CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Tempat Ternyaman


__ADS_3

Arlan menyandarkan tubuhnya di kursi dengan nyaman. Mengecek ponselnya, yang ternyata tidak ada pesan apapun dari Izza.


Akhirnya dia mengalah,lebih dulu mengechat wanita yang baru 13 hari menjadi istrinya itu.


Arlan.


Sayang, kamu udah sarapan.. ?


Aku rindu..


Tok Tok


"Permisi dok,apa sudah bisa kita mulai.. ?" Seorang perawat masuk yang tak lain adalah Nina.


"Ahh iya Nin.. "


Arlan menyimpan ponselnya dan mulai berjibaku dengan pekerjaanya.


Banyak pasien mulai datang, mulai dari sakit batuk, pilek demam juga yang lainnya. Arlan yang memang seorang Dokter umum di rumah sakit ini tentu bertemu dengan berbagai jenis orang.


Dulu dia tidak begitu betah saat dikirim di Pekan Baru, tapi sejak bertemu kembali dengan Izza. Rasanya semua sudah berubah, dia jadi ingin menetap di kota ini.


"Dok, Istri dokter kok ga pernah di ajak kesini sih. " Ujar Nina saat mendekati jam istirahat.


"Memangnya kenapa Nin.. ?"


"Ya biar pada kenal, kan ga banyak yang ikut resepsi pernikahan dokter pas di Batam ataupun di Semarang. Cuma dokter kepala sama pemilik Rumah sakit yang dateng. ."


Arlan pun mengangguki, tidak semua bisa ikut datang saat resepsinya pada saat itu. Karna jarak dan biaya .


"Nanti lah, yang pasti kan kamu udah tau orangnya.. "


"Iya sih Dok.. " Nina tersenyum nyengir. " Saya ingat perjuangan Dokter pas mau ngedapatinnya. Hehe.. "


Arlan tersenyum, mengingat pernah bekerja sama dengan Nina pada saat itu.


"Saya dulu sempet ngira Dokter cowo brengsek loh.. " Jujur Nina.


"Loh.. kok gitu.. ?" Arlan mengerutkan keningnya.


"Iya, soalnya dulu kan Dokter udah tunangan sama Dokter Syifa. Tapi Dokter Arlan malahan cuek sama tunangannya, sering bertengkar. Dan ujung-ujungnya malah ngejar-ngejar wanita lain.. "


Arlan tersenyum, geli sendiri mengingat semuanya.


"Maaf ya Dok.. "

__ADS_1


"Ga papa Nin, saya memang udah lama banget kenal istri saya itu. Tapi lost Contack sampe hampir 2 tahun. Saya nyari-nyari kemana-mana. Taunya malah di sini ketemunya.. "


Nina mengangguk dan tersenyum.


"Kalau jodoh emang ga kemana ya Dok... "


"Iya Nin.. jadi sekarang udah ga nganggep saya cowo brengsek kan.. ?"


Nina tertawa menutup mulutnya.


"Kalau sekarang saya nganggep Dokter itu pejuang cinta.. "


Arlan hanya terkekeh mendengar candaan Nina dan tak lama Nina pun permisi untuk keluar istirahat .


.


Di sebrang pulau.


Izza mengusap air matanya setelah membacakan yasin untuk Reihan dan keluarganya.


"Bang, Izza sudah menikah lagi.. Dengan Dia, namanya Arlan . Keadaan yang memaksa Izza mengambil keputusan ini. Izza ga mau bikin mama sama papa terus-terusan menkhawatirkan Izza.


Maafkan aku bang, maaf aku menghianatimu..


Usapan lembut seseorang menyadarkannya dan cepat-cepat di sekanya air mata di pipi.


"Dah hampir tengah hari.. Jom kita pulang.. " Ajak Acik Nur, salah satu mak saudara Reihan.


"Yee Cik.. " Mereka berdua pun pulang bersama-sama.


Tengah hari ini, semua keluarga besar Reihan berkumpul. Mereka tentu ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Izza yang sekarang.


Izza hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat dan do'a-do'a mereka.


"Za.. kami nak cakap kan sesuatu dengan awak.. " Ucap Pak Cik Izul.


Semua yang ada langsung diam setelah mendengar suara Pak Cik Zul.


"Yee Pak Cik. " Izza memandang semua yang sedang memandang ke arahnya.


"Kami ikut berbahagie dengan pernikahan awak sekarang, tapi setelah kami rundingken dengan ahli keluarge. Kami dah ambi mufakat. Awak tak di izinkan datang sini bile tak bersame-same dengan suami awak.. "


Deg.


Jantung Izza serasa berhenti. Apa maksut semuanya.

__ADS_1


"Awak jangan salah faham dulu.. " Pak Cik Zul menyesap kopinya sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Kite semua pun rase macam tak nyaman tengok awak datang seorang-seorang, sedangkan awak dah de suami... "


"Hidup kene berlanjut Za, dah masenye awak kene ikhlaskan semuanye. Reihan tetap suami awak mase tu. Tapi sekarang rumah tangga awak yang sekarang. Itu yang Utame..Kene fikirkan juga macem mane suami awak, perasaan Die..."


Izza diam menunduk, dan Cik Muna mengelus pundaknya halus.


"Jadi, kami semua melarang awak datang kemari bile awak tak datang dengan suami awak. " Tegas Pak Cik Zul yang ikut di angguki seluruh keluarga yang hadir.


Izza hanya diam, sampai seluruh anggota keluarga bubar menyisakan keponakan Reihan yang menempati rumah peninggalan orang tua Reihan.


Izza pun pamit untuk ke kamar atas. Sesampainya di sana dia sudah tidak tahan dan langsung menangis dengan membekap mulutnya agar tersamar suaranya.


Dia begitu sedih atas keputusan yang di ambil pihak keluarga Reihan, tapi dia tidak bisa melawannya.


Di pandanginya seluruh bagian kamar itu, yang tetap menjadi tempat penuh kenangan bersama Reihan.


Melihat ponselnya berdering, Izza menghentikan tangisnya dan menetralkan suaranya. Hingga dering ke tiga baru dia berani mengangkatnya.


"Hallo Assalamualaikum.. Sayang.. "


Suara Arlan menggema di dalam panggilan.


"Waalaikum salam Ar.. " Jawabnya kemudian sambil menetralkan suaranya


"Kamu menangis sayang .. ? "


Di tanya seperti itu justru membuat air matanya mengalir dengan derasnya.


"Enggak.. " Elaknya.


"Aku tau kamu menangis, Ada apa. ?" tanya Arlan lembut .


"Zaa... "


Izza sudah tidak sanggup lagi menahannya hingga tergugu dengan tetap memegang ponselnya seolah sedang membagi kesedihannya dengan Arlan.


Arlan juga diam, mendengar tangis istrinya juga membuatnya sedih. Tapi dia tidak ingin memaksa, biarlah nanti dengan sendirinya istrinya mau bercerita.


Dia hanya berusaha membuat Izza nyaman bersamanya. Bisa menjadi tempat ternyaman untuknya.


Itu yang utama saat ini. Setidaknya sampai wanita itu menyadari kalau Arlan bisa mencintainya sebesar Reihan mencintainya suatu masa dulu.


"Pulanglah.. aku akan memeluk mu nanti, dan kamu bisa berbagi kesedihanmu bersama ku.. "

__ADS_1


__ADS_2