Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Dilan dan Alessandra


__ADS_3

Pada pagi ini Dilan sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus sebab ia ada mata Kuliah pagi hari, dan ia juga tidak akan menghadiri acara pertunangan dirinya dengan gadis yang akan menjadi ruangannya.


Sebab Kenan dan Alice melarangnya agar ia tidak usah ikut di acara pertunangan mereka, sampai-sampai ia semalaman tidak tidur sebab memikirkan bagaimana wajah calon istri itu.


Kalau sampai dia jelek, aku benar-benar akan menceraikannya di waktu aku melihat wajahnya itu, batin Dilan.


Dilan berjalan menuju ruang tamu dan ia berhenti sejenak sebab ia ingin memakai sepatu, ia melihat para pelayan sedang sibuk untuk mengisi keranjang hantaran untuk acara pertunangannya.


Apa aku ikuti saja mereka, aku benar-benar tidak bisa tenang kalau belum melihat wajah wanita itu. Ah, sial bisa-bisanya aku yang akan bertunangan tapi, aku sendiri tidak ikut serta. Batin Dilan.


"Sudah mau berangkat, ya?"tanya Alice yang menghampiri anaknya tersebut.


"Em."jawab Dilan dengan sangat cuek sebab ia merasa sangat kesal akan keputusan Papa dan Mamanya.


"Apa anak, Mama ini marah?"tanya Alice dengan sangat lembut.


"Tidak,"jawab Dilan dengan sangat singkat membuat Alice tersenyum.


"Dia itu sangat cantik, sudah beberapa kali kami bertemu dengannya bahkan dia sangat sopan pada kami. Kalau kamu takut dia jelek itu semua tidak ada, sebab dia wanita yang sempurna dan Mama yakin kamu akan bucin nantinya,"ungkap Alice dan Dilan hanya diam saja.


Aku tidak bisa menerima ini semua walaupun wanita itu cantik, sebaiknya aku diam saja dan segera pergi mana tahu aku bertemu dengan Nona, batin Dilan.


"Dilan pergi dulu, Ma."ucap Dilan yang mencium tangan Alice.


"Hati-hati."pesan Alice kepada anaknya tersebut.


Pada pagi ini Riska dan Azi sudah bersiap-siap akan berangkat menuju rumah Kenan, sebab hari ini adalah hari pertunangan Cucu mereka dan mereka sangat bahagia hari ini.


"Ale, kamu tidak ikut?"tanya Riska sambil menatap wajah Alessandra yang sedang duduk santai di sofa.


"Tidak, sebab hari ini ada pelajaran yang sangat penting."jawab Alessandra sambil merapikan penampilannya.


"Ayah dan Ibu akan pergi, kamu jangan lupa selepas Kuliah pulang saja sebab kami juga akan cepat pulang."ucap Azi sambil menggandeng tangan Riska.


"Iy,"sahut Alessandra sambil tersenyum manis sebab ia sangat bahagia bisa melihat kedua orang tuanya bisa mesra.


Riska dan Azi mulai berangkat menuju rumah Kenan sedangkan Alessandra ia masih duduk di sofa.


"Sebaiknya aku pergi sama Dilan saja, aku akan menyuruh dia untuk menjemput ku."ucap Alessandra.


💌Dilan.


(Jemput aku, jangan banyak alsan apapun itu. Aku tunggu.)

__ADS_1


Dilan menghentikan motornya di tepi jalan sebab ponselnya berdering dan ia langsung membaca pesan dari Alessandra.


"Dasar tante rempong. Padahal aku sudah sampai di tengah perjalanan dan aku harus putar balik dan kerumahnya, kalau aku tidak mengikuti keinginannya habislah riwayat ku."ucap Dilan.


Dilan memutar balik menuju rumah Kakeknya yang tidak jauh darinya berada saat ini dan setelah ia sampai, ia langsung turun dan masuk kedalam tanpa mengucapkan salam.


"Ayo."


Alessandra yang sedang memakan wafer langsung tersedak-sedak.


"Uhuk, uhuk. Minum!"teriak Alessandra dan Dilan langsung memberikan segelas air putih kepada Alessandra.


Alessandra langsung meminum air dari Dilan sampai habis lalu ia memukul lengan Dilan dengan sangat kuat.


"Dasar kau keponakan laknat!"teriak Alessandra sambil terus memukul lengan Dilan.


Dilan menahan tangan Alessandra lalu ia melihat adanya berubah fisik dari Alessandra, refleks Dilan memegang wajah Alessandra.


"Lepaskan!"teriak Alessandra.


Bukankah ini tanda-tanda wanita tidak virgin lagi, apa tante Alessandra sudah melakukannya dengan laki-laki, batin Dilan.


Dilan juga memegang hidung Alessandra sebab sebelumnya hidung Alessandra memerah, sedangkan saat ini sudah memucat Dilan langsung memegang wajah Alessandra membuat Alessandra takut.


Sepertinya dia sudah tahu kalau aku tidak virgin lagi, bagaimana ini aku sangat takut, batin Alessandra.


"Katakan siapa laki-laki itu?"ucap Dilan membuat Alessandra terkejut.


Benar bukan tembakkan ku, bagaimana ini apa yang harus aku jawab padanya. Batin Alessandra.


"Jangan hanya diam, katakan!"bentak Dilan membuat Alessandra takut.


"Masih tidak mau menjawab?"tambah Dilan lagi sebab Alessandra hanya diam saja.


"Itu bukan urusan mu, sebaiknya jangan pernah ikut campur dalam urusan hidup ku, sebaiknya kita cepat pergi sebelum kita terlambat."ucap Alessandra dengan sangat cuek.


"Apa Bagas?"tanya Dilan membuat Alessandra terkejut dan langsung mendekati Dilan.


"Jangan pernah ikut campur, sebaiknya simpan saja rasa penasaran mu itu."ucap Alessandra sambil menepuk pundak Dilan dengan sangat lembut.


Aku akan mencari tahu semuanya sendiri, sebab aku tidak rela kalau sampai Bagas yang melakukannya, karena aku tidak ingin melihat adikku sakit hati dan tanteku sakit hati sebab mereka wanita yang aku sangat sayang setelah mama. Batin Dilan.


"Ayo."ucap Alessandra yang sudah berjalan menuju luar dan Dilan mengikuti langkah Alessandra.

__ADS_1


Mereka mulai naik ke atas motor sport milik Dilan dan Dilan langsung melajukan motornya menuju Kampus.


...


Kinan padi ini menghampiri Doni sebab ia tahu kalau Kisya sedang mengambil job di luar Kota, ia tidak memberi tahu rencananya kepada Kisya sebab ia tidak ingin membagi hartanya kepada Kisya nantinya kalau ia dapat dari Azi.


"Don, Tante ingin meminta sedikit rambut mu sedikit saja."ucap Kinan yang memegang gunting.


"Untuk apa, Tante?"tanya Doni yang penasaran untuk apa rambutnya di minta oleh Kinan.


"Jangan banyak bicara, ini tidak untuk aneh-aneh kok."jawab Kinan.


"Baiklah."jawab Doni.


Kinan langsung menggunting rambut Doni dengan perlahan lalu ia meletakkannya didalam plastik kecil.


"Terimakasih, sayang. Kamu memang anak Tante."ucap Kinan yang bergegas pergi.


Doni menatap kepergian Kinan sampai Kinan sudah tidak terlihat lagi.


Untuk apa rambut itu, aku benar-benar tidak tahu. Batin Doni.


...


Dilara bangun dengan perlahan sebab sinar matahari masuk kedalam kamarnya, dan ia meraba-raba Bagas yang ada di sampingnya.


"Gas, bangun."ucap Dilara sambil menoleh dan ia masuk kedalam pelukan Bagas. "Hangat."tambah Dilara yang masuk kedalam pelukan Bagas.


Bagas membalas pelukan Dilara lalu ia mencium kening Dilara."Apa yang semalam masih sakit?"tanya Bagas dengan sangat lemas.


Dilara mengerakkan kakinya dan tidak sakit sama sekali."Tidak."jawab Dilara.


Bagas membuka matanya lalu ia menatap wajah Dilara dengan sangat lembut dan dekat.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2