CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Demi Mama dan Papa


__ADS_3

Sorenya. Nuri pulang setelah kedatangan orang tua Izza. Humairah menangis haru tak terkecuali Fahat. Setelah mereka tahu putri sulungnya tengah mengandung.


"Alhandulillah.. Akhirnya. Sebentar lagi mama jadi Ninde..." Humairah menghapus air mata harunya. Di ciuminya kening putrinya.


Fahat beberapa kali menepuk punggung menantunya bangga. Arlan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kedua mertuanya belum tau ada kejadian besar antara mereka.


"Ar, kamu pulang saja dulu. Ada mama papa di sini. Kamu bebersih nanti kesini lagi.. " Fahat membuka obrolan sambil duduk di sofa. Sedang Izza sedang di suapi mamanya makan buah.


"Tapi pa.. " Arlan memandang wajah Izza yang sama sekali tidak mau menatapnya barang sedikit pun.


"Kenapa, kan ada kami. Kamu ga usah khawatir.. "


Walau ragu. Akhirnya Arlan pamit untuk pulang sekalian membawa baju ganti Izza. Tak lupa dia meminta izin kerja beberapa hari untuk mengurus istrinya.


Sesampainya di rumah, ibunya ternyata sedang makan malam dengan Rena. Dengan perasaan dongkol Arlan memilih langsung masuk ke kamar.


Rena yang tau Arlan sendirian di kamar cepat-cepat menyelinap masuk saat Lastri membereskan piring.


"Ngapain kamu di sini... ??!" Arlan untung saja sudah berganti baju. Karna akan sholat .


Rena tersenyum manis duduk di ranjang dengan sengaja menarik mini dress nya.


"Kamu ganteng banget habis mandi.. uhh. gemes aku.. " godanya.


"Dasar Gila.. keluar kamu.. !!!"


Lastri yang mendengar Arlan berteriak cepat-cepat mengelap tangannya dan berlari ke kamar anaknya.


"Ada apa Ar. ..?"


"Ibu. Lihat apa yang di lakukan wanita gila itu. " Arlan kembali menatap tajam ke arah Rena.


"Rena, kamu ngapain..?" Lastri terkejut melihat Rena justru berbaring miring menyangga tangannya. Yang otomatis membuat dadanya menyembul.


"Rena..!!! " Lastri mendekat dan manarik Rena agar bangun


"Apa sih Tan.. " di tepisnya tangan Lastri kasar.


"Apa yang kamu lakukan..?"


"Aku lagi main aja kayak dulu aku main di kamar Arlan. Masa ga boleh sih.. "


Arlan mengeram kesal, kesabarannya sydah sampai di ujung tanduk. Di tambah semalaman tidak tidur membuat tensinya naik.


"Keluar kamu!! " Di tariknya Rena kasar.


"Arlan.. sakit.. " Rena memekik karna cengkraman tangan Arlan di tangannya.

__ADS_1


Lastri pun langsung mengikuti keduanya .


"Ar, jangan kasar-kasar.. " Bujuk Lastri, bagaimanapun Rena datang karnanya.


"Ibu.. aku mohon jangan membelanya. Dan kamu.. !" Tunjuk Arlan pada Rena.


"Keluar dari rumah ku sekarang juga.. !!"


"Kalau aku ga mau gimana.. ?" jawab Rena santai.


"Aku akan mengusir mu.. " Arlan menyeret kasar Rena ke arah pintu keluar. Mengabaikan rengekan Rena atau ibunya.


"Pergi kamu dari sini.. !!"


"Ar, jangan gitu donk.. kita bisa bicarakan baik-baik.. " Ujar Lastri.


"Tante.. huhu... " Rena meniupi tangannya yang memerah karna cengkraman Arlan.


''Apa yang mau di bicarakan baik-baik bu, gara-gara dia Izza jadi marah pada ku.. " kesal Arlan.


"Ar, ini memang salah Rena. Ibu akan bicara dengannya nanti.. "


"Tante.. ! ini semua kan ide tante. Kenapa tante nyalahin aku terus..


Ar, kamu kira ini semua ide siapa kalo bukan ide ibu kamu.. ! " terang Rena.


"Apa maksutnya.. ?" Arlan menoleh ke arah ibunya yang gelagapan.


"Eh, ini akal-akalannya Rena saja Le. Kamu jangan percaya sama dia.. "


"Tante.. " Rena baru akan menjawab tapi Lastri langsung membekap mulutnya.


"Ar, kamu masuk dulu. Siap-siap ke rumah sakit. Kasian Izza menunggu. Biar ibu bicara sama Rena sekalian mau jemput ayahmu.. "


Walau masih kesal juga penasaran, akhirnya Arlan mengalah juga karna teringat Izza. Dia takut membuat istrinya lebih marah padanya.


"Baiklah bu, tapi ga mau liat dia lagi di sini saat aku pulang.. "


"Iya Le, percaya sama Ibu.. "


Arlan mengangguk dan segera masuk kamar untuk sholat. Sedang Lastri menarik Rena masuk ke kamar nya.


"Rena, lebih baik kamu pulang saja sekarang.. "


"Aku ga mau tante.. aku mau di sini, aku mau berjuang mendapatkan Arlan lagi.. "


"Tidak, kamu harus pergi dari sini. ." tegas Lastri.

__ADS_1


"Kalo tante terus ndesak aku, jangan salahin aku bakalan bongkar semua kebusukan tante sama Arlan. .!" Ancaman Rena berhasil membuat Lastri tak berkutik.


Lastri mulai memikirkan bagaimana jika anakmnya tai. Bahwa semua ini rencananya.


Dia pun akhirnya memilih mengalah sembari menunggu suaminya datang.


Beberapa saat kemudian, Arlan yang sudah sampai Rumah sakit menenteng tas berisi pakaian ganti istrinya, dia juga singgah ke toko kue untuk menbeli red velvet kesukaan Izza. Dengan senyum mengembang penuh dia berjalan ke arah koridor VVIP tempat istrinya di rawat. Baru saja dia akan mendorong pintu, terdengar suara mama mertuanya menangis dari dalam.


"Apa yang awak kate ni Za.. apa hal jadi macam ni. . ?" Tanya Humairah pada putri sulungnya.


"Rah, tenangkan diri awak.." suara bujukan papa Fahat membuat Arlan mematung diam di depan pintu yang sedikit terbuka tanpa di sadari oleh penghuni kamar.


"Macam mana nak tenang bang, anak kita. Ape dah jadi dengan die ni.. "


"Zaa, sebenarnya ada apa.. ? kenapa tiba-tiba minta pulang ke pekan baru.. ?" tanya Fahat akhirnya.


Arlan berusaha mencerna ucapan mertuanya, mulai menebak arah pembicaraan mereka.


"Izza mau pulang pa, aku ga mau di sini.. " tegas Izza .


"Iya, tapi alasannya apa.. kamu rindu suasana pekan baru? ok, kalau masalah rindu. Nanti kamu bisa kesana dengan Arlan kan.. " bujuk Fahat.


Izza menggeleng pelan, membuat Humairah menangis.


"Aku mau pisah sama Arlan pa.. " ucap Izza akhirnya.


Deg.


Detak jantung Arlan serasa berhenti mendengar ucapan suaminya.


"Papa dengar kan.. ?! sedari tadi dia cakap nak pisah ngan Arlan pa.. " Humairah tak habis fikir dengan jalan fikiran putrinya itu.


"Za, kamu serius. Kamu sedang hamil nak.. " Walau ikut terkejut, Fahat mampu mengendalikan emosinya. Dan dia juga tau, putrinya hanya akan bisa terbuka jika bicara pelan-pelan.


"Aku nikah sama dia karna mama dan papa. Papa yang mau aku nikah lagi, aku udah nurutin kan. Mama yang pengen dapet cucu.Aku akan segera wujutin kok.. Aku melakukan semua ini Demi mama dan papa.. "


"Sayang, apa kamu ga mikirin perasaan Arlan.. ? Dia sangat mencintai mu, sangat menyayangimu.. "


"Dia akan bahagia juga nantinya , pa. Meskipun kita berpisah.. " lirih Izza.


"Kamu ga mikirin anak kamu, bagaimana dia akan tumbuh tanpa papanya di sisinya..


Coba papa tanya, apa kamu bisa hidup tanpa papa sayang.. ?


Begitupun calon anak mu.. " Fahat masih berusaha membujuk putrinya.


"Walaupun kamu bersitegas melakukan ini demi kami, apa kamu ga mikirin perasaan mu sendiri, kamu nyaman kan bersama Arlan.. ? papa tau itu. Tapi kenapa kamu mau pisah.. kalian ada masalah kan.. ? ayo cerita sama papa.. "

__ADS_1


Izza menunduk, mengusap perut ratanya. Dia sadar apa yang di katakan papanya ada benarnya , tapi saat ini hati dan otaknya begitu membenci Arlan.


"Aku ga suka penghianat pa.. "


__ADS_2