
Pada malam hari ini Kenan mengumpulkan anak-anak di meja makan semua sudah berkumpul, dan duduk di bangku mereka masing-masing dengan sangat baik.
Dilan menatap tajam kearah Bagas dan Dilara menyadarinya sehingga ia langsung bertanya.
"Mengapa menatap suamiku seperti itu?"tanya Dilara dengan sangat ketus membuat Dilan terkejut.
"Suami mu, dia beberapa hari lalu bersama dengan seorang wanita berhijab ke cafe dan aku sangat jelas melihatnya."jawab Dilan yang tak mau kalah dari Dilara.
"Gas."Alice menatap tajam kearah menantunya tersebut, sedangkan Bagas dan Dilara mereka saling menatap dan tertawa bersama.
"Jelaskan?"ucap Kenan dengan sangat tegas membuat mereka berdua langsung diam.
"Sebenarnya itu aku, bukankah tadi aku juga memakai hijab ..."jelas Dilara.
Alice dan Kenan mengingat saat anaknya datang tadi dan mereka mengingat kalau Dilara menang memakai hijab.
"Benar."ucap Alice dan Kenan secara bersamaan.
Dilan membulatkan matanya sebab ia sudah salah sangka kepada adik iparnya tersebut.
"Maafkan aku, aku sudah salah sangka. Dan kau kenapa kau memakai hijab?"
Dilara tersenyum menatap wajah Bagas dan Bagas yang menjelaskan semuanya kepada Dilan. Setelah semuanya akur mereka mulai memakan makanan mereka masing-masing dan setelah selesai Kenan akan menjelaskan sesuatu.
"Pertunangan, Dilan akan di adakan beberapa hari lagi. Dan Papa minta agar kalian semua datang terkecuali Dilan."jelas Kenan membuat Dilan keberatan.
"Tidak bisa, pasti wanita itu jelek sebab umurnya lebih tua dariku ... Kalau sampai dia buruk rupa aku tidak mau."protes Dilan membuat Dilara tertawa-tawa.
"Buruk rupa, kau tidak sadar kau sendiri seperti apa?"tanya Dilara sambil terus tertawa-tawa.
"Diam, jangan banyak bicara aku tidak ingin mendengarkan ucapan busuk mu itu!"
"Kau yang busuk!"
Bagas memegang tangan Dilara membuat Dilara langsung diam dan ia memegang erat tangan Bagas.
Sepertinya mereka sudah bisa menerima pernikahan ini, aku sangat bahagia Dilara bisa jauh berubah karena dia menikahi Bagas. Aku tidak salah pilih pasangan untuk Dilara, dan semoga saja aku juga tidak salah memilih untuk Dilan. Batin Kenan.
"Kalian ini selalu saja ribut,"sambung Alice dengan sangat lembut.
"Kami, akan datang dan sepertinya kami malam ini harus pulang ke apartemen kami,"ungkap Bagas.
"Loh, kok pulang? Menginap saja disini besok baru pulang."tambah Alice dan Kenan langsung mencubit tangan Alice.
"Biarkan mereka memberi kita cucu."bisik Kenan di telinga Alice membuat Alice tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa Mama tersenyum, apa yang di ucapkan oleh Papa?"tanya Dilara dengan sangat penasaran.
"Tidak ada, sebaiknya kalian pulang saja sebelum larut. Dan bawa saja mobil Papa."ucap Kenan dengan sangat lembut.
"Tapi, Bagas tidak pandai membawa mobil,"ungkap Bagas.
"Aku saja."sambung Dilara.
"Bagaimana bisa, bukankah kau masih sakit?"tanya Bagas dengan sangat lembut sambil menatap wajah Dilara.
"Em, em, sakit ... Pa ..."Alice menggoda anaknya sampai Dilara dan Bagas malu.
"Ada apa, dengan mu?"tanya Dilan sambil menatap kearah Dilara.
"Tidak ada, jangan banyak bicara."jawab Dilara dengan sangat ketus.
"Kau ..."belum sempat Dilan meneruskan ucapannya Kenan sudah memotongnya.
"Hentikan!"
Semuanya langsung diam seribu bahasa.
"Apa kalian ingin Papa mati, dengan tingkah kalian itu?"tanya Kenan dengan sangat ketus dan tidak ada yang menjawabnya.
"Maafkan, Dilara, Pa."ucap Bagas dengan sangat lembut membuat Kenan langsung tenang.
Anak ini kenapa dia sangat berbeda dengan Bastian, mereka sangat jauh berbeda. Aku benar-benar sangat tenang melihatnya, batin Kenan.
"Baiklah, cepat bawa pulang istri mu dan nasehati dia ... Agar dia bisa berubah ..."ucap Kenan yang berlalu pergi.
"Gas, sebaiknya kalian pulang saja naik Taksi atau motor matic milik mu."ucap Alice yang bergegas pergi.
Dilan langsung bergegas pergi masuk kedalam kamarnya, sedangkan Bagas langsung membantu Dilara berjalan menuju motor miliknya.
Bagas tidak mengatakan apapun selama di perjalanan dan ia hanya diam saja, membuat Dilara sangat takut sebab Bagas terlihat sangat marah padanya.
Sepertinya dia benar-benar sangat marah padaku, sebaiknya aku meminta maaf padanya nanti di apartemen. Batin Dilara.
Setelah sampai di apartemen Bagas memarkirkan motornya di parkiran setelah itu, ia menggendong tubuh Dilara masuk kedalam apartemen mereka.
Sepertinya dia tidak marah, sebab dia menggendong ku saat ini. Batin Dilara.
Setelah sampai di dalam kamar Bagas meletakan tubuh Dilara dengan sangat pelan di tempat tidur, lalu ia juga duduk di samping Dilara sambil menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.
"Aku sebagai seorang suami, aku meminta mu agar jangan bersikap seperti tadi. Jangan bersikap tidak sopan pada kakak mu."ucap Bagas dengan sangat lembut akan tetapi Dilara langsung meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bagas menghapus air mata Dilara.
"Jangan menangis, aku hanya tidak ingin melihat papa seperti tadi. Apa kalian tidak merasa kasihan kepadanya, dia sudah tua tidak bagus dia selalu memikirkan tentang kalian yang selalu bertengkar,"ungkap Bagas.
Dilara langsung terdiam lalu ia memeluk Bagas dengan sangat erat.
Kenapa aku tidak bisa melupakan perasaanku untuk Ale, kalau seperti ini aku akan menyakiti hati Dilara sebagai istriku. Batin Bagas.
Dilara melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Dilara.
"Apa kau masih mencintainya?"tanya Bagas.
"Tidak, sebab aku sudah menikah dan aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka kepada suaminya, sebab itu aku melayani mu semalam."jelas Dilara.
Apa aku ini, suami apa aku ini. Dia benar-benar melupakan ayah dan aku masih mencintai Ale, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin Dilara merasakan apa yang di rasakan oleh mama, batin Bagas.
"Aku tahu, kau masih mencintai tante Alessandra. Tidak apa-apa, anggap saja di antara kita tidak terjadi apa-apa ..."ucap Dilara dengan sangat lirih.
"Ra, aku bukan laki-laki brengsek, setelah aku menidurimu dengan sangat mudahnya aku pergi meninggalkan mu. Aku tidak seperti itu aku akan bertanggung jawab atas masa depanmu dan anak-anak kita nantinya,"ungkap Bagas membuat Dilara tersenyum manis.
"Anak-anak kita?"
Dilara langsung memeluk Bagas dengan sangat lembut sambil mengelus-elus pundak Bagas, membuat Bagas bergairah akan tetapi ia mencoba untuk menahannya dan ia langsung melepaskan pelukannya.
"Ada apa?"tanya Dilara dengan sangat bingung sebab pelukannya langsung di lepaskan oleh Bagas.
"Tidak ada,"jawab Bagas sambil membuang pandangannya.
Dilara langsung memegang gagang tegak milik Bagas yang sudah mengeras, membuat Bagas membulatkan matanya.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit. komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1