semakin malam sayang. Kalau ayah mencari mu bagaimana?"ucap Riska dengan sangat lembut.
"Baiklah Bu, besok Ale datang lagi ya? Ke Apartment saja. "ucap Alessandra yang mulai bangun dan ia berdiri dihadapan Ibunya.
"Hati-hati ya, Nak. "ucap Riska pelan saat Alessandra mencium tangan Ibunya setelah itu ia langsung keluar.
Saat di luar ia bertemu dengan Bagas yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, ia menghampiri Bagas dan duduk di samping Bagas.
"Gas, aku titip ibu ya, kalau ada apa-apa kamu cepat kabari aku ya, sebab kamar kamu dan ibu bersebelahan."pinta Alessandra pada Bagas.
"Siap, aku akan menjaga ibu mu."sahut Bagas sambil tersenyum manis kepada Alessandra.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, terimakasih sudah mau menjaga ibu aku titip ibu."ucap Alessandra yang bergegas pergi dari sana.
Wanita cantik, aku akan menjaga calon mertua ku dengan sangat baik sayang. Percaya saja padaku, batin Bagas.
Alessandra menghampiri Supir di pos ronda dan ia meminta Yudha untuk mengantarnya pulang, setelah ia masuk kedalam mobil bersama dengan Yudha dan ia di kejutkan oleh ucapan Yudha.
"Apa maksudnya?"tanya Alessandra dengan sangat penasaran.
"Saya tadi hampir saja di lenyap kan olehnya, menggunakan senjata api Non,"ungkap Yudha sambil mengemudikan mobilnya.
"Apa! Yang benar saja Pak?"ucap Alessandra dengan sangat terkejut akan ucapan Yudha.
"Untuk apa saya bohong Non, saya benar-benar ingat kalau tadi itu benar-benar senjata api Non, asli."ucap Yudha yang fokus pada arah jalanan.
Aku akan menyelidikinya, aku tidak bisa membiarkan Dilara masuk kedalam jalan yang salah, batin Alessandra.
Yudha mengingat kembali kejadian tadi sewaktu ia memeluk Dilara di gedung tua tadi.
Mafia cantik, aku menyukaimu walaupun kau sangat seram dan ganas, batin Yudha.
πΊπΊπΊ
Bastian baru saja pulang dari Kantor dan ia langsung bergegas pergi menuju kamar Dilara, sebab ia ingin memberikan seekor kucing anggora yang sangat mahal dan cantik.
__ADS_1
Bastian masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek.
"Ya ampun, anak itu benar-benar sangat ceroboh. "Bastian menghampiri Dilara dengan perlahan lalu ia mencubit hidung mancung Dilara.
Sontak saja membuatnya langsung bangun dan memasang wajah masam dan jutek.
"Sayang, lihatlah perkenalkan namanya Junga ..."ucap Bastian yang memberikan kucing anggora berwarna coklat susu tersebut bersama dengan kandangnya.
"Wah, cantik sekali kucing ini. Dilara sangat menyukainya, " Dilara langsung memeluk Kakaknya tersebut dengan sangat erat.
"Sama-sama sayang, jaga dia dengan sangat baik ya, "Bastian melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.
Aku sangat menyukainya, dan aku harus memendam perasaan ini aku harus melupakannya, dan aku harus bersikap seperti seorang Kakak. Batin Bastian.
Dilara mengambil kucing anggora tersebut dan ia langsung memeluknya dengan sangat gemas, dan ia menciumi seluruh tubuh kucing anggora tersebut membuat Bastian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa yang memberikannya tidak di cium juga?"ucap Bastian dengan sangat lembut sontak membuat Dilara langsung menatap tajam kearahnya.
"Jangan pernah berfikir seperti itu, sebab tidak akan pernah terjadi lagi dan lagi ..."ucap Dilara dengan sangat dingin.
"Wanita tercantik, kamu adalah wanita termanis sayang!"teriak Bastian membuat Dilara berlari mengejarnya.
Bastian berlari-lari hingga ia menendang kaki kursi membuatnya terjatuh dan Dilara ikut terjatuh, di atas tubuhnya mereka saling menatap satu sama lainnya dengan waktu yang cukup lama.
Kak, aku sangat menyayangimu sampai kapanpun itu. Batin Dilara.
Aku akan menjagamu sampai kapanpun itu, itu adalah janjiku padamu sayang. Batin Bastian.
.
.
.
...Bersambung....
...Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya....
...Like, Vote, Favorit, komen....
__ADS_1
...Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua....
...Salam manis untuk kalian semua.π...