
POV ARLAN
Aku masih berdiri mematung di depan pintu, bahkan tanganku yang semula sedikit menekan pintu agar terbuka jadi ikut bergetar bersamaan deru nafas dan aliran darah ke jantung.
Untuk pertama kali aku merasa benar-benar patah hati tinggat tertinggi di sepanjang hidupku.
Aku menyadari satu hal sekarang, ternyata sangat sakit saat tahu kau tidak di inginkan kehadirannya oleh seseorang, tidak berarti apa-apa untuk orang yang sangat kau cintai.
Terlepas dari kesalahan yang aku buat semalam hingga menjadi bumerang, lewat itu juga aku menjadi tau isi hatinya .
Senyum hangat yang sekarang dia berikan, pelukan yang menenangkan juga semua yang dia berikan padaku masa ini. Aku mengiranya dia sudah bisa menerima hadir ku di hidupnya. Tapi kenyataanya tidak.
Apa aku yang terlalu berharap hingga terbuai semu cintanya yang tidak nyata.
Aku patah hati karna merasa tidak berarti apa-apa untuk istriku. Dia menerima pernikahan ini hanya karna orang tuanya.
Apa dia selama ini memang pura-pura.
Apa perhatianya padaku pura-pura..?
Apa hangat pelukannya juga pura-pura..?
Apa setiap hal yang dia lakukan untuk jadi istri berbakti juga pura-pura.. ?
Dia yang pintar berpura-pura atau aku yang bodoh. ?
"Ar, kamu sudah datang.. " Aku tau papa terkejut karna melihatku yang berdiri mematung di depan pintu.
Mama terlihat menyeka air matanya karna menyadari kehadiranku . Sedang di sana, di atas ranjang pesakit. Orang yang begitu aku cintai menatap datar padaku.
Walau dia memberikan tatapan yang begitu menyakitkan, tapi jujur hatiku melunak. Aku terlalu bahagia karna bisa kembali bersitatap dengannya. Seharian ini dia bahkan enggan melihatku. Aku merindukan tatapanya, hingga lupa sakit yang aku rasakan saat mendengar semua ucapannya tadi di depan pintu.
Aku bahkan masih berharap, masih berharap pada pendar matanya itu bahwa ada aku di sana, dasar hatinya. Meski hanya sedikit .
"Sayang, kamu mau makan kue.. ?" tawarku kemudian.
Mama dan papa terlihat saling pandang, mungkin mereka berharap aku memang baru datang hingga tidak mendengar semua keluh kesah anaknya.
__ADS_1
"Enggak.."
Walau bicaranya karna penolakan, tapi jujur hatiku yang semula dingin kembali menghangat, hingga tanpa sadar aku tersenyum dan mencium keningnya penuh sayang.
"Bukan kah ini kesukaan mu..?"
"Aku ga suka redvelvet.."
Mama dan papa ku lihat menghela nafas panjang, aku mulai berfikir. Menebak-nebak. Karna memang dia jarang menghabiskanya jika aku membeli kue ini. Dia akan membawanya ke toko esok harinya. Apakah mungkin ini cara dia hidup dengan kenangan bersama Reihan.
Hening beberapa saat sampai suara papa fahat membuatku kembali tersadar akan dunia ini yang aku masih di sana.
"Ar, kamu mau nemenin papa ngopi..? "
"Iya pa.. " Aku berdiri kembali nencium keningnya, "Aku keluar sebentar ya.. " dia menatapku. Tatapan mata yang selalu membuatku gila bahkan lupa tadi dia baru menyakitiku kan.
Tidak ada jawaban keluar dari bibir indahnya itu hingga aku keluar dari kamar bersama papa.
"Ar, sebenarnya ada masalah apa..? " aku tau ini hanya alasan papa saja mengajakkku ngopi. Yang sebenarnya beliau ingin mengintrogasiku.
Satu hal yang aku kagumi dari Izza, dia tadi hanya mengatakan membenci penghianat. Dia tidak membuka aib ku. Ahh sayang, aku tau kamu sebenarnya istri yang sholehah .
"Ini ujian, mungkin juga bawaan bayinya hingga dia begitu marah pada mu.. jangan berfikir macam-macam Ar. Papa tau bagaimana putri papa. Tidak usah di ambil pusing semua ucapannya tadi.. " Papa terlihat sangat bijaksana, kalo papa mertua lain mungkin akan meminta anaknya di kembalikan padanya kan. Aku bersyukur punya mertua seperti papa. Dia masih percaya padaku.
"Dia ingin pulang ke batam.Apa kamu mengizinkannya, jujur saja karna masalah ini sedikit banyak papa khawatir akan kesehatan nya juga kandungannya. Biarkan dia tenang dulu, nanti kamu baru bisa bicara lagi. Apa kamu mengizinkan Ar..? " Papa menatap intens padaku.
"Jika menurut papa itu yang terbaik, aku akan mengizinkannya pa.. Bagaimana pun ibu hamil ga boleh stres.. "
Setelah mendengar keputusan yang aku ambil, papa menepuk bahuku lagi. Bahkan merangkulku. Aku menilai ini adalah bentuk dukungan untuk ku.
Aku cuma berharap Izza lebih bahagia menjalani kehamilannya, tidak perduli seberapa sakitnya aku karna akan jauh darinya nantinya. Yang terpenting dia dan calon anak kami sehat dan bahagia.
POV END
Entah karna sangking senangnya di izinkan pulang ke Batam , atau sangking bahagianya dia akan jauh dan terlepas dari Arlan. Kesehatan Izza memang meningkat drastis. Hingga keesokannya dia di izinkan pulang.
Lastri yang datang bersama suaminya ikut bahagia mendengar kabar Izza sudah bisa pulang . Mereka menyiapkan kejutan kecil, makan malam special di rumah Arlan.
__ADS_1
Tapi seketika kebahagian luntur saat Fahat mengutarakan maksutnya pada keluarga besannya.
Lastri di penuhi perasaan bersalah, karna dia lah semua terjadi, tapi dia belum punya keberanian untuk meminta maaf.
"Arlan mengizinkan mengingat kondisi izza yang sedang hamil..
Ini juga mungkin tidak akan lama. Biarkan kondisinya sedikit membaik dulu ya pak, bu.. " Fahat meminta pengertian besannya.
"Iya pak Fahat, kami ngikut saja. Yang penting Izza bahagia. ." Ayah Arlan terlihat bijak, hingga tidak perlu merasa mempersulit. Karna keadaan memang sedang panas.
Di kamar.
Izza yang baru terlelap terkejut karna kehadiran Arlan yang memeluknya arat dari belakang. Dia pun berniat melepasnya.
"Izinkan aku memeluk mu seperti ini, malam ini saja Za.. " suara Arlan yang seperti memohon membuat Izza tidak tega untuk menolaknya.
Arlan menahan gemuruh hatinya, bahkan matanya memanas menahan cairan yang akan turun sewaktu-waktu.
"Kamu tau Za, sekarang yang terpenting bagiku adalah kalian. Kamu dan calon anak kita.. " Arlan mengusap lembut perut datar istrinya.
"Jangan pernah berfikir aku mengabaikan kalian, tapi aku hanya ingin melihatmu bahagia. Jika kamu bahagia calon anak kita juga pasti akan bahagia.. " Arlan mencoba mengajak berbicara dari hati ke hati malam ini dengan istrinya.
"Satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah menghianatimu Za, tidak pernah sedikitpun aku berniat menghianati pernikahan kita. Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku. Karna aku ingin kamu sendiri yang akan bisa menilai lewat hatimu .." Arlan memindahkan satu tanganya berada pada dada Izza.
"Ar.. ak.."
Ucapan Izza terhenti karna gerakan satu jari Arlan di depan bibirnya.
"Hustt....
Kamu tidak perlu mengatakan apapun sayang, aku percaya pada hatimu. Aku hanya punya satu permohonan sama kamu sayang.." Tangan Arlan berpindah kembali pada bagian perut.
"Tolong jaga dia untukku ya.. aku menyayangi kalian. Sangat.. " Ucapnya bergetar sambil menciumi kepala istrinya.
Arlan hanya takut, takut Izza tidak bisa menerima kehadiran anaknya seperti kehadiran dirinya saat ini. Rasa takut yang justru membuat dia berfikiran hal-hal yang negative.
Biarlah jika memang tidak ada sama sekali namanya di hati istrinya, setidaknya separuh jiwanya nanti akan hadir lewat kelahiran anak mereka berdua.
__ADS_1
Biarlah, dia akan mencoba iklas melepas cinta yang selama ini dia paksakan.
Jika cinta itu kembali, itu berarti mereka memang berjodoh. Tapi jika tidak, biarlah. Yang terpenting baginya Izza juga calon anak mereka bahagia .