CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Ke Galauan Arlan


__ADS_3

Hujan datang dengan derasnya siang ini. Setelah sholat Dzuhur, izza duduk termenung menghadap jendela masih dengan mukenanya.


Tempat Sholat berada di dekat ruangannya. Yang menghadap langsung ke jalan depan. Dengan jendela minimalis.


Reihan..


Masih nama itu yang menghuni kepalanya sampai saat ini. Izza termenung saat di depan toko mereka lewat seorang lelaki menggendong anak perempuan berusia 2 tahun, sedang sang istri memegang lengannya erat. Mereka berada di bawah payung yang sama.


Bahagianya jika itu kita. .


Tak terasa air matanya kembali menetes. Segera di usapnya saat pintu ruangan di ketuk.


"Mbak ada pak Dokter di luar.. " Ucap Nuri.


"Mau apa.. ?"


"ga tau.. " Nuri mengangkat bahunya lalu kembali menutup pintu.


Izza sungguh malas bertemu lelaki itu. Tapi tidak enak dengan pekerjanya.


Dia segera mengganti mukenanya dengan krudung dan menyematkan pin di dagunya. Dia sedikit memakai bedak agar tak pucat juga lipcream warna nude.


Setelahnya dia keluar, menutup pintu perlahan dan mengawasi sekitar. Tanda Close terpasang di pintu depan yang maknanya Juan dan Nuri pergi makan siang.


Sedang di sana, di sofa duduk santai seorang lelaki dengan kemeja warna merah marron. Sekilas Izza seperti melihat sosok Reihan yang duduk di sana, bukan Arlan.


"Reihan.. " ucapnya.


Arlan mengangkat wajahnya menatap Izza dengan mengerutkan keningnya.


"Aku bukan Reihan.. aku Arlan.. "


Izza langsung menggeleng- gelengkan kepalanya sambil menutup matanya. Dan ternyata memang benar. Itu Arlan, bukan Reihan. Baju mereka saja yang sama.


"Maaf.. "


Arlan tersenyum miring, meletakkan majalah yang dia baca tadi dan berdiri. Merapikan pakaiannya dan berjalan mendekati Izza.


Izza langsung mundur saat Arlan semakin mendekat. Tapi Arlan semakin maju saja. Hingga Izza terhalang tembok di belakangnya.


"Arlan.. apa yang kamu lakukan.. !" Izza memejamkan matanya dan memasang kedua tangannya di depan dada.


Arlan sudah berdiri di depan Izza, mengusap bibir wanita itu dan tersenyum miring.

__ADS_1


"Kamu bermake-up.. apa karna aku datang.. ?"


Izza langsung membuka matanya,mendorong tubuh Arlan yang justru tak bergerak sama sekali. Dengan wajah kesalnya dia kembali mendorong, tapi justru Arlan sedikit menempel padanya.


"Arr.. arlan.. " Di tahannya nafasnya, keringat dingin mulai datang. Dia langsung teringat bayangan masa lalunya. Saat Adi menggeretnya paksa. Mencium bibirnya kasar.


Izza langsung jatuh pingsan dan Arlan langsung menangkap tubuhnya.


"Izza.. Izza.. bangun.. hei.. Izza.. " Arlan berusaha menyadarkan Izza dengan menepuk pipinya. Tapi Izza tetap tidak sadar.


Perlahan dia mengangkat tubuh kurus itu dan membawanya ke sofa, di periksanya nadi nya, juga matanya .


"Kenapa dia pingsan.. ada masa lalu kelam yang membuatnya trauma.. " Arlan mengelap kringat di dahi Izza.


Dia berdiri, memasuki ruangan Izza mencari sesuatu yang bisa membantu Izza sadar. Dan matanya menangkap botol minyak angin kecil di dekat telpon. Baru dia akan berbalik, kembali dia memandang sebelah tempat botol itu.


Sebuah foto pernikahan dalam ukuran 3R. Izza yang tersenyum bahagia di gandeng seorang lelaki yang memakai baju serupa dengannya. Izza sungguh cantik dalam foto itu, wajahnya berbinar bahagia, tidak seperti sekarang.Kurus dan kuyu.


Arlan mengangkat bingkai itu, memperhatikan orang di sebelah Izza yang dia yakini bernama Reihan. Cukup tampan dan tinggi. Berperawakan sedikit gelap tapi juga tegap. Serasi dengan Izza yang tampak bohai saat itu.


"Apa aku boleh meminta istrimu untukku Reihan.. "


Arlan meletakkan bingkai itu kembali dan berjalan keluar menuju sofa. Di usapnya minyak angin di jarinya dan di dekatkan di bawah hidung Izza, juga kepalanya.


"Apa kamu pernah trauma pada sesuatu. ?" Arlan mengambilkan air dan memberikan pada Izza.


"Tidak.. " Izza mengambil gelas itu dan meminumnya separuh.


"Kamu sangat susah terbuka Izza.. padahal itu membuat beban di kepalamu semakin berat .. "


"Sudahlah.. itu bukan urusanmu.. "


Arlan menoleh ke arah Izza, lalu duduk di sofa yang sama tapi berjarak.


"Mau makan bersamaku .. ?"


Izza menoleh ke Arlan lalu ke arah luar. Hujan sudah sedikit reda rupanya.


"Ayo.. " Arlan lebih dulu berdiri. Meninggalkan Izza.


Izza berdecak sebal sendiri, dia tidak mengiyakan pun. Tapi laki-laki itu sudah berjalan seolah Izza akan mengikutinya.


Dengan setengah hati, Izza masuk keruangannya dan mengambil tas dan ponselnya. Lalu berjalan keluar mencari Arlan.

__ADS_1


Tidak terlihat batang hidung lelaki itu tapi bunyi klakson mobil menyadarkannya. Izza masih berdiri. "Ga ada manis-manisnya.. "


Dan seketika dia jadi mengingat Reihan. Saat mereka baru tiba ke malaysia selepas akad. Saat itu dia merajuk memilih naik mobil Amir dan mertuanya. Percekcokannya dengan Reihan.


Di usapnya air mata yang mengalir, dadanya begitu sesak. Dia memilih kembali masuk ke toko.


Arlan yang melihat Izza kembali masuk langsung membuka pintu dan keluar.


"Izza.. !!"


Panggilannya sia-sia karna Izza sudah masuk ke dalam . Cepat-cepat dia ikut masuk. Mencari sosok Izza tapi tak terlihat. Dia melangkah ke ruangan Izza. Dan pintu tertutup dan terkunci.


"Za... " Di ketuknya pintu pelan saat mendengar suara tangis Izza .


"Za.. buka pintunya .. "


Suara tangis Izza sudah tak terdengar lagi. Tapi Arlan jadi risau. Bagaimana cara dia masuk.


"Zaa.. buka pintunya, atau aku telpon papamu. . "


Ancaman berhasil, Izza membuka pintunya separuh. Matanya sembab .


"Pulanglah.. aku ingin istirahat.. "


"Tapi kamu belum makan.. "


"Nanti aku makan.. " Izza langsung menutup pintu kembali.


Arlan mendesah pelan dan tak lama pintu depan terbuka, Nuri dan Juan sudah kembali dari makan siang.


"Pak Dokter masih di sini.. ?" Sapa Nuri.


"Iya.. tolong nanti ingatkan Izza untuk makan, dia sedang istirahat .. "


Meski tampak bingung dengan maksut dokter itu, tapi keduanya langsung mengangguk.


"Saya pergi dulu.. "


"Iya dok.. hati-hati.. !" Nuri melambai melepas kepergian Arlan.


Sepanjang jalan ke rumah sakit, Arlan terus berfikir. Bagaimana caranya lebih mendekati Izza. Sedang wanita itu tetap hidup dengan masa lalunya.


"Apa aku memang tidak lebih baik dari Reihan, Zaa... "

__ADS_1


__ADS_2