
Whani membuka matanya saat mendengar suara seseorang jatuh di lantai. Betapa terkejutnya dia melihat orang yang jatuh tersungkur adalah Aldi.
Dan seseorang yang masih memukul Aldi membabi Buta adalah Reihan. Dan di pintu, ada papanya yang menangis memalingkan muka. Whani segera meraih selimut yang teronggok di lantai.
Dia masih menangis histeris, perasaanya sangat takut. Bahkan saat Reihan mendekat dia mundur sampai terjatuh di lantai.
"Huhuuuuu huuu. . papa tolong Whani pa... !!" Teriaknya Histeris di pojok kamar.
Reihan memutari ranjang berjongkok di depan Whani yang ketakutan menutup wajah dan tubuhnya dengan selimut.
Bayangan di matanya adalah Aldi yang mendekatinya. Di memejamkan mata. Meyakinkan hatinya tentang suara yang memanggilnya.
"Izza.. ini saya Reihan.. izza.. "
Whani membuka matanya, dan di depannya bukan Aldi lagi. Melainkan Reihan. Segera dia menghambur memeluknya.
"Bang... tolong aku bang.. tolong aku.. huuuuu... "
"Sudah.. sudah.. " Reihan mengurai pelukan Whani. Memandang wajah Whani yang lebam dan membiru. Penampilan berantakan Whani. Sungguh hatinya sakit.
Papa mendekat, membawa baju yang tadi tercecer. Dan melepas jasnya
"Pakailah nak.. " Ucapnya lalu berdiri untuk keluar di susul Reihan. Whani segera memakai pakaiannya. Bertepatan itu pintu terbuka. 2 orang berseragam polisi masuk saat Whani sudah memakai jas dari papanya.
Whani segera berlari keluar memeluk papanya erat dan menangis.
"Paa... hwa... "
"Sudah sudah.. " Papa Fahat menepuk bahu Whani lembut. Mengusap rambut anaknya yang berantakan dan merapikannya. Lalu menggiring Whani masuk mobil.
"Kamu yang bawa mobilnya Rei.. Kita ke Hotel terdekat.. " Ucap papa dan Reihan mengangguk.
Whani masih menangis sesenggukan di pelukan papanya , sekali sekala Reihan memandangnya dari kaca mobil.
Wanita bodoh
Reihan menggeleng saat mengingat kejadian di depan matanya tadi. Dia yang awalnya ingin menelpon Whani untuk menanyakan keberadaanya saat melihat mobil yang tadi di naikinya tidak ada. Bahkan Whani tidak menjawab telponnya.
Dan tak lama Om Fahat pulang kerja, dia menyambutnya mengobrol diteras depan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi panggilan dari Whani.
Dan alangkah terkejut dia saat mengangkatnya, dia mendengar teriakan dan tangis Whani.
"Om.. sekejab.. " Dia mendekatkan telpon di telinga Om Fahat. Om Fahat nampak syok.
"Whani.. kita harus cari dia Rei.. " cepat-cepat keduanya masuk ke mobil.
__ADS_1
"Dia di mana Rei.. " Om Fahat nampak cemas mengemudikan mobil.
"Kite pakai GPS.. saya cari kejab dia kat mana.. " Dan GPS mulai menampilkan keberadaan Whani lewat jarinan ponselnya. Om Fahat labgsung melajukan mobilnya membabi buta.
.
Whani meringkuk tidur di atas ranjang hotel. Sedari tadi menangis, dia mungkin lemas. Papa Fahat menyelimutinya sambil menangis.
"Om merasa gagal menjaga Whani Rei... " Papa Fahat terduduk di lantai menangis tergugu. Hati orang tua mana yang tidak hancur menyaksikan anaknya di gagahi oleh pria brengsek seperti Aldi.
"Dah lah om.. " Reihan membantu papa Fahat berdiri dan memapahnya ke sofa. Dia juga membuka air mineral dari pihak hotel dan memberikanya pada papa Fahat.
"Humairah pasti pingsan melihat Whani seperti ini Rei.. Papa harus bagaimana.. ??" Masih dengan tergugu papa fahat mengatakannya.
"Papa lalai menjaganya ma.. Maaf, Whani ma.. Whani anak kesayangan ku. . huhu.. "
"Dah lah Om.. dah terjadi, mungkin dah takdir Izza. Om sabar ye.. beristigfar. . ini bukan salah om.. "
Fahat mulai mengikuti saran Reihan Beristigfar. Lalu dia bangkit mencopot sepatu untuk Wudhu .
"Ayo kita Sholat Isyak Rei.. " Dan Reihan mengangguk.
Setelah Sholat, Reihan dan Fahat duduk di sofa. Setelah sebelumnya papa menelpon humsirag istrinya mengatakan sedang menemani Whani kerja di luar Batam. Dan Reihan ikut serta.
"Om bingung Rei.. merasa bersalah pada istri Om. Karna berbohong. Tapi om juga tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya Rei.. "
"Kamu pasti tau Rei. Seorang papa mempunyai kewajiban pada anak perempuannya, menanggung dosa-dosanya sebelum dia menikah ..
Tapi lihat lah sekarang. Om gagal menjaganya.. "
Mereka masih diam memperhatikan Whani. Bahkan perut yang keroncongan tidak mereka hiraukan.
"Paa.. tolong.. Bang.. huhuhu..
lepas Aldi lepas... !!" Whani tiba-tiba berteriak dan menangis dengan mata terpejam.
Fahat langsung berlari menghampirinya.
"Sayang.. Whani .. " dia berusaha membangunkan Whani yang mengigau.
"Lepas aku bilang... Aku mohon Aldi lepaskan aku.. " Whani masih memberontak.
"Sayang.. sayang.. ini papa.. Ayo buka matanya.. " Fahat mulai menangis melihat keadaan Putrinya.
Reihan mendekat, tidak banyak yang bisa dia lakukan. Dia menatap iba Whani tapi juga membenci wanita itu.
__ADS_1
"Papa.. mama huhuhu... Tolong... Ya Allah tolong aku... huhuuu.. " Whani masih tetap histeris.
Fahat mengusap air matanya, mendekap Whani yang masih menangis, mengusap Kepalanya sambil bersholawat dan Istigfar. Perlahan tangis Whani mereda .
"Papa.. hikz.. " Dia sempat membuka matanya lalu kembali tertidur.
Fahat perlahan melonggarkan dekapannya. Mengusap air mata dan keringat Whani dengan Tisu dan menyelimutinya kembali.
"Rei.. om khawatir Whani trauma.. " Fahat menatap Putrinya yang kembali tidur meskipun masih terdengar sesenggukan.
Keesokannya, Whani membuka matanya saat merasa ada orang yang memegang lengannya. Rupanya seorang dokter wanita tengah memeriksanya.
Tapi tak lama matanya berat dan terpejam lagi.
"Tekanan darahnya rendah pak. Usahakan dia segera makan setelah bangun nanti. ini obat oles untuk lebamnya. Oleskan teratur 3-4 kali sehari, 3 hari lebamnya akan hilang. Saya sarankan lebih baik di bawa ke psikolog pak. Karna seperti cerita bapak tadi dampak traumanya membuatnya bermimpi kejadian buruk yang di alaminya.. " Terang Dokter itu.
"Ini obat nya di minum sesuai yang saya tulis ya pak.. " Dokter menulis beberapa obat untuk Whani.
"Dok, apa harus di bawa ke Psikolog.. ??" Fahat nampak cemas.
"Kita lihat dulu ya pak, jika dalam keadaan sadar dia masih berhalusinasi, berteriak seperti yang di katakan bapak tadi. Bapak bisa langsung membawanya ke Psokolog. Tapi jika itu terjadi hanya saat tidur, usahakan untuk membuatnya tenang dan nyaman. Dia akan merasa di lindungi.. "
Fahat mengangguk,sedang Reihan diam memperhatikan Whani yng terlelap. Dokterpun pamit undur diri.
"Rei.. kamu tolong jagakan Whani sebentar ya. Om mau membelikannya baju.. Makanan sudah om pesan.. " Fahat bersiap keluar.
"Kalau kamu takut, kamu bisa membuka pintu kamarnya Rei.. " Ucap fahat sebelum pergi.
Reihan mengangguk, dia membiarkan pintu terbuka setelah Fahat keluar. Dan merebahkan badannya di sofa. Semalaman dia tidak tidur membuatnya pusing.
Dia terjaga saat ada pergerakan, rupanya Whani sudah bangun. Berusaha meraih gelas di atas meja sebelah tempat tidur.
Reihan mendekat, mengambilkannya dan memberikan pada Whani.
"minum. .?"
Whani mendongak menatap matanya lalu mengangguk. Reihan segera menarik meja yang berisi makanan.
"Makanlah .. Sejak semalam awak tak makan.. "
Whani hanya diam memperhatikannya.
"Izza.. " Panggil Reihan.
"Umm.. " Jawab Whani.
__ADS_1
"Makanlah.. " Ucap Reihan dan kembali duduk di sofa.