CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Ohh.. Calon Ibu Mertua


__ADS_3

Selesai subuhan, Izza bermaksut turun untuk membantu membuat sarapan. Dia merasa sedikit segan pada orang tua Arlan jika tidak ikut membantu di bawah.


Tapi ternyata,


Izza menatap jam di dinding untuk meyakibkan, baru pukul 6 pagi. Dan meja makan sudah penuh dengan makanan. Rasa hatinya kaget bercampur malu.


Ibu nya Arlan tampak memandang remeh pada Izza yang berhenti pada tengah tangga. Beliau sedang menata aneka lauk di atas meja.


"Selamat pagi tante .. " Sapa Izza kemudian.


"Pagi.. ga biasa masak ya di rumah, jam segini baru bangun.. " Celanya.


"Non.. mau medang apa.. ?" Mbok Mirah langsung menghampiri Izza.


"Biar bikin sendiri mbok.. sampean nyapu halaman aja.. " Ucap Ibunya Arlan.


"Biar aku yang nyapu bu. Mbok, sapunya di mana.. ?" Sela Izza.


"Di belakang Den Ayu.. "


Izza menuju pintu belakang mengikuti mbok Mirah.


Di pakainya sendal jepit dan memegang sapu menuju pohon mangga samping rumah .


"Sampahnya di masukin ke tong itu ya Den Ayu.. " Tunjuk mbok Mirah.


"Iya mbok.. " Izza mulai menyapu dengan pelan.


Sebenarnya dia sangat jarang menyapu halaman dengan sapu lidi. Dan untungnya semasa ikut neneknya di semarang dulu, dia jadi tahu cara menggunakannya.


Saat ada di hujung pagar seorang ibu-ibu menyapanya.

__ADS_1


"Seng resik mbak.. "


"Iya bu.. " Dia berusaha tersenyum ramah.


"Sampean siapanya Bu Lastri.. ?"


"Saya temannya Arlan.. " Jawab Izza tidak enak.


"Permisi dulu bu.. mau melanjutkan nyapunya .. "


"Iya-iya monggo.. " Ibu itu tampak masih memperhatikan Izza .


"Temen kok nginep ya.. ?"


.


Setelah menyelesaikan acara menyapunya. Izza mencuci kaki dan tangan dan masuk dari pintu belakang. Mencari tempat air minum.


"Iya Om.. " Izza melangkah ragu ke arah ruang makan.Arlan belum ada di sana. Dia mendesah kesal sendiri.


Ibu kembali menatap dengan tatapan semalam. Sedang Ayah memang ramah ya tetap ramah.


"Arlan belum bangun Za, baru tidur habis subuh tadi. Kami mengobrol sepanjang malam.." Terang Ayah sambil mengunyah makanannya.


Izza hanya ber'oh pelan, dan mulai membuka piringnya. Menu sarapan di rumah orang tua Arlan sudah beraneka macam seperti lauk siang.


Izza mengambil sedikit saja nasi dan lauk, dia tidak biasa sarapan dengan lauk lengkap.


Setelah selesai sarapan dan membantu membereskan, Izza berjalan ke arah samping kiri rumah. Rupanya ada kolam dan Gazebo .


"Den Ayu, kalau perlu apa-apa bikin sendiri aja ya, mbok mau belanja.. " Pamit Mbok Mirah menenteng tas belanjaan.

__ADS_1


"Iya mbok.. "


Dia memilih duduk membuka ponselnya. Ini sudah jam 9 pagi,dan Arlan belum juga bangun.


Ibu yang tiba-tiba datang membuat Izza kaget, hingga tidak sempat mengirim pesan untuk Kevin.


"Apa kamu merasa kamu lebih baik dari Syifa, sampai kamu berani melangkah sejauh ini.. ?"


"Aku ga pernah merasa begitu bu.. "


Izza berusaha bicara selembut mungkin.


"Sampai kapanpun, saya ga akan mau nerima kamu jadi menantu keluarga ini.. !"


Ibu mensidekapkan tangannya di depan dada, menatap sinis ke arah Izza yang hanya bertampang datar.


"Syifa jauh lebih pantas dari pada kamu yang hanya seorang janda.. !" Imbuhnya dan berlalu dari hadapan Izza.


Memangnya siapa yang ngebet jadi menantu mu bu, Anakmu sendiri yang sudah gila.


Dan memangnya apa salah ku jika aku janda.


Ingin sekali rasanya Izza melontarkan kata-kata itu. Tapi hanya mampu sebatas di dalam hati. Bagaimana pun ibunya Arlan lebih tua dan patut di hormati.


"Arlan.. bangun kamu.. !


5 menit kamu ga bangun , aku pulang.. !"


Ucapnya di pesan suara meluapkan kekesalannya.


Tak lama Arlan menjawabnya lewat pesan tulis.

__ADS_1


"Iya sayang.. "


__ADS_2