CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
3 IZZA


__ADS_3

Panas kota Batam sungguh menyengat hari ini, Seorang wanita melenggang keluar dari rukonya sambil mengenakan kaca mata hitamnya dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan ruko.


Dia menjalankan mobilnya, membelah jalanan Batam yang nampak padat merayap di jam makan siang.


Tak lama ponselnya berdering, dia menatap sekilas dan langsung menekan tombol hijau.


"Hallo sayang.. " Sapanya


"Hallo Sayang.. kamu dimana.. ??" tanya lelaki di sebrang.


"Emmn di jalan.. bentar lagi aku nyampek kok.. "


"Ok aku tunggu.. bye sayang.. " Kata si lelaki.


"Bye sayang.. " Segera dia meletakkan ponselnya kembali.


Wanita cantik ini bernama Izza Syazwhani, Anak dari pasangan Tuan Fahat dan Nyonya Humairah. Anak Sulung dari 3 bersaudara yang semua perempuan.


Adiknya bernama Izza Wardina dan Izza Wardini yang kembar seiras. Whani biasa dia di sapa, berumur 23 tahun. Menjalankan salah satu usaha milik orang tuanya.


Ayahnya keturunan jawa sedang ibunya asli orang melayu malaysia. Perpaduan yang membuat wajah cantik nan manis Whani semakin terserlah.


Tak lama dia sampai ke tempat tujuan, Segera dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam restoran.


Dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang tadi menelponnya, orang itu melambai ke arahnya.


"Maaf aku lambat.. " Dia mendaratkan ciumanya di pipi lelaki itu.


"ga papa.. " Ucap si lelaki yang tak lain adalah Kevin.


"Kamu belum pesen makanan..?? " Whani melambai ke arah pelayan setelag mendudukan tubuhnya.


"Belum.. nungguin kamu.. " Kevin langsung membuka buku menu.


Setelahnya mereka memesan makanan masing-masing.


"Sayang.. Minggu ini kita jalan ke Nongsa Yuk.." Kevin membuka pembicaraan.


"kayaknya aku ga bisa deh.. ada acara minggu ini.. " Sesal Whani.


"Yahh.. udah lama kita ga jalan bareng loh.. " Kevin tentu kecewa.


"Maaf ya.. sodara mama ada yang mau datang dari Pahang. minggu depannya lagi deh ya.. jangan marah.. " bujuk Whani sambil mengelus tangan Kevin.


Kevin hanya tersenyum kecut, tak lama makananpun datang. Dan mereka segera menyantap sembari mengobrol.


Pukul 7.30, Whani baru sampai rumahnya. Sedikit ada kendala di rukonya tadi. Membuatnya lambat pulang.


"Whani.. " Panggil mamanya dari ruang tengah.


"Baru pulang nak. . sudah makan ke.. ?"


"Udah Ma.. Whani ke atas dulu ya ma.. " Dia mulai menaiki tangga.


Mamanya nampak menggeleng, anaknya itu sudah dewasa tapi setiap pulang dari mana-mana slalu tidak mengucap salam.


Whani merebahkan badannya di ranjangnya. Lelah dan letih. 3 hari lagi Aldi pulang dari Jogja. Pria itu sedang menempuh pendidikan kedokteran di sana.

__ADS_1


"Gimana ya kalau Aldi tau aku pacaran sama Kevin.. ahh.. bingung deh.. " Keluhnya sendiri.


Dia beranjak untuk mandi agar sedikit rileks, selesai mandi dia mengeringkan rambutnya. Saat kembali ke kamar, ponselnya rupanya berdering.


Aldi


"Hallo Sayang. . " Sapanya.


"Hallo sayang.. lagi ngapain..? " Tanya Aldi.


"Aku habis mandi sayang.. kamu jadi pulang..? "


"Jadi donk.. kamu mau di bawain oleh-oleh apa. .?" Tawar Aldi.


"Apa aja deh.. yang penting dari kamu aku pasti seneng kok.. "


Terdengar tawa Aldi di sana, Whani ikut tersenyum mendengarnya.


"Ya udah.. aku cariin yang special buat kamu ya.. "


" Ok... makasih ya.. "


"Iya.. ya udah dulu aku matiin.Ada hal yang mau aku urus sebelum pulang.. "


"Iya sayang... "


"Ok.. bye. . muach.. "


Panggilan pun terputus, Whani menuju meja riasnya . Menatap wajahnya di cermin. 2 lelaki yang dia pacari sekaligus sebenarnya tidak ada yang benar-benar di Cintainya.


Dia hanya senang saja, di sayangi dan di cintai 2 orang berbeda.


"Aku ini cantik.. apa bang Reihan tetap tak tertarik pada ku.. " Di helanya nafas panjang.


.


.


Pagi pun datang . Whani beranjak mandi. Berganti pakaian dan berdandan. Kemeja warna pink jadi pilihanya.Dengan celana hitam. Rambut pirangnya dia biarkan tergerai indah.


"Pagi ma pa.. " Sapanya sambil meletakkan tasnya di kursi. Lalu ke dapur.


"Pagi sayang.. gimana kerjaan kamu.. ?" Tanya papa Fahat.


"Semua ok pa.. " Dia mulai menyeduh kopi untuknya dan papanya.


"Katanya kemarin ada masalah dengan Elekctriknya. . " Papa mulai memakan bihun goreng buatan istrinya.


"Ape lah papa ni.. makan tak ayah ngan cakap.. makan dulu nanti baru cakap.. " Teguran Istrinya membuat papa Fahat tersenyum malu.


"Tuh pa.. dengerin.. " Whani meletakkan kopi milik papanya dan punyanya di meja makan.Lalu menarik kursi untuknya duduk.


"Bihun buatan mama ni paling enak sedunia. ." Puji papa Fahat, agar istrinya tak marah lagi.


" Gimbal.. !!" Whani tertawa terpingkal-pingkal menutup mulutnya.


"Kok Gimbal... Gombal kakak.. " Protes papa Fahat yang malah dapat plototan istrinya.

__ADS_1


"Kakak. . " Mama melirik ke arah Whani yang belum juga berhenti tertawa.


Whani langsung berdehem, menghentikan tawanya dan memulai sarapan.


"Pagi semuanya... " Suara dua bocah kembar membuat ruang makan yang tadinya hening kembali ramai.


"Dina Dini.. Tak payah berebut, itu kan ade lagi telur gorengnya.. " Tegur mama Humairah saat melihat anak kembarnya yang saling sikut berebut telur goreng.


"Kak Dina nih... ga mau ngalah ma.. " Seru Dini.


"Apa.. ? ini aku yang ngambil dulu de.. !" Dina tak mau kalah.


"Kakak kan bisa ambil yang itu.. " Dini masih berusaha mengambil kembali telur di piring kakaknya.


Dina langsung mengangkat piringnya tinggi-tinggi.


"Enak aja.. orang aku duluan.. !"


"ihhh kakak... aku mau itu.. " Seru Dini lagi.


"Astagfirullah... anak papa yang cantik-cantik ini, udah anggun sekolahnya pake jilbab tapi kok suaranya kayak preman pasar.. " Tegur papa akhirnya.


Keduanya langsung saling pandang dan diam. Tapi sedetik kemudian saling sikut lagi.


"Dini Dina.. " Lirih mama.


Melihat tatapan mamanya yang menurut mereka menakutkan, keduanya langsung sibuk menyantap sarapanya masing- masing. Meski Dini akhirnya menarik kursinya menjauh dari Dina.


"Pa... berarti kak Whani ga cantik donk.. kan ga pakai jilbab.. " Celetuk Dini dengan mata dan tangan tetap fokus ke piringnya.


Mama dan Papa langsung menoleh ke arah Whani yang pura-pura tidak mendengar ucapan adiknya yang baru duduk di bangku SMP itu.


"Kak Whani belum dapet hidayah de.. " Sahut Dina. Yang langsung di balas kikikan dari Dini.


"Sudah.. sudah lekas habiskan sarapannya.. " Mama beranjak ke dapur.


Whani tau, mamanya pasti kecewa dengan pembahasan ini. Berkali-kali mama menegurnya untuk menggunakan jilbab. Tapi Whani menolak, merasa tidak trendy dengan gaya anak muda Batam .


Mama yang notabene orang melayu, mungkin malu melihat anaknya tidak mau menutup aurat. Dan justru berambut pirang, kadang pakaian sedikit terbuka. Sedang Papa, papa hanya bilang untuk Whani bisa menjaga diri. Meski dalam hati juga mendoakan anak sulungnya supaya dapat hidayah.


"Whani duluan ya pa.. " Dia beranjak mencium tangan papanya,Dan papa mengangguk. Lalu dia ke dapur pamit dengan mamanya.


"Ma.. Whani berangkat dulu.. " Lalu menyalimi mamanya.


"Iya.. hati-hati.. " ucap mamanya tersenyum.


Whani mengangguk dan kembali ke depan,


"Ayok Dina.. Dini..!" Serunya pada ke dua adiknya.


Cepat-cepat ke duanya mengahabiskan sarapannya dan meneguk habis milo mereka.


"Ma. .Dina berangkat dulu.. "


"Dini juga.. " Keduanya pun salim dengan mamanya di dapur.


"Berangkat pa.. " pamit mereka salim.

__ADS_1


"Hati-hati sayang.. love You.. " Papa mendapat ciuman dari Dini


"Love You too pa.. " Lalu berlari mengejar Dina dan kak Whani.


__ADS_2