CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Tamat


__ADS_3

2 orang bersimpuh di hadapan sebuah makam. Alunan Ayat-ayat Suci dan do'a beriring untuk arwah Almarhum Reihan.


Hari ini bersama Arlan Izza mengunjungi makam Reihan juga mertuanya. Dia sudah mengiklaskan kepergian Reihan.


"Semoga Abang sentiasa bahagia di sana, karna melihatku kini juga bahagia.. " Izza mengusap lembut perut yang mulai sedikit menonjol itu.


"Terima kasih sudah menjaga dan mencintainya selama ini. Sekarang tenanglah di sana. Aku yang akan melanjutkan mimpi-mimpimu untuk selalu menjaga dan mencintainya. Bukankah mimpi kita juga sama Rey.. " Arlan merangkul bahu istrinya lembut dan keduanya pun beranjak bangun untuk kembali ke johor.


.


Ceklek.


Izza melangkahkan kaki lebih dulu setelah mengucap salam. Menghidupkan lampu, sedang Arlan pelan mengikutinya masuk.


Matanya memandang sekeliling ruangan yang tampak rapi meski tak berpenghuni.


Di dinding tampak figora besar terpasang.


Sudah tidak ada lagi rasa sakit melihat foto pernikahan Izza dan Reihan.


"Mas mau langsung mandi.. ? " Tanya Izza sambil menarik kain penutup sofa di ruang tamu rumahnya dengan Reihan dulu.


"Bentar lagi, masih kringetan.. " jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari sudut-sudut ruangan.


"Ini ga di sewakan.. ?"


"Enggak mas.. " Izza ke dapur berniat membuat teh hangat. Untungnya masih ada teh tarik instan di laci dapurnya.


"Kenapa ga di sewakan.. ?" rupanya Arlan langsung mengikuti istrinya ke dapur.


"Aku dulu sebulan sekali selalu krsino, dari pada aku nginep di hotel lebih baik di sini.. "

__ADS_1


Izza menyerahkan secangkir teh tarik pada Arlan yang langsung di terima oleh lelaki itu.


"Tapi kan makamnya di pahang, ini kayalnya jauh. di mana ini.. ?" Arlan lupa nama tempat yang mereka datamgi sekarang.


"Ini Johor Jaya. . Dari sini lebih deket kalo ke pelabuhan.. " Izza tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Karna dia tidak mau suaminya tersinggung.


Arlan tahu alasan sebenarnya, tapi dia juga tidak mau memperbesar. Semua sudah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah masa depan.


"Kamu mandi dulu aja, udah sore.. "


"Ya udah, aku ke kamar ya mas. Aku udah order makanan. Nanti kalo bayar pake uang di dompet ku ya. . "


"Ok.. " Senyuman manis Arlan sunggingkan yang di balas Izza sebelum menuju kamar utama.


Setelah bebersih dan menikmati makan malam berdua. Seoasang suami istri itu tengah beristirahat di ranjang. Arlan memijat lembut kaki istrinya. Sedang si empunya kaki justru menikmati pijatan dengan bermain ponsel.


"Udah mas... " Izza melirik jam yang menunjukan jam 10 malam.Maknanya Arlan sudah memiijatya selama 30 menit.


"Iy-iya.. " gelagapan karna menangkap fi rasat lain melihat senyum suaminya.


"Tapi yang ini juga mau di urut... " Tangan Arlan beroindah oada bagian dada Izza.


"Enggak, ngawur.. " Izza menghempas tangn Arlan menjauh dari bagian aset dadanya.


Arlan pun seketika tertawa lalu merebahkan diri menyamping menghadap istrinya. Memeluk erat tubuh Izza yang mulai bertambah isi.


"Sayang. "


"Emmm... " Mata keduanya saling mengunci. Tangan Arlan membelai pipi mulus Izza.


"Bolehkah aku tanya sesuatu.. ?"

__ADS_1


"Apa.. ?" Izza mengangakat kedua alisnya.


Sesaat berfikir, akhirnya Arlan memutuskan melontarkan pertanyaan yang sejak dulu terngiang di kepalanya


"Kenapa kamu masih Virgin, padahal kamu sudah menikah.. Apa Almarhum suamimu dulu itu... " Arlan bingung menyebutnya, takut Izza tersinggung.


"Impoten.. ?" Tebak Izza sambil tersenyum tipis.


"Hehe... " Arlan hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya.


"Enggak mas , bang Rei normal kok. Cuma kami dulu menikah karna rasa tanggung jawabnya saja. Dia kasian padaku. Terlepas dari apa yang aku tau setelahnya bahwa dia juga mencintaiku. Pernikahn kami hanya kami yang tau apa yang terjadi, Aku, Papa dan Reihan. Awal menikah semua tampak tak seperti pernikahan umumnya. Hingga hubungan kami menjadi lebih dekat. "


Izza mulai menceritakan segalanya tentang Reihan. Alasan kenapa dia masih petawan walau berstatus janda.


"Bang Rei bilang, saat resepsi di batam dia ingin hadiah itu. Ingin memiliki ku seutuhnya. Tapi ternyata takdir berkata lain.. "


Arlan mendekap erat tubuh istrinya. Izza terus menceritakan semuanya.


"Beruntung banget ya kamu di cintai lelaki seperti dia, mau menerima kamu apa adanya sayang.. " Ujar Arlan kemudian.


Izza terkekeh, mencium pipi suaminya. Yang langsung membuat Arlan merasa senang dan bahagia. Izza mulai tidak malu mengapresiasikan perasaanya lewat tindakan nyata. Dia menyukai itu.


"Kamu justru lebih beruntung mas dapat janda tapi perawan.. "


"Iya sih. Beruntung banget.. " Arlan menatap tawa renyah Izza. Sungguh istrinya begitu cantik saat seperti itu. Dia berjanji akan mencintai wanita itu sepanjang hidupnya.


"Mau apa... ?" tanya Izza setelah tawanya reda sedang Arlan merangkak naik ke atasnya.


"Merasakan malam pertama di sini.. " Seringai muncul kembali di bibir Arlan. Membuat Izza kembali tertawa.


"Ayo, aku milik mu.. " Dengan sengaja Izza membuka kancing piyamanya.

__ADS_1


"Astaga.. kamu mulai nakal sayang... "


__ADS_2