CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Panggil Aku Izza


__ADS_3

Whani sudah kembali ke batam semalam. Dengan membawa semua kenangan Reihan bersamanya. Uang tabungan dia gunakan untuk menutup sisa bayaran rumah. Sedang sebagian, dia berikan ke anak Yatim.


"Pagi sayang... " Sapa mamanya di meja makan.


"Pagi ma.. " Whani mulai meracik kopi untuknya juga milik papanya.


"Whani... hari ini kamu di rumah saja.. ga usah ke ruko.. " Fahat meletakkan koran di meja bersamaan dengan hadirnya si kembar.


"Pagi papa, mama... kak Whani.. !!" Seru mereka bersamaan dan langsung berebut roti bakar.


"Pagi bidadari papa... ga usah berebut donk. kan ada banyak... " Fahat menengahi .


"Aku butuh kesibukan pa.. untuk sedikit mengurangi kesedihanku.. " meletakkan kopi di meja dan langsung duduk.


"Mama yakin yang akak kuat menjalani semuanye... " Mama merangkulnya hangat.


Whani tersenyum tipis menatap mama papanya juga si kembar.


"Ma.. pa... Tolong panggil aku Izza sekarang, seperti bang Reihan biasa memanggilku.. "


Humaira terkejut dan langsung meneteskan air mata . Memeluk erat sulungnya. Si kembar jadi ikut terharu, meninggalkan roti yang di rebutkan mereka. Ikut bangun memeluk kakaknya .


"Kami menyayangi kakak... " Ucap mereka serempak.


Whani serasa mendapatkan kekuatan baru, menangis melepas sesak di dadanya.


Fahat tampak menunduk, berusaha untuk tegar tapi nyatanya hatinya ikut hancur melihat Putri kesayangannya sudah menjadi janda di usia muda.


.


Whani benar-benar mulai merubah penampilannya sejak hari itu. Dia sekarang menggunakan krudungnya. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di ruko dan yang terbaru menjadi relawan di sebuah komunitas.


Orang tua dan saudara mendukung semua keputusannya, slalu menyemangatinya hingga tak terasa hampir setahun dia tanpa Reihan.

__ADS_1


Begitu berat, meski terlihat biasa dan kuat agar tidak membuat orang-orang terkasihnya mengkhawatirkannya . Nyatanya dia tetap terpuruk sendiri, menangis pilu tanpa ada siapapun yang tahu setiap kali mengingat tentang Reihan. Setelahnya dia akan Sholat dan mengaji, memohon di beri kekuatan pada yang Maha Memberi Hidup. Juga memohon pengampunam untuk Almarhum suaminya sekeluarga.


Malam ini dia kembali memeluk pilu album pernikahannya. Ya ini adalah Aniversarry pernikahan mereka. Whani begitu rapuh tanpa Reihan di sisinya.


"Bang... selamat hari pernikahan kita.... " isaknya pelan.


.


Sepanjang tahun ini, hampir setiap bulan Whani mengunjungi makam suaminya di pahang. Serta singgah di rumah mereka di johor.


Beberapa barang milik Reihan tetap dia simpan rapi seolah orangnya tetap ada. Kecuali pakaian yang beberapa sudah dia bagikan ke saudara mara yang mau mengambilnya.


Kali ini dia di temani si kembar ysng sudsh mendapatjsn paspirtnya. Suasana cukup meriah dengan teriakan-teriakan si kembar mengagumi setiap sudut kota dan lainnya .Juga kegaduhan mereka yang membuat Whani sedikit terhibur.


"Kak... aku suka banget view rumah ini... bagus banget kak... !" Teriak Dini juga Dina di kamarnya.


Whani hanya tersenyum tipis melangkah keluar, menatap meja makan yang biasa di pakai Reihan duduk dengan fokus ke laptopnya. Sedang dia berbaring di sofa menonton TV.


("Zaa... abang penat lah buke kulit kacang ni.. " Protes Reihan saat di suguhkan kacang rebus saat menghadap laptopnya.


Whani menoleh dan tersenyum menarik Reihan duduk di sofa memangku laptopnya.


Sedang Whani mulai mengupas kulit kacang dan menyuapkannya.


"Bilang aja minta di kupasin .. "


Reihan tersenyum mengusap rambut Whani lembut. )


Air matanya lolos seketika, Reihan juga tidak meminta haknya meski Whani sudah menawarkanya beberapa kali.


"Abang nak buktikan kat Izza yang abang tulus nak kan Izza jadi istri abang seorang.. selesai pengesahan baru abang nak ambi' hak abang.. "


Itu di ucap Reihan setelah mereka selesai Diner romantis di restoran kawasan Bukit Indah. Whani begitu bahagia saat itu. Merasa suaminya memang tulus menginginkannya.

__ADS_1


Whani mengusap air mata itu, memilih ke dapur tapi bingung akan melakukan apa. Akhirnya dia kembali ke depan membuka TV.


Tayangan itu justru menampilkan Talkshow kesukaan Reihan. Rasa sesak itu kembali datang.


Ya Tuhan... ini sungguh sakit..


Dia begitu merindukan tawa Reihan setiap kejadian konyol di lakukan peserta talkshow.


"*Zaaa... abang bahagia.. awak dah tak pernah lagi mengigau tentang kejadian buruk yang dah lepas.. "


"Itu semua karna abang.. "


"Itu juge usaha awak.. " Ciuman hangat mendarat di pipi*


Itu sepenggal kisah mereka dulu. Rasa hangat ciuman itu terasa sampai sekarang. Whani meraba pipinya dan menangis memeluk lutut.


"Kakak... " Lirih si kembar.Whani mendongak mengusap air matanya dan tersenyum.


"Kalian belum tidur. ..?"


Mereka mendekat memeluk kakaknya erat.


"Kami tahu kakak merindukan bang Reihan.. " Ucap Dina


"Abang sudah tenang disana kak.. iklaskan.. " Dini gantian bersuara.


Mendengar penuturan adiknya justru membuat dada Whani terasa sesak. Hingga tangis pilu kembali hadir.


Dia merindukan Reihan.


Merindukannya.


Sangat merindukannya.

__ADS_1


__ADS_2