CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Kesedihan Nuri


__ADS_3

Rencana Izza untuk mampir ke rumah Diana harus di gagalkan, karna empunya rumah sedang membawa ibunya pulang ke kampungnya Padang Sidempuan .


Akhirnya dia langsung menuju bandara bersama Arlan juga, di hantar oleh supir papanya untuk kembali ke Pekan Baru.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, Izza tetap fokus ke jalanan. Sedang Arlan sesekali melirik ke arahnya.


Hingga sanpai di dalam pesawat. Mereka tetap diam. Arlan mencari tiket yang duduknya bisa bersebelahan dengan Izza.


"Apa kamu mau ikut bersamaku pulang minggu depan Za, pulang ke Semarang.. "


Izza menoleh sesaat, tapi kembali ke tatapannya keluar jendela.


"Apa aku perlu ikut.. ?"


"Jika kamu tak keberatan. . Apa jadwalmu kosong.. ?"


Izza hanya menghela nafas panjang. Minggu depan juga jadwalnya pergi ke makam suaminya.


"Aku juga ada hal minggu depan Ar.. aku rasa aku tidak bisa ikut, maaf.. "


Arlan tersenyum kecewa. Tujuannya mengajak Izza agar bisa di kenalkan ke orang tuanya. Tapi wanita itu justru menolaknya.


"Aku berniat mengenalkan kamu pada orang tuaku Za.. apa kamu benar-benar ga bisa.. ?"


Izza tampak berfikir sejenak, apa perlu dia ikut Arlan. Tapi apa salahnya, dia juga ingin tahu respon orang tua Arlan. Harapannya adalah mereka menolaknya setelah tahu statusnya.


"Baiklah.. Aku ikut.. "


Arlan langsung tersenyum cerah, Izza sempat melihat senyumnya. Arlan cukup tampan jika tersenyum. Tapi tetap senyum Reihan yang terasa hangat.


Dia menyandarkan kepalanya ,memejamkan matanya. Ingin merasai senyum Reihan yang dia rindukan. Sampai ternyata dia benar-benar tertidur .


Arlan memandangi wajah pujaan hatinya yang sedang terlelap tenang.


Izza sangat cantik baginya, hanya saja pipinya sangat tirus. Bahkan Cincin yang dia pakai tampak kebesaran di jarinya .

__ADS_1


"Bang Rei.. " bisik Izza.


Mendengar itu Arlan begitu terkesiap.


Hatinya terasa nyeri mendengar Izza memanggil almarhum suaminya bahkan dalam keadaan tidur.


Sepanjang sisa perjalanan Arlan hanya diam. Bahkan saat menghantar Izza ke rumahnya. Dia hanya memandang sekeliling. Lalu langsung pulang, tanpa mau turun.


Izza merasa tidak ada hal, justru bagus jika Arlan kurang berinteraksi dengannya. Setidaknya dia bisa menjaga jarak.


Dia istirahat menyandarkan badannya. Ada banyak pesan di kirim oleh mamanya. Yang intinya Izza harus menjaga perasaan Arlan. Bagaimanapun dia adalah calon suaminya.


.


3 Hari berlalu, Izza sibuk dengan pekerjaannya di toko. Papa tidak mengizinkan dia mengurus untuk pembukaan cabang baru sebelum dia menikah. Dan dia hanya menurut.


Selama 3 hari juga, Arlan tidak menghubunginya ataupun datang ke tokonya. Dia juga tidak perduli.


"Mbak Za... Apa perlu kita ganti pesanan nyonya Rudi kemarin.. ?"


"Tidak perlu.. rusaknya kan setelah sampai di rumah. Saat kita menyerahkan juga dalam keadaan baik.. Mbak rasa bunga itu rusak karna tertindih.. "


Nuri mengangguk menurut. Sibuk kembali dengan pekerjaanya. Merapikan bunga yang belum di kemas.


Izza menghentikan pekerjaanya saat ponselnya berdering. Dia segera masuk ke ruangannya mengambilnya.


"Hallo... "


"Ahh iya Vin.. "


"Maaf kan aku. aku. aku ada urusan keluarga.. "


"Kamu tau dari mana Vin.. ?"


"ohhh Diana.. "

__ADS_1


"Hehe... "


Nuri tiba-tiba berdebar saat mendengar Izza menyebut nama Vin. Dia mulai menebak yang itu adalah Kevin.


Aku jadi ngarep banget kamu ngubungin aku juga kak..


"Nuri.. !" Suara seseorang dari depan toko mengagetkannya.


"Bang Wahyu.. " Suaranya tercekat.


Lelaki itu langsung berjalan menghampirinya. Menyerahkan beberapa bag pakaian padanya.


"Bawa pulang, baju untuk akad juga untuk nenek mu.. "


Nuri membeku, ya pernikahannya tinggal minggu depan. Dia sudah tidak bisa lagi menghindar.


"Persiapkan dirimu sebaik mungkin.. " Wahyu berlalu dari hadapannya menuju seseorang di depan sana yang ternyata istri keduanya.


Izza keluar saat Nuri memandang sendu bag pakaian ditangannya.


"Nuri... ada apa.. ? itu dari siapa.. ?"


"Ehhh... ini dari bang Wahyu.. " Dia berlalu menuju ruang kasir meletakkan bag itu di meja belakang kasir.


Izza mendekat mengecek isinya, ternyata baju kebaya. Dia memandang wajah Nuri yang terlihat sedih. Izza mendesah pelan, dia sampai melupakan tentang nuri yang sebentar lagi menikah dengan Wahyu karna kesibukannya sendiri.


"Nuri.. apa kamu tidak berniat menolak. Mbak bisa menolong kamu.. " Tawar Izza untuk kesekian Kaliny.


"Aku ga bisa mbak, dengan apa aku harus membayarnya nanti. Jumlah itu cukup banyak. . "


"Kan udah mbak bilang, kamu ga usah mikirin buat membayarnya Nuri.. " Izza memegang lengan Nuri.


"Aku ga mau mbak, aku akan merasa berhutang seumur hidup sama mbak nantinya.. "


Nuri sudah menangis, mengusap berkali-kali air mata di pipinya. Izza meraihnya untuk memeluknya.

__ADS_1


Bersamaan itu Juan kembali dari menghantar pesanan. Dia terkejut melihat Nuri menangis di pelukan Izza. Dia ikut simpati melihat nasib rekan kerjanya itu.


__ADS_2