CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Berubah demi siapa.. ?


__ADS_3

Setelah mendengar permintaan Whani. Reihan ragu-ragu menyiapkan alat yang di perlukan setelah sholat maghrib .Koin ciling 50 cen dan minyak angin sudah di tangan . Tapi tangannya bergetar saat Whani memintanya menggulung baju bagian punggung ke atas.


"Ich.. ya sudah lah. Di kerok ini aja.. " Whani yang kesal menunjukan tengkuk leher belakangnya.


Reihan mulai mengerok pelan, Whani menikmati setengah kesal dan geli. Sebenarnya ini hanya ide yang tiba-tiba tercetus di kepalanya saat melihat Reihan panik. Sekaligus ingin menguji lelaki itu.


"Bang.. "


"Hem.. "


"Kalau aku hamil gimana.. ?"


Klinting..klinting...


Siling yang di pegang Reihan jatuh ke bawah ranjang. Whani menoleh menatap Reihan yang juga menatapnya dengan tatapan dinginnya.


Bukannya kamu mengira kami sudah melakukannya hari itu..


Aku ingin tahu sejauh mana kamu bertahan, jika aku mengatakan aku hamil..


Whani kembali menoleh depan saat Reihan tak kunjung menjawabnya. Mungkin kedepannya dia harus terbiasa, berbicara tanpa mengharapkan jawaban.


"Awak nak kan saya macem mane Izza..?" Pertanyaan Reihan mengurungkan pergerakan Whani yang akan turun dari ranjang.


"Kita akhiri saja.. " Ucap Whani santai yang langsung mendapat tatapan tajam Reihan.


"Dia juga bukan anak kamu, kamu tidak perlu tanggung jawab pada apa yang tidak kamu perbuat Bang .. '' Whani mengabaikan wajah Reihan yang memerah padan karna murka dan segera keluar kamar menuju dapur.


Dia membuka kulkas dan hanya ada telur dan sepaket burger entah kapan punya. Membuka lemari kabinet atas yang ada hanya mie instan 1 biji. Sisanya biskuit dan makanan kaleng siap saji.


Di bukanya yang bawah, ada beras mungkin setengah pack 1 kiloan.


Dia bangkit mengedarkan pandangan, semua alat masak sangat terbatas. Hanya satu kuali penggoreng ukuran medium, 2 piring dan 2 sendok dan gelas yang terlihat banyak tersusun di lemari.


"Dapur bujang.. " Lirihnya

__ADS_1


Lalu membuka ricecooker. Segera mencucinya dan memasak nasi. Sambil menunggu, dia memilih membereskan kulkas. Membuang sisa-sisa makanan yang menumpuk dari ciki-ciki sampai roti dan burger. Serta saos yang bercecer di mana-mana.


Di kamar


Reihan tampak berdiri mondar mandir. Berdecak kesal karna Whani meminta mengahiri. Dan Risau hati, bagaimana jika hamil beneran.


Reihan menggigit kepalan tangannya sendiri, merasa benci pada Whani karna suatu kesalahan yang dia lakukan. Tapi juga cinta yang membuatnya enggan untuk melepaskan wanita itu.


Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang, menghirup aroma Whani di sana. Memeluk guling erat dan tak lama terpejam.


Tengah malam dia membuka matanya saat merasa perutnya berbunyi. Dia langsung ingat Whani juga belum makan malam sepertinya. Tapi Whani tidak ada di kamar. Setengah berlari dia turun membuka pintu kamar.


TV menyala, menampilkan drama barat sedang yang menonton justru tidur nyenyak memeluk bantak kecil. Reihan baru menyadari setelah beberapa malam tidur bersama. Whani slalu tidur memeluk sesuatu.


Di meja tampak ada penutup kuali kecil yang di bawahnya terdapat piring. Reihan membukanya.


"Nasi goreng" gumannya.


Tampak putih seperti nasi goreng cina. Istrinya memasak nasi goreng seadanya. Karna lapar dia langsung duduk memakannya.


Reihan tahu, Whani menggunakan buter yang terdapat di kulkas saat masak tadi karna tak adanya minyak. Buter itu sisa setiap Reihan memesan pancake di restoran cepat saji.


Selesai makan dia segera mengemasnya. Mematikan TV dan mengangkat Whani ke kamar.


Baru saja 15 menit Reihan kembali memejamkan mata, Whani mengigau seperti biasanya. Dia mengusap lembur rambut Whani dan memeluknya erat. Itu adalah rutinitas malamnya sejak menikah dengan Whani.


Pagi datang kembali. Whani mematung menatap suaminya yang bersiap untuk kerja. Reihan menolak kemeja yang di pilihkan Whani yang katanya kekecilan. Dan Terjadilah perdebatan kecil pagi itu yang pasti di menangkan Whani.


"Sarapan dulu.. " Ucap Whani saat melihat Reihan menenteng tas kerjanya .


Pagi tadi selepas subuh, Reihan pergi ke toko 24 jam membeli roti dan beberapa kotak susu segar aneka rasa. Whani menuang susu itu di gelas dan menghidangkan roti di piring 2 mata wayang mereka. Sedang Reihan duduk memegang ponsel.


"Nanti saye pulang awal, kita pegi ke maydin atau tesco.. beli barang dapur.. " Ucap Reihan sambil meminum susu .


''Pukul 5 awak kene dah bersiap Izza.. saye tak suke nenunggu lame.. "

__ADS_1


Whani mengangguk, ikut menyuap roti rasa keju yang ternyata enak, walau luarnya tampak biasa.


"Untuk makan siang, Nanti saye tolong orderkan dari Ofice.. ingatkan untuk beli Card nanti masa kita keluar.. "


"Baju kotor nanti bawa dobi je, tak de mesin basuh kat rumah.. dan satu lagi. Kunci pintu depan jangan lupe tu.. "


Whani tersenyum menyentuh dahi Reihan dengan tangannya. Yang di sentuh tampak mengerutkan keningnya heran.


"Ga demam.. tapi kok hari ini lain ya, beneran ini suami Izza Syazwhani.."


Reihan tanpak masam, segera bangkit menenteng tas nya.


Memangnye bile saye diem je awak suke. .?


Baru 3 langkah dia kembali ke meja. Mengeluarkan dompetnya, menyerahkan 7 lembar warna merah pada Whani yang masih meminum susu.


"Untuk apa. ?" Tanya Whani. Dan Reihan langsung menarik tangannya dan meletakkan uang di situ.


"Ape-ape boleh.. " Reihan mengelus rambut Whani sebentar lalu beranjak pergi.


"Ga salim dulu.. !!" Seru Whani saat Reihan sudah membuka pintu dan lelaki itu langsung menoleh kemudian melihat arlojinya.


"Cepatlah.. "


Whani langsung tersenyum setengah berlari menghampiri Reihan dan salim.


"Assalamualaikum.." ucap Reihan.


"Waalaikum salam.. "


Setelah melihat Reihan masuk lift, Whani menutup pintu dan menguncinya seperti perintah Reihan.


Dia memilih mengemas rumah, di mulai dengan ruang tamu+ TV itu.


kemudian yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2