
Izza menatap lekat ke arah Arlan. Matanya menatap mata elang milik lelaki itu. Dia sedikit mengagumi lelaki itu sekarang. Di saat sedang libur tapi masih mau datang saat di butuhkan. Pekerjaan nya mulia, dia juga dulu begitu bangga saat Aldi mengatakan akan sekolah kedokteran. Tapi itu dulu.
"Pergilah Ar.. aku ga papa.. "
"Kamu ga marah kan.. ??"
Izza menggeleng mantap,
"Untuk apa aku marah.. aku mengerti itu memang pekerjaanmu.. "
Arlan tersenyum lalu berdiri.
"Aku pergi dulu.. kamu hati-hati di jalan ya.. "
Setelah Izza mengangguk, Arlan langsung berlari ke arah kasir. Dia sempat melambai ke Izza sebelum berlari ke luar.
Izza sudah tidak berselera makan. Banyak hal yang memenuhi pikirannya sekarang. Memikirkan Mamanya yang selalu merengek untuknya segera menikah. Memikirkan papanya yang semakin tua, juga yang lainnya.
Sedang dia asik melamun, ponselnya berdering. Dari Kevin, tempo hari lelaki itu mengatakan akan datang ke Pekan Baru .
"Hallo Assalamualaikum.. "
"Waalaikum salam.. Whani aku sudah di bandara .. sedang menuju hotel. Bisa kita bertemu malam ini.. "
"Kamu serius datang Vin... " Di bekapnya mulutnya tak percaya.
"iya. . aku juga ada urusan di sini.. "
"Emmm... baiklah... kita ketemu di mana.. ?"
"Terserah kamu.. aku kan ga tau banyak kota ini.. "
__ADS_1
"Ok lah... nanti aku kirim alamatnya. Sampai jumpa nanti malam.. "
"Ok bye... ehh Assalamualikum.. "
Izza tersenyum lebar,
"Waalaikum salam.. "
Di pandangnya layar ponsel yang sudah mati lalu meminum jus yang sudah mencair di depannya.
Sepertinya dia sudah harus mulai mengambil sikap, dia tidak mau lagi di pandang wanita menyedihkan.
Dia melenggang ke arah luar restoran, dia ingin sedikit berbelanja dan perawatan di salon. Tak lupa mengirim pesan pada anak buahnya mengabarkan dia akan kembali terlambat ke toko.
Pukul 4 Izza keluar dari mall, menenteng beberapa paper bag dan juga kue. Di hentikannya taksi untuk menghantarnya kembali ke toko.
"Mbak Za udah pulang.. !! " Nuri cekatan mengambil barang bawaan Izza.
Nuri mengeceknya dan mengernyit , seolah paham Izza langsung mendekat.
"Kamu temani mbak nanti malam.. ok.. "
"Kemana mbak.. ?"
"Ada deh.. mau ga.. ?"
Nuri langsung sumringah mengiyakan.
"Yang hitam buat Juan ya.. baju untuk anaknya.. "
"Mbak ni repot-repot loh.. " Juan mengintip isinya yang ternyata jaket bayi.
__ADS_1
"Tadi liat di toko.. comel. . cocok buat anakmu.. "
"Makasih ya mbak.. " Ucap mereka serempak.
"Sudah-sudah... ga usah formal gitu.. itu ada kue. . kalian makanlah. Mbak ke dalam dulu.. "
"Iya mbak.. " Keduanya langsung membuka kotak kue dan isinya kue Redvelvet.
Izza memilih langsung sholat Ashar.
Selesai Sholat langsung berdo'a.
"Ya Allah.. mantapkanlah hatiku jika ini memang yang terbaik untukku. Aku sudah tidak ingin membuat orang tuaku khawatir. Aku niatkan semua untuk beribadah pada engaku dan membahagiakan kedua orang tuaku..
Aku iklas meski pun menjalaninya tanpa cinta. Cinta ku sudah engkau ambil.. pergi bersama Reihanku.. "
"Berikan aku yang terbaik.. mantapkan hatiku untuk melangkah.. Aamiin.. "
Selesai Sholat Izza kembali ke ruangannya. Dia duduk memandang fotonya dengan Reihan saat resepsi di pahang. Di usapnya pelan gambar lelaki di sebelahnya.
Hatinya sungguh sesak.
Senyum lelaki itu sungguh dia rindukan, lelaki yang selalu membuatnya merasa nyaman. Yang tetap memeluknya saat dia tidur meski mereka sedang bertengkar.
Bang...
Maaf, aku akan menghianatimu..
Tapi percayalah.. cintaku tetap untuk mu bang..
Tetap engkau suamiku ..
__ADS_1