CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Hati Yang Sudah Berpemilik


__ADS_3

"Arlan... !!


kita harus bicara.. !!" Syifa menghadang langkah Arlan yang hendak masuk ke rumahnya.


"Apa lagi Fa.. " Desisnya sebal.


"Arlan aku ga mau kita putus, aku minta maaf kalau aku slalu bikin kamu marah dan ilfil.. aku cinta sama kamu Ar. . "


"Fa.. kamu tau dari awal ini memang salah, aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan konyol ini.. "


"Arlan... !" Syifa menangis sambil memeluk kaki Arlan.


"Apa yang kamu lakukan Fa.. ! bangun.. apa kata orang nanti.. "


"Aku ga mau... sebelum kamu janji tetap melanjutkan pernikahan kita.. " Syifa masih kewkeh memeluk kaki Arlan erat.


"Hentikan tindakan bodoh mu Fa.. !"


"Arlan aku mohon... huhu.. "


Arlan mengusap wajahnya kasar , bagaimana cara membujuk wanita ini.


"Fa.. bangun.. atau kita ga usah saling bicara selamanya.. "


Syifa yang takut dengan ancaman itu merangkak bangun, menatap Arlan lekat.


Arlan yang tak tega mengusap air matanya, membawanya ke pelukannya.


"Fa...


Aku ga bisa memaksakan lagi hati ku ke kamu. .


Aku sudah mencobanya selama ini.. tapi hati aku ga bisa Fa..


Hati aku sudah dimiliki dia.."


Syifa langsung melepas pelukan Arlan.


"Apa maksut kamu.. ? Kamu mencintai wanita lain.. ??" Cercanya.


"Iya.. " Arlan mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Syifa.


"Wanita itu ada di hati aku sejak setahun yang lalu.. "


"Siapa dia.. ? kenapa kamu baru mengatakan sekarang Ar... ??!"


Arlan tersenyum miris, ingin mengatakan tentang Izza tapi dia tidak punya keberanian. Karna Izza belum bisa di dekati sama sekali.


"Fa.. kamu cantik. Kamu baik.. kamu pasti bisa bertemu lelaki yang lebih baik dari aku.. " Arlan mengusap rambut Syifa lembut lalu mulai melangkah pergi.


"Arlan.... !!! Arlan... huhuhu... " Syifa kembali menangis terduduk di rerumputan halaman rumah Arlan.


Arlan langsung mengunci pintu rumahnya dan bergegas mandi. Mandi air dingin di harap bisa membuat otaknya sedikit rileks.


Selesai mandi dia memakai pakaian santainya. Duduk membuka TV.


"Ya.. Bu... "


"Arlan.. kamu sungguh keterlaluan.. kamu benar-benar memutuskan pertunanganmu hah.. "


" Bu .. aku sudah bilang aku .. "


"Kamu punya wanita lain. siapa.. ? apa dia lebih baik dari Syifa. . !"


Arlan menarik nafas pelan. Dia tahu orang tuanya sedang murka padanya.

__ADS_1


Akhirnya dia hanya diam membiarkan ibunya melepas kekesalan padanya.


Setelah telpon dengan ibunya berakhir, Arlan memilih menghubungi kakaknya di Batam.


"Mbak.. "


"Apa Ar.. "


"Maukah mbak melamar seseorang untukku.. ?"


"Kamu yakin Ar.. Bagaimana dengan ibu dan bapak..?"


"Mereka sedang murka padaku gara-gara aku memutuskan pertunangan dengan Syifa. . "


"Sebenarnya siapa orang yang kamu maksut itu Ar. . orang yang kamu cari selama ini kah.. ?"


"Iya mbak.. Aku kirimkan fotonya ya.. "


Hening beberapa saat. Mungkin Vita sedang mengecek foto yang di kirim Arlan.


"Kamu serius Ar.. ? dia kan janda.. "


"Kok mbak tau.. ?"


"Ya.. dia pasien mbak yang dulu mbak ceritain suaminya meninggal, sedang dia malah koma.. "


"Ohhhh Astaga mbak... kenapa tidak bilang dari dulu.. !! Aku sejak dulu mencari alamatnya tidak ketemu.. !"


"Mana mbak tahu kalau yang di maksut kamu adalah Whani.. "


Arlan menghela nafas panjang, dia memang tidak menceritakan detailnya siapa Izza yang selama ini dia cari. Dan ternyata justru Izza adalah mantan pasien yang di urus kakaknya dulu.


"Kamu yakin akan menikah dengan janda.. ?"


"Mbak agak ga yakin aja sama kamu.. kamu. ga takut nyesel..? Apa lagi Izza sangat mencintai Almarhum suaminya. Apa dia mau menikah denganmu.. ?"


"Aku.. aku juga tidak tau. Tapi orang tuanya sudah merestui ku.. "


"Fikirkan lagi Ar... mbak ga mau kamu nanti jadi kecewa atau menyesal di akhir cerita.. "


Arlan menyudahi panggilannya dengan kakak tertuanya. Di letakkannya ponsel itu di meja. Kembali berfikir, tapi bayangan wajah Izza tadi siang selepas menangis dengan mata sembabnya membuat dia mendecah sebal.


Aku bahkan ga bisa menghiburmu tadi Za. ..


apa aku memang pantas menggantikan Reihan..


Dia jadi teringat foto yang tadi siang di lihatnya di ruangan Izza. Di foto itu Izza tampak tersenyum bahagia. Jiwanya begitu hidup bersama Reihan. Senyum sempurna pasangan suami istri yang saling mencintai. Genggaman tangan erat keduanya menandakan betapa lekat hati keduanya .


.


Pagi datang kembali dengan suasana mendung. Izza sibuk menyusun bunga pesanan. Nuri melayani customer yang datang. Sedang Juan sedang menghantar pesanan.


Saat dia baru selesai, ponsel milik Izza berdering. Rupanya Arlan yang menghubunginya.


"Hallo.. Asssalamualikum.. "


"Waalaikum salam.. mau makan dengan ku siang ini.. ?"


Izza tampak berfikir sebentar. Ada rasa tak enak di hatinya gara-gara kemarin.


"Zaa.. ok baiklah kalau kamu tidak bisa.. "


"Ar... aku mau.. " Lirih Izza.


Tanpa Izza tau, Arlan tampak tersenyum 'Yes' berhasil mengajak Izza makan bersama.

__ADS_1


"Ok.. aku akan datang pukul 1 nanti.. bye.. "


Izza memandang layar ponselnya yang sudah mati. Senyum tipis dan sedikit menggeleng kepalanya.


"Cie... roman-romannya ada yang berhasil PDKT nih... " Goda Nuri yang langsung dapat lemparan kelopak mawar dari Izza.


"Apaan sih kamu. . udah sana kerja lagi.. !"


Swittt swiiit....


Nuri justru lebih bersemangat menggoda Izza . Izza hanya menggelengkan kepala dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Pukul 1 siang sesuai janji Arlan. Lelaki itu sudah datang. Dia juga membukakan pintu untuk Izza.


"Terima kasih.. "


"Sama-sama.. "


Arlan langsung berlari mengitari mobil dan menjalankannya.


Sepanjang jalan tidak ada percakapan antara keduanya, sampai akhirnya Arlan membelokan mobil di sebuah Mall. Mereka pun segera turun dan berjalan beriring.


"Mau makan apa.. ?" Tanya Arlan saat mereka sudah masuk ke dalam Mall.


"Apa aja.. "


"Mau makan Ramen... ?"


"Boleh .. "


Dan berdua mereka berjalan mencari restoran yang menjual Ramen.


"Za.. "


Mereka sudah duduk menunggu oesanana mereka datang.


"Ya.. " Izza yang semula sedang membaca pesaan langsung mengangkat wajahnya.


"Ahh tidak... kapan kamu akan pulang ke Batam.. ? aku ingun ikut sekali.. "


"Mungkin minggu depan Ar.. Serius mau ikut. Bagaimana dengan kerjamu.. ?"


"Aku izin 2 hari mungkin.. aku pengen ketemu sama Om Fahat.. "


Izza hanya mengangguk, Dia mulai menerka-nerka tujuan Arlan bertemu papanya.


Tak lama pesanan pun datang. Mereka mulai menikmati makan siang itu, tapi baru setengah makanannya.


Baru beberapa suap, tapi ponsel milik Arlan berbunyi. Swtelah saling pandang, Arlan meminta izin mengangkat panggilan itu.


"Dokter ada pasien di UGD.. "


"Kan ada Dokter Harun.. saya cuti hari ini.. "


"Dokter Harun pulang karna istrinya kecelakaan.. Dokter yang lain sedang sibuk dengan oprasi.. "


"Baiklah.. "


Arlan menatap Izza yang masih asik makan ramennya. Dia pun mendekat dan duduk di kursunya semula.


"Zaa.. "


"Yaa.. "


"Maaf aku harus pergi, Ada situasi genting di rumah sakit. Kamu ga papa aku tinggal.. ?" Sejujurnya Arlan sedih, baru ini dia berhasil membujuk Izza untuk makan bersamanya. Tapi yang terjadi justru panggilan Tugas yang mendadak.

__ADS_1


__ADS_2