
Dilara bersama dengan Tantenya bergegas pergi menuju kampus sebab mereka ada mata pelajaran siang, setelah mereka sampai di kampus mereka melihat Dilan bersama dengan Doni sedang berjalan berdua menuju tempat parkir.
"Ra, sebenarnya mereka tidak saling sapa bukan?"ucap Alessandra yang menatap tajam kearah Dilan dan Doni.
"Entahlah, bukankah dia sepupu Nona. Tante tahu tidak kalau kak Dilan sangat menyukai wanita tersebut,"ungkap Dilara.
Sontak saja membuat Alessandra sangat terkejut akan ucapan Dilara.
"Yang benar, aku tidak bisa tinggal diam kau tahu bukan Nona sangat muslim dan Dilan dia bahkan tidak tahu caranya Shalat. "ucap Alessandra dengan sangat serius membiarkan keponakan nya tersebut.
"Benar Tante, bagaimana jika mereka sudah saling menyukai dan mencintai?"tanya Dilara kepada Tantenya dengan sangat penasaran akan masalah Kakaknya tersebut.
"Biarkan saja, aku sudah menebak kalau Nona tidak akan tertarik sedikitpun dengan Dilan, kau tahu aku juga sedikit tahu tentang kehidupan Nona."jelas Alessandra sambil menatap kearah Dilara sambil tersenyum sinis.
"Kita masuk yuk, kita sudah terlambat Tante ..."Dilara dan Alessandra bergegas pergi menuju kelas mereka.
Dilan dan Doni bergegas pergi menuju Masjid yang tidak jauh dari kampus mereka berada, Doni sudah membuat janji kepada Ustadz yang berada di sana.
Setelah mereka sampai mereka langsung masuk kedalam sebelum mereka bertemu dengan Ustadz, mereka mengambil wudhu terlebih dahulu Doni mengajarkan cara mengambil wudhu kepada Dilan.
Setelah selesai mereka langsung bergegas kedalam dan mereka duduk berhadapan dengan seorang Ustadz tampan yang terlihat masih sangat mudah.
"Assalamualaikum Ustadz ... " ucap Doni dan Dilan bersamaan.
"Wa'alaikumsalam. "jawab Ustadz Ameer.
"Begini Ustadz, ini teman saya dia Islam tapi, dia tidak pernah mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang muslim, dan dia berniat akan mengerjakan tugas-tugasnya yang selama ini sudah tertinggal, dan pertanyaan apakah dia harus masuk Islam lagi?"tanya Doni dan Ustadz tersebut tersenyum dan langsung menjelaskannya.
"Saya bantu jawab ya, kalau kamu sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka kamu sudah menjadi Islam dan harus mengerjakan tugas-tugas seorang muslim."jelas Ustadz Ameer dengan sangat lembut.
"Terimakasih, Ustadz sudah membantu jawab pertanyaan saya."ucap Dilan dengan senyuman manisnya lalu ia menatap kearah Doni.
Doni menatap wajah Ustadz Ameer ia mengingat bahwa mereka sudah sering bertemu.
Ustadz Ameer ini bukanlah Ustadz kenalan ku, mungkin saja dia di utus oleh Ustadz Yusuf untuk menemui ku, tapi sepertinya aku pernah bertemu dia dimana ya, batin Doni.
Suara Adzan berkumandang mereka mulai melaksanakan Shalat Dzuhur berjamaah sedangkan Dilan ia merasa sangat kebingungan, namun ia tidak patah semangat ia tetap mengikuti langkah dari temannya tersebut dengan sangat kesulitan.
Dilan hanya mengikuti langkah Doni saja sebab ia belum tahu apa saja yang harus ia lakukan, sebab ini kali pertama buatnya untuk melaksanakan Sholat dulu ia sangat pandai Sholat waktu ia masih kecil.
__ADS_1
Setelah ia dewasa ia tidak pernah mengerjakan tugas-tugasnya lagi sebagai seorang muslim.
πΊπΊπΊ
Dilara dan Alessandra sudah selesai dalam perjalanan mereka dan kini mereka sudah berkemas-kemas untuk segera pulang.
"Tante, tolong telfon, kak Bastian aku lupa soal nanti malam, bisa-bisa dia datang dan pasti dia akan marah kepadaku Tan."pinta Dilara kepada Tantenya dengan sangat lembut agar Tantenya mau menuruti keinginannya.
"Baiklah, aku akan menelfon dia dan kau yang berbicara kepadanya setuju?"ucap Alessandra dengan sangat malas.
"Baiklah cepat telfon dia."jawab Dilara dengan sangat antusias.
Alessandra menghubungi Bastian dan tersambung namun Bastian tak kunjung menjawabnya.
"Mungkin dia lagi meeting Ra, coba sore hari nanti kamu telfon dia lagi aja ya?"tanya Alessandra yang menatap wajah Dilara.
"Baiklah Tante, mari kita pulang. "ucap Dilara dengan sangat lemas, mereka langsung bergegas pergi menuju rumah Azi Prananda sebab Dilara masih tinggal bersama dengan Kakeknya.
. . .
Kenan dan Alice berada di sebuah cafe terbesar di Kota A mereka sedang meeting bersama dengan Bastian dan Azi. Alice sering sekali ikut setra dalam apapun masalah bisnis milik suaminya yaitu Kenan Alfaro.
"Baik."jawab Azi.
"Papa, aku pamit ya, sebab aku masih memiliki banyak sekali pekerjaan."ucap Bastian yang menatap wajah Kenan.
"Tunggu sampai kita selesai makan siang dulu, bukankah ada asisten mu yang membantu mu?"tanya Kenan yang melepaskan kaca matanya lalu ia menatap kearah anaknya tersebut.
Bagaimana ini, aku sudah ada janji dengan Dilara dan jangan sampai aku telat, batin Bastian.
"Baiklah Pa, ayo kita makan dulu."ucap Bastian dengan sangat lemas sebab ia takut terlambat menemani Dilara ngamen.
"Apa cucu tertua ku ini sedang mencari calon pendamping hidup?"ucap Azi yang di susul gelak tawanya.
"Cucu atau anak Ayah mertua?" tambah Kenan.
"Diam kau, tidak usah banyak bicara simpan saja suara busuk mu itu aku tidak ingin mendengarkan nya."ucap Azi ketus.
"Dasar mertua duralex ... "ucap Kenan dengan sangat pelan namun Azi masih bisa menderanya.
__ADS_1
"Apa! kau benar-benar tidak ada kesopanan mu ya, kau kira aku tuli tidak dapat mendengar ucapan busuk mu itu!" Azi menatap tajam kearah Kenan.
"Maaf Ayah mertua bukan begitu maksudnya, Ayah salah dengar dan salah faham."ucap Kenan dengan sangat terburu-buru, sebab ia sangat takut kalau Ayah mertuanya marah padanya.
"Sudah Ayah, kalian tidak malu di lihat banyak orang dan Bastian?"ucap Alice dengan sangat lembut sambil menatap keseluruhan ruangan.
"Ayah yang mulai duluan Mama ... "ucap Kenan yang menunjuk kearah mertuanya tersebut.
"Sudah-sudah ayo kita makan setelah ini kita Shalat Dzuhur sudah Adzan bukan?"ucap Alice dengan sangat lembut.
"Iya benar Nak, ayo cepat kita selesaikan makannya."ucap Azi yang menatap tajam kearah Kenan.
Selama mereka semua makan Kenan dan Azi saling pandang dan menatap kesal satu sama lainnya.
Dasar mertua duralex, bisa-bisanya dia membentak aku di tempat yang sangat ramai orang seperti ini, lihat saja nanti ya kalau bukan mertua sudah lama dia ku hajar, batin Kenan.
Azi menatap tajam kearah Kenan dengan sangat kesal dan jengkel.
Dasar menantu tidak tahu diri, aku selalu saja sebal dengannya entah mengapa aku juga tidak tahu, mungkin karena dia sangat menyebalkan, batin Azi.
Setelah mereka selesai makan mereka kembali ke Kantor masing-masing menggunakan mobil masing-masing.
.
.
.
...Bersambung....
Follow Ig Author: cinta_terindah217
Hay teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua dari Author.π
__ADS_1
Jangan bosan-bosan ya untuk membaca karya receh Author ini.