CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Tolong Kerok'in


__ADS_3

Amir membelokan kemudi di sebuah Restoran, Whani tampak memperhatikan sekitar. Restoranya cukup besar dan ramai.


Mereka semua turun, dan bersamaan juga Reihan turun dari mobilnya yang terparkir di sebelah mobil Amir.


Reihan menatap Whani tajam, dan Whani pura-pura acuh mengikuti mertuanya masuk ke restoran. Perutnya sudah cukup lapar.


Ternyata Restoran itu berjenis Prasmanan, aneka lauk pauk, ulaman/lalapan, sambal dan lainnya.Bahkan di sediakan kue dan buah sebagai cuci mulut.


Whani masih mematung memperhatikan cara mertuanya mengambil makanan. Dia tidak mau nantinya salah dan malu.


"Izza.. mae makan... " Papa Aziz mulai menyusun lauk di piringnya.


"Merajuk juga butuh tenage kan.. ?" Reihan meraih tangannya dan memberikan piring berisi nasi pada Whani. Whani membuang nafas kasar.


"Makasih.. " langsung berjalan ke arah lauk. Dia mengambil ikan goreng, sambal dan lalapan yang dia kenali. Ada beberapa yang menurutnya asing. Dan dia takut memakannya.


Dia melirik Reihan di sebelahnya yang tidak mengambil sayur, dan hanya lauk. Whani mulai berfilir, gaya hidup Reihan tidak sehat. Karna selama di rumahnya, lelaki itu juga jarang memakan sayur.


Segera dia menuju meja yang di duduki keluarga mertuanya.


"Sikitnye. diet ke.. ?" Ucap mama Leha.


"Ehh.. nanti kalau kurang ambil lagi kok ma.. tenang aja, aku ga pernah diet.. " Whani mulai menyuap makanan di mulutnya.


Reihan duduk di sebelahnya, meletakkan piringnya lalu berdiri lagi dan kembali membawa air berwarna merah 2 dan memberikan pada Whani satu. Whani sempat meliriknya,


"Makasih.. " Ucapanya datar dan kembali makan.


Mertuanya tampak senyum-senyum di depan mereka. Hanya Amir yang makan tapi fokus melihat Ponselnya. Yang entah sedang menyaksikan apa.


Selesai makan mereka sempat mengobrol sebentar. Sedang Reihan berdiri untuk membayar bill makan.Papa Aziz menjelaskan yang Whani boleh pulang di hari ke 25 atau 28 dalam wajtu sebulan izin tinggalnya .Dan tinggal di Batam seminggu baru kemudian kembali masuk.


"Kalau Izza pulang tanggal 20 .. ?" Tanya Whani kemudian.


"Lebih cepat tu. 3 hari je kat Batam, 24 pun boleh lagi masuk 3 hari kemudian.. " Terang papa Aziz.


"Ambe' je yang 23 ke 24 tu. Tak lame kat sane.. Nanti ade pulak yang rindu bila awak pegi lame.. " Mama Leha tertawa menatap sulungnya yang baru kembali duduk.


Dan Reihan tampak bingung melihat mereka.


Whani hanya melirik Reihan sebentar.

__ADS_1


Rasanya mustahil, dia ga akan pernah rindu..


30 menit kemudian, Amir mengajak pulang. Karna takut kemalaman di jalan. Dan semua pun setuju.


Baru saja mereka keluar dari Restoran itu , Reihan langsung menggandeng tangan Whani dan menariknya menuju mobil.


Di bukanya pintu itu dan mendorong pelan Whani untuk masuk.


"Bang.. aku belum pamit sama mama.. !!" kesal Whani.


Reihan tak bergeming segera memasang Seat Belt untuk Whani.


"Aku cuma mau pamit sama mama.. bukan mau ikut.. !!"


Reihan segera memutar dan masuk ke mobil. Di lajukan mobilnya meninggalkan restoran . Whani yang kesal membuang mukanya ke samping. Reihan sempat menolehnya sebentar dan kembali fokus ke jalanan.


Sebetulnya jalanan sangat indah, Tapi Whani tidak begitu menikmatinya karna kesal dengam Reihan. Tak lama ponsel Reihan berbunyi dan dia mengangkatnya.


Whani masih menatap samping tak perduli Reihan sudah 2 kali memanggil namanya. Akhirnya terasalah guncangan di bahunya yang memaksanya menoleh juga.


"Mama.. " Reihan mengulurkan ponselnya dan Whani dengan malas mengambilnya dan mendekatkan ke telinganya.


" Mama.. " Sapanya.


" hehe.. ga papa.. " Whani takut mama mertuanya khawatir jika tahu dia kembali bersitegang dengan Reihan.


Reihan sempat menoleh saat mendengar Whani tertawa kecil.


"syukurlah ..nanti bila Reihan cuti ajak dia balek rumah mama yee.. "


"Iya ma.. "


" Ya sudah mama tutup. Assamalualaikum.. "


"Waalaikum salam.. "


Whani menatap layar telpon yang sudah mati itu. Dia menekannya dan hanya Wallpaper foto Reihan di sana.


"Nih.. " Dia mengembalikan ponsel itu, dan Reihan menerimanya.


Perjalanan sekitar 40 menit itu di isi dengan kesunyian, Whani merasa bosan dan ngantuk. Berkali-kali menguap. Ingin tidur, tapi takut di tinggal di mobil oleh Reihan.

__ADS_1


Dan tak lama Reihan membelokkan mobilnya ke sebuah rumah kondo. Cukup besar dan bagus. Setelah Reihan selamat memarkirkan mobilnya, Whani segera turun saat mendengar kunci mobil di buka.


Dia merenggangkan ototnya sebentar dan memandang sekitar. Reihan mengeluarkan kopernya dan Whani mendekat ingin menariknya.


"Awak bawe ini.. " Reihan menyerahkan rangsel kecil yang berisi bajunya dan koper Whani dia bawa.


Whani hanya mencebik dan mengikuti langkah Reihan. Reihan menekan tombol lift dan tak lama terbuka. Setelahnya dia menekan nombor lantai angka 9 .Whani mulai mengingatnya agar dia tak kesasar nantinya. Tak lama pintu lift terbuka dan Reihan segera keluar.


Reihan segera membuka kunci pintu, dan Whani sekali lagi mengenamkan di otaknya. Nomer pintu rumah adalah 13 . Reihan masuk lebih dulu setelah memberi salam. Menyalakan lampu dan kipas.


Whani masuk mendongak dan melihat sekitarnya, rumahnya sedikit berantakan karna tak tersusun.Tapi cukup bersih. Ruang tamu langsung seruang dengan tempat menonton TV dan meja makan. Di belakang ada dapur dan sebelahnya balkon kecil. Hanya ada satu kamar, tapi cukup lebar, yang di tata apik dengan ruang ganti sebagai pemisah kamar dan kamar mandi.


"Baju awak sementare simpan di koper dulu, nanti saye belikan Almari untuk awak.. "


Whani menoleh ke Reihan yang terlihat keluar kamar. Karna gerah, dia segera membuka kopernya dan mandi. Setelah selesai dia mengemas sofa yang terdapat lembaran-lembaran kertas dan menyimpannya di meja. Setelahnya dia meraih guling dan merebahkan badannya.


"Hayati lelah. ." Ucapnya sebelum terpejam.


Reihan masuk kamar membawa segelas teh, tapi ternyata Whani sudah meringkuk memeluk guling di sofa. Dia tersenyum meletakkan cangkir teh di meja. Segera dia mengganti Sprei dan mengangkat Whani tidur di ranjang. Sebelum beranjak pergi, dia sempat mencium kening istrinya.


2 Jam kemudian Whani membuka matanya saat suara Reihan memanggilnya.


"Bangun.. dah maghrib.. " Reihan sudah memakai sarung dan baju koko.


Whani bangkit mengumpulkan nyawanya, tapi kepalanya terasa berat.


"Kepala ku pusing Ma.. " Whani meringkuk merebahkan badannya kembali. Lalu sedetik kemudian matanya langsung terbuka lebar. Reihan yang ingin membangunkanya kembali ikut terkejut.


Whani langsung bangun dan berlari ke kamar mandi muntah.


Reihan berlari mengikuti, mengurut tengkuknya pelan dan Whani madih mutah mengeluarkan semua isi yang di makan tadi siang.


Hoek.. Hoek..


Reihan panik, mengusap peluh di dahi Whani saat wanita itu terduduk di lantai.


"Awak ok.. ?" Tanya Reihan sambil mengelap sisa muntahan di bibir Whani dengan tisu.


"Kepalaku sakit bang .. " Suaranya jadi lemah.


"Kita ke dokter ye.. " Reihan membantu Whani bangun dan memapahnya ke ranjang.

__ADS_1


" kita ke dokter sekarang.. " Reihan akan beranjak tapi Whani menahannya.


"Aku mungkin cuma masuk angin.. tolong kerok'in aja.. " Ucap Whani.


__ADS_2