
Bagas bangun dan menarik tangan Dilara sehingga Dilara jatuh kedalam pelukannya, Bagas mencium rambut Dilara membuatnya sangat nyaman dan rasa mualnya hilang.
"Gas,"panggil Dilara pelan.
"Uumm, jangan bergerak. Aku sangat nyaman seperti ini dan rasa mualnya hilang saat aku mencium aroma tubuhmu ... "Bagas mencium rambut Dilara secara terus-menerus.
"Setidaknya biarkan aku memakai bajuku dulu?"Bagas melepaskan pelukannya lalu Dilara langsung bangun.
"Masih kesal?"tanya Bagas sambil melihat Dilara memakai baju.
"Uuummm."sahut Dilara.
"Aku akan menjelaskan semuanya, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaan mu. Akan tetapi aku hanya ingin melihat ayah sakit hati seperti apa yang mama rasakan selama hidupnya,"ungkap Bagas membuat Dilara hanya diam saja di tempatnya berada.
"Kau tahu Dilara, mama itu seorang wanita malam. Bahkan dia juga sudah menggoda papa mu sebab dia sangat mencintai papa akan tetapi, papa tidak menyukainya sehingga dia berhubungan dengan om Azi. Setelah itu dia menikahi ayah dan dia selalu di sakiti oleh ayah,"tambah Bagas lagi membuat Dilara terkejut dan langsung menghampiri Bagas.
"Kau tahu itu semua dari mana?"tanya Dilara dengan sangat penasaran sebab Kakek dan Papanya ada didalam cerita tersebut.
"Sebelum mama meninggal dia menceritakan semuanya, dan aku merasa kalau wanita malam atau pun tidak. Seharusnya tidak di perlakukan seperti itu apalagi sampai sakit-sakitan."jelas Bagas.
"Gas, apa tanggapan mu tentang mama mu?"tanya Dilara dengan sangat lembut. "Kalau itu menyakitimu, jangan di jawab."ucap Dilara dengan sangat cepat.
"Aku sangat kecewa dan marah, akan tetapi jika mama ku tidak ada maka aku juga tidak akan ada. Dan seburuk apapun orang tua kita mereka adalah orang tua yang terbaik."jelas Bagas sambil tersenyum.
Ternyata kisah semuanya seperti itu, aku jadi penasaran apa saja hubungan papa dan mamanya Bagas terjadi, batin Dilara.
"Dan aku tidak akan menyakiti hati mu, atau jiwa dan raga mu. Sebab aku akan menjadi suami yang baik untukmu."ucap Bagas sambil memeluk Dilara.
Dilara hanya diam sambil menatap wajah Bagas yang terlihat sangat tulus menyayangi dirinya, ia langsung memeluk Bagas dengan sangat dalam dan Bagas mengelus-elus rambut Dilara dengan sangat lembut.
"Maafkan aku, mungkin semalam aku sangat buruk memperlakukan dirimu."
"Aku maafkan."sahut Bagas.
...
Kisya sangat menikmati kehidupan barunya dimana ia tidak akan susah-susah bekerja, kini ia sendang bersantai di kamarnya sambil memainkan ponselnya.
Ia melihat film dewasa membuatnya sangat membutuhkan seseorang untuk memuaskannya, ia berjalan dan ia mengunci pintu kamarnya lalu ia mengambil beda merah muda.
__ADS_1
"Sepertinya begini saja dulu, sampai aku benar-benar menjadi pemuas seseorang."Kisya mulai membuka bajunya satu persatu lalu ia hendak membuka bra-nya akan tetapi ponselnya berdering.
"Siapa ganggu saja."ucap Kisya yang langsung mengangkat telfon.
"Halo, ini siapa?"ucap Kisya dengan sangat cuek. "Halo, Kisya kau sudah lupa dengan diriku?"
Kisya mencoba untuk mengingat-ingat kembali suara yang ia dengarkan.
Sepertinya dia adalah temannya Doni waktu itu, yang tidak sengaja memboking aku. Batin Kisya.
"Kau teman anakku, katakan ada apa?"ucap Kisya dengan sangat ketus. "Aku ingin melihat video dewasa mu dan aku sudah mengirimkan uang banyak."
Kisya langsung tersenyum saat mendengar ia akan mendapat uang banyak akan tetapi, ia juga tidak bisa menaruhkan namanya yang akan tercemar kalau ia menuruti keinginan pria tersebut.
"Tidak bisa, sebab anakku tidak akan mengizinkannya. Sebaiknya kau ambil saja uang itu lagi."ucap Kisya yang memutuskan sambungan teleponnya.
Kisya mulai membuka semua bikininya lalu ia memasukkan benda bergetar tersebut ia mulai membuka mulutnya, karena ia merasakan kenikmatan yang sama seperti seorang laki-laki menyatukan gagang kedalam gua miliknya.
"Benda ini bisa memuaskan aku, akan tetapi aku akan mencari bangsa baru ... "ucap Kisya dalam d**ahan nya.
Kisya tidak peduli akan suaranya yang terdengar jelas sebab ia memang sudah terbiasa seperti itu, ia mulai sampai pelempasan dan ia tertidur lemas lalu ia melanjutkan kembali kegiatannya.
....
Agam sedang mengerjakan tugasnya sambil terus memikirkan tentang keadaan Alessandra tadi, bahkan ia tidak sengaja melihat berkas merah di leher Alessandra bahkan ia juga melihat di dada Alessandra juga ada.
"Sepertinya dia sudah berbohong, aku merasa penasaran akan tetapi dia juga butuh privasi bukan. Kami memang saudara kandung akan tetapi kami baru bertemu membuatnya belum bisa dekat denganku." Agam menatap langit-langit kamarnya.
*
*
Sebulan kemudian.
Tepat pada hari ini adalah hari pernikahan Dilan dan Ameena yang akan berlangsung di gedung pernikahan, keluarga Alfaro semuanya berkumpul bersama walaupun orang tua Kenan sudah tidak ada lagi.
Keluarga Kenan tampak kompak dengan keluarga Azi mereka menggunakan baju yang sama, kini mereka tengah menunggu kedatangan Dilan yang masih bersiap-siap.
Dilara duduk bersama dengan Alessandra sebab mereka sudah dua bulan tidak pernah bertemu, pada kesempatan ini mereka tampak melepaskan rindu mereka.
__ADS_1
"Ra, aku senang sekali sebab aku juga seperti dirimu. Aku memiliki seorang Kakak."ucap Alessandra dengan sangat gembira.
"Ya, dunia ini sangat sempit ya."jawab Dilara sambil tersenyum dan ia melirik kearah Bastian, senyum yang mengembang di bibirnya langsung menghilang.
"Tan, aku mau menghampiri Bagas sama om Agam."ucap Dilara yang bergegas pergi saat melihat Bastian menghampiri mereka.
Alessandra membulatkan matanya sebab ia melihat Bastian menghampirinya dan duduk di sampingnya."Mau apa?"tanya Alessandra ketus.
"Cik, kau ini sangat galak. Aku hanya ingin menghampiri Dilara saja akan tetapi dia sudah pergi."jelas Bastian sambil tersenyum sinis.
Alessandra mencium aroma parfum Bastian membuatnya sangat mual dan ingin muntah, ia langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
"Huek, huek ... Huek,"
Sontak semua orang langsung menatap kearah Alessandra, Azi langsung menghampiri Alessandra dan memijat tengkuk leher Alessandra.
Bastian hanya diam saja di tempatnya sebab ia takut semua orang curiga akan dirinya dengan Alessandra.
Sebaiknya aku diam saja, apa mungkin dia hamil. Batin Bastian.
"Le, ada apa?"tanya Azi sambil menatap wajah Alessandra yang berubah pucat.
"Masuk angin."jawab Alessandra dengan sangat cepat. Aku harus merahasiakan kalau diriku saat ini sedang hamil anak bajingan itu.
Bagas mendengar Alessandra muntah membuatnya ikut Muntah sontak saja membuat semua orang bingung.
"Apa semua sakit?"ucap Kenan sambil menatap kearah Bagas yang masih muntah.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.