
Izza sudah di berikan penangan dengan tepat. Saat ini wanita ayu itu sedang tidur dengan selang infus di tangannya. Arlan tersenyum mengingat penjelasan dr.Vina . Teman sejawatnya yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Tak henti-hentinya dia menciumi tangan istrinya. Setidaknya, dengan hadirnya anak dia berharap bisa membuat mereka lebih saling terikat erat.
Lastri justru merenung sendirian di luar ruangan. Dia bingung juga menyesal, langkah yang dia ambil justru membuat anaknya nyaris berpisah. Sedang tanpa dia sadar ternyata menantu yang tidak di inginkannya sedang hamil 6 minggu.
Lastri memutuskan pulang ke rumah Arlan untuk bicara pada Rena. Sebelumnya dia juga pamit pada Arlan yang hanya di angguki putranya itu.
"Rena... Rena... " panggil Lastri setelah sampai rumah.
Rena yang sedang bermain ponsel di kamar segera keluar.
"Ada apa tante..? dari mana sih. kok aku bangun ga ada orang sama sekali. "
"Duduk dulu Ren.." Lastri menggiring Rena untuk duduk di sofa .
"Ada apa.. ?" Rena duduk anggun sambil memainkan kuku lentiknya.
"Kita akhiri saja rencana kita Ren.. "
"Maksut tante gimana.. ?"
"Udah sampe di sini saja.. " Lastri menyandarkan tubuhnya yang sudah lelah. Semalaman kurang tidur membuat kepalanya pening.
"Ga bisa, aku belum dapetin Arlan kembali tante.. "
"Kamu ga akan bisa mendapat kan Arlan lagi Ren.. "
"Apa maksut tante.. ?"
__ADS_1
"Izza sedang mengandung.. " terang Lastri.
Rena membekap mulutnya tidak percaya, bagaimana mungkin ucapannya semalam justru jadi kenyataan .
"Terus aku gimana tante.. ?"
"Ya di akhiri aja lah, kok ribet.. " gerutu Lastri.
"Ga bisa gitu donk tan, aku udah kepala tanggung. Tante kan juga udah janji mau bantuin aku. "
"Itu sebelum tau Izza hamil Rena.. "
"itu ga jadi hal kok, mereka bisa cerai. Arlan tetap bisa tanggungbjawaab menafkahi anak itu.. "
Lastri menggeleng pelan, tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya nasib calon cucunya itu.
"Kok tante jadi lemah gini sih, mana suara tante kemarin yang ingin hubungan mereka retak. Ini udah di depan mata malah balik haluan. Aku ga mau tante. Aku akan tetap di sini berusaha mendapatkan Arlan kembali. " Rena berdiri dan beranjak ke kamar.
Meninggalkan Lastri yang kelimpongan karna ulahnya sendiri.
"Aku harus bagaimana. Apa aku telpon ayah saja. Aduhh.. pasti ayah akan murka nantinya.. "
Lama berfikir, Lastri memutuskan menelpon suaminya. Dia siap jika nantinya suaminya akan murka padanya. Setidaknya itu lebih baik dari pada Rena bertindak terlalu jauh lagi .
"Astagfirullah bu. Jadi itu rencana ibu. Sampai ngotot mau ke pekan baru lebih dulu. . "
Ayah tampak syok mendengar penuturan istrinya itu.
__ADS_1
"Maafin ibu yah, ibu ga mikir sampe Izza hamil. Ibu nyesel sekarang. Ibu ga mau anak Izza nantinya hidup kayak ibu dulu.. " Lastri memang hidup dengan ibu tiri saat kecil. Keluarganya broken home membuatnya jadi gadis liar dulunya. Tapi setelah mengenal Ayahnya Arlan. Dia sedikit banyak berubah. Karna ayahnya Arlan adalah sosok yang sangat penyayang.
"Ayah benar-benar ga habis fikir sama jalan fikiran ibu. Arlan itu sudah cinta mati sama Izza bu. Bagaimana ibu justru mau memisahkan mereka. Ibu ga mikir, gimana perasaan anak kita nantinya.. "
Lastri hanya bisa menangis , dia sadar dia salah. Dia selama ini menutup mata akan bagaimana anaknya begitu terlihat bahagia menikah dengan Izza.
"Ibu nyesel yah, Jadi tolongin ibu kali ini.. " Lastri memohon sambil sesenggukan.
Lama hening, mungkin suaminya sedang memikirkan jalan keluarnya.
"Ayah akan coba menelopon orang tua Rena. Semoga mereka bisa membujuk Rena untuk kembali ke Singapore.. "
Rena adalah anak salah satu teman Anton , ayahnya Arlan. Saat SMA Rena sering menginap di rumah Arlan karna mereka bertetangga desa. Tidak ada yang tahu sejauh apa hubungan Arlan dan Rena dulunya. Mereka berpisah karna Rena di ajak pindah ke singapore oleh orang tuanya.
"Makasih Yah .. semoga saja mereka bisa membujuk Rena.. "
"Semoga saja, Ibu tetap awasi Rena. Jangan sampai dia bikin kekacauan lagi. Dan satu lagi, ibu harus minta maaf pada Izza dan Arlan. Karna ibu mereka jadi begini kan..
Satu lagi bu. Belajarlah menerima Izza. Terlepas statusnya yang sudah janda saat menikah dengan anakmu. Tapi Arlan sangat mencintainya bu. Izza pun juga terlihat begitu menyayangi Arlan. Turunkan Ego mu bu. Atau kita akan di tinggalkan semua anak kita karna ulah ibu yang susah menerima pilihan anak kita. Apa ibu mau, kita kesepian di hari tua kita. ? Karna di jauhi anak-anak kita. Hanya tinggal Deki yang ada. Nanti pun jika dia menikah, apa ibu akan tetap begini terus.. "
Lastri tercenung mendengar nasehat suaminya, yaa.. anak-anaknya memilih tinggal jauh bukan hanya karna kerja. Tapi juga karna sikap Lastri yang tidak pernah bisa akur dengan para menantunya. Seharusnya Lastri bersyukur, mereka tetap menghormatinya. Meski sikap Lastri terkadang membuat hubungan anak dan menantunya memanas dan cekcok.
"Iya yahh... "
"Ayah akan segera menyusul. Ayah takut nanti besan kita mendengar semua ini. Alangkah isinya bu ayah nanti.. "
"Iya Ayah, matur nuwun.."
__ADS_1
Lastri mengusap air matanya, seburuk itu lakunya. Tapi suaminya tetap mau membantunya. Harusnya dia bersyukur bukan.