
Sampai malam ke 3 keadaan masih sama, Reihan yang semula tidur di sofa akan berpindah memeluk Whani saat wanita itu menangis lagi karna mimpi buruknya.
Seperti saat ini, Reihan mengelus rambut Whani lembut. Aroma shampo Whani membuatnya jadi terbuai. Dia lebih mengeratkan pelukannya. Whani malam ini hanya memakai baju tidur model pendek. Memperlihatkan sebagian punggungnya yang terbuka.
"Adtagfirullah.. " Reihan berusaha membuang fikiran-fikiran negativenya. Bagaimanapun dia lelaki dewasa dan normal jika syahwatnya datang ketika di sajikan pemandangan seperti itu.
Secara hukum memang Reihan sudah sah, bisa menuntut haknya sebagai suami pada Whani. Tapi dia ingin melihat Whani datang bulan dulu agar bisa memastikan bahwa Whani belum hamil anak lelaki brengsek itu.
"Bang Rei.. " Whani membuka matanya separuh, menutupnya kembali agar mau terbuka lebar.
Reihan menatap manik istrinya itu, posisinya masih memeluk Whani dengan satu lengan menjadi bantalan kepala istrinya.
"Abang di sini.. ?" Whani sedikit tersenyum memandang Reihan.
"Kau bermimpi buruk tadi .. tidurlah.. " Reihan mulai melepas tangannya yang semula melingkar memeluk Whani.
Tapi Whani cekatan menariknya kembali untuk memeluknya. Lalu dia membenamkan kepalanya di dada Reihan.
"Biarkan seperti ini.. aa. aku nyaman.. " ucapnya pelan dan mulai bergantian melingkarkan tangannya di pinggang Reihan.
Setelah cukup lana tidak ada jawaban dan Reihsn juga mengikuti kemauannya, Whani mendongak sebentar melihat wajah Reihan di atasnya. Reihan yang semula memejamkan mata langsung membuka matanya.
"Terima kasih .. " Whani kembali membenamkan kepalanya dan tidur.
.
Pagi datang di kota Batam.Pagi yang cukup terik. Whani tengah bersolek di depan meja rias, dia akan ke rukonya hari ini. Setelah siap dia mematutkan diri di depan cermin.
Klek
Pintu terbuka dari luar, Reihan baru selesai lari pagi. Dia menatap Whani sekilas lalu menuju kamar mandi. Whani cekatan memilih baju untuknya. Dan menunggu suaminya selesai mandi.
5 menit kemudian, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Whani menoleh tapi segera mengalihkan pandangannya saat melihat Reihan hanya memakai handuk. Reihan pun terkejut, tidak biasanya Whani menunggunya di kamar.
"Bang.. aku mau ke Ruko hari ini, ada banyak kerjaan.. Maaf ga bisa nglayani kamu makan dan lainnya hari ini .. " Ucap Whani masih dengan menatap arah lain.
Reihan mengambil bajunya dan membawanya ke ruang ganti untuk memakainya. Saat tinggal mengancingkan baju, dia keluar ke bilik utama dan Whani mendekat membantunya memasang kancing bajunya tanpa menatap matanya.
Reihan tidak menolak, dia diam menatap wajah Whani yang terlihat cantik dengan make-up tipisnya. Hari ini dia mewarnai bibirnya berwarna merah terang. Susuai dengan dress putihnya.
"Aku berangkat dulu ya.. " Whani meraih tangan Reihan salim setelah selesai memasang kancing dengan tetap tak menatap Reihan.
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikum salam. " Jawab Reihan masih dengan berdiri menatap istrinya yang sudah keluar dari pintu kamar.
.
Whani melajukan mobilnya ke arah Ruko. Dia tidak sarapan, dan si kembar akan di antar Amir. Mama sempat membawakannya bekal nasi goreng dan Whani merasa senang bisa cepat sampai ke rukonya tanpa ada kendala.
Hatinya begitu bahagia, karna hampir setengah bulan dia tidak mendatangi rukonya kembali.
Diana belum datang karna masih jam 7 lewat, dia memilih membukanya dengan kunci cadangan miliknya. Setelahnya langsung masuk ke dalam.
Semua tampak sama, hanya satu yang berbeda.Papa sedikit mengubah letak meja ruangannya. Whani tersenyum dan berjalan masuk duduk di kursinya. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan bingkai kecil yang kemarin sengaja dia siatkan.
Foto pernikahannya dengan Reihan, di letakkannya di mejanya dan dia tersenyum bahagia mulai membuka berkas untuk di periksa .
"Say... !!!" Pintu terbuka dan tampaklah wanita berambut sebahu yang mengenakan rok ketat dengan blazernya.
"Lo kerja... ya Ampun, pengantin baru. Lo ga kasian laki lo di tinggal.. " Diana langsung duduk di kursi depan Whani.
"Laki gue dah gue kasih double.. biar ga ngambek.. " Ucap Whani terkikik, karna membohongi Diana.
__ADS_1
"Ohhh My God... seriusan... !!" Diana tampak terkejut.
Whani tak tahan akhirnya tertawa lebar, berhasil mengelabui Diana.
"Gimana rasanya Ni.. ??" Lirih Diana berucap .
Whani langsung gelagapan di tanya seperti itu, bagaimana mau menjawab. Reihan saja belum pernah melakukannya sampai malam ke 3 pernikahan mereka.
"Cie... yang jadi ke ingat.. " Goda Diana.
"Ayo donk.. cerita.. gimana rasanya.. ??"
"Rasanya... rasanya... "
Tiba-tiba telpon kantor berdering
"Angkat dulu tu.. nanti lagi ceritanya.. "
Diana menatap sebal kearah Whani dan berjalan keluar menuju depan.
Whani menghela nafas pelan, setidaknya kali ini dia selamat. Dia segera mengambil berkas di mejanya untuk di periksa.
.
Pukul 11.30 Diana mengetuk pintu dan masuk saat Whani mulai membereskan mejanya
"Ada apa.. ?"
"Ada yang mau ketemu.. " Ucap Diana.
Whani mengerutkan keningnya,
"Klien.. ??" Dan Diana menggeleng.
"Siapa.. ?" Whani mulai duduk kembali dan menatap Diana.
deg.
Whani terkesiap mendengar jawaban Diana.
"Mau ngapain.. suruh pulang.. "
"Permisi.. " Seorang wanita tiba-tiba nyrumul masuk ke ruangan Whani. Diana yang di tatap Whani langsung merasa bersalah.
"Kamu Whani.. ? Saya ingin berbicara sebentar.. " Ucap wanita berperawakan kurus itu.
Whani akhirnya berdiri, mempersilahkan wanita itu duduk di sofa. Dan dia duduk di sebrangnya.
"Maaf saya mengganggu waktumu.. "
"Ada apa bu.. ?" Whani berusaha meredam kekesalannya mengingat Aldi yang melecehkannya.
"Saya minta maaf.. karna perbuatan Aldi padamu waktu itu. Berulang kali saya datang ke rumahmu tapi papamu slalu mengusir kami..
Saya mohon Whani, tolong cabut tuntutanmu pada Aldi.. kasian dia.. "
"Tidak bisa.. !!"
Whani langsung terkejut karna ada suara lain. Dan pandangannya langsung tertuju ke arah pintu masuk.
Reihan segera masuk dan duduk di sebelah Whani. Menatap tajam pada wanita yang mengaku sebagai ibunya Reihan.
"Anda Siapa.. ?" Tanya wanita itu.
__ADS_1
"Saye Suaminya.. " Reihan menoleh ke arah Whani lalu menyandarkan badannya ke sofa. Meraih salah satu tangan Whani dan mengenggamnya erat.
"Ohh jadi kamu sudah menikah.. " Ibu itu sedikit tertawa,
"Kalau sudah menikah, untuk apa di perpanjang lagi. Biarkan Aldi bebas.. dia akan segera menjadi dokter spesialis.. Kenapa kamu menahannya di penjara.. ?" Sinisnya
Reihan membuang nafasnya kasar. Meredam emosi di hatinya.
"Bu.. saya tidak menahannya, itu prosedur hukum.. " ucap Whani Bergetar. Reihan bisa merasakan yang tangan Whani berubah dingin.
"Saya cuma minta kamu mencabut tuntutanmu.. lagian kamu sudah menikah, Aldi tidak melakukan apapun padamu kan.. ? Buktinya suamimu masih mau menerimamu.. !!"
"Cukup..!" Sergah Reihan.
Whani sudah tertunduk menangis, meremas ujung sofa dengan tangannya.
"Anda tidak perlu ikut campur.. ini urusan saya dengan dia.. " Ibunya Aldi berdiri menunjuk Whani.
"Saye Walinya sekarang, Saye justru nakkan lelaki bajingan tu membusuk kat sane. . "
Reihan menarik Whani ke pelukanya. Whani hanya menurut dengan tetap menangis.
"Ibu tau.. butuh waktu berape lame untuk orang hilangkan Traumanya sebab perbuatan Aldi. Setiap malam Whani menangis histeris, tak nyenyak tidur. ape ibu tahu itu.. ?
ibu hanya nak fikirkan anak ibu seorang je tanpa perduli anak orang lain yang sudah dia lecehkan.. "
Ibu Aldi langsung menatap ke arah Whani yang menangis di pelukan suaminya dengan badan bergetar.
"Pergi. . huhu...!!" Whani mulai berteriak histeris.
"Pergi .. Pergi...!!! "
Diana yang mendengar teriakan Whani langsung masuk, Reihan memberi kode agar membawa ibu Aldi keluar.
"Pergi...!!! pergi... !!! hwaaa... papa... abang.. !!!" Whani semakin menangis kencang.
"Izza... Sayang... " Reihan berusaha menenangkan Whani yang meronta di pelukannya." Izza.. hei.. ini Abang.. " Reihan berusaha menarik wajah Whani yang memejam matanya sambil menangis.
Ibunya Aldi terus memperhatikan hingga tangan Diana menariknya untuk keluar.
"Bayangkan jika itu anak ibu.. apa ibu tega melihatnya seperti itu.. ? "
Ibu Aldi tampak diam mematung di ruangan depan.
"Saya yang belum menjadi ibu saja tidak terima Whani di perlakukan oleh anak ibu seperti itu.. Kalau saya jadi mama Humairah, saya akan tuntun anak ibu untuk di hukum mati. itu baru sebanding dengan rasa trauma yang Whani rasakan .. " Diana langsung kembali ke mejanya dan menatap sebal ibunya Aldi . Tak lama ibunya Aldi memilih keluar dari ruko itu .
.
Di dalam, Reihan masih berusaha menenangkan Whani yang masih histeris, Diana masuk membawakan air mineral. Dia ikut sedih menatap sahabatnya yang slalu ceria justru seperti orang gila.
"Izza... Izza.. buke mate awak, buke matenye.. " Reihan berusaha menyadarkan Whani.
"Izza.. Sayang.. buke matenye.. ini abang.. Sayang.. !" Suara Reihan di buat meninggi berharap Whani mau membuka matanya.
Whani masih terisak dan Reihan terus memeluknya sambil satu tangan menangkup wajahnya agar Whani mau membuka matanya.
"Izza.. Hei.. ini Suamimu sayang, Reihan... Ayo.. buke mate awak. . "
Whani masih sesenggukan mulai membuka matanya .
"Alhamdulillah.. " Reihan langsung mendekap istrinya itu.
"Abang.. huhuhu... " Whani masih menangis tapi dengan tangan memeluk Reihan erat.
__ADS_1
"Dahhh.... die dah pergi.. " Di kecupnya puncak kepala istrinya itu berulang kali.
Diana yang merasa terharu dan sedih mengusap air matanya dan keluar dari ruangan Whani.