
Sudah seminggu Izza berada di Batam. Hari-hari dia lalui dengan perasaan tak menentu.
Merasa kehilangan sosok Arlan yang beberapa bulan selalu menemaninya. Tapi saat suaminya beberapa kali menelponnya, justru dia abaikan karna mengingat penghianatan suaminya.
"Akak, tak nak makan ke.. Mama masak asam pedas ni.. " Humairah melongok ke arah kamar anaknya.
"Ikan atau ayam , Ma.. ?"
Beranjak bangun dari tumpukan baju di lemari.
"Ikan lah, jom makan.. " Humairah lantas menggandeng tangan anaknya turun.
Sesampainya di sana, sudah ada Fahat yang pulang untuk makan siang.
"Papa... " Sapa Izza.
"iya sayang, ayo makan. Papa udah laper.. "
Humairah dan Izza saling mengulum senyum, dengan cekatan tangan Humairah meladeni suaminya.
"Cukup ke ni.. ?" tanya Humaurah saat mengambilkan sambal trasi favorit suaminya.
"Cukup lah tu.. " Fahat segera memulai do'a untuk makan bersama.
Izza yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua orang tuanya justru merasa bahagia.
Mama dan papanya tetap saling perhatian dan romantis meski sudah berumur. Tiba-tiba juga dia menjadi mengaca dengan rumah tangganya.
Rasa asam pedas yang enak langsung terasa hambar di lidahnya.
"Za, Arlan tadi menelpon. Kamu kenapa ga mau angkat telpon darinya..? Dia sangat khawatir.. " Ucapan papa Fahat hampir membuat Izza tersedak. Sejurus kemudian fikirannya sibuk mengingat suaminya.
Apa Arlan sudah makan ? siapa yang mengurusnya di rumah?
"Akak, tak baik macam tu. Bio bagaimana dia suami akak, ade ape masalah kene bincang elok-elok. " Nasehat Humairah .
"Iya Za, papa harap kamu tidak sekeras ini. Apalagi akan ada anak di antara kalian.." tambah Fahat.
Izza diam menunduk, seandainya Arlan tidak menghianatinya, dia tidak akan pergi seperti ini. Jujur hatinya sudah mulai nyaman bersama lelaki itu.
.
Pekan Baru
__ADS_1
Arlan menatao lekat foto istrinya di layar ponselnya, sungguh dia begitu rindu. Seminggu tidak mendengar suaranya, tidak melihat wajah ayunya. Jika dia wanita, mungkin. dia akan menangis karna menahan rindu.
tok tok
"Dok, apa sudah siap untuk pasien selanjutnya ?" tanya Suster pembantunya. Mereka baru selesai istirahat siang.
"Iya sus.. " meski tidak bersemangat, Arlan mencoba bangkit karna mengingat tanggung jawabnya.
"Selamat siang dokter..." Sapa seorang nenek yang datang di gandeng istrinya.
"Siang Nek.. " balas Arlan ramah.
Dan pemeriksaan pun di lakukan. Sedang sang cucu hanya diam memperhatikan Arlan.
"Wah bagus ini, nenek harus selalu bahagia ya. Ini gula darahnya normal.. "
"iya dok.. " Nenek tersenyum menyentuh tangan cucunya.
"Saya akan lebih bahagia jika cucu saya sudah menikah.. "
Arlan mengangkat wajahnya dari rekam medis, menatap keduanya .
"Tuh, denger de. Nenek mu tambah bahagia kalo kamu udah nikah. Buruan nikah.. " ledek Arlan di sertai senyuman.
Nenek yang mendengar pun terkekeh sedang cucunya merona sambil menunduk.
"Nenek.. " Terlihat cucunya nenggeleng, agar nenek tidak membahasnya. Mungkin dia malu.
"Ah, saya..? " Terkejut, karna walau mereka sering datang bersama, Arlan tidak begitu mengenal cucu sang nenek.
"Iya dok.." Jawab Nenek dengan kekehan.
"Yah, telat mbak Dokter Arlan udah soldout.. " celetuk suster pembantu yang langsung membuat nenek terdiam juga cucunya yang langsung hilang rona bahagianya.
"Apa itu benar dok..? saya kira dokter masih bujang. ."
"Iya nek.." Arlan menarik bibir tipis. Mbenarkan ucapan suster Ratih.
Sang nenek langsung menoleh ke arah cucunya yang menunduk kecewa.
Arlan melanjutkan menulis resep .
"Tapi saya ga pernah liat istri dokter.? " tanya nenek kemudian.
__ADS_1
Sejujurnya Arlan tidak suka di tanyai hal di luar pekerjaannya. Tapi dia juga tidak sanpai hati pada nenek yang sudah tampak sepuh itu.
"Apa istri dokter, juga seorang dokter di sini.? " imbuhnya.
"Istri saya bukan dokter nek, dia mengurus toko bunga saja. Tapi karna sekarang sedang hamil muda, dia di rumah saja untuk saat ini.. " Jawab Arlan lantang juga bangga mengenalkan sesosok Izza istrinya pada orang lain.
"Oh ya, toko bunga nya dimana.. ?"
Arlan sedikit mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan nenek yang di rasa sangat berlebihan.
"Saya penasaran dok, soalnya dokter kan ganteng. ." ujar nenek.
"ReyZa Flowers. Itu nama tokonya nek.." terang Arlan akhirnya yang diangguki sang nenek.
"Dia kerja di sana.. ?" Tanya sang cucu yang semula banya diam.
"Bukan mbak, Mbak Za pemiliknya.. " terang suster pembantu tanpa di minta. Karna merasa risih dengan kekepoan mereka.
"Mbak sama nenek mau tau istri pak dokter .. ?" Suster Ratih langsung mengulurkan bingkai foto pernikahan Arlan dan Izza pada nenek juga cucunya.
Mereka menatap lekat 2 orang dalam foto yang tampak serasi dalam baju pengantin. Meski semula terkejut atas kelakuan Suster Ratih. Tapi Arlan langsung mengulas senyum. Dia bersyukur bisa menikahi Izza.
"Cantik ya, pantes dokter terlihat sangat bahagia menceritakannya. ." Nenek kemudian menoleh ke arah cucunya.
"Sofia, lihatlah. Dokter bukan jodoh kamu. Kamu harus bisa melupakan impianmu itu.. "
Sang cucu yang ternyata bernama Sofia itu menunduk sedih. Sejujurnya Suster Ratih kasian, tapi dia sebagai wanita tidak mau jika akhirnya tumbuh bibit pelakor pada jiwa cucu nenek yang biasa di panggil ''Fii " itu.
"Sus, kamu kok lancang ngambil foto saya.. " tegur Arlan.
"Maaf Dok, habisnya cucunya itu selalu merhatiin dokter aja tiap nganterin neneknya cek-up.. "
"Kamu kan ga selalu di bagia sini Sus, jangan ngaco.. "
"Saya ga ngaco dok.. " tegas Ratih sambil mengemas file rekam medis pasien.
"Hampir semua tau kok, Sustes Dina, Suster Tika dan Dimas. Mereka yang selalu membantu dokter selalu ngomongin cucu nenek itu Dok. Dia tu kalo udah masuk sini, udah, pandangannya ke arah Dokter ga pernah lepas.." Ujar Ratih Berapi-api.
"Masa sih.. ?" memang Arlan tidak pernah perasan . Dia hanya fokus pada pekerjaanya secara profesional.
"Ihh ga percaya, Istri Dokter pasti bangga karna saya membantu dia agar bibit pelakor ga mendekati dokter.. " tuturnya bangga sambil meninggalkan ruangan Arlan.
"Seandainya Izza menganggap saya seberharga itu Sus... " Desahnya pelan sambil bersandar memejamkan mata.
__ADS_1
"Dok, Selamat atas kehamilan istri dokter. Semoga sehat sampai lahiran ya..!" Teriak Ratih sambil membuka pintu dan menutupnya kembali yang langsung membuat Arlan terkejut reflek menegakkan tubuhnya.
Arlan menggeleng pelan atas kelakuan suster pembantunya itu.