
Setelah pagi hari tiba aku terbangun dan meraba bibirku yang terasa sangat kering.
"Kayaknya semalam aku mimpi deh, berciuman dan sepertinya sangat nyata sampai seperti ini,"ucapku dengan sangat bingung.
Aku pun bergegas pergi menuju kamar mandi dan langsung memulai ritual mandinya, setelah selesai aku langsung memakai handuk kimono dan berjalan menuju sofa lalu menidurkan kembali tubuhku.
Setelah aku tidur sedikit lama aku merasakan ada seseorang yang menghampiri ku.
"Jam segini masih tidur, dasar kerbau ... "
Aku langsung terbangun dan langsung duduk sambil menatap wajah Kak Bastian yang tampak kusut.
"Siapa kerbau?"tanyaku dengan sangat jutek.
"Kamu ... "Kak Bastian mencubit hidung mancung ku dan sontak saja aku memukul tubuh Kak Bastian.
"Sakit sayang!" Kak Bastian berlari dan aku mengejarnya dengan hanya mengenakan handuk kimono.
"Berhenti!" teriak ku sambil mengejar Kak Bastian.
Kak Bastian terus berlari hingga dia menendang kaki kursi dan terjatuh, dan aku juga ikut terjatuh sebab aku menabrak tubuhnya.
Tanpa di sadar handuk kimono yang aku kenakan sedikit terangkat sehingga, Kak Bastian dapat melihat nona milikku yang belum sempat aku a pakaian kan pengamannya.
"Pakailah ****** ***** mu,"ucap Kak Bastian pelan sontak saja aku a langsung bangun dan merapikan penampilan ku.
"Maaf Kak, tadi Dilara lupa memakainya dan anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa dan Kakak tidak melihatnya, "pinta Kak pada Kak Bastian yang terlihat sangat diam entah apa yang dia pikirkan.
Kak Bastian mendekati ku dan dia membawa ku duduk di bibir ranjang.
"Kakak ini laki-laki normal, jika Kakak melihatnya maka Kakak akan terus-menerus memikirkannya. Jadi, kamu harus bertanggung jawab, "Kak Bastian mengedipkan sebelah matanya dan aku langsung mundur sedikit menjauh darinya.
Pasti kak Bastian akan melahap ku, bagaimana ini dia kan kakakku dan apa yang dia katakan tadi, dia laki-laki normal. Ya ampun, bagaimana ini. Batin ku.
"Jangan menjauh, datanglah ... Kita akan bersenang-senang ... "Kak Bastian mendekati ku dan aku langsung menampar pipi Kak Bastian dengan sangat kuat.
Plak,
"Kakak jangan kurang ajar, apa Kakak tidak berfikir sebelum mengatakan hal menjijikan seperti itu. Jangan pernah berfikir Dilara akan bersikap murahan ya, Kak. Dilara tidak suka pada sifat Kakak yang terlalu murahan itu!" aku mengatur nafas yang tersengal-sengal akibat terlalu emosi.
Kak Bastian hanya diam dan bergegas pergi dari kamar ku, setelah kepergiannya aku langsung bergegas memakai bajuku.
Setelah selesai memakai baju aku duduk di depan cermin hias, lalu aku melihat wajahku dari cermin hias.
__ADS_1
"Ternyata apa yang aku dengar tentang kak Bastian, semuanya benar adanya ... Apa dia benar-benar sayang padaku atau, dia hanya ingin melampiaskan kebejatannya padaku saja? Atau, dia benar-benar menyayangi aku sebagai Adiknya?" aku tidak berlama-lama memikirkan tentang Kak Bastian.
Aku mengambil tas kecil ku dan aku bergegas pergi keluar dan aku mencari Taksi untuk pergi ke Kampus, setelah aku naik Taksi aku duduk sambil menatap kearah jendela mobil dengan tatapan kosong.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Kak Bastian akan mengatakan hal menjijikkan, seperti tadi kepadaku. Setelah sampai di Kampus aku langsung turun dan masuk kedalam kelas ku.
Aku duduk dengan sangat perlahan dan Tanteku juga menghampiri ku, dia menatap wajahku dengan sangat dalam.
"Ada apa denganmu sayang, kenapa kau tidur tadi jadi aku tinggalkan saja kau tadi, "ungkap Tante Alessandra padaku.
"Tidak ada Tan, tidak apa-apa Dilara bisa pergi sendiri dan sekarang sudah sampai bukan?"ucapku dengan sangat lemas dan tidak bersemangat.
"Lalu, kenapa wajahmu kusut sekali. Ayolah katakan ada apa pada Tante mu ini?"ucapnya dengan sangat penasaran dan aku hanya diam saja tidak menjawab ucapannya itu.
"Dasar ... "ucapnya yang berlalu pergi menuju bangku miliknya dan aku hanya bisa menatap kepergiannya.
Setelah Dosen kami datang kami mulai mengerjakan tugas kami, dengan sangat baik dan tidak ada yang bersuara sedikitpun hingga terasa sangat sunyi.
Setelah selesai mengerjakan tugas kami semua temanku pergi menuju kantin untuk makan siang, sedangkan aku hanya berdiam diri dan tidak bersemangat untuk pergi dari tempat dudukku.
"Dil, kau tidak pergi ... Sebenarnya ada apa pada anak ini aku benar-benar pusing, entahlah mungkin dia terkena gangguan hantu?"ucap Tante Alessandra yang berlalu pergi meninggalkan aku sendiri.
Ku lihat ponselku berdering dan ternyata Kak Bastian yang menelepon mu melalui video call, aku pun langsung menjawabnya sebab aku takut ada hal yang sangat penting yang ingin dia sampaikan padaku.
📱Kak Bastian.
"Baiklah, tapi. Kakak harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi sampai kapanpun itu, dan Kakak harus berhenti main wanita Kak ... "ucapku dengan sedikit kesal dan air mata yang berjatuhan.
"Baiklah sayang, jangan menangis ya, dimana kejantanan mu?"ucap Kak Bastian dengan sangat lembut dan di susuk gelak tawanya, sontak saja aku langsung menatap tajam kearahnya.
"Wajah Kakak kurang merah, apa Kakak ingin menahannya lagi?"aku menghapus air mataku yang berjatuhan dan aku mulai tersenyum manis kepadanya.
"Baiklah ... lanjutkan kuliah mu dan malam nanti Kakak akan mengunjungimu ya,"ucapnya sambil melambaikan tangannya kepada ku dan aku pun membalasnya.
"Baik ... " aku langsung memutuskan sambungan telepon dan aku menyimpan ponselku di tas kecil milikku, aku berniat akan menghampiri Kak Dilan sebab aku sangat kesal padanya. Dia sama sekali tidak merindukan aku.
Perlahan aku berjalan menuju kelasnya yang tidak jauh dari kelas ku berada, kini aku sudah sampai namun Kakak ku tidak ada di dalam kelasnya. Aku pun menghampiri temannya untuk menanyakan keberadaannya.
"Hey, Wijin. Kau tahu dimana kak Dilan?"ucapku dengan sangat ketus sontak saja membuat dia menghampiriku.
"Dilara manis, kau mau bertemu dengannya ... Baiklah aku akan mengantarmu,"ucapnya dengan seolah-olah manis padaku.
"Jijik sekali aku, cepat kau hantarkan aku ... "ucapku dengan sangat ketus dan cuek, dia langsung berjalan dan aku mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Dia membawaku ke belakang Kampus yang sangat sepi dan sunyi, perasaanku sangat tidak enak namun. Kak Dilan mungkin berada di sana pikirku.
Ku lihat Wijin duduk di bangku usang yang berada di bawah pohon mangga besar, dan aku menghampirinya.
"Dimana kak Dilan?"ucapku dengan nada bergetar hebat dan jantung ku seakan akan meledak sebab berdetak sangat kencang.
Wijin mulai mendekati ku dan aku mulai mundur sehingga aku berhenti sebab aku sudah berada di tembok.
"Kau itu hanyalah wanita, pasti lema ... Jangan terlalu banyak marah-marah sayang, disini hanya ada kita berdua saja ... "ucapnya dan kini dia sudah berada dihadapan ku dan tangannya menimpah tangan ku.
"Lepaskan aku, kau mau apa jangan menyentuh ku!"teriak ku dan aku berharap ada yang mendengarkannya.
"Kau berisik sekali, tapi. Percuma saja kau berteriak keras karena tidak ada yang mendengarkannya ... "ucapnya yang di susul gelak tawanya, aku berdiam dan berdoa semoga saja ada yang menolongku.
"Tilong! Tolong ! Tolong !" teriak ku dan Wijin langsung menutup mulutku menggunakan tangannya membuat aku semakin ketakutan.
Keringat mulai membasahi seluruh tubuhku dan kulihat dia mulai membuka tali pinggangnya, menggunakan satu tangannya saja dan dia sudah berhasil membukanya.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki menendangnya dari belakang yang membuatnya tersungkur di lantai, aku membulatkan mataku dan aku langsung berlari menuju belakang laki-laki yang menolongku.
"Kau tidak apa-apa?"tanyanya padaku dan aku hanya bisa diam saja dalam ketakutan ku meski aku sangat galak tapi, aku juga sangat takut dengan laki-laki seperti Wijin.
"Kau jangan pernah berfikir, kau bisa melecehkan wanita ... Karena aku akan selalu ada kau dengar!"teriaknya dan Wijin langsung berlari sekencang mungkin, aku berfikir siapa laki-laki ini mengapa Wijin sangat takut padanya.
"Terimakasih sudah membantu aku ... "ucapku dengan sangat pelan dan dia langsung menoleh kearah ku.
"Sama-sama, kau murid disini?"ucapnya dengan sangat lembut.
"Benar, kamu siapa ya, sebelumnya aku belum pernah melihat mu?"ucapku sambil menatap wajah tampannya.
"Oh, aku adalah anak yang memiliki Kampus ini dan aku juga mengajar disini, "ungkapnya sontak saja membuat aku membuka mataku lebar-lebar.
"Terimakasih banyak Pak, saya permisi dulu ..."ucapku sambil berlari sebab aku takut dia akan menodai ku, mungkin saja bukan dia juga orang jahat pikirku.
.
.
.
...Bersambung....
Assalamualaikum teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya, Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘