
Riska bergegas bangun dan merapikan penampilannya lalu ia duduk di samping Bagas, sambil menatap kearah jalanan lalu Bagas memegang tangannya sontak saja ia langsung menatap wajah Bagas.
"Katakan pada ibuku, kalau kau adalah calon suamiku. "ucap Alessandra dengan tawanya sedangkan Dilara hanya diam saja.
"Saya calon suami anak Tante, "ungkap Bagas dengan sangat cepat.
Riska langsung tersenyum dan melepaskan tangannya lalu ia memegang pundak Bagas. Azi masih menatap mereka dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu.
"Aku akan pulang dan menunggunya, aku tidak ingin ribut di tempat keramaian seperti ini ... "ucap Azi yang mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Dilara melihat kepergian Kakeknya lalu ia dan Alessandra turun menghampiri Riska dan Bagas. Mereka semua duduk saling berhadapan dengan sangat baik.
"Ale, jelaskan kepada Ibu dia kekasih mu?"ucap Riska dengan sangat lembut sambil tersenyum manis kepada Bagas.
"Benar Bu, sebab itu Ale menyuruh Ibu datang kemari ... Tapi, jangan beritahu ayah Bu."pinta Alessandra dengan sangat manis dan Riska tersenyum.
"Baiklah, oh ya, kamu tinggal dimana?" Riska menatap wajah Bagas dengan sangat dalam belum sempat Bagas menjawab, ponsel Riska berdering dan ternyata Azi yang meneleponnya.
"Angkat saja Bu, mungkin ayah sudah pulang," Alessandra melihat Ayahnya yang menelepon Ibunya.
Riska tidak menjawab panggilan Azi lalu ia bergegas pergi dari sana sedangkan mereka bertiga, masih di taman sambil bernafas lega.
"Kenapa kau mengkambing hitamkan aku, sebagai calon suamimu!" Bagas menatap tajam kearah Alessandra.
"Hey, jangan marah-marah dulu ... Aku tidak benar-benar menganggap mu sebagai suamiku tau. Aku tidak sudi kalau bukan karena terpaksa!" Alessandra berdecak pinggang sambil menatap tajam kearah Bagas.
"Bisakah, kalian tidak ribut?"ucap Dilara dengan sangat sebal melihat mereka terus-menerus bertengkar.
"Sebaiknya kita pulang Ra, kita akan menguping pembicaraan ayah sama ibu ..."ucap Alessandra yang menatap wajah Dilara.
"Hay, aku bagaimana apa kalian akan meninggalkan aku disini?"tanya Bagas dengan sangat cemas.
"Tidak, kau ikut kami dan kau tunggu kami didalam mobil saja setelah kami selesai menguping kami akan mengantarkan mu,"ucap Alessandra yang bergegas pergi menuju mobilnya.
Dilara membantu Bagas berjalan dengan perlahan setelah mereka masuk kedalam mobil, Alessandra langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan kecepatan tinggi.
"Ya ampun, kau anak gadis Alessandra. Bisakah pelan-pelan membawa mobil ini aku baru saja kecelakaan, dan aku tidak mau kecelakaan lagi Alessandra!"teriak Bagas sambil berpegangan tangan pada Dilara.
__ADS_1
"Sabar Bagas, dia tidak akan mendengarkan ucapan mu sebaiknya kau berdoa saja semoga kita selamat sampai tujuan ... "ucap Dilara yang menyenderkan kepalanya pada pundak Bagas.
Dia memang cantik, tapi sayangnya aku lebih menyukai Alessandra ... Tidak apalah dia juga adikku bukan, batin Bagas.
Setelah sampai di rumah Azi. Dilara dan Alessandra bergegas turun mereka buru-buru masuk kedalam, mereka langsung berjalan menuju kamar Azi dan mereka menempelkan kuping mereka di pintu kamar Azi.
"Aku benar-benar kecewa apa mu!"bentak Azi membuat Riska menangis.
"Lalu Riska tidak boleh kecewa pada Om, selama ini Om selingkuhi Riska Om tapi, Riska diam saja bukan?"ucap Riska dalam isak tangisnya.
Alessandra ikut menangis mendengar ucapan Ibu dan Ayahnya yang bertengkar.
"Aku tidak selingkuh Ris, kamu itu salah faham, " Azi mendekati Riska dan memeluk Riska.
"Lihat ini ... "Riska mempersiapkan video Azi dan Kinan sedang bercumbu didalam mobil, Azi langsung membulatkan matanya lalu ia menatap wajah Riska.
"Itu, hanya sekali saja aku tidak mengulanginya lagi ... "ucap Azi dengan sangat lembut.
"Sudah cukup kamu berbohong Om, anak pertama kita meninggal karena apa kamu selingkuh Om! Agam Prananda anak kita ... "Riska menangis tersedu-sedu sambil melemparkan bantal pada Azi.
Alessandra sangat terkejut dengan apa yang ia dengar ternyata ia memiliki seorang Kakak laki-laki, yang sudah meninggal karena sebuah kesalahan dari Ayahnya.
"Kamu memang tidak akan pernah berubah, ibunya Alice pergi karena sifat kamu yang seperti ini Om. Sebaiknya kita hidup masing-masing saja!" Riska semakin terisak hingga ia pingsan.
Azi langsung membantunya.
Alessandra menangis tersedu-sedu dan ia berlari keluar menuju mobilnya dan ia masuk kedalam, Dilara mengikuti langkah Alessandra dan ia duduk di samping Alessandra ia memeluk Alessandra dengan sangat lembut.
"Tante, sudahlah mungkin ini memang yang terbaik untuk oma Riska karena kakek selalu selingkuh ... "ucap Dilara pelan sambil mengelus rambut Alessandra.
Ternyata kakeknya Dilara tukang selingkuh ya, aku benar-benar tidak menyangka, batin Bagas.
"Sebaiknya kita ceritakan saja semuanya pada mama Tan, mana tahu mama bisa membantu Tante?"usul Dilara dan Alessandra langsung melepaskan pelukannya lalu ia menghapus air matanya.
"Benar, semoga kak Alice bisa membantu aku dan ibu ... " Alessandra mulai melajukan mobilnya dengan perlahan menuju rumah Kenan.
Aku juga bingung mau ngomong apa, sudahlah aku diam saja dari pada aku salah bicara bisa abis aku nanti, batin Bagas.
__ADS_1
Setelah mereka sampai di rumah Kenan mereka langsung turun bersama, Alessandra masuk bersama dengan Dilara dengan sangat cepat sedangkan Bagas ia berjalan dengan sangat perlahan.
Dasar, wanita egois sudah aku membantu mereka mala mereka meninggalkan aku sudah tahu aku sulit untuk berjalan, aku benar-benar kecewa pada mereka. Batin Bagas.
Bagas berjalan menuju sofa yang disana sudah ada Alessandra, Dilara, Alice dan Kenan, ia langsung duduk di samping Kenan sambil menatap wajah Alessandra yang sangat pucat.
"Kak .... Ale tidak mau sampai ayah dan ibu bercerai, "Alessandra menangis tersedu-sedu didalam pelukan Alice.
Alice mengelus rambut Alessandra dengan perlahan dan ia juga meneteskan air matanya.
"Kakak akan membatu mu, dan Kakak akan berusaha sekuat tenaga Kakak agar mereka tidak bercerai ... "janji Alice pada Alessandra.
Benar-benar keterlaluan Azi, dia sama sekali tidak berubah setelah anak laki-lakinya meninggal, itupun sebab ulahnya juga karena berselingkuh, batin Kenan.
"Tan, sudah ya, jangan menangis lagi jelek tahu senyum dong ... "Dilara tersenyum dan memeluk Alessandra dengan sangat lembut.
"Ra, aku sedih tahu kenapa ayah sama ibu tidak seperti Kak Alice dan Kak Kenan? Yang tidak pernah bertengkar, "ungkap Alessandra yang membuat Kenan tersenyum.
"Ale, mungkin saja kami juga sering bertengkar bukan? Tapi, kami tidak pernah memperlihatkannya pada kalian semua. "jelas Kenan dan Alice langsung tersenyum.
"Ale, lihat Kakak jangan menangis lagi ya, malam ini juga kita akan menyelesaikan masalah ini?" Alice menatap wajah Alessandra yang terus-menerus mengeluarkan air matanya.
"Benar ya, Kak." Alessandra menghapus air matanya dan ia tersenyum pada semua orang yang berada disana.
Manisnya senyuman mu, Ale. Aku benar-benar menyukainya ah, aku sedang di mabuk cinta ... Di mabuk cinta. Batin Bagas.
.
.
.
...Bersambung....
Hay, teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘