CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
2 Perbandingan


__ADS_3

"Arlan...bolehkah aku tidur awal malam ini..?? "


Arlan menghentikan kegiatannya melipat sarung. Mereka baru selesai Sholat maghrib berjamaah di kamar.


"Kamu sakit...? " tanyanya lembut dan memegang kening Izza yang tampak menghangat. Wajah istrinya juga sedikit pucat dari tadi.


"Enggak.. aku hanya ingin tidur awal.. " Elak Izza sambil berdiri terhuyung yang membuat Arlan mendekapnya karna takut jatuh.


"Lemes ya.. ?" Tanya Arlan khawatir.


Izza mengangguk dan Arlan menuntunya menuju ranjang, membantunya berbaring dan menyelimutinya hingga nyaman.


"Kamu ga mau makan dulu.. ?"


"Enggak, aku hanya ingin tidur.. "


Izza sedikit memiringkan tubuhnya membelakangi Arlan.


Tok tok tok


"Den... di tunggu Ndoro kakung sama Ndoro putri di bawah.. "


Suara mbok Mirah menggema dari luar kamar.


"iya mbok...sebentar lagi aku turun.." Arlan mengelus kepala Izza dan mencium pipinya.


"Aku turun dulu, nanti aku bawain makan yaa.. Kamu istirahat.. "


Izza tidak menyahut memilih memejamkan mata. Ada rasa kesal dan jengkel sendiri di hatinya. Tapi dia menyimpannya sendiri.


Dengan berat hati Arlan turun untuk makan malam tanpa Izza.


"Loh.. Izza mana.. ?" Tanya Ayahnya saat tak melihat menantunya ikut turun.


"Dia ga enak badan Yah, istirahat.. " Arlan mengambil nasi dan lauk di piring.


"Ngalem.. emangnya habis ngapain. wong dari tadi cuma duduk mainan HP... " Ketus ibunya.


Mbok Mirah yang sedang meletakkan buah di meja di buat gugup karna Arlan menatapnya lekat, seolah meminta penjelasan. Dia menunduk dan cepat-cepat kembali ke dapur.


"Bu...Jangan ngomong gitu.. " tegur Ayah yang langsung membuat ibu memberengut kesal.


"Loh.. kamu ga makan Ar.. ?" Tanya ibu saat melihat Arlan membawa piring berisi nasi dan lauk juga air putih berjalan menuju tangga.


"Aku makan di atas aja, sama istriku.. "


"Ar.. Ar.. mau-mau nya kamu ini ngladeni, udah kaya jadi kesetnya dia aja. . "


Arlan tak menggubris ucapan ibunya memilih kembali ke kamar.


.


Di kamar, sepeninggal Arlan.


Izza tanpa terasa meneteskan air matanya, meremas guling di pelukannya. Hatinya merasa nelangsa sendiri. Ibu mertuanya sungguh begitu membencinya sehingga selalu menyudutkannya dan memerintahkannya ini dan itu hingga dia kelelahan.


Dia jadi teringat Almarhum Mama Leha, mertuanya dulu yang begitu menyayanginya bahkan tidak pernah menyusahkannya atau menyinggungnya.


Sikap Ibu dan mama mertuanya begitu berbeda. Di awal pertemuan, Izza sudah merasa aura ibu mertuanya yang tidak terima dan membencinya karna anaknya menikah dengannya yang seorang janda.


Dia jadi merindukan sosok mertuanya. Orang tua Reihan yang sudah tidak ada. Dia memang merasa salah, karna membandingkan 2 orang yang berbeda. Tapi hatinya sedang merasakan perbedaan itu sekarang.


Reihan..

__ADS_1


Dengan membekapkan wajahnya ke bantal agar suaranya tersamar, Tangis Izza kembali pecah, dia tergugu sendiri. Dia merindukan Reihan. Lelaki yang begitu memahami dirinya. Begitu peka dan perduli padanya tanpa menujukkannya secara langsung.


Lelaki yang walau sedang marah dan bertengkar tetap memeluknya saat tidur. Dia begitu merindukannya, merindukan usapan di kepalanya. Merindukam caranya menenangkannya .


Tubuh Izza seketika menegang saat merasakan usapan lembut dikepalanya.


Apa dia sedang bermimpi?


Dia sedang mengingat usapan tangan Reihan di kepalanya tadi.


Dan usapan itu kini terasa nyata, lembut dan penuh kasih sayang. Hingga dia merasa nyaman sampai tangisnya menjadi reda. Hatinya sedikit tenang. Perlahan dia mengangkat wajahnya dari bekapan bantal dengan ingus dan air mata yang membasahi bantal itu.


"Arlan...."


Wajahnya langsung merasa kaku karna terkejut. Segera di usapnya air mata dan ingus di wajahnya.


Ya Allah..


Sejak kapan dia disini ?


Apa dia yang mengusap kepalaku dari tadi..


"Arlan.. kamu ga jadi makan.. ?" Tanyanya salah tingkah. Memalingkan wajahnya karna Arlan sedang menatapnya intens


"Aku mau ke toilet.. " bangun dan ingin menghindar.


Arlan mencekal lengannya, menahannya untuk turun. Izza jadi bingung, menunduk karna gugup.


"Za.."


Izza yang di panggil hanya menunduk, rasa hatinya tidak enak. Bagaimana jika Arlan bertanya kenapa dia menangis.


"Whani.." Panggil Arlan lagi karna panggilan pertamanya tidak di indahkan wanita itu.


"Jangan memanggilku seperti itu.." kesalnya.


"Kenapa.. ? Namamu Izza Syazwhani bukan.. ? jadi tidak salah jika ada yang memanggilmu Whani.. " Debat Arlan yang membuat Izza semakin kesal.


"Apa karna dulu Reihan suka memanggilmu Izza, jadi kamu ga suka saat orang lain memanggilmu Whani .. ?


Izza menghempas tangan Arlan kasar dan berjalan menuju kamar mandi.


Arlan yang ikut kesal karna melihat Izza menangis menjadi merasa bersalah dan mengerang Frustasi. Kenapa dia justru menyudutkannya, bukan menenangkan dan bertanya pada istrinya kenapa dia menangis.


"Arkhhh... bodoh kamu Ar... !" Umpatnya sendiri sambil berdiri menyusul Izza. Menunggu di depan pintu sampai istrinya keluar.


"Sayang... " Ucapnya saat melihat Izza sudah keluar dengan wajah yang basah.


"Jangan menyentuhku, aku sudah wudhu.. "


Arlan menghentikan langkahnya yang akan memeluk istrinya.


"Ahh baiklah, tunggu. . aku wudhu dulu. Kita jamaah.. "


Walau tidak pandai dalam hal Agama. Arlan mulai terbiasa sholat lima waktu sejak menikah dengan Izza. Jika dulu dia bolong-bolong dan sesempatnya, tidak dengan sekarang yang justru tepat waktu.


Dia justru malu jika Izza tau dia tidak Sholat meskipun istrinya itu tidak pernah mempermasalahkannya. Arlan ingin berubah lebih baik, agar bisa menjadi imam yang baik untuk Izza.


"Kita makan ya... " ucap Arlan saat mereka selesai sholat. Dia mengambil nasi dan duduk di dekat Izza.


"Aku suapin.. aaa... "


Izza yang tahu ternyata Arlan tidak jadi makan di bawah dengan orang tuanya, jadi ragu membuka mulutnya.

__ADS_1


"Ayo aaa... buka mulutnya sayang.. " Bujuk Arlan lembut. Perlahan Izza membuka mulutnya dan menyuap makanan itu di sambut senyum hangat Arlan.


Setelah menyuap Izza, Arlan juga menyuap dirinya sendiri. Hingga tak lama makanan di piring ludes oleh mereka berdua.


"Aku ke bawah dulu yaa, ini piringnya takut bau kalau di simpan di kamar. "


Izza hanya mengangguk sambil meminum air pemberian Arlan.


Arlan kembali dengan membawa segelas air putih, itu kebiasaannya yang baru Izza pahami. Mereka segera menyikat gigi bersama-sama sebelum tidur. Itu juga kebiasaan baru mereka.


"Za.. " Panggilnya saat mereka duduk berhadapan dengan posisi Arlan di tepi ranjang dan Izza menyandar di kepala ranjang.


"Ya Ar.."


"Kenapa kamu menangis..? " Di raihnya tangan istrinya, mengusapnya lembut.


Izza diam, bingung ingin mengatakan apa. Apa lebih baik dia jujur ? bagaimana jika Arlan tak percaya dan justru menuduhnya mengada-ada.


"Apa ibu ku menyusahkanmu..? " Tanya Arlan lagi.


"En.. enggak Ar.. aku hanya sedang merindukan mama.Badanku lagi ga enak banget rasanya. . Biasanya mama mengurutku.. "


"Oh ya, kamu merindukan mama sampai menangis sayang.. ?" Arlan masih kurang yakin. Izza seperti sedang menutupi sesuatu.


"Iya, aku kan udah bilang badanku lagi ga enak banget.Pegel-pegel.. " tegasnya


"Kamu sih, tiap malem mintanya aku gagahin terus.. kan aku juga cape. Tapi demi memuaskanmu, aku rela.. " Goda Arlan yang langsung membuat Izza ternganga.


"Enak aja.. bukannya kebalikannya ya.. ?"


Arlan tertawa menciumi punggung tangan Izza gemas.


"Apa sih, nyatanya gitu.. kamunya ndusel-ndusel terus. Kan aku jadi tegang.. wajar aku mikir kamu minta nambah lagi.. " Masih dengan wajah tak bersalah.


Izza menyedekapkan tangannya kesal, memanyunkan bibirnya yang langsung mendapat ciuman dari Arlan di bibirnya.


Bukannya senang, dia justru melotot galak. Tapi Arlan tak perduli , tetap tertawa dan naik ke ranjang untuk tidur.


"Selamat malam sayangku cintaku.. malam ini kita libur dulu ya.Aku cape.. " Kecupan lembut mendarat di kening Izza.


Izza kembali kesal langsung mencubit pinggang Arlan.


"Ahh sayang.. kamu ini, sakit tau.. " Erang Arlan manja.


Izza kembali mencubitnya.


"Sayang, jangan memaksaku.. aku bener-bener cape. Besok pagi kita olah raganya ya.. "


Sungguh Izza semakin jengkel dan menghujani Arlan dengan cubitan kecil di pinggangnya berkali-kali yang langsung membuat lelaki itu terkekeh geli. Izza yang merasa puas pun tak tahan ikut tertawa melihat Arlan kegelian.


"Udah udah.. aku geli.. haha.. " Arlan meraih Izza membawanya ke pelukannya agar berhenti mencubiti pinggangnya.


"Kamu nakal sayang, itu udah termasuk KDRT loh.. " Ucapnya terengah-engah.


"Ada aku kesah.. ?!" Cuek Izza lalu lebih membenamkan kepalanya di dada Arlan yang kini bisa membuatnya nyaman . Dia tahu , Arlan hanya ingin menghiburnya.


Arlan masih terkikik, dengan membelai kepala Izza lembut. Menciumi keningnya dengan penuh sayang. Esok dia akan mencari tahu, apa yang terjadi dengan istrinya.


**Ya Allah.. Autor amatiran yang baru keluar kandang langsung updet 3000 kata lebih permirsah..


Mari kita tertawa garing..


Hahaha**..

__ADS_1


__ADS_2