
Arlan memilih keluar saat Nuri dan Juan datang kembali menjenguk Izza. Ada hawa panas saat mendengar Nuri menyebut Kevin menghubungi Izza berkali-kali.
Apa aku sudah gila..
Aku ga mungkin cemburu..
sepanjang aku memiliki hubungan tidak pernah aku cemburu seperti ini..
Di helanya nafas panjang. Ponselnya berkali-kali bergetar. Mamanya tetap menghubunginya. Tapi dia sedang malas berdebat.
"Dokter.. ada pasien di UGD.. " Ucap seorang suster.
Arlan mengangguk dan bergegas ke UGD. Pasien kecelakaan motor . Cukup parah. Dan dia pun segera menolongnya, di bantu oleh para perawat.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dan kembali ke ruangannya. Di teguknya air putih untuk membasahi lehernya yang kering.
"Dok.. pasien 05 bertanya, apa sudah boleh pulang..? " Tanya seorang suster.
"Kita kesana dulu... " Arlan berjalan lebih dulu di ikuti suster.
"Permisi..." sapa sang suster.
Arlan mendekat, meletakkan alat untuk memeriksa Izza. Dia juga menyentuh pergelangan tangan Izza. Membalikkannya, Terdapat bekas guratan di sana.
Izza yang menyadari arti tatapan Arlan segera menarik tangannya. Tatapan Arlan seolah sedang mengintrogasinya dengan apa yang pernah dia lakukan dulu.
"Kamu sudah boleh pulang.. pastikan makan, dan minum obatnya teratur .. Saya permisi .. " Arlan bergegas keluar lebih dulu .
"Mau pulang sekarang atau nanti mbak.. ?" Tanya si suster.
"Sekarang Sus.. "
"Baik saya bantu melepas infusnya ya .. " Suster dengan cekatan mencopot jarum infus yang tertanam di salah satu punggung tangan Izza.
"Alhamdulillah mbak... aku bantuin yuk mbak... " Nuri mendekat mencoba membantu Izza turun.
"Mbak Izza.. bisa langsung pulang.. masalah Administrasi sudah di bayarkan sejak tadi. ." Ucap suster itu sebelum pamit ikut keluar menyusul Arlan
"Siapa yang bayar mbak.. ?" Juan ikut membereskan buah yang ada di meja.
"Mungkin dokter Arlan.. " Nuri membantu Izza yang skan berjalan ke kamar mandi.
Izza hanya diam, memilih bergegas ke kamar mandi mengganti bajunya.
Tak lama bertiga mereka menaiki taksi menuju rumah Izza.
"Kalian pulang lah.. tidak usah khawatir. mbak baik-baik saja.. "
"Mbak Yakin..?" Nuri masih tidak tega.
"Iya.. taksi biar mbak yang bayar. buah kamu bawa pulang saja Juan.. sampai ketemu besok di toko ya.. " Izza turun serelah mengulurkan uang pada supir taksi.
.
Malam yang terasa sunyi di rumah mungil yang Izza kontrak. Sedang dia merenung, ponselnya berbunyi.
"Hallo Assalualaikum... " Sapanya seceria mungkin.
"Waalaikum salam.. akak sehat ke.. ? mama call sejak pagi tak de jawab. Mama risau ngan akak.. ?"
"Kakak sehat mama.. ga usah khawatir.. "
__ADS_1
"Syukurlah.. terus tadi akak pegi mane.. ? mama call tak nak jawab.. ?"
Izza mulai berfikir memcari alasan yang tidak membuat mamanya curiga.
"Ahh kakak tadi ke rumah sakit Ma.. jenguk temen kakak yang sakit.. HP nya ketinggalan di toko.. "
"Ohhh macam tu. dah makan ke.. ? akak makin kurus. . kalau rase tak mampu akak cari pekerje baru. Mama tak mau akak terlalu penat sangat kat sane.. "
"Mama ga usah khawatir.. sebenarnya Izza makan banyak. Tapi ga tau kenapa susah gemuk hehe... "
"Agaknya kakak perlukan seseorang di sisis akak.. biar hidup sikit bersemangat.. "
"Ma... aku sedang berusaha... " Ucapnya menghibur mamanya.
"Mama sentiase do'akan akak.. soga lekas di pertemukan hodoh yang baik.. dan lekas memberi mama cucu.. "
Izza hanya tersenyum kaku. Mengiyakan apa yang mamanya inginkan dan tak lama sambungan berakhir.
Bagaimana aku bisa menikah lagi bang..
Jika bagiku menikah itu cukup sekali saja dalam hidupku..
Cukup kamu yang jadi Suamiku..
Tapi bagaimana dengan permintaan mama.. ?
Pagi datang kembali di kota Pekan Baru. Izza kembali bersemangat menuju tokonya dengan berjalan kaki.
Jarak toko dan kontrakannya tidak begiti jauh. Setiap hari dia memilih berjalan kaki.
Nuri dan Juan belum datang, dia lebih memilih datang awal untuk membuka tokonya. Baru dia masuk dan menyimpan tas pintu toko berbunyi yang menandakan ada orang telah masuk.
Karna tidak mendengar jawaban, dia langsung keluar dari ruangannya.
"Arlan.. " lirihnya.
Lelaki berkemeja biru itu menoleh, tersenyum mengangkat bungkusan di tangannya.
"Kamu ngapain kesini.. ? pagi-pagi.. ?"
"Aku boring sarapan sendirian .. ayo temani aku.. " Arlan menarik sebuah kursi membuka sarapan di sana.
"Aku sudah sarapan.. " Izza menuju dispenser mengambil air hangat.
"Bohong.. !"
Izza langsung menoleh kearah Arlan.
Lelaki ini, apa senenarnya maunya.
"Emang kamu ga punya teman buat kamu ajak sarapan bareng..? "
"Ga ada.. aku kan baru di kota ini.. Ayolah... Apa kamu berniat membunuh dirimu pelan-pelan lagi.. " Santai Arlan berucap sambil menyeruput kopinya.
"Aku tidak seperti itu.. !" Izza melotot sebal.
"Ohh ya.. lalu bekas guratan apa di pergelangan tanganmu itu.. " Arlan tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan urusanmu..! "
Izza memilih masuk kembali ke ruangannya, menyibukkan diri dengan laporan pendapatan toko kemarin.
__ADS_1
Cukup lama tak terdengar suara Arlan, membuat Izza penasaran.
"Apa dia sudah pergi.. ?" Gumannya sendiri.
Perlahan dia membuka kembali pintu ruangannya. Berjalan ke depan toko.Dan sungguh pemandangan yang di lihat membuatnya tercengang.
Juan, Nuri dan Arlan sedang sarapan di luar toko. Mereka mengangkat meja lipat dari dalam. dan duduk bertiga sambil bercanda menikmati sarapan.
Izza membuang nafas kasar, memilih kembali ke ruangannya.
Sejak kapan Nuri dan Juan dekat dengannya.. ?
Tok tok tok
"Ya.. " Jawab Izza dari dalam.
"Mbak Za.. ini sarapannya. sarapan dulu.. minum obatnya.. " Nuri membawakan kotak berisi bubur dan meletakkan di meja Izza.
"Saya sudah sarapan.. " Tolak Izza.
"Aku tahu mbak belum sarapan. ayolah mbak sarapan..
Mbak ga kasian ama kami kalau mbak kenapa-kenapa kayak kemarin.
Bagaimana lah Nasib aku sama Juan nantinya.. ?" Nuri memasang wajah Iba nya.
"Baiklah.. nanti mbak makan.. "
"Sekarang... ! aku mau mastiin mbak beneran makan dan minum obatnya.. " . Tegas Nuri.
Izza menghela nafas pelan, membuka penutup bubur itu dan mulai menyuapnya. Buburnya sudah agak dingin. Tapi cukup enak.
"Apa kamu mau nunggu mbak ngabisin ini Nuri.. ?"
"Iya mbak.. " Nuri menarik kursi untuk duduk sambil memainkan ponselnya.
"Apa Arlan yang menyuruhmu seperti ini.. ?" Selidik Izza.
"enggak.. " Polos Nuri menjawab.
"Dokter Arlan hanya menyuruh saya memberikan bubur itu pada mbak.."
"Apa dia sudah pergi.. ?" Ragu-ragu Izza bertanya.
Nuri mengangguk cepat sambil tersenyum.
"Dia sudah pergi karna udah jam kerjanya mbak .. ahh.. aku jadi nyesel dulu nuduh dia orang jahat. Ternyata dokter Arlan baik orangnya , ganteng, humoris.. udah gitu kerjanya jadi Dokter lagi..
Aku jadi ngefans mbak sama dokter Arlan.. " Puji Nuri sambil tersenyum sendiri.
Izza hanya menggelengkan kepalanya. Segera meminum obat dan menghabiskan buburnya.
"Kamu baru mengenalnya Nuri.. "
"Tapi aku cukup tau mbak. kalau dia juga seksi mbak.. gagah.. waw gitu kayaknya....haha... "
"Ganjen kamu ni Nur.. Otak kamu perlu di cuci... " Izza menutup kotak bubur yang sudah habis itu dan meminum air hingga tandas.
"Aku rela mbak.. iklas kalau jadi istrinya... " Nuri nenangkupkan kedua tangannya.
Izza hanya menggeleng, Nuri memang agak gesrek. Centil. Tapi di balik itu sangat cekatan dalam bekerja. Itu yang di sukai Izza. Tokonya terasa hidup suasananya sejak kedatangan Nuri.
__ADS_1