CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Kesepakatan Terselubung


__ADS_3

Semalaman Arlan tidak bisa tidur memikirkan Izza dan Izza. Serasa ada yang mengganjal dan ingin menyelesaikannya, akhirnya dia memutuskan menemui wanita itu.


Dengan mata kuyu, dia melangkah ke toko yang kemarin dia kunjungi. Tapi tanda "Close" di pintu kaca itu langsung membuatnya mematung.


Dia melangkah ke toko sebelahnya, tepatnya tempat loundry.


"Permisi bu... mau tanya, toko bunga sebelah kok tutup ya bu.. ?" Tanyanya pada ibu-ibu yang sedang menimbang baju.


"Ini hari liburnya mas. Toko bunga itu tutup tiap hari jum'at.. " Terang ibu itu.


"Ohh begitu... kalau begitu, permisi dan terima kasih bu.. " Pamitnya.


"Sama-sama... " Ibu itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Arlan kembali ke mobil, mendesah pelan. Kenapa takdir seolah mempermainkannya. Kemarin baru bertemu, dan sekarang saat dia berniat menemui Izza, justru tokonya tutup.


Beberapa menit hanya diam di mobil, akhirnya dia menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit.


Fikiran yang berkecamuk juga semalaman tidak tidur membuat dia kurang konsentrasi.


Suster yang membantunya berkali-kali menegurnya.


"Dokter Arlan.. apa dokter baik-baik saja.. ?" Tanya Nina, suster jaga yang membantunya hari ini.


"Ohh saya tidak apa-apa Nin.. " Arlan mulai melangkah keluar ruangan prakteknya.


Sedari pagi dia belum sarapan, kepalanya sedikit pusing. Baru saja beberapa langkah berjalan. Seseorang menubruknya dari belakang.


"Apa yang kamu lakulan Fa.. ini rumah sakit.. !!" Bentaknya kesal lalu melepas kasar tangan Syifa yang memeluknya erat dari belakang.


"Aku merindulanmu Ar.. " Rengek Syifa manja.


Arlan justru kesal, membuang pandangannya ke arah lain.


"Dimana etika dan sopan santunmu Fa.. " Lirihnya lalu mulai melangkah meninggalkan Syifa yang terdiam mematung.


"Arlan... !" Syifa berlari mengejarnya


.Dan dapat, tangan Arlan berhasil dia raih.


Arlan menghentikan langkahnya, menatap jengah ke arah tunangannya itu.


"Lepas... " hempasnya kasar lalu pergi lagi.


Syifa terdiam, matanya memerah. Dia memutuskan berbalik dan pulang.


Dia akan mengadu pada orang tua Arlan atas perlakuan kasar Arlan padanya.


Keesokannya, Arlan datang lagi ke toko itu. Seketika senyumnya mengembang saat melihat toko itu buka . Dia melangkah pasti ke dalam.


"Selamat datang kak.. ada yang bisa kami bantu.. " Sapa Nuri ramah.


Tapi seketika senyum hangat itu sirna saat menyadari siapa yang datang.


"Ohhh kakak yang kemarin ya... bagaimana kak, jadi beli mawarnya.. ??" Rupanya Nuri masih mengenali baik pelanggan yang kabur tempo hari.

__ADS_1


"Ehh maaf mbak, saya ada perlu lain.. " Arlan tampak mengedarkan pandangannya mencari sosok Izza.


"Maksutnya gimana kak.. ?" Nuri mulai waspada saat menyadari orang di depannya itu tampak menatap tiap sudut toko itu.


"Gini mbak.. saya mau ketemu Izza. Apa dia ada.. ?"


Nuri mengerutkan keningnya heran,


"Memangnya kakak siapanya.. ?"


Arlan gelagapan, apa yang akan di jawab.


"Saaya.. teman lama nya dari jawa.. "


Nuri semakin menelisik jauh ke arah Arlan.


"Teman lama.. ? tapi kemarin mbak Za bilang tidak mengenalnya. " batin Nuri.


"Maaf kak, Mbak Za sedang cuti pulang ke Batam.. "


Arlan langsung lemas, menghela nafas pelan.


"Berapa lama mbak. . ?"


"Saya tidak tau, kadang 3 hari kadang satu minggu.. " Jawab Nuri asal.


"Lalu siapa yang mengurus toko ini.. ?" Selidik Arlan.


"Maaf kak.. saya sibuk, ada banyak pekerjaan yang lain.. " Ucap Nuri ketus.


Nuri semakin curiga kalau lelaki di hadapannya itu ada niat tidak baik.


Kalau di lihat memang cukup keren, cukup tampan, tampilan ok. Tapi hati orang siapa yang tahu.


"Maaf kak, saya tidak bisa memberi nomer telpon sembarangan pada orang yang tidak saya kenal. Apalagi untuk urusan yang tidak ada kaitannya pada toko kami.. permisi.. " Nuri melangkah ke bagian lain, menyapa pelanggan yang baru datang.


Arlan mendesah pelan. Dia sudah salah set. Tidak seharusnya dia melakukan itu, yang ada orang akan curiga padanya. Akhirnya di memutuskan kembali ke rumah sakit.


Sorenya sebelum pulang kerja. Arlan mulai memikirkan sebuah ide.


"Nina.. " Panggilnya pada suster yang membantunya.


"Iya dok, ada yang bisa saya bantu.. ?" Nina tampak siap sedia dan cekatan orangnya.


"Emmm... saya memang butuh bantuan mu Nin, tapi tidak untuk urusan kerja. Ada hal lain..


Apa kamu mau membantu saya


..?" Arlan sungguh berharap Nina mau membantunya kali ini.


Dia tidak akan menyerah sekarang, sebelum semuanya jelas.


"Bantuan apa dok.. ?" Nina tampak heran dan sedikit bingung.


"Kita selesaikan pekerjaan kita dulu. Nanti saya jelaskan di mobil. Nanti saya antar kamu pulang.. ok.. "

__ADS_1


Arlan langsung menuju ruangannya. Sedang Nina diam mematung bingung.


.


Di mobil.


Arlan melajukan mobilnya menuju toko bunga milik Izza. Toko itu tentu sudah tutup, karna hari sudah hampir gelap.


Sesampainya di sana, Arlan menghentikan mobilnya.


"Begini Nin.. saya mau minta tolong. Besok pagi kamu kesana.. " tunjuknya pada toko bernama Reyza Flowers.


"Minta kan nomer telpon pemilik tokonya.. "


Nina tampak melihat toko itu, lalu menatap Arlan.


" Saya mohon Nin, tolong saya kali ini.. ok sebagai imbalannya saya akan traktir makan siang kamu satu minggu.. " Bujuk Arlan.


Nina tampak berfikir, cukup lama.


"Boleh saya tahu alasannya Dok, kenapa anda begitu ingin mendapatkan nomer pemilik toko itu.. " Ucap Nina kemudian.


"Saya tidak mau menanggung resiko Dok.. Bagaimana jika Dokter punya niat yang tidak baik pada pemilik toko itu.. " imbuhnya.


"Astaga Nina... apa tampang saya ini seperti penjahat.. ??" Arlan mengurut keningnya pusing.


Nina tampak melongo, memang Arlan tidak cocok jika jadi penjahat. Dia tertawa jahat.


"Saya hanya tidak mau menanggung resiko Dok... "


Arlan menghela nafasnya pelan.


"Begini Nin, wanita itu adalah wanita yang saya cari selama ini.. " Akhirnya dia memilih jujur, agar Nina tidak salah paham .


"Dia menghilang seperti di telan bumi, tidak pernah menghubungi saya (padahal memang tidak mungkin kan Izza mau menghubunginya) . Hilang begitu saja. Selama lebih dari setahun saya mencarinya kesana kesini.. dan ternyata dia di situ sekarang, tapi tetap susah untuk saya hubungi atau temui.. " Ucap Arlan mendramatisi beberapa kata agar Nina menghiba.


"Lalu Dokter Syifa itu.. ?" Nina justru semakin mengorek.


Arlan mendesah kesal, tapi berusaha sabar.


"Syifa memang tunangan saya.. tapi kami di jodohkan.. " Sambung Arlan.


"Ohh pantas saja, Dokter tidak pernah bersikap manis padanya... " Nina justru terkikik geli.


"Kembali ke permasalahan ini Nin. Lupakan Syifa.. jadi kamu mau kan bantu saya...? " tanya Arlan memastikan.


"Begini Dok. . traktirannya di ganti uang aja. . saya takut pacar saya cemburu kalau dia tahu saya makan siang terus sama dokter.. " Yaa... Nina tampak mulai nengeluarkan kepiawaiannya bernegosiasi.


"Boleh.. saya ganti dengan uang satu juta.. " Ucap Arlan mantap.


Tapi Nina menggeleng dan langsung memberi jode dengan jarinya .


"Kamu ternyata matre Nin.. " Lirih Arlan.


Nina tertawa, setidaknya dia tidak mau rugi waktu. Dan jika ada apa-apa cukuplah uang itu untuk dia pakai kabur pulang kampung.

__ADS_1


"Baiklah.. saya setuju. . "


__ADS_2