CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Merajuk tak ada yang membujuk


__ADS_3

Pukul 9.15 menit ferry mulai meninggalkan pelabuhan Batam Centre. Whani duduk di samping Reihan dan Amir berada di tepi. Tapi tak lama Amir pamit untuk ke belakang merokok.


Whani masih menatap luar jendela, meremas jari tangannya sendiri. Ada perasaan takut, risau dan entahlah. Hatinya sedikit tidak tenang sejak masuk kapal.


Birunya air laut serta gulungan ombak di tengah laut cukup sedikit mengurangi rasa kalut di hatinya.


Reihan sesekali menatap Istrinya yang hanya diam memandang luar.


Pop mie


pop mie


Ucap seorang awak kapal menawarkan popmie.


"Zaa.. awak nak maggi.. ??"


Whani menoleh, lalu menggeleng.


Dia kembali menatap deburan air yang menghantam dinding luar kapal.


Reihan membeli satu, tapi dia memberi uang 100 ringgit.


"Bang.. uang rupiah aja. ga da kembaliannya .


"Sudah tak da rupiah, ade ni je.. " Ucap Reihan.


Whani yang mendengarnya segera membuka tasnya, membuka dompet dan menyerahkan uang 20 ribu rupiah pada mas-mas itu.


"Tambah 1 lagi ya mbak.. biar pas.. "


"Ok.. " Whani menerima pop mie itu .


Reihan menoleh pada Whani, ada rasa nenggelitik di hatinya.4 hari menikah dia belum pernah memberi Whani nafkah. Dan Whani pun tidak pernah meminta padanya.


Whani membuka penutup mie itu.Aroma harum mie begitu menggoda di suasana kapal yang dingin. Dia mulai meniup-niup dan menyeruput kuahnya.


Ada untungnya juga pacaran sama kevin, dia mengajarkan cara menikmati makanan panas ..


Whani tersenyum sendiri menatap birunya air laut, dia mengingat Kevin. Lelaki campuran Cina Bangka itu seorang yang cukup baik, tapi sengaja dia jebak karna tidak mau terus-terusan hidup dalam kebohongan dengan pura-pura mencintai lelaki itu.


Dia mulai berfikir, apa karna hobbynya mempermainkan perasaan pria, dia jadi kena karmanya.


aldi


Satu nama yang membuat tangannya bergetar, jantungnya berdetak kencang dan dadanya sesak. Hingga popmie yang dia pegang jatuh ke deg kapal.


"Za.. " Reihan segera meletakan popmienya di bawah saat melihat tangan Whani bergetar.


Whani masih bisa mendengar suara Reihan, tapi matanya sungguh susah di buka. Dadanya sesak. Sungguh sesak.


"Zaa.. sayang.. buke matanya.. ini Suamimu.. " Bisik Reihan sambil memeluknya. Dia tidak mau menganggu penumpang lain.

__ADS_1


Whani masih memejamkan mata, dan Reihan sabar mengusap rambutnya dan memanggil namanya.


Cukup lama Whani masih tak bangun, membuat Reihan Khawatir. Apa lagi mereka ada di tengah laut.


"Zaa.. izza.. Sayang.. Ayo buke mate awak.. hei.. awak tak nak dengarkan cakap saye lagi ke.. ?" Reihan lebih mengeratkan pelukannya.


"Bang.. " Sapa Amir. Reihan terkejut bukan main sedang Whani di pelukannya masih belum sadar.


"kak Izza kenape.. ?" sebagian orang mulao menoleh ke arah Reihan saat mendengar ucapan Amir.


"Mabok laut.. ko mintakan minyak angin kat mama.. " Jawab Reihan sambil membenarkan anak rambut istrinya yang mulai berantakan.


Amir pun segera ke arah depan, meminta minyak pada mamanya. Mama tampak panik datang ke kursi Reihan.


"Izza kenape.. ?" Leha betambah panik saat melihat popmie tumpah di lantai kapal.


"Mabok ma.. " Reihan mulai mengoleskan minyak ke hidung Whani.


"Kat perut juga Rei..!"


Reihan tergagap mendengar perintah mamanya. Amir pun ikut memperhatikannya.


"Ko pegi lah depan.. ko tak malu nak tengok ipar ko.. " Usirnya pada Amir.


Amir mencebik memilih kembali ke kursi mamanya. Reihan mulai membuka jaket Whani, mengambil minyak dan segera menyusup ke perut rata wanita itu. Ada rasa ingin lebih menjamah setiap bagian tubuh istrinya.


"Dah lah tu.. ko pegang yang lain nanti, bile ko dah sampai rumah.. " Mama menepuk tangan Reihan yang masih berada di dalam baju Whani.


"Alhamdulillah.. " Ucap Reihan yang langsung membuat mamanya menoleh.


"Izza dah sadar.. nape tak cakap yang izza mabok laut. Kan mama boleh belikan obat anti mabok.. " Cerocos mama yang hanya di pandang Whani bingung.


"Dah lah ma.. biar dia istirahat.. " Sela Reihan. Maksutnya supaya kebohongannya tidak terbongkar.


"Ko ni.. kau pasti tak bagi die rehat kan tiap malam, tu sebabnye dia kelelahan. Dasar.. anak dengan bapak sama saje.. " Mama bangkit dan berjalan ke kursinya.


Reihan melongo mendengar penuturan mamanya sampai Amir kembali duduk di kursi itu.


Whani tertawa geli mendengar penutura mertuanya, saat menyadari Reihan tengah memperhatikannya dia langsung diam kembali menatap lautan.


"Bang... tak balek pahang dulu ke nanti.. ?" Tanya Amir setelah kapal mulai mendekati dermaga.


"Banyak keje lah dah lame cuti.. nanti lah Weeakand balek pahang.. "


Amir mengangguk,sedang Whani hanya mendengarkan percakapan abang dan adik itu.


Tak lama kapal menyandar di pelabuhan Ferry Stulang Laut. Izza ikut berdiri bersiap saat melihat sebagian orang berdiri.


"Nanti.. " Reihan menariknya kembali untuk duduk. Hingga kepala Whani terhantuk kursi.


"Aduhh.. " Di usapnya kepalanya.

__ADS_1


"Awak tak ape-ape.. " Reihan mendekat melihat kepala Whani mengusapnya pelan, sedang Amir justru tertawa mengejek.


Setelah hampir semua keluar barulah mereka bersiap keluar. Whani memilih jalur WNI dan Reihan langsung menariknya di sampingnya.


"Bang.. bukan itu kah.. ?" Tunjuknya pada jalur yang terdapat banyak orang indonesia.


"Bukan.. " Reihan menggandeng tangan Whani menuju imigrasi. Dia menunjukan surat nikah sirihnya yang di dapat di rumah Whani dulu. Dan semua lancar, hingga mereka semua keluar.


Whani mengkuti arah Reihan melangkah. Tapi dia bingung, melihat mertuanya berbelok sedang Reihan berjalan terus.


"Bang.. " Panggilnya dan Reihan menengok.


"Kok mama kesana.. ?" Whani mulai berjalan mendekati Reihan yang terlihat membuka pintu sebuah mobil. Reihan menarik koper Whani dan mamasukkanya di bagasi belakang. Setelahnya dia langsung masuk tanpa mengajak Whani atau membuka pintu untuknya.


ga ada manis-manisnya.


Whani tetap bersidekap menatap Reihan yang terlihat mulai menyalakan mesin mobil.


Ok.. kesabaranku sudah habis..


Tin-tin


Dan Whani menoleh, rupanya itu mobil mertuanya yang di kemudi Amir. Dia melenggang menuju mobil itu dan mertua yan baik segera membuka kaca jendela mobil.


"Sayang.. apasal tak naik lagi.. " Ucap Leha.


Whani mengetuk bagian samping kemudi dan Amir membuka kunci mobilnya, segera masuk dan duduk .


"Izza mau ikut mama pulang ke pahang .. " Dia mulai memakai sabuknya.


Leha dan Suaminya saling pandang bingung. Amir segera melajukan mobilnya saat menyadari banyak antrian di belakangnya.


"Jumpe kat restoran hari tu "


Begitu pesan yang di di baca Amir dari abangnya. Dia menatap Whani sekilas yang sedang melihat jalanan.


"Gaduh ke.. ?" Leha berbisik menyenggol suaminya.


Aziz tampak mengangkat bahunya ikut bingung.


Whani menatap jalanan yang masih asing untuknya, ada rasa takjub karna hampir semua jalan tampak mempunyai jalur. Dia merenung lagi,


aaku kangen mama,papa, Dina yang galak juga Dini yang imut..


Whani mengusap air matanya pelan, agar mertuanya tidak mengetahuinya. Dia mulai bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya kedepannya bersama lelaki dingin seperti Reihan.


Dia tidak Cinta..


Dia hanya iba..


Semuan yang dia lakukan selama ini dan nanti adalah karna iba. Rasa Ibanya..

__ADS_1


__ADS_2