
Gadis kecil tersebut berlari memeluk Tantenya dan Kenan langsung menatap kearah Caira. "Siapa gadis kecil itu?"tanya Kenan dengan sangat penasaran.
"Oh, ini anaknya keponakan saya."jelas Pak Ardan membuat Kenan bernafas lega sebab ia berfikir kalau anak tersebut anaknya Ameena.
"Sepertinya kesepakatan kita, kita akan segera menikahi Ameena dan anak saya.
Dalam waktu dekat ini."jelas Kenan.
"Iya, sekarang kita mulai pertunangan."jelas Pak Ardan.
Dilara terdiam sambil memikirkan tentang apa yang di ucapkan oleh Caira gadis kecil tadi.
Kalau sampai aku hamil bagaiman caranya aku melepaskan Bagas, aku akan berusaha sekuat tenaga ku untuk memberikan Bagas kepada Tante Alessandra lagi walaupun aku hamil. Aku bisa membesarkan anak ku sendiri tanpa adanya Bahas. Batin Dilara.
Alice mulai memakaikan kalung emas berbalut berlian berwarna putih kepada Ameena, sambil ia mengingat kembali ucapan Caira gadis kecil tersebut.
Kalau sampai aku hamil lagi, dan Dilara juga hamil aku akan benar-benar sangat malu sebab sudah tua masih miliki anak, batin Alice.
Setelah semuanya selesai mereka mulai di jamu dengan makanan yang sudah dia siapkan oleh Pak Ardan, Dilara tetap mengambilkan makanan untuk Bahas sebab ia juga tidak ingin menjadi istri durhaka.
Semuanya mulai memakan makanan mereka masing-masing dan Dilara bergegas pergi menuju Toilet, Azi melihat Dilara pergi tanpa Bagas ia langsung mengikuti langkah Dilara.
Azi menunggu Dilara keluar dari dalam toilet tak berselang lama akhirnya Dilara keluar.
"Kakek."ucap Dilara sambil merapikan penampilannya, Azi menarik tangan Dilara menuju taman belakang dan ia melihat situasi yang aman.
"Kakek mohon tinggalkan Bagas, biarkan dia bahagia bersama dengan Alessandra tantemu itu benar-benar sangat hancur. Apa kamu tega melihatnya sangat hancur, sebelum kamu hamil cepatlah berpisah dari Bagas,"pinta Azi membuat Dilara terdiam.
Apa yang harus aku lakukan, apa aku bilang saja kalau aku masih mencintai kak Bastian dan ingin kembali bersamanya, batin Dilara.
"Kakek mohon, jangan sampai Tante mu itu bunuh diri sebab dia sangat nekat dan bukankah kamu sangat menyayangi Tante mu itu?"tambah Azi sebab Dilara hanya diam saja.
"Baiklah, Dilara akan berusaha."ucap Dilara yang bergegas pergi meninggalkan Azi.
Dilara kembali duduk di samping Bagas sambil terdiam dan Bagas menyadarinya, ia tahu kalau Dilara sedang memikirkan sesuatu didalam pikirannya.
Sepertinya dia benar-benar memiliki masalah, aku akan menanyakan hal ini nanti di apartemen sebab aku tidak ingin ribut di keramaian orang. Batin Bagas.
__ADS_1
Caira duduk bersama dengan Alice dan juga Ameena, mereka memakan makanan mereka masing-masing lalu Caira duduk di pangkuan Alice.
"Oma, didalam sini ada adik laki-laki. Kalau sudah keluar kami bisa bermain bersama."ucap Caira sambil mengelus-elus perut Alice.
Kenan tersenyum melihat wajah Alice yang memerah dan semuanya langsung melirik kearah Alice.
"Kenan, kau itu sudah tua tidak usah lagi membiarkan aku cucu."ucap Azi sambil tertawa kecil.
"Biarkan saja. Bukankah Dilara dan juga Dilan ingin memiliki adik."jawab Kenan yang tak mau kalah dari Mertuanya.
"Caira, apa Caira dapat melihat apa yang tidak bisa kami lihat?"tanya Alice sambil menatap wajah manis Caira.
"Iya, Oma ni Caira lihat ada tiga wanita yang akan hamil bulan depan di keluarga Oma."jelas Caira sambil menutup kedua matanya.
"Dan ada juga sedikit permasalahan akan kehamilan dari tiga wanita di keluarga, Oma."tambah Caira membuat semua orang langsung menatap wajah Caira.
"Siapa tiga wanita itu?"tanya Alice dengan sangat lembut.
"Tante Dilara, lalu Oma dan satu lagi Caira belum mengenalnya,"ungkap Caira membuat mereka semua membuka mulut mereka lebar-lebar.
Kalau semuanya benar, satu wanita lagi siapa kalau bukan Riska. Apa ada perusak rumah tangan di antara kami semua. Batin Alice.
"Caira bisa melihat apa lagi?"tanya Alice yang benar-benar sangat penasaran.
"Oh, Caira bisa lihat kalau ada satu wanita yang akan merusak pernikahan Tante Ameena dengan sengaja,"ungkap Caira membuat semua orang langsung terdiam.
Kalau semuanya benar, aku tidak akan memaafkan wanita itu. Sebab wanita itu yang akan merusak segalanya dan apa wanita itu juga yang akan hamil selain Dilara dan Alice. Batin Kenan.
"Tidak usah tegang, sebab omongan Caira kandang ada juga yang salah."jelas Pak Ardan yang mencoba membuat suasana menjadi lebih baik.
"Benar itu, Pak. terkadang ada salahnya juga."sambung Azi.
"Benar, sambung memakan makanannya."ucap Pak Ardan sambil menutupi ketakutannya, sebab ia tahu betul kalau apa yang di ucapkan oleh cucunya semuanya akan benar terjadi.
Dilara akan hamil, ternyata aku akan segera menjadi ayah dan apa benar kalau mama akan hamil lagi, dan satu wanita itu siapa yang akan hamil, batin Bagas.
Semuanya sudah menyelesaikan menakan makanan setelah itu semuanya kembali masing-masing, Alice dan Kenan langsung pergi ke luar Kota sedangkan Bagas dan Dilara pulang bersama dengan Azi ke rumah Kenan.
__ADS_1
Kenan terus-menerus tersenyum bahagia sambil mengemudikan mobilnya.
"Pa, apa Mama akan benar-benar hamil."ucap Alice sambil menatap kearah jendela mobil.
"Benar, karena Papa sudah menanamkan benih-benih cinta Papa kedalam ramin ini."ucap Kenan sambil mengelus-elus perut Alice.
"Bukankah, kita sudah tau lalu untuk apa kita memiliki anak lagi, Pa?"tanya Alice dengan sangat kesal.
"Papa ingin mengurus anak lagi,"jawab Kenan dengan sangat lembut.
"Malu, Pa. Malu, anak kita akan segera hamil dan Mama juga hamil."ucap Alice sambil membuang pandangannya kearah jendela.
Kenan tertawa-tawa melihat Alice kesal padanya seperti itu.
Selama di perjalanan Dilara dan Bagas hanya diam saja sampai mereka di turunkan di rumah Kenan, sedangkan Azi dan Riska langsung bergegas pulang sebab hari ini Azi akan bertemu dengan Kinan di rumah sakit.
Bagas langsung masuk kedalam dan ia berjalan menuju kamar Dilara sebab kepalanya sangat pusing, ia menidurkan tubuhnya di atas kasur milik Dilara sambil memijat-mijat kepalanya.
Dilara hanya diam saja sambil bermain ponselnya tidak seperti biasanya ia selalu cemas kalau Bagas sakit, akan tetapi kali ini ia hanya diam saja seolah-olah tidak tahu kalau Bagas sakit.
"Ya Allah, kembalikanlah istriku yang dulu selalu perhatian kalau suaminya sakit seperti ini."ucap Bagas akan tetapi Dilara tidak peduli padanya.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan berubah secepat ini padaku, sebenarnya apa yang di ucapkan oleh kakek Azi padanya. Batin Bagas.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1