
Apa maksud semua ini Dilan, aku benar-benar sangat kecewa. Aku kira kamu ingin menjadikan aku Makmun mu. Batin Nona.
"Silakan duduk, Nak."ucap Ummi Tatum dengan sangat lembut dan ia langsung duduk di sofa sambil menatap kearah Dilan.
"Terimakasih, Bu. "ucap Dilan gugup sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
Ustadz Ameer dan Nona duduk saling berhadapan dengan Dilan.
"Ustadz, Kakaknya Nona?"tanya Dilan dengan sangat penasaran.
"Saya hanya sepupu saja, senang bisa bertemu Jiran seperti mu, "sambungan Ustadz Ameer.
"Sama-sama Ustadz, tapi. Saya masih tinggal di rumah papa sebab saya masih sekolah."ucap Dilan dengan sangat gugup.
"Kamu, sekelas dengan Nona, ya?"tanya Ummi Tatum sambil menatap kearah Dilan.
"Benar, Bu. Saya satu kelas dengan Nona dan saya ingin bersilahturahmi saja sebagai teman dan umat muslim ... "Dilan mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Ummi, Nona masuk kedalam kamar dulu ..."Nona bergegas bangun dan pergi dari sana.
Sepertinya dia marah padaku, bagaimana aku menjelaskan padanya. Batin Dilan.
Nona masuk kedalam kamarnya sambil meneteskan air matanya, sebab ia sangat kecewa akan apa yang ia dengar dan ia lihat. Ia berharap kalau Dilan akan melamarnya dan ia malah menerima kenyataan pahit.
"Astaghfirullah alazim, seharusnya aku tidak berharap banyak pada manusia. Ya Allah, "Nona menghapus air matanya yang berjatuhan.
Dilan menatap wajah Ustadz Ameer dengan sangat dalam.
"Ustadz, bolehkan saya bertanya?"
"Boleh, katakan saja, "sambung Ustadz Ameer.
"Ummi, masuk kedalam kamar dulu ya, kalian bercerita bersama saja, "ujar Ummi Tatum yang bergegas pergi menuju kamarnya.
Sekarang tinggallah Dilan dan Ustadz Ameer berdua saja.
"Bukankah laki-laki bisa memiliki dua istri?"tanya Dilan membuat Ustadz Ameer tersenyum.
"Tentu saja boleh, asalkan kamu bisa adil terhadap kedua istri-istri mu ... "jelas Ustadz Ameer dan Dilan tersenyum.
"Terimakasih Ustadz, kalau begitu saya permisi dulu sebab mamanya Doni kurang sehat."ucap Dilan yang bergegas bangun dan mulai berjalan menuju luar dan Ustadz Ameer mengantarkannya.
"Sampaikan salam saya pada, Kisya."pesan Ustadz Ameer kepada Dilan.
"Insyaallah, "
Dilan berjalan menuju rumah Kisya dan ia langsung masuk sebab pintu rumah Kisya, tidak di kunci ia melihat sangat sunyi dan sepinya rumah Kisya.
__ADS_1
Sepertinya dia ada didalam. Batin Dilan.
Dilan bergegas pergi menuju kamar Kisya dan ia langsung membuka pintunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Setelah ia masuk ia langsung menutup pintu dengan sangat cepat dan ia juga menguncinya, sebab ia melihat Kisya yang sudah tidak mengenakan apapun lagi dan sedang duduk dengan benda getar berwarna merah muda.
"Kenapa seperti ini?"ucap Dilan yang menghampiri Kisya.
"Biarkan saja, bukankah suamiku tidak mau menyentuh ku?"ucap Kisya dengan sangat manja dan ia masih bermain dengan alat tersebut.
"Hentikan, kita bisa melakukannya." Kisya langsung menghentikan aktivitasnya lalu ia mendekati Dilan dan bergelayut manja.
"Sayang, jangan membuatku seperti ini lagi. Kau membuatku sakit ... "rengek manja Kisya dan Dilan langsung menatap wajah Kisya.
"Bolehkah aku menikah lagi?"ucap Dilan dengan cepat sontak saja membuat Kisya langsung terdiam.
Kisya langsung menjauh dari Dilan dan ia bergegas memakai lingerie s e k s i berwarna merah miliknya, ia sengaja memakainya agar Dilan bergairah melihatnya memakai lingerie berwarna merah terang.
"Kenapa?"tanya Kisya sambil memperlihatkan gunung kembar miliknya yang sangat besar dan menggoda.
"Aku mencintai wanita lain, bukankah kita menikah hanya untuk memuaskan hasrat saja?"ucap Dilan cepat.
Kisya tersenyum dan ia langsung menghampiri Dilan dan ia langsung duduk di pangkuan Dilan, ia langsung melingkarkan tangannya di leher Dilan sambil melahap bibir Dilan dengan sangat cepat.
Dilan merasa masa depan miliknya sudah mengeras dan memanjang, ia langsung meletakkan tubuh Kisya di ranjang tanpa melepaskan c i u m a n mereka.
"Mainkan benda ini, dihadapan ku sebab aku ingin melihatmu merasakan nikmat yang mana. Milikku atau benda getar itu?"bisik Dilan di telinga Kisya.
"Baiklah, aku akan melakukannya untukmu sayang ... " ucap Kisya dengan sangat lembut dan mesra di telinga Dilan.
Kisya menyalahkan benda berwarna merah muda tersebut dan ia langsung memasukan gua miliknya, ia mulai merasakan getaran dari benda berwarna merah muda tersebut dan ia mulai menggigit bibirnya.
"Sayang, benda ini bergetar dan aku akan segera tumpah!"teriak Kisya dengan d e s a h a n nya.
Dilan mendekati Kisya dan ia melahap gunung kembar milik Kisya hingga Kisya mencapai puncak, kenikmatan yang luar biasa dan ia tertidur lemas di pangkuan Dilan.
Dilan melepaskan benda getar tersebut lalu ia mulai melajukan masa depan miliknya, dengan sangat kuat hingga Kisya menjerit-jerit hebat.
"Aaahhhkkk! Sayang, pelan-pelan aku habis sampai puncak dan terasa sangat geli!"teriak Kisya dan Dilan langsung melahap bibir Kisya agar Kisya tidak bersuara lagi.
Dilan sangat malu akan suara Kisya yang sengaja di kuatkan nya agar Doni mendengarkan, sebab Kisya menginginkan tubuh Doni sejak lama sampai sekarang dan Dilan sudah mengetahui semuanya.
....
Setelah Bagas dan Dilara sampai di rumah mereka langsung masuk kedalam dan terlihat Bastian menunggu Dilara, Bastian langsung menarik tangan Dilara dengan sangat lembut masuk kedalam kamar Dilara.
Bagas hanya melihat mereka saja.
__ADS_1
Ini baru awal, aku akan membuat mu semakin menderita karena aku. Batin Bagas.
Setelah sampai didalam kamar Dilara. Bastian melepaskan tangannya, lalu ia duduk di sofa sedangkan Dilara ia duduk di bibir ranjang sambil mengeluarkan Junga dari dalam kandang.
Bastian melihat boneka kuda poni yang sangat besar lalu ia mendekatinya.
"Ini, dari siapa?"ucap Bastian penuh selidik sambil memegang boneka kuda poni milik Dilara.
"Dari Kenta, dia yang memberikannya tadi siang."jawab Dilara dengan sangat santai sedangkan Bastian langsung menatap tajam kearah Dilara.
"Bakar saja, Kakak akan membelikan mu yang baru, "Kata Bastian dengan sangat cepat.
"Ha, ada apa? Kami akan segera berpacaran untuk apa membakarnya?"tanya Dilara sambil mengelus-elus bulu Junga.
Bastian tidak mengatakan apapun ia langsung bergegas pergi dari kamar Dilara.
Sial, bajingan itu membuat aku kalah, batin Bastian.
Dilara menatap kepergian Bastian lalu ia berganti baju ia mengenakan piyama setelah itu, ia langsung berjalan keluar dan ia menuruni anak tangga dan ia berjalan menuju dapur. Sebab ia tadi belum sempat makan malam bersama dengan Kenta.
"Kenapa, si bibik tidak masak si?"ucap Dilara sambil meminum segelas air dingin setelah itu ia hendak melangkah namun, ia terkejut melihat Bagas ada di hadapannya.
"Kau belum makan bukan, sama aku juga belum makan dari siang bahkan,"ungkap Bagas.
"Kasian sekali kau, bagaimana sekarang?"tanya Dilara sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kita, makan di luar saja dan kau yang membayarnya sebab aku tidak memiliki uang lagi ... "Bagas langsung berjalan menuju kamarnya untuk mengambil jaket.
Sedangkan Dilara langsung bergegas pergi menuju luar ia berjalan menuju motor milik Bagas, dan ia langsung naik ke atas motor tak berselang lama Bagas datang dan langsung memakaikan jaket kepada Dilara.
Kenapa dia sangat baik padaku, apa sebenarnya dia benar-benar menganggap ku sebagai Adiknya, batin Dilara.
Setelah Bagas selesai memakaikan jaket kepada Dilara ia langsung naik ke atas motornya, lalu ia mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang sebab ia sangat berhati-hati kalau membawa Dilara.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua, author bukan apa-apa kalau tidak ada dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘