CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Jenika


__ADS_3

Hari sudah hampir menggelap, Arlan rasanya malas untuk pulang karna merasa sendirian di rumah. Ibu dan Ayah sudah pindah ke rumah mbak Vita di Batam.


Dengan langkah pelan dia mengemas barangnya dan beranjak keluar ruangan. Sapaan perawat yang bertugas hanya di jawab dengan anggukan dan senyuman.


"Selamat sore Dok.. ?" Sapa seseorang menggunakan jas warna putih. Memakai dress bunga sakura selutut dan rambut terikat rapi.


Arlan mengerutkan keningnya, karna merasa tidak mengenali wanita itu.


"Sore... "


"Perkenalkan saya Jenika, dokter pengganti bagian kandungan.. " Wanita itu tersenyum ramah mengulurkan tangannya.


"Oh, pengganti dokter Vina ya.. ?" dia pun membalas uluran tangan rekan sejawatnya yang baru.


"Iya Dok.. "


"Senang bertemu anda, semoga betah ya.. " ucapnya sambil tersenyum ramah.


"Iya dok.." Jenika tersenyum grogi setelah melihat senyuman Arlan. Dia di buat terkesima pada pandangan pertama.


"Kalo begitu saya permisi dulu, jam saya sudah habis . Mari dokter..." Pamit Arlan sambil melangkah mulai menjauh ke arah parkir.


Jenika memegang dadanya yang berdebar kencang sedari tadi.


"Stt... ternyata tampan sekali kalo tersenyum.."


Ucapnya bermonolog, lalu beranjak pergi menuju ruangannya.


.


"Kangen banget sama kamu sayang.. "


Itu adalah pesan yang baru di kirim Arlan beberapa menit yang lalu.


Hati Izza berbunga-bunga karna merasa di cintai. Tapi dia eggan membalasnya.


Dia memilih mengambil baju Arlan yang ada di lemarinya, mengendusnya dan memeluknya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


.


Sebulan berlalu, semua masih sama. Kesibukan Arlan membuat dia belum bisa meluangkan waktu memjenguk istrinya . Badannya pun sedikit kurus karna tidak terurus.


"Dokter, mari makan siang bersama.. " Ajak Jenika yang menghampiri Arlan di ruangannya.


Arlan yang sedang fokus melihat ponsel pun terkejut.


"Sudah jam makan siang ya.. " Melirik ke arah jam tangannya.


"haha... ini sudah jam 12 dok.. " Jenika melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum hangat memperhatikan Arlan.


"Ah, baiklah. Mari kita makan siang.. " Arlan bangun melepas jas putihnya dan meraih kunci mobilnya.


Sejak kedatangan Jenika, Arlan sedikit terbantu karna ada yang mengingatkan atau mengajaknya makan siang. Sehingga timbul desas desus yang keduanya tengah rapat dan menjalin hubungan.


Arlan tidak menanggapi isu itu, karna memang niatanya hanya sekedar berteman. Dan Jenika juga dokter yang kompeten dan enak di ajak mengobrol, bahkan tak jarang mereka juga lembur bersama.


"Dok, saya kok ga pernah liat istri Dokter datang ke rumah sakit ya... " Ujarnya Kepo. Sebulan berlalu, dia begitu penasaran pada sesosok istri Arlan yang katanya sangat cantik dan anggun menurut para perawat .


Arlan tersenyum,menelan kunyahannya.


"Kalian LDR donk.. ?" Jenika antusias ingin tahu lebih dalam.


Arlan tau, rumah tangganya sedang bermasalah. Tapi dia tidak mau menceritakan masalah rumah tangganya pada orang luar. Meskipun itu teman sedekat Jenika.


Menurutnya, cukup dia dan keluarganya yang tau. Dia juga takut, jika nantinya akan timbul masalah baru , jika dia membagi masalahnya pada orang lain.


"Dia sedang di rumah orang tuanya . Hamil muda membuat Moodnya sedikit tidak setabil dan ingin selalu dekat orang tuanya.. " kilah Arlan.


Jenika mengerutkan keningnya heran.


"Biasanya orang hamil muda malah manja-manjaan sama suaminya. Kok ini malah sama orang tua.. "


Arlan tergagap, bingung menjawab ucapan Jenika.


"Iya, mungkin bawaan calon anak kami. karna dia memang begitu rapat dengan papanya. "

__ADS_1


Jenika mengangguk pelan. Alasan yang bisa di terima.


"LDRan apa bisa menjamin kesetiaan.. ?" Pancing Jenika.


Arlan menghentikan kunyahannya dan meneguk jeruk hangat untuk membasahi kerongkonganya setelah mendengar ucapan menohok Jenika.


"Apa dokter yakin, dia akan setia saat jauh dari dokter... ? Apa dokter juga tau, mungkin saja sekarang dia sedang jalan bersama orang lain. Maaf, bukan maksut mempengaruhi Dokter. Tapi yang namanya LDR kan.. pacaran LDR aja banyak kok yang selingkuh.. " ucapnya santai sambil menyuap makananya kembali.


Hening beberapa saat, Jenika yakin Arlan mulai terprovokasi ucapannya. Terbukti pria tampan itu diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Terima kasih Jenika, sudah mengingatkan saya. Saya jadi tersadar karna ucapan kamu. tidak seharusnya saya juga keluar makan hanya berdua sama kamu. " Arlan berdiri, mengeluarkan dompet dan meletakkan lembar yang di meja.


Jenika terkejut akan tindakan Arlan yang di luar ekspetasinya.


"Loh, dokter mau kemana.. ?"


"Saya duluan Jenika, maaf lain kali jangan menghampiri saya untuk hal di luar pekerjaan.. " Ucapnya sebelum beranjak pergi.


"Dokter.. Dokter Arlan. Tunggu.. " Jenika cepat-cepat meraih tasnya mengejar Arlan.


Arlan berjalan pantas menuju mobilnya, baru dia akan membuka pintu Jenika mencekal tangannya.


"Lepas Jen.. " tatapannya menghujam tajam pada cekalan tangan Jenika.


"Kenapa dokter ninggalin saya, kita kan kesini bareng-bareng tadi.. "


"Kamu bisa naik taksi.. " Dia menghempas tangan Jenika kasar.


"Kok gitu, dokter tersinggung sama ucapan saya tadi. Saya kan cuma mengatakan kemungkinan Dok, saya minta maaf sudah menyinggung dokter.. "


"Tidak perlu meminta maaf Jen, saya sadar. tidak seharusnya saya dekat pada wanita lain selain istri saya. Permisi.. "


Tanpa menghiraukan teriakan atau ketukan tangan Jenika di kaca mobilnya, Arlan memilih pergi meninggalkan restoran itu segera.


Dia menyadari sesuatu yang salah yang sudah dia lakukan. Dia bukan lagi lajang yang bebas dekat dengan siapapun. Hadirnya Jenika mungkin sedikit mengusik rasa kesepiannya karna di tinggal Izza. Tapi ternyata dia terbuai cukup jauh, bahkan tidak mengindahkan kasak kusuk yang merebak di lingkungan kerjanya.


Helaan nafas penuh penyesalan mengiringi langkahnya sekarang.

__ADS_1


"Maafkan kebodohan ku Za... "


__ADS_2