
"Uhhh segarnya... !!" Nuri menyedot boba yang di beli Kevin untuknya dengan penuh nikmat.
Kevin hanya menarik bibirnya tipis memperhatikan Nuri yang masih asik dengan bobanya.
"Makasih ya kak.. "
Kevin mengangguk lalu berdiri dari kursi.
"Mau kemana kak.. ?"
"Pulang.. kamu mau tinggal di sini .. ?"
Nuri buru-buru berdiri mengekor di belakang Kevin. Keduanya mulai menjauh dari arena permainan.
"Mau makan dulu.. ?" Tawar Kevin sambil membuka buku menu di depan sebuIah restoran.
"Silahkan mas.. mau take a way atau makan di sini.. ?" Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Makan sini mbak.. "
"Mari mas... " pelayan langsung masuk dan Kevin kembali menarik tangan Nuri mengajaknya serta.
Mereka di tunjukan meja untuk mereka, bersebelahan dengan sepasang wanita yang sedang makan juga.
Kevin berhenti sebentar karna terkejut, dia langsung melepas cekalan tangannya pada Nuri. Kemudian kembali melangkah menuju mejanya.
"Kevin... !!" Salah satu dari wanita itu terlihat juga terkejut dan dia langsung berdiri.
Nuri menoleh ke arah wanita cantik bermata sipit dengan rambut ikal pirangnya. Wanita itu berjalan mendekat ke arah meja mereka.
"Apa kabar Kev.. kamu di sini.. ?" Terlihat si wanita terus memperhatikan Nuri dari atas sampai bawah, lalu tersenyum miring.
Nuri segera mendudukkan badannya berhadapan dengan Kevin.
"Aku baik Key.. . "
Si wanita sipit langsung menarik kursi di dekat Kevin. Mengacuhkan keberadaan Nuri di situ.
"Berapa nomer hape mu sekarang.. ?" Terlihat dia menyodorkan ponselnya.
Kevin langsung menulis nomernya dan mengembalikan pada pemiliknya.
"Ok.. aku call nanti ya.. " Wanita itu langsung berdiri saat melihat Kevin mengangguk.
"Sampai jumpa lagi Kev... " Ciuman dari Wanita yang di panggil Key itu mendarat mulus di pipi Kevin sebelum pergi.
Nuri memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Dia merasa lelaki ini begitu jauh dari jangkauannya.
Tak lama pelayan datang dan mereka memesan makanannya. Kevin sesekali melihat ke arah wajah Nuri. Tapi gadis itu masih diam saja. Fokus pada ponselnya.
apa dia sedang berbalas pesan, tapi dengan siapa..
Nuri terus memandangi layar ponselnya. Tanpa sepengetahuan Kevin, sedari tadi dia mencuri gambar Kevin dalam kesempatan apapun saat mereka berada di wahana permainan.
__ADS_1
Setidaknya aku masih punya kenangan bersamamu kak..
.
Pukul 8 malam, Dengan memakai taksi Kevin menghantar Nuri pulang.
"Kenapa kamu jadi pendiam tiba-tiba.. ?"
"Ehhh.. biasa aja kak.. " Elak Nuri sambil menatap jalanan malam yang mulai terlihat kerlipnya .
"Ohh ya... ?"
"Iya kak.. aku hanya sedikit lelah.. "
"Apa kamu tudak ingin menanyakan sesuatu.. ??" Pancung Kevin.
Nuri memandang Kevin sambil mengerutkan keningnya, lalu mwnggeleng pelan.
Kevin terus memperhatikan raut wajah Nuri dari samping. Lalu menarik bibirnya tipis .
Sepanjang perjalanan kembali di isi kesunyian, hanya suara dari radio yang di buka sang sopir taksi yang menggema.
Lagu Kenangan terindah milik seorang band kenamaan menemani perjalanan mereka.
"Berhenti pak.. !" Nuri menyelempangkan tas nya dan menoleh ke kevin.
"Rumahmu yang mana.. ?" Kevin memperhatikan lingkungan sekitar
"Ahh iya.. perlu aku hantar sampai rumah .. ?"
"Ga perlu kak... " Tolak Nuri, lalu membuka pintu.
"Nuri.. "
"Yaa kak.. " Nuri yang baru menurunkan satu kakinya langsung menoleh ke arah ke Kevin.
"Sampai jumpa lagi.. besok aku akan kembali ke Batam.. "
Nuri menatap nanar lelaki di depannya itu tapi kemudian tersenyum lebar.
"Hati-hati ya kak... sampai jumpa.. "
"iya.. terima kasih.. " Kevin tersenyum melepas Nuri turun dari taksi.
Nuri melambai dan melempar senyumnya sebelum balik badan dan mulai melangkah pergi.
.
"Assalamualikum Nek.. "
"Waalaikum salam.."
Nuri masuk mencium tangan neneknya.
__ADS_1
"Kamu dari mana..? Tadi Wahyu kesini nyari kamu.. "
"Aku pergi dengan Kak Kevin Nek.. "
Nenek mengerutkan keningnya, Wanita sepuh itu mengambilkan air putih dan memberikanya pada Nuri yang sedang duduk menyangga kepalanya di sofa.
"Terima kasih Nek.. "
Nuri menerimanya lalu meminum hingga tandas.
"Kamu menyukainya..? " Tanya Nenek.
"Nenek sok tahu... " Elak Nuri sambil meletakkan kembali gelas ke meja.
"Nenek hanya menebak... "
Nuri menatap langit-langit rumah petak yang sudah dia dan nenek tempati sejak dulu.Rumah peninggalan kakeknya.
"Dia itu, punya mata sipit.. baik, ramah, juga.. Ahh, dia terlalu sempurna Nek.. "
Nenek tersenyum mengusap rambut cucu semata wayangnya, Satu-satunya yang dia punya sepeninggal anaknya.
"Kamu menyukainya.. ?"
Nuri menoleh, menatap wajah nenek.
"Aku hanya mengaguminya nek.. "
"Bukankah dia lelaki yang menegur pakaian mu kemarin..? "
"Iya nek... Hari ini dia bahkan membantuku di toko.. Dan setelahnya mengajak ku jalan ke arena permainan..."
Nenek tersenyum melihat wajah sumringah cucunya itu.
"Kamu bisa menghentikan keinginan Wahyu, Nuri.. kita jual saja rumah ini untuk membayar hutang-hutang pada Wahyu.. dan kamu bisa bersama lelaki sipit itu.. "
"Tidak Nek.....!" Nuri meraih tangan neneknya
"Rumah ini peninggalan kakek.. masalah Wahyu, aku kan sudah menyanggupinya sejak awal.. "
"Tapi nenek tidak mau mengorbankan masa depan mu Nuri.. " Nenek terlihat mulai meneteskan air matanya.
"Aku tidak masalah Nek.. Lagi pula ini sudah jadi keputusanku .. " Nuri mengusap air mata di pipi neneknya.
Nenek tergugu memeluk cucunya.
"Ini salah nenek....!"
"Nenek ga salah apa-apa.. " Nuri mengusap bahu neneknya agar lebih tenang. Di helanya nafas panjang sebelum menengadahkan wajahnya ke atas agar tak ikut menangis.
Maafkan keterlambatan Update nya ya permirsah. Cece L. E lagi sibuk banget sama dunia nyata..
😸😸😸😸😸
__ADS_1