
Selesai ritual makan, semua keluarga berpindah berpencar. Ada yang duduk saja di ruang TV. Ada yang di halaman belakang. Ada yang kembali ke depan ke tenda.
Izza mengedarkan pandangan mencari Nuri yang tidak terlihat batang hidungnya di meja makan.
Kalau Diana sudah pamit pulang pukul 6 tadi.
"Cari siapa.. ?" Rupanya Arlan memperhatikkannya yang terlihat celingukan.
"Nuri.. " Melangkah ke arah belakang. Yang ternyata di isi oleh si kembar.
Tidak nenemukan yang di cari membuat Izza kembali ke ruang utama. Arlan duduk mengobrol dengan Rizal. Papa dan mama keluar kembali saat ada tamu yang datang terlambat.
Izza bingung mau kemana, akhirnya memilih naik ke kamar mengambil ponselnya.
Ternyata ada pesan masuk dari Nuri.
Kak.. aku pulang ke Pekan Baru dulu..
Izza terkejut, kenapa mendadak. Dia langsung mendial nomer itu. Tapi ponsel Nuri sudah tidak aktif.
"Apa yang terjadi sama kamu Ri.. " Kembali dia mencoba menghubungi, tapi tetap sama. Hanya jawaban operator yang menyapa.
Akhirnya dia memutuskan menghubungi Kevin. Dia yakin Nuri pulang karna sakit hati melihat Kevin datang bersama wanita lain di resepsinya.
"Hallo.. " Sapa Kevin.
"Hallo Kev.. Kamu tahu Nuri dimana.. ?"
"Tidak.. "
"Tidak tau.. lalu kamu ini suaminya apa bukan sih.. ?"
Hanya hening yang terdengar. Izza menjadi geram sendiri.
"Kev. Apa kamu masih di sana.. ?"
"Ya za.. "
"Apa kamu tidak pernah menghubunginya selama ini.. ?"
Kembali suasana hening yang di dapat. Rasanya Izza ingin menepuk kepala lelaki itu dengan sandalnya.
"Diammu berarti iya Kev.. Kamu ini sebenarnya berniat menikahinya untuk menolongnya atau menyakitinya hah.. ?"
"Kalau kamu memang tidak menginginkannya, kenapa kamu menikahinya .. ?"
"Aku hanya ingin dia lepas dari Wahyu.. "
"Tapi tidak dengan membuatnya jadi istri yang tidak di anggap seperti ini. Dia pasti terluka melihatmu datang dengan wanita lain. Kenapa kamu jadi sejahat ini Kev.. ? "
"Aku sebagai teman yang sudah menganggap Nuri seperti adikku sendiri memintamu Kev. Akhiri saja semuanya.. biarkan gadis itu mencari kebahagiaanya sendiri tanpa terikat dengan status yang katamu untuk menyelamatkannya itu. Aku akan membayar semua jumlah yang kamu keluarkan untuk menebusnya dari bang Wahyu.. "
"Whani... "
Izza memilih mengahiri panggilanya. Dan beranjak ke kamar mandi, emosinya sedang menggunung. Badannya cukup letih. Dia ingin tidur awal. Sekali lagi, dia melupakan Arlan yang sedang kebingungan di bawah mencarinya.
__ADS_1
Setelah cukup mengobrol Arlan pamit menuju kamar untuk istirahat. Semua justru menggodanya yang membuat lelaki itu tersipu sendiri.
Perlahan dia membuka pintu kamar Izza . Suasana sudah redup, terlihat Izza sudah meringkuk di ranjang memeluk guling.
Arlan tersenyum menuju kamar mandi untuk sikat gigi. Karna cape, dia hanya membuka kemejanya menyisakan celana panjang dan kaos dalamnya.
Perlahan dia naik ke ranjang agar tidak membangunkan Izza, dia memandangi wajah Ayu yang sedang terlelap tidur. Di usapnya wajah itu lembut, mulai dari kening, pipi dan berhenti di bibir.
Arlan tersenyum tipis dan tiba-tiba Izza membuka matanya membuatnya terkejut.
"Kamu belum tidur.. ?"
Izza tidak menjawab dan justru kembali memejamkan matanya. Arlan perlahan melingkarkan tangannya ke perut Izza yang terhalang oleh guling.
"Aku cape Ar.. " lirih Izza masih dengan memejamkan matanya.
"Aku tau.. tidurlah.. " Di kecupnya kening istrinya dan ikut memejamkan mata untuk meredam gairahnya.
Izza bangun lebih dulu saat mendengar Adzan subuh dan terkejut saat membuka matanya. Rupanya dia berada dalam kungkungan Arlan. Tubuh mereka saling menempel rekat. Jantungnya langsung berdetak kencang.
Pelan-pelan dia melepaskan diri dari tangan Arlan dan berlari menuju kamar mandi. Karna sudah selesai dengan tamu bulanannya, dia langsung Sholat subuh.
Selesai Sholat Arlan masih tidur . Izza ragu ingin membangunkan atau tidak.
"Ar.. " Dia mengguncang lengan Arlan pelan tapi belum ada respon dari suaminya itu.
"Ar... " Sekarang mengguncang sedikit kuat . Dan perlahan mata itu membuka jendelanya.
"Apa sayang. ." dia kembali memejamkan matanya.
Cup.
Ciuman lembut mendarat di bibir Izza yang membuatnya terkejut dan melotot.
"Morning Kiss Baby.. " Arlan tersenyum dan bangun menuju kamar mandi penuh kemenangan.
"Arlan... !!"
Izza memilih keluar kamar dan turun lebih dulu. Dia segan membuka koper Arlan untuk menyiapkan baju.
"Pagi sayang. . " Sapa papa dari depan .
"Pagi Pa... " Izza menuju dapur membantu mamanya.
" Ma... "
"Ehh akak dah bangun.. " Mama terlihat sedang menggoreng bihun porsi besar . Izza segera membantunya.
"Macam mana.. ?" Mama tersenyum malu-malu.
"Apanya ma.. ?" Izza mengernyit tidak paham.
"Itu lah.. " Mama membisikan pada Izza yang langsung membuat Izza tersedak karna sedang mencicipi bihun goreng itu.
"Mama.. " Pekiknya.
__ADS_1
Mama tertawa yang langsung mengundang kekepoan yang lainnya.
"Ada apa Rah.. ?" Nenek mendekat di ikuti bibi dan bude.
"Tak de ape bu hihi.. biaselah.. "
"Za.. gimana rasanya. Lain ga sama yang dulu.. ?" Tanya Bude to the point yang di sambut tawa semua orang di dapur.
Wajah Izza sudah semerah tomat. Dia memilih pergi dari dapur menuju meja makan. Si kembar ternyata sudah bangun membantu membancuh teh untuk sarapan.
Izza yang bingung memilih kembali ke kamar. Dia membuka pintu bertepatan dengan Arlan yang baru selesai menyisir rambutnya. Lelaki itu menoleh ke arah istrinya yang berhenti di depan pintu.
"Ada apa..? "
"Ahh tidak... apa ada baju kotor punyamu. Aku mau mencucinya.. " Berjalan menuju ruang ganti.
"Sayang .. yang perlu di cuci bukan baju.. " goda Arlan.
"Apa. . ?" Izza mengambil handuk untuk sekalian di cuci.
Karna tidak mendengar jawaban dari Arlan membuat Izza memutar kepalanya memandang lelaki itu yang sedang tersenyum manis di tepi ranjang.
Arlan mengangkat-angkat alisnya ke atas membuat Izza rimas.
"Ge'lo... semua orang sama saja .. " Gerutunya mengambil keranjang baju kotor itu.
Arlan mengikuti Izza keluar pintu menuju ruang bawah. Semua sudah bangun sedang duduk-duduk memencar. Sapaan selamat pagi pun bertalu-talu.
"Kamu mau minum apa.. ?"
"Kopi sayang. . " Arlan duduk di samping Rizal yang sedang membaca koran.
Izza berlalu menuju ruang cuci, mencuci baju. Lalu membuat kopi untuk Arlan.
"Za..." Sapa bibinya Reihan.
"Ya cik.."
"Acik nak balek hari ni.. tahniah tuk awak.. " Acik mencium pipi Izza.
"Terima kasih Cik.. saya akan kesana tanggal 10 nanti.. "
"Tak payah dulu, kasiankan suami awak.. bulan depan je awak pegi sane. . "
"Tapi cik..."
"Za... utamakan suami awak sekarang. Reihan tentu akan bahagia jika tengok awak berbakti pade suami Awak meskipun itu bukan lagi die.. "
Izza terpaku, apa semua yang Acik Sara ucapkan benar. Benar kah Reihan bahagia melihatnya sudah menikah lagi?
Izza melepas kepergian Acik Sara dengan fikiran kemana-mana. Bahkan sekarang lelaki bergelar suaminya itu, sedang tersenyum manis menerima kopi buatannya.
"Terima kasih sayang.. " Arlan mengusap kepalanya lembut.
Tanpa sadar Izza mengulas senyumnya, senyum tulus dari hatinya untuk Arlan.
__ADS_1