
Di Rumah Sakit.
Izza yang sudah sadar hanya diam memiringkan tubuhnya enggan bersitatap dengan suaminya.
"Sayang.. makan ya.. kamu belum makan dari pagi.. " bujuk Arlan lembut untuk kesekian kalinya , tapi tak di endahkan wanita itu.
''Sayang. Kamu tau ga di perut kamu ada mahluk kecil yang butuh asupan gizi..Ayo makan.. "
Izza mengerutkan keningnya, karna penasaran dia pun berbalik.
"Apa maksutnya..? " Tanyanya dengan wajah yang tidak bersahabat.
Arlan menarik bibirnya, mencoba tersenyum hangat.
"Kamu hamil sayang.. usia kandungan kamu udah 6 minggu.. " Arlan mengusap lembut kepala istrinya, mencoba memberi pengertian.
"Aku hamil... " Izza mengusap perut datarnya. Rasanya dia tidak percaya.
"Iya sayang.. "
Izza kembali memasang wajah datarnya,
"Mama dan papa pasti senang. Aku udah bisa jadi apa yang mereka mau.. "
"Apa maksut kamu Za.. ?" Arlan tidak paham arah bicara istrinya.
"Aku mau menghubungi papa dan mama. " Izza mengabaikan Arlan. Berusaha bangun mencari tas dan ponselnya. Tapi tidak menemukan apapun.
"Biar aku yang hubungin mama dan papa.. Kamu istrihat ya.. " Arlan mengusap kembali kepala istrinya. Izza membuang pandangannya enggan bersitatap dengan suaminya lagi. Hatinya masih sakit.
Arlan menghela nafas pelan, lalu keluar untuk menghubungi mertuanya. Tentu saja kedua mertuanya heboh dan langsung mencari penerbangan menuju pekan baru.
"Sayang. Makan dulu ya. Aku udah ngubungin mama sama papa.. Mereka sedang bersiap kesini. Kamu makan dulu ya.. " Bujuk Arlan lagi.
Izza tidak menjawab dan hanya diam memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum.. " sapa sepasang suami istri yang tampak mesra itu.
"Waalaikum salam.. Nuri, Kevin.. " Arlan menyambut kedatangan keduanya.
"Maaf, baru sempat njenguk. Mbak Za sakit apa.. ?" Nuri mendekat ke arah ranjang. Izza yang mendengar suara Nuri segera membalikkan badannya.
"Nuri, Kevin..Kalian datang.. "
"Iya mbak.. " Nuri menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjang Izza.
"Sakit apa Ni.. ?" Tanya Kevin kemudian.
"Kecapean.. aja.. " Jawab Izza ramah.
Arlan paham, istrinya masih marah padanya.
__ADS_1
"Nuri, tolong kamu bujuk dia makan." Bisik Arlan.
Nuri yang semula bingung pun segera mengangguk. Sedang Arlan berjalan ke arah pintu keluar.
"Ri, kakak nemenin Arlan ya.. " Pamit Kevin.
"Iya kak.. " Nuri mengangguk dan menyunggingkan senyum nya.
Setelah kepergian kedua lelaki itu. Nuri mulai menyendok makanan.
"Mbak ayo makan.. "
"Jadi ngrepotin nih, Ri.. kamu temenin mbak ya. "
"Loh kan ada pak dokter. Suami mbak.. "
"Mbak pengen kamu yang nemenin sampe mama papa ku dateng.. "
"Oh, mereka udah di kabarin.. ?" Nuri mulai menyuapi Izza sambil mengajaknya mengobrol.
Tak terasa nasi jatah makan pun habis tak tersisa.
Arlan yang melihat dari balik kaca luar tersenyum senang.
"Alhamdulilah, akhirnya mau makan.. "
Kevin pun mengerutkan keningnya melihat tingkah Arlan mondar mandir sambil mengintip. Dia ingin bertanya pada Arlan, tapi mereka tidak sedekat itu . Akhirnya dia hanya diam duduk di kursi memainkan ponselnya.
Tak lama Arlan ikut mendudukan bokongnya di sisi Kevin.
Arlan menoleh, mempertimbangkan. Tapi bagaimana dengan istrinya.
"Biar Nuri menemani Whani. Ayo.. kau pasti juga belum sarapan.. " Kevin berdiri menuju ruang kantin.
"Bagaimana kamu tau aku belum sarapan.. ?" Tanya Arlan basa basi sambil mengikuti Kevin.
"Mana ada suami yang terfikir untuk makan saat istrinya sakit sampai tak sadarkan diri. " Pagi tadi memang Arlan sempat mengabari Nuri meminta untuk mengurus toko milik Izza karna Izza sedang sakit.
Dalam hati Kevin mengumpat kesal, karna harusnya hari ini dia akan mengajak istrinya bulan madu tapi justru gagal.
Keduanya langsung menuju stand makanan.
Arlan memesan soto juga kopi hitam sedang Kevin hanya memesan kopi dan roti bakar.
"Maaf sebelumnya, sebenarnya ada apa..? kenapa Whani sampai pingsan.. ?" Kevin yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu masih mengkawatirkannya .. ?" Bagaimana pun mereka punya hubungan special dulunya, dan Arlan masih merasa Kevin adalah rivalnya.
"Hahaha.. kau ini cemburuan sekali .. "
"Cih, kamu tidak akan pernah mendapatkannya lagi. Ada pengikat antara kami.. " Arlan seolah menegaskan jika Izza hanya miliknya seorang.
Kevin mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku tidak habis fikir Whani mau dengan orang sepertimu.. "
"Maksutmu..? " Arlan merasa tidak terima.
"Haha.. Sudahlah, kau tak usah risau. Aku sudah memiliki Nuri. Izza menganggap ku sebagai saudara sekarang. Apa lagi yang membuat kau sangat risau. Seolah aku masih bersaing bersamamu.. " Kevin menggeleng pelan .
Arlan pun mulai menikmati makanannya ,perutnya memang sudah pedih. Karna hampir pukul 12 belum terisi apa-apa.
"Syukurlah.. jadi aku hanya perlu fokus pada Izza dan calon anak kami.. "
"Whatt....?? Maksut mu Whani sedang hamil..? " Mata Kevin melotot sempurna. Ya walau sipit sih.
Arlan tersenyum, menepuk dadanya bangga.
"Aku kan pintar.. "
"Cihh... kau kira hanya kau yang pintar.. " maksut mereka tentu urusan ranjang.
"Iya donk.. Bagaimana apa kamu sudah berhasil..??" tanya Arlan di sela makannya.
"Berhasil ndasmu..!! " Kevin kembali geram karna rencananya gagal hari ini.
"Hari ini harusnya aku pergi honeymoon dengan istriku.Tapi kalian menghancurkannya.. " Kevin bersandar lemas di kursi. Arlan pun tidak tahan menahan gelaknya.
"Maafkan aku, aku bingung. Hanya Nuri yang dekat dengan Izza di sini. Mama dan papa mungkin nanti sore baru sampai.. "
"Kau kan ada.. ?" Kevin memicingkan matanya, seolah tahu ada yang tidak beres antara Arlan dan Izza.
"Kalian bertengkar.. ??"
Arlan meletakkan sendoknya, sudah tidak bernafsu untuk makan. Di tegaknya air minuman kemasan itu hingga separuh.
"Dia salah paham.." lirih Arlan.
"Sepertinya serius, ada apa..? " Kevin langsung menegakkan tubuhnya. Berharap Arlan mau berbagi dengannya.
Arlan ragu ingin bercerita, tapi melihat tatapan Kevin. Dia juga tidak bisa menyimpan kegundahannya sendiri. Akhirnya dia pun menceritakan masalah mereka semalam. Berharap Kevin bisa memberikan solusi untuk masalahnya.
"Ohh gila kau... !! " Kevin menyandar kembali dan menatap kesal pada Arlan.
"Aku tidak melakukannya, sungguh. untuk apa aku melakukan itu. Istriku sudah cukup memuaskan untuk ku. Aku tidak tertarik pada wanita lain lagi.. " tegas Arlan.
"Ya aku tau, Izza cantik dan seksi.. " Kevin menerawang jauh mengingat bagaimana hubungan mereka dulu.
"Enyahkan fikiran kotor mu. Dia istriku..! "
"Haha.. kau ini posesif dan cemburuan sekali. . Kau tau dulu kami berpisah karna apa.. ? Karna aku ketahuan jalan dengan teman sosialitanya. Sebenarnya wanita itu yang terus menggoda merayuku mengajak ku jalan, juga makan bersama . Dan karna itu Izza memang tidak pernah memaafkan ku. Dia merasa terhianati dan kami putus.. "
Arlan menelan ludah kasar, bagaimana jika dia juga begitu. Bukankah Izza juga menganggap dia menghianatinya.
Dia tidak akan sanggup kehilangan Izza.
Arlan tertunduk lemas menyadari kesalahannya. Yang membiarkan Rena menginap di rumahnya tadi malam.
__ADS_1
Harusnya dia tegas dan bisa mengambil sikap, tapi bagaimana mungkin sedang ibunya juga justru menawarkan menginap untuk Rena. Dan akhirnya semua jadi berbuntut panjang..