Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Harus berbohong


__ADS_3

Caira memeluk Ameena dengan sangat erat membuat Ameena tersenyum bahagia, lalu ia melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah Caira yang manis dan sangat imut.


"Caira mau apa sayang?"tanya Ameena dengan sangat lembut.


"Caira tidak mau apa-apa, hanya saja Caira ingin bertemu dengan oma Alice lagi dan tante Dilara."pinta Caira dengan sangat lembut membuat Ameena tersenyum.


"Bukankah hari sudah malam, Tante janji besok setelah Tante pulang dari Kampus Tante akan membawa Caira menemui oma Alice."janji Ameena kepda gadis kecilnya tersebut.


"Sayang, Tante Ameena ... "Caira memeluk Ameena dengan sangat lembut membuat Ameena sangat bahagia.


Caira adalah gadis kecil yang selama ini membuatku bahagia, batin Ameena.


...


Setelah Dilan mengantarkan Alessandra ia tidak langsung pulang sebab ia ingin menemui Kakeknya terlebih dahulu, ia menunggu Kakeknya pulang di ruang tamu bersama dengan Riska.


"Dilan, apa Ale masih sering sekali mengganggu Bagas?"tanya Riska dengan sangat pelan agar Alessandra tidak mendengarkan.


"Tidak tahu, Oma. Mungkin saja bukankah mereka saling mencintai dan Dilan juga sedang menyelidiki ini semua,"ungkap Dilan membuat Riska tersenyum.


"Baiklah, tidur saja disini. Di kamar tamu sudah lama sekali kamu tidak menginap disini."pinta Riska dan Dilan terasa tidak enak kalau harus menolak permintaan dari Omanya.


Sepertinya aku terima saja, sebab aku tidak enak kalau harus menolak permintaan dari Oma sebab aku tidak taga. Batin Dilan.


"Baiklah, sepertinya Dilan mandi saja dulu, ya. Oma."ucap Dilan yang bergegas bangun.


"Iya, di kamar Ale banyak baju laki-laki sebab dia banyak memiliki baju laki-laki,"ujar Riska.


"Siap, Oma."ucap Dilan yang bergegas pergi menuju kamar Alessandra.


Setelah sampai ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Alessandra dan tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.


"Kau belum pulang?"tanya Alessandra sambil menatap wajah Dilan.


"Belum."jawab Dilan sambil berjalan masuk kedalam. " Hay, aku tidak mengizinkan mu masuk!"teriak Alessandra yang masuk kedalam.


Dilan menidurkan tubuhnya di atas kasur milik Alessandra.


"Benar-benar tidak sopan, sekarang kau bangun dan pergi dari sini."ucap Alessandra dengan sangat lembut. Dilan tidak memperdulikan ucapan Tantenya tersebut membuat Alessandra kesal.

__ADS_1


Alessandra menghampiri Dilan dan ia menarik-narik lengan Dilan dan Dilan semakin menarik tangan, sehingga Alessandra terjatuh ke lantai membuatnya semakin kesal kepda Dilan.


"Hahaha, lucu sekali."Dilan tertawa-tawa melihat Alessandra yang berada di lantai, Alessandra menatap tajam kearahnya.


Brengsek anak ini, sebaiknya aku diam saja biarkan apa maunya. Batin Alessandra.


"Aku ingin meminjam baju, sebab aku akan tidur disini."jelas Dilan membuat Alessandra membuka mulutnya lebar-lebar.


"Ha?"


"Bukan di kamar ini, aku akan tidur di kamar tamu tapi. Kalau Tante tidak keberatan aku akan tidur disini saja dan Tante tidur di sofa."tunjuk Dilan pada sofa di hadapannya.


Alessandra mengepalkan tangannya lalu ia bangun dan mengambil kaus dan celana pendek miliknya, ia melemparkan celana dan kaus ke wajah Dilan dengan sangat kuat membuat Dilan tertawa lepas.


"Hahaha, sakit perut ini melihat Tanteku ini marah, jangan marah-marah ya, nanti cepat tua!"teriak Dilan yang berlari ke luar kamar Alessandra.


"Dasar tidak waras, entahlah dia sangat aneh tadi dia akan meminum obat halusinasi benar-benar tidak waras."ucap Alessandra sambil menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya.


...


Dilara sedang mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuhnya ia masih memakai handuk kimono, ia mengoleskan minyak zaitun dengan pandangan kosong dan Bagas sangat memperhatikan Dilara.


Dilara menoleh lalu ia bangun dan segera mengambil baju lalu ia mengenakannya, setelah itu ia menghampiri Bagas kembali.


"Kalau kau tidak ingin aku seperti ini lagi, maka kita berpisah."ucap Dilara dengan sangat entengnya.


Bagas menghembuskan nafasnya dalam-dalam lalu ia mengusap kasar wajahnya, ia memegang pundak Dilara menggunakan kedua tangannya lalu ia menatap bola mata Dilara.


"Pernikahan bukan main-main, aku tidak ingin mempermainkan pernikahan kita. Aku sudah berjanji akan menjaga mu dan membimbing mu sampai surga."Bagas menatap bola mata Dilara yang sudah berkaca-kaca.


Dilara meneteskan air matanya lalu ia menundukkan wajahnya dan Bagas langsung memeluknya.


"Aku sudah mengatakan, jangan pernah menutupi apapun dari ku. Sekarang ceritakan semuanya padaku sebab aku adalah suamimu saat ini."ucap Bagas sambil mengelus-elus pundak Dilara.


"Hiks, hiks. Gas, aku tidak ingin terlalu lama menyakiti hati tante Alessandra. Bukankah kalian saling mencintai dan aku hanyalah orang asing saja yang tidak ada sama sekali didalam hatimu ... "ucap Dilara sambil terus menangis tersedu-sedu didalam pelukan Bagas.


Bagas melepaskan pelukannya lalu ia menghapus air matanya Dilara.


"Kau ada sepenuhnya didalam sini." Bagas menarik tangan Dilara dan menaruhnya di dadanya.

__ADS_1


Dilara berhenti menangis lalu ia menatap tangannya yang berada di dada Bagas.


"Kau mencintaiku?"tanya Dilara sambil menghapus air matanya.


"Iya."jawab Bagas dengan sangat cepat membuat Dilara langsung tersenyum bahagia dan memeluk Bagas kembali.


Maafkan aku, aku sudah membohongi mu. Sebab aku tidak taga melihat mu terus-menerus memikirkan semuanya. Aku akan selalu membahagiakan mu seperti aku membahagiakan mama, batin Bagas.


Dilara tersenyum bahagia sambil memeluk Bagas.


Ini semuanya seperti mimpi, aku dan Bagas sama-sama memiliki rasa setelah kami menikah. Setelah ini aku merasa lega dan tidak akan pernah berfikir untuk berpisah. Batin Dilara.


"Jangan pernah berfikir untuk berpisah, sebab kita akan selalu bersama dengan calon anak kita ini."Bagas mengelus-elus perut Dilara yang masih rata.


"Gas, aku belum hamil."jawab Dilara.


"Kalau begitu mudah, kita buat saja agar kau cepat hamil."ucap Bagas yang menidurkan tubuh Dilara lalu ia naik ke atas tubuh Dilara.


"Dasar mesum."ucap Dilara dengan sangat bahagia. "Kau suka kalau aku mesum seperti ini bukan?"


Bagas langsung menyambar bibir ranum milik Dilara dengan sangat lembut lalu ia menyambar leher Dilara, dan ia banyak sekali meninggalkan jejak kepemilikan disana belum juga hilang yang kemarin dan ini sudah semakin banyak.


Bagas mulai melakukan ritualnya ia membaca doa bersama dengan Dilara barulah mereka melakukan pemanasan bersama, barulah mereka melakukan bercocok tanam bersama dengan sangat bergairah dalam keadaan yang bahagia.


Dilara melakukan semuanya dengan hati yang baik sedangkan Bagas harus berpura-pura agar Dilara bahagia, entah mengapa ia harus mengorbankan kebahagiaannya untuk Dilara ia juga tidak mengetahuinya.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2