
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat fokus Arlan buyar.
"Siapa yang datang, kamu tadi ngunci pintunya kan? "
"Kunci kok mas, mungkin itu ibu mu.. "
"Ibu? ",Arlan mengerutkan keningnya heran.
"Iya, ibu dateng pagi tadi pas kamu tidur. " Izza berusaha bangun. Karna pintu kembali di ketuk.
"Mau kemana? " Arlan kembali mendorong tubuh Izza terlentang.
"Itu ibu ketuk-ketuk pintu" Izza merapikan kancing gamisnya.
"Aku belum selesai sayang, udah biarin .."
Baru Izza akan menjawab, tapi bibirnya sudah di lumut habis suaminya. Kamar yang panas karna terik matahari menjadi lebih panas untuk keduanya.
Setelah selesai dan mandi juga sholat, keduanya keluar bersama. Di meja makan ibu memandang tajam keduanya.
"Ibu.." Arlan mendekat dan mencium punggung tangan ibunya.
"Kenapa ga ngabarin kalo ibu kesini "
"Kenapa, emang datang ke rumah anaknya harus woro-woro izin dulu.. " Jawab ibu Lastri dengan nada nyinyirannya.
"Apa kamu ga suka ibu datang Ar? "
"Eh, tentu suka. ".Arlan menarik kursi untuk dia duduk, Izza segera mengisi piring suaminya dengan nasi.
"Cukup sayang.. " ucapnya tersenyum pada Izza.
Izza mengangguk membalas senyuman itu. Dia juga mengisi piringnya, tapi dalam porsi sedikit.
Sedang ibu, mendengus kesal melihat interaksi keduanya.
"Ibu mau makan lagi? " tawar Izza. Mertuanya itu terlihat sudah makan lebih dulu, karna masih ada bekas piring kotor di depannya.
"Enggak! " ketus Lastri seperti biasa. " sayur nya ke manisen, kamu jangan terlalu banyak ngasih gulanya "
"Iya bu, maaf " Jawab Izza.
Arlan yang mendengar itu langsung menyendok sayur, merasainya. Lalu menoleh ke arah istrinya.
"Ini pas kok.."
Izza tersenyum, menyentuh tangam suaminya, agar tidak memperpanjang ucapan ibunya.
"pas apa, legi iki le " Sergah Lastri.
Arlan membuang nafas kasar, memilih cepat menghabiskan makanannya.
"Bagaimana kabar Ayah? " tanya Arlan pada ibunya. Mereka berada di ruang depan setelah makan tadi.
" Alhamdulillah, Ayah akan menyusul secepatnya .. " Ibu Lastri memperhatikan sekeliling isi rumah anaknya.
"Apa dari sini, ibu dan Ayah akan ke tempat kak Vita? "
__ADS_1
"Ya iya lah, kan koyo biasane.. "
Arlan hanya mengangguk tanda paham, ibu Ayahnya terbiasa mengunjungi anak-anaknya. Dan itu bergilir.
"Wah, ini rumah Arlan yang pertana ya, spesial tahun ini.. "
"Iya, kan ibu kangen sana kamu..
oh iya, kenapa kosong, apa istrimu tidak bisa mendekor ruangan. Menyusun bunga atau pernak pernik.. "
"Belum sempat bu, Dapur saja baru lengkap belum lama "
Lastri mencebik, apa lagi saat melihat Izza datang membawakan teh.
"Ibu mau kopi, bukan teh " ketusnya seperti biasa.
Izza yang baru meletakkan cangkir teh di meja menghentikan geraknya, menoleh ke arah ibu.
"Oh, maaf. Akan Izza buatkan bu.. "
"Kamu tadi ga nanya dulu ibu mau minum apa.." ucap Arlan yang membuat ibu tersenyum puas.
"Maaf mas.. " Dia cepat-cepat ke dapur. Ada rasa ngilu di hatinya mendengar ucapan suaminya. Sepele, tapi terasa sampai di ulu hati.
"Kenapa aku jadi melow, Astagfirullah.. " Izza mengusap air matanya. Cepat-cepat membuatkan kopi untuk ibu mertuanya.
Tak lama segelas kopi sudah dia hidangkan di meja.
"Ini kopinya bu.. "
"Iya " Ucap Lastri tanpa memandang Izza.
"Oh iya Ar, Syifa kemarin mampir ke rumah loh."
"Dia terlihat biasa saja.. "
"Ohh ya.. ?"
"Iya Ar.. " Ibu bersemangat menceritakan Syifa, memuji kebaikannya yang tanpa cacat. Arlan hanya tersenyum tipis mendengarnya. Tidak dengan Izza, yang merasa hatinya ingin meledak tapi dia sembunyikan.
"Mas, Bu.. Izza ke dalam dulu.. " Pamit Izza. Dia sudah tidak tahan mendengarnya lagi. Arlan sempat memperhatikan wajah sendu istrinya.
"Apa mungkin dia cemburu.. " batin Arlan lagi.
"Ar, kamu coba sekali-kali telpon Syifa. Tanya kabar. Katanya sejak menikah, kamu tidak mau mengangkat telpon darinya atau membalas pesannya. Apa istrimu melarangmu.. ?"
"Tidak bu. Jangan libatkan Izza.Dia tidak pernah melarangku berhubungan dengan siapapun. Aku hanya ingin berkomitmen, menjaga perasaan istriku itu prioritasku. Untuk apa aku menghubunginya, istriku lebih utama.. "
"Satu lagi bu, jangan membahas Syifa di depan Izza.. " Arlan bangun dari duduknya. " Ibu istirahatlah, Arlan mau mengantar Izza ke tokonya."
Lastri langsung masam muka mendengar penuturan anaknya. Dia tadi begitilu senang saat Arlan menyalahkan istrinya gara-gara kopi. Tapi sekarang Arlan kembali membela istrinya di hadapannya.
Di kamar.
"Sayang.. " Arlan menutup pintu kamar kembali dan mendekati istrinya.Izza yang di panggil pun menoleh, dia baru selesai mengganti bajunya .
"Ada apa mas.. ?"
"Aku anterin ya.. " Arlan memeluk mesra istrinya dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu istrinya.
__ADS_1
Izza tersipu malu, rasanya dia begitu merindukan sikap hangat suaminya yang beberapa hari hilang.
"Emang mas ga cape? " Dia juga membalas pelukan tangan suaminya di perutnya.
"Enggak. " Arlan mengendus bagian leher yang belum tertutup kerudung. Terlihat tanda merah bekas lukisannya tadi. Menyeringai, memandang wajah istrinya di cermin yang terlihat tersenyum .
"Pipimu kok merah sih.. " Godanya.
"Apa sih mas.. " Izza yang malu berusaha melepas pautan tangan suaminya. Tapi Arlan justru lebih mendekap erat.
"Kenapa? Apa yang kamu rasakan sekarang..? " Tangan Arlan naik ke bagian lebih atas.
"Hehe.. aku seneng.. ". Izza menarik tangan suaminya kembali ke bagian perutnya.
"Seneng kenapa.. ?"
"Aku seneng, mas udah kembali perhatian sama aku. " ungkapnya malu-malu.
Arlan tersenyum lebar mendengarnya dan langsung memutar tubuh istrinya menghadapnya. Mata mereka saling bertemu, dengan rona bahagia dan kabut cinta.
"Apa kamu merindukan ku yang seperti ini..? " Tanya Arlan sambil mengusap pipi istrinya. Izza mengangguk dan langsung menubruk dada bidang suaminya, Dia malu, menyembunyikan wajahnya di balik kehangatan pelukan lelaki itu.
Arlan pun langsung menghujaninya ciuman di kepala dan kening istrinya.
"Maaf ya, aku hanya teringat tentang Aldi."
Izza mengurai pelukannya langsung, menatap wajah suaminya yang juga tengah menatapnya.
"Kenapa, apa mas meragukan ku..?"
"Sedikit, bagaimana pun. Kalian pernah bersama.. "
Izza sedih mendengar itu, " Tapi aku dan dia tidak melakukan apapun mas, sumpah demi Allah.. "
Arlan menatap manik istrinya yang terlihat memerah itu, mencari kebohongan lewat mata istrinya. Tapi tidak menemukannya.
"Aku memang nakal dulu, Tapi aku tidak semurahan itu mas. Bukannya kamu juga yang mendapatkan ku untuk pertama kali.. "
Arlan langsung memeluk tubuh istrinya, ya dia ingat. Dia lah yang mendapatlan kesucian Izza, meski setatusnya sudah janda pada saat itu.
"Maaf sayang, aku terhasut oleh ucapannya.. "
Izza diam mematung, dia tidak membalas pelukan suaminya. Rasanya memang sakit, saat di ragukan kesetiaanya oleh suaminya sendiri.
"Sudahlah, aku mau bersiap.. " Di lepasnya secara paksa ke dua tangan Arlan yang sesang mendekapnya.
"Sayang, maaf.. " Arlan tau istrinya marah, dia pun kembali memeluknya kali ini lebih erat.
"Mas, aku ga bisa nafas.. "
"Kamu janji dulu, maafin aku.. " bujuknya sambil melonggarkan pelukannya.
"Iya-iya,Udah akh..."
Arlan pun mengurai pelukannya, menatap lekat wajah istrinya.
"Janji ya, jangan marah.. "
"Hemm.."
__ADS_1
Jawaban Izza membuat Arlan gemas hingga membuatnya memeluk istrinya kembali.
"Jangan meragukanku, kamu bahkan sudah mendapatkan hidup ku sepenuhnya mas.. "